Airin dan Yura bergegas keluar dari salon dan menghabiskan waktu mereka berjalan-jalan di mall. Antusiasme mereka terlihat jelas dari sorot mata mereka yang berbinar.
"Ra, yuk kita mampir ke toko itu!" ajak Airin dengan semangat.
"Sepertinya mereka punya banyak koleksi baju baru."
"Hehe, mau dong, Rin, ditraktir satu pasang baju, mengingat aku belum gajian nih," seloroh Yura sambil tersenyum kecil.
Airin tertawa dan mengangguk, "Oke, nanti kamu pilih saja yang kamu suka."
"Wah, makasih ya, sayangku!" balas Yura dengan polos.
"Udah, jangan mulai deh. Aku masih normal dan nggak suka sayang-sayangan gitu," cibir Airin, namun ada semburat tawa di wajahnya.
"Gue juga masih normal, kok, Rin!" sahut Yura sambil terkekeh. Mereka lalu melangkah menuju toko yang sudah menjadi sasaran mereka, menyusuri rak-rak pakaian, mencari setelan yang cocok untuk mereka kenakan. Keseruan mereka terpancar dari setiap gerakan dan candaan yang mereka lontarkan.
"Rin, lihat deh! Tunik krem ini sepertinya bakal cocok buat kita," ujar Yura sambil menunjuk pakaian yang tengah dipandanginya.
Airin mengangguk, "Bagus juga tuh! Gimana kalau kita beli dua dengan warna yang berbeda, biar bisa jadi outfit couple gitu?"
"Boleh juga tuh, idenya. Kan kita sering dibilang seperti kembar, jadi kalau pakai baju couple kayak pinang dibelah kampak, deh," sahut Yura sambil tertawa. Dalam kehangatan persahabatan mereka, Airin dan Yura melanjutkan petualangan mereka berburu baju couple, menggenggam erat tali persahabatan yang mereka jalin.
"Oke, kita ambil dua ya, kamu yang krem aku hitam," ujar Airin dengan penuh semangat.
"Oke besti," sahut Yura, mereka pun melanjutkan pencarian pakaian yang cocok bagi mereka.
"Ra, bagaimana pendapatmu tentang ini?" tanya Airin, mengangkat sebuah pakaian dan menunjukkannya kepada Yura.
"Ih, kayak emak-emak kalau kamu yang pakai itu," celetuk Yura, wajahnya mengungkapkan ketidaksukaannya terhadap pilihan Airin.
"Dasar kamu, Ra!" seru Airin, cepat-cepat mengembalikan pakaian itu ke tempatnya. Yura hanya bisa tertawa melihat ekspresi Airin yang kecewa.
Kemudian, yura mengambil sebuah lingerie seksi berwarna merah menyala dan berkata, "Rin, ini pasti bagus buat kamu!"
Airin terbelalak, "Aku pakai yang begituan? Ih, ogah! Apalagi aku jijik kalau harus melayani mas Reza, bekas orang lain!" katanya sambil bergidik membayangkan betapa mengerikannya mengenakan pakaian itu.
"Seksi loh, Rin," goda Yura dengan senyum nakal.
"Ogah, Yura!!" seru Airin, menekankan penolakannya.
"Iya, udah sih, gak perlu teriak juga," kata Yura sambil meletakkan kembali lingerie seksi itu ke tempatnya. Lalu mereka melanjutkan berkeliling toko.
"Ra, bagaimana dengan yang ini?" Tanya Airin kembali, mengajukan pilihan barunya kepada sahabatnya.
"Bagus tuh, cocok buat kamu dipadukan dengan celana. Bisa buat kamu tampil stylish saat kerja," kata Yura semangat.
"Oke, aku ambil yang ini aja deh," sahut Airin mantap.
"Apa kamu mau tambahin lagi, Ra?" tawar Airin pada sahabatnya, takut jika Yura malah merasa ingin mencari model lain.
"Tidak kok, Rin. Aku sudah cukup puas dengan pilihan tadi," ujar Yura dengan wajah tidak enak hati.
"Kamu yakin? Mungkin nanti ada model lain yang kamu suka." Airin tetap cemas.
"Tenang aja, udah itu aja cukup," tegas Yura sambil tersenyum.
"Oke kalau begitu. Yuk kita segera ke kasir," ajak Airin. Airin dan Yura segera menuju ke kasir untuk membayar semua belanjaan mereka dengan semangat. Setelah menyelesaikan pembayaran, kedua sahabat itu keluar dari toko dengan langkah gembira.
"Ra, bagaimana kalau kita cari tas dan sepatu juga yuk? Kita pasti butuh nanti," ajak Airin.
"Aku tahu satu tempat yang jual tas dan sepatu bermerek dengan harga terjangkau, mau coba kesana?" Yura menawarkan.
"Mantap banget tuh, yuk langsung aja kesana!" jawab Airin antusias setuju dengan ajakan Yura.
Mereka berdua segera menuju ke toko yang dimaksud Yura dengan langkah semangat.
"Nah, ini dia tokonya. Kamu bisa cari berbagai macam model sepatu dan tas di sini, ada dari yang harganya terjangkau sampai yang paling mewah sekalipun," ujar Yura sembari menunjuk papan nama toko tersebut.
Airin mengangguk pelan, perasaan tidak menentu membayang di hatinya. Mereka segera memasuki toko itu. Dalam toko itu terpampang aneka merek sepatu dan tas, mulai dari yang lokal hingga yang berkelas tinggi. Harga berkisar dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Namun, Airin tidak menunjukkan antusiasme yang sama seperti Yura.
"Yura!!" teriak seseorang.
"Hai, Juan," sapa Yura dengan senyum.
"Tumben mampir," kata Juan yang ternyata pemilik toko itu.
"Iya, nih aku bawain costumer baru," ujar Yura.
"Wah terimakasih banyak," kata Juan.
"Ayo silakan dipilih, untuk ukurannya nanti bisa dibantu oleh karyawanku," ujar Juan dengan ramah.
"Siap, Bos," kata Yura.
"Ra, kita foto dulu yuk. Mau aku unggah di WA agar bisa dilihat oleh mertua dan suami yang pengkhianat itu."
"Boleh juga tuh, Rin. Biar mereka jadi panas dingin," timpal Yura dengan senyum jahil.
****
"Gimana, Za? Kamu udah dapat uangnya buat bayar dekorasi kemarin?" Tanya ibu kepada Reza dengan nada yang tajam.
"Belum, Bu. Airin nggak bisa kasih uangnya," jawab Reza dengan suara ragu-ragu.
"Loh, gimana sih tuh Airin? Masa cuma minta uang segitu aja nggak dikasih," omel Ibunya dengan emosi yang memuncak.
Reza bisa merasakan getaran dalam suaranya, menandakan betapa marahnya hati sang ibu. "Katanya saldonya nggak cukup, Bu," tambah Reza.
"Gimana bisa gak cukup, dia kan manajer di perusahaan ternama, masa uang segitu gak ada," gumam sang ibu, alisnya berkerut khawatir.
"Reza juga bingung, Bu," ujar Reza dengan suara lemah, menatap nanar ke arah ibunya. Kepalanya pening memikirkan uang yang harus ia gunakan untuk membayar biaya dekorasi pernikahannya dan pesanan katering. Ia telah berjanji akan melunasi semuanya hari ini, karena yakin Airin akan menyerahkan uang yang ia butuhkan. Namun, nyatanya keinginannya gagal terwujud. Airin tega menolak mentransfer uang tersebut.
"Bu, boleh aku pinjam sertifikat rumah, ya? Aku akan menggadaikannya di bank untuk membayar semuanya," kata Reza seraya menelan air liurnya.
"Enak saja, nanti siapa yang akan menebusnya?" tanya sang ibu tegas, tampak ragu melepas sertifikat rumahnya sebagai jaminan.
"Tentu Reza yang akan menebusnya, Bu. Reza akan cicil tiap bulan, dan nanti minta bantu Airin juga," jawab Reza berusaha meyakinkan ibunya.
"Memang kurangnya berapa sih, Za?" tanya sang ibu penasaran.
"Masih kurang lima puluh juta, Bu," jawab Reza terbata-bata.
Ibu menarik napas dalam-dalam, kemudian berujar dengan penuh perasaan, "Tapi ingat ya, kamu harus menepati janji untuk menebus sertifikat rumahku."
"Siap bu,"jawab Reza.
Tak lama ada seseorang yang mengetuk pintu.
"Siapa sih yang siang-siang begini bertamu," kata sang ibu.
"Ibu buka gih, siapa tau penting," perintah Reza kepada ibunya.
Reza dan istri barunya memang menginap di rumah sang ibu, setelah resepsi pernikahan mereka kemarin. Reza melakukan resepsi pernikahan di hotel bintang lima. Dan mendekorasi resepsi pernikahan itu bak Kerajaan sesuai permintaan sang istri baru. Darimana reza mendapatkan uang untuk DP? Ya dari morotin istri pertamanya.
Saat membuka pintu, ibunya terkejut melihat tamu yang tak terduga – pihak dari WO dan catering.
"Silakan masuk," sambut Ibu Reza dengan terbata. Kedua tamu itu pun melangkah masuk ke ruang tamu.
"Maaf kami datang tiba-tiba, tapi kami ingin menagih janji dari Pak Reza yang katanya akan diselesaikan hari ini," ujar salah seorang tamunya dengan nada tegas.
"Oh iya, sebentar ya. Saya panggilkan Reza dulu," sahut sang Ibu, agak gugup.
"Baik," sahut tamu itu, sedikit tidak sabaran. Ibu Reza bergegas mencari anaknya di dalam rumah, tapi tak menemukannya.
"Kemana ini anak, kok menghilang di saat genting begini," gumam sang ibu dengan wajah cemas. Dengan berat hati, Ibu Reza kembali ke ruang tamu dan menghadapi kedua tamunya.
"Maaf Mbak dan Mas, Reza sedang pergi. Mungkin sore atau malam dia akan pulang," jelas sang ibu dengan ekspresi khawatir.
"Ibu, ini gimana sih? Kan janjinya hari ini akan diselesaikan semuanya," kata tamu itu, nada marah terasa menyengat.
"Iya, Mas, saya tahu. Tapi Reza memang tidak ada di rumah, uangnya ada di dia," sang ibu mencoba menjelaskan.
"Kami tidak mau tahu, Bu. Uangnya harus ada hari ini! Kami sudah kesulitan dan sabar menunggu," tukas tamu itu, tegak lurus menatap sang ibu. Wajah Ibu Reza pucat, merasa terdesak dan tidak tahu harus berbuat apa.
"Orang kere aja sok-sokan nikah di hotel, pake WO segala. Kalau memang tak punya uang, lebih baik di KUA aja, gak usah pake WO," sindir seorang tamu dengan nada merendahkan.
"Ya, Mbak, tolong bicara yang sopan. Jangan dengan seenaknya bilang kami kere," sang ibu mencoba menahan amarahnya yang kian memuncak.
"Kalau bukan kere, langsung bayar dong, Bu," sahut tamu itu, semakin mengejek.
"Iya, pasti dibayar kok. Anak saya lagi keluar. Nanti begitu sudah pulang, pasti langsung dibayar," bantah sang ibu dengan bibir bergetar.
"Nah, kami tunggu besok sebelum jam satu siang. Kalau belum bayar juga, siap-siap kami laporkan ke polisi," ancam tamu yang lain.
"Kami permisi, Bu," ujar tamu itu sambil angkuh berlalu.
"Iya-iya, baru telat sehari aja udah geger seakan-akan kami tidak akan membayar. Takut sekali ya mereka," ujar sang ibu, membalas sindiran tamu-tamu tadi dengan nada penuh kekesalan.
Kedua tamu itu pun meninggalkan rumah milik ibunya.