Setelah para tamu pergi, Reza tiba-tiba muncul di depan pintu rumah.
"Kamu dari mana sih, Za?" tanya ibunya dengan nada kesal.
"Aku baru pulang dari warung, Bu. Kirana minta beli pembalut," sahut Reza cepat sebelum buru-buru masuk ke dalam rumah, menghindari tatapan tajam ibunya.
"Tadi pihak WO dan catering datang menagih kekurangan pembayaran yang kamu janjikan, lho," tegur ibunya ketus.
"Terus sekarang mereka sudah pergi, Bu?" tanya Reza, tak bisa menyembunyikan rasa cemasnya.
"Sudah pergi, tapi mereka pergi sambil mencibir kita. Mereka bilang kalau kita tidak melunasi kekurangannya sebelum jam satu siang besok, mereka akan melaporkan kita ke polisi!" ungkap sang ibu dengan jengkel.
Reza mendengus, "Ah, cuma molor satu hari saja, kok diperbesar-besar," tanggapnya santai.
Sementara itu, ibunya tampak semakin geram. "Aku tidak habis pikir sama mereka. Kalau kita menghilang atau memberikan alamat palsu, atau bahkan mangkir berbulan-bulan, baru mereka bisa merasa ditipu dan berhak melapor ke polisi," ujar ibunya, terluka hatinya ketika disebut 'kere' oleh mereka.
Di tengah kesedihan dan kemarahan, Reza dan ibunya berusaha mencari solusi agar bisa melunasi kekurangan pembayaran, sekaligus menunjukkan bahwa mereka bukanlah keluarga yang bisa dipermainkan.
"Coba tanya Kirana, apa dia punya tabungan untuk menambah kekurangan pembayaran itu," perintah ibunya dengan nada serius kepada Reza.
"Kenapa saya, Bu? Kan tanggung jawab ini ada di pundak Mas Reza. Jika dia merasa tidak sanggup, seharusnya tidak usah menyatakannya dari awal," sahut Kirana, mencoba menghindari tanggung jawab yang diberikan padanya.
"Dia menyatakannya untuk membuat kamu senang, Kirana," timpal sang ibu dengan wajah yang mulai emosi.
"Sudah-sudah, Bu, saya akan cari solusi. Mana sertifikat rumahnya? Saya mau bawa ke bank," tegas Reza.
"Sebentar, Ibu ambilkan," jawab sang ibu sambil beranjak menuju kamarnya, diikuti oleh Reza. Sementara itu, Kirana kembali ke kamarnya untuk mengganti pembalut. Mereka berdua masuk ke kamar sang ibu, dan Reza menyadari bahwa sang ibu memiliki beberapa perhiasan yang cukup berharga.
"Bu, izinkan Reza pinjam perhiasan Ibu untuk menambah jaminan. Takutnya kurang," pinta Reza dengan nada penuh harap.
"Enggak bisa, Nak. Ini perhiasan Ibu beli dari uang pemberian Airin, nggak bisa dipinjam begitu saja," tolak sang ibu dengan tegas, menciptakan tegangan baru di antara mereka.
"Ayolah, Bu, nanti Reza ganti. Kan sebentar lagi Reza bakal naik jabatan, soalnya Reza denger kabar kalo Reza bakal dipromosikan nih," ujar Reza semangat.
"Serius, Za?" Mata sang Ibu berbinar mendengar kabar tersebut.
"Masa Reza bohong, Bu? Yang dipromosikan ada tiga orang, termasuk Reza," timpal Reza.
"Semoga kamu yang terpilih, ya," doa sang ibu dengan tulus.
"Aamiin. Tapi, Bu, jangan sampai orang kantor tahu kalau Reza berpoligami, ya. Karena aturan di kantor melarang karyawannya berpoligami, dan sanksinya bisa jadi diturunkan jabatannya atau bahkan dikeluarkan dari kantor," pesan Reza dengan hati-hati.
"Tapi Airin gak tahu kan kalau kamu nikah lagi?" tanya sang ibu khawatir.
"Enggaklah, Bu. Kalau dia tahu bisa bahaya. Airin bisa saja melaporkan ini ke kantor," sahut Reza, wajahnya tampak cemas.
"Ya, semoga saja dia tidak tahu, agar Ibu masih bisa minta uang kepadanya," harap sang ibu dengan doa di hati.
"Mana Bu, sertifikatnya?" tanya Reza dengan nada cemas.
"Iya sebentar, Ibu ambilkan," jawab ibunya, Lastri, berusaha tenang.
Lastri pun segera membuka lemari pakaiannya yang menjadi tempat penyimpanan barang-barang berharga, termasuk sertifikat rumah. Reza menunggu dengan ketegangan yang memuncak, sadar betul apa yang akan dia lakukan.
"Nih, ingat ya Za, kamu harus secepatnya tebus kembali sertifikat ini," ujar Lastri dengan khawatir, seraya menyerahkan sertifikat rumah kepada anaknya.
"Iya Bu, tenang saja. Aku pasti akan mengembalikannya," balas Reza berusaha meyakinkan ibunya, walaupun dalam hati dia sendiri merasa berkecamuk.
Reza pun berlalu, meninggalkan ibunya dengan langkah gontai, seraya membawa sertifikat rumah dan beberapa perhiasan yang merupakan warisan keluarga. Dalam hati Reza berkecamuk, tapi dia merasa tidak punya pilihan selain menjual perhiasan itu. Setidaknya, dia perkirakan bisa mendapatkan sekitar lima juta rupiah. Reza melangkah menuju ke mobil yang terparkir, mobil yang dia beli secara kredit dan masih memiliki masa cicilan dua tahun lagi. Namun, Reza tak pernah sungguh-sungguh mencicil mobil itu; dia selalu meminta uang kepada Airin, istrinya, untuk membayar cicilan tersebut. Terselubung di balik rasa malu dan penyesalan, Reza bersumpah akan memperbaiki hidupnya, secepatnya.
Tak lama reza telah sampai di bank. Pertama dia ingin mengadaikan rumah milik sang ibu. Selanjutnya dia akan ke toko perhiasan untuk menjual perhiasan ibumya.
"Sore, Pak. Ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang costumer service ramah, menghadap Reza.
"Begini, Mbak. Saya mau menjaminkan sertifikat rumah ini," ujar Reza dengan wajah sedikit cemas.
"Oh, baik Pak. Tunggu sebentar ya," ujar costumer service tersebut sambil tersenyum.
"Baik, terima kasih," Reza menyahut singkat.
Setelah menunggu beberapa menit yang terasa berkepanjangan, costumer service itu kembali sambil berkata, "Mari, Pak. Ikut saya ke ruangan atasan saya."
Reza mengikuti langkah costumer service dengan hati yang berdebar, menjauhi ruangan yang ia rasakan makin semakin tertekan. Sesampainya di sana, mereka disambut oleh sosok yang wibawa dan meyakinkan.
"Selamat siang, Bapak. Silakan duduk. Nama saya Yuda, dan saya akan membantu Bapak tentang proses peminjaman uang di bank kami. Mohon tenang, dan kami akan menjelaskan semuanya dengan detail," ujar Yuda sambil tersenyum ramah, berusaha menghapus kecemasan Reza.
Setelah melewati perdebatan selama satu jam, akhirnya disepakati pinjaman sebesar seratus lima puluh juta dengan cicilan tiga tahun yang akan Reza terima. Begitu uangnya cair, Reza segera meninggalkan bank dengan perasaan bersyukur dan haru.
"Syukurlah, uang dari menggadaikan sertifikat rumah Ibu bisa menutupi seluruh kekurangan biaya pernikahan kemarin. Sekarang tinggal menjual perhiasan Ibu untuk menambah simpanan kita," gumam Reza dengan perasaan berat saat sudah berada di dalam mobil. Dia lalu mengarahkan kendaraan menuju toko perhiasan.
Tak lama, lima belas menit kemudian, Reza sudah berada di dalam sebuah toko perhiasan mewah. "Selamat siang, Pak. Ada yang bisa saya bantu?" tanya penjaga toko dengan senyum ramah.
"Saya mau menjual perhiasan ini, Mbak," sahut Reza seraya menyerahkan perhiasan yang berkilau di balik kotak beserta surat-suratnya.
"Bisa saya lihat surat-suratnya?" Pinta penjaga toko perhiasan dengan sikap profesional.
"Ini, Mbak," ujar Reza, mengatupkan bibir, berusaha menahan rasa sedih yang mencengkam hatinya.
"Baik, mohon tunggu sebentar ya," sahut pelayan toko dengan sopan. Dia pun langsung meninggalkan Reza untuk menghampiri bosnya. Tak lama kemudian, pelayan toko itu kembali dengan ekspresi wajah yang lebih serius.
"Terima kasih sudah mau menunggu, kami hanya bisa membeli dengan harga empat juta lima ratus ribu rupiah," ujar sang pelayan toko.
"Gak bisa naik lagi mba?" Tanya reza.
"Itu sudah mentok pak," kata pelayan toko..
"Oke deh mbak, gak apa-apa," ujar Reza.