Bab 3

1153 Kata
Setelah mengantarkan Ridho ke tokonya, Airin dan Yura segera menuju ke mall terdekat. Mereka ingin melupakan sejenak masalah yang ada dalam hidup mereka dan menenangkan hati. Hanya sekitar lima belas menit kemudian, mereka sudah sampai di parkiran mall. Airin memarkirkan mobilnya dengan sigap, lalu mereka berdua segera menuju lobi mall dengan langkah semangat. Tempat pertama yang ingin mereka datangi adalah food court, karena perut mereka sudah berontak menuntut untuk diisi. "Kita mau makan apa, Ra?" tanya Airin pada sahabatnya sambil menggenggam perutnya yang lapar. "Apa saja yang penting enak," jawab Yura dengan senyum tipis, mencoba menyembunyikan perasaannya. Mendengar itu, Airin mengusulkan, "Gimana kalau kita makan ramen? Aku pengin banget menikmati kepedasan yang bisa melunturkan rasa sakit hati. "Yura mengangguk antusias, menyetujui pilihan sahabatnya. "Boleh juga tuh, Ra. Aku juga pengin merasakan kelezatan dari negeri sakura itu." Dengan semangat yang baru, mereka berdua pun mencari stand yang menjual makanan ramen. Seakan masalah dalam hidup mereka akan terobati, setidaknya untuk sementara, oleh kelezatan hidangan tersebut. Setelah mencari-cari, akhirnya mereka menemukan stand yang menyajikan kelezatan yang diidamkan. Airin bergegas menuju stand ramen itu dan memesan dua mangkuk dengan level kepedasan berbeda, segera membayarnya, sementara Yura menggelandang mencari spot terbaik untuk mereka santap bersama. Begitu pesanan selesai, Airin menyusul sahabatnya itu. "Rin, apa rencana selanjutnya?" tanya Yura penasaran. "Ku akan menjebak mereka dalam permainan mereka sendiri, menuntaskan dendam yang membara ini hingga mereka menyesali tindak pengkhianatan yang dilakukan," ujar Airin dengan api kebencian membara di matanya. "Bagus, Rin. Jangan biarkan dirimu menjadi wanita lemah yang dipermainkan," semangati Yura. "Tentu saja, Ra. Mereka sudah terlalu nyaman hidup mewah dengan uangku, bergelimang harta dan bersenang-senang dengan segala yang kulakukan, eh ternyata mereka mengkhianatiku! Kupastikan mereka akan merasakan getirnya," sambung Airin penuh tekad. Dibalik amarahnya, Airin bertekad untuk membalas perlakuan tak adil yang diterimanya, membuat mereka menanggung akibat yang seratus kali lebih pedih dari luka yang dirasakan Airin. "Bersikaplah tegas, Rin. Jangan mau terus dibodohi oleh mereka," ujar Yura, menguatkan tekad sahabatnya. Tak lama pesanan mereka datang dan mereka pun menikmati makanan mereka. Setelah selesai menikmati makan siang, yura dan Airin segera meninggal Food court. Dan menuju ke salon langganan mereka. "Hai cantik-cantik ku, kenapa baru mampir?" Tanya Silfi pemilik salon. "Iya nih kak, baru sempet. Maklum bos kita ini kan sibuk," ujar Yura sambil melirik ke arah Airin. "Ah bisa aja kamu Ra," kata Airin yang merasa tersindir. "Kak, kita mau perawatan full bodi ya," pinta Airin ke Silfi. "Oke cantik, yuk kita langsung saja ke bilik. Nanti aku panggilkan therapist yang top di solanku ini," kata Silfi. Yura dan Airin mengikuti langkah dari pemilik salon menuju ke bilik perawatan. "Kalian ganti baju dulu, aku panggilkan therapistnya dulu," ujar silfi. "Oke kak, therapistnya yang terbaik ya kak, mumpung gratisan" ujar Yura terkekeh-kekeh. "Siap kalo itu," ujar Silfi. Silfi pun meninggalkan mereka untuk memanggilkan dua orang therapist terbaiknya, sedangkan Yura dan Airin segera berganti pakaian. Sekitar sepuluh menit mereka menunggu, akhirnya para therapist itu datang. Mereka segera melakukan perawatan full body seperti yang di inginkan oleh Yura dan Airin. Disela-sela perawatan ponsel Airin berbunyi. "Mbak, maaf bisa ambilkan ponsel saya di meja," pinta Airin dengan sopan. "Baik kak," jawab Therapist itu. Therapist itu pun segera mengambilkan Ponsel milik Airin lalu memberikan kepada Airin. "Terima kasih banyak," kata Airin saat menerima ponselnya. "Siapa Rin?" Tanya Yura kepo. "Mas Reza," jawab Airin. "Pasti mau nanyain kenapa belum juga transfer," tebak yura. "Mungkin saja," jawab Airin. "Ingat apa yang aku bilang tadi," kata Yura mengingatkan tentang rencana mereka untuk membalas sakit hati Airin. "Siap, aku gak akan lupa," jawab Airin. Airin pun segera mengangkat teleponnya. (Ya halo mas) Sapa Airin kepada Suaminya. (Sayang kok kamu belum transfer uang yang mas minta?) Tanya Reza. (Maaf mas saldonya gak cukup. Aku lupa ngasih tau kamu kalo aku baru aja membeli kebun sawit, di Kalimantan. Kata mas Razaq harganya murah karena pemiliknya lagi butuh cepat untuk pengobatan keluarganya. Dan juga aku baru aja beli bibit sawit untuk di tanam disana. Maaf ya mas) Kata Airin berpura-pura merasa bersalah. (Jadi kamu gak bisa kirim uang itu?) Tanya Reza. (Iya mas ga bisa, uangku tinggal tiga juta di rekening. Dan gajian pun masih lama. Aku ada uang nanti saat terima gaji itu pun gak sampai ke nominal yang kamu mau) Ujar Airin berpura-pura sedih. (Apa kamu gak bisa usahakan sayang. Pinjam ke bang Razaq) Kara Reza setengah memaksa. (Duh gak bisa sayang. Karena kemarin itu juga pake separuh uang bang Razaq untuk menutupu pembelian bibit sawit dan pupuknya) Kata Airin. Panggilan pun di matikan oleh Reza. "Gimana?" Tanya Yura setelah Airin meletakkan ponselnya di atas meja. "Pastinya dia bingung mencari uang sebanyak itu," ujar Airin. "Biar dia tau rasa, Rin. Enak aja, dia foya-foya dengan uang kamu," jawab Yura. "Iya biar dia tau diri," ujar Airin dengan senyum dengan sinisnya. Akhirnya selesai, selama dua jam mereka melakukan perawatan full body. Setelah perawatan, Yura dan Airin merasakan bugar. Setelah perawatan tubuh, mereka melakukan perawatan wajah. "Pokoknya hari ini kita manjakan badan kita. Daripada iti uanh Transfer ke mas Reza buat dia senang-senang sama istri barunya kan lebih baik kita yang seneng-seneng. Aku yang kerja dari pagi sampe malam, mereka yang menikmati hasilnya. Sory ye," ujar Airin. "Pinter, daripada buat mereka kan lebih baik buat traktir aku," ujar Yura terkekeh-kekeh. "Ah itu mah mau mu," kata Airin yang ikut tertawa. Sekitar empat jam mereka berdua berada di salon itu. Dan mereka merasa puas dengan pelayanan yang di berikan oleh pemilik salon. "Gimana-gimana mantulkan?" Tanya Silfi kepada Yura dan Airin. "Top markotop dah," ujar Yura seraya memberikan dua jempol tangannya. "Berapa kak?" Tanya Airin kepada silfi pemilik salon itu. "Semuanya empat juta lima ratus ribu rupiah," jawab Silfi. "Aku transfer ya kak, nomer rekening masih sama kan?" Tanya Airin kepada silfi. "Masih dong," jawab Silfi. Airin pun langsung membuka M-bankingnya dan mentransfer sejumlah uang ke nomor rekening milik Silfi. "Sudah ya kak," kata Airin sambil menunjukkan bukti transferan kepada Silfi. "Eh kok banyak banget, itu kelebihan tiga ratus ribu," ujar Silfi. "Iya kak yang tiga ratus ribu tolong berikan kepada therapist kakak. Anggap aja tips dari aku," ujar Airin. "Wah, kamu itu gak berubah ya Rin. Baik banget. Siapapun suami kamu pasti beruntung bisa punya istri kaya kamu," ujar Silfi. "Wah kak silfi jangan salah, suaminya Airin dan keluarganya malah numpang hidup sama dia. Tapi mereka cuma mau morotin Airin aja," ujar Yura. Airin langsung melotot ke Yura saat mendengar ucapan Yura dengan emosi tak tertahankan. "Rin, baik boleh bego jangan. Jangan mau mamu di porotin sama mereka," ujar Silfi yang ikut emosi mendengar ucapan Yura. "Iya kak, sekarang dah gak akan ada lagi Airin yang dulu yang dengan mudahnya percaya omongan suami dan keluarganya," ujar Airin yang merasa bodoh selama ini. "Oke kak, makasih banyak ya. Kita mau lanjut memanjakan diri," ujar Yura. "Oke hati-hati dijalan," ujar Silfi melepas kepergian kedua tamu langganan salonnya. Di lain tempat, Reza sedang kebingungan karena uang yang dia minta ke istrinya tidak dia dapatkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN