“Dasar makhluk keras kepala sialan! Tanduk sudah hilang satu saja masih berani datang!” ucap Marco kesal. “Kalau seperti itu aku akan membuat kepalamu tidak berada di tempatnya lagi hari ini!” sambung Marco yang mengejek Minotaur. Marco terus berusaha menghindari amukan mereka. Ia berusaha memanjat tubuh-tubuh raksasa itu meskipun sulit.
Leo saat ini tengah menghadapi Ogre dibantu oleh prajurit lain dari jauh. Leo tengah berusaha membuat Ogre melepaskan palu raksasanya yang merepotkan. Alvin tengah sibuk memanah tiga makhluk itu sekaligus. Ia melakukannya dengan sangat cepat. Itulah kehebatan Alvin di balik semua sifat konyolnya. Aaron bersama ratusan prajurit bertombak terus melemparkan tombak api mereka. Mereka sengaja membakar ujung tombak mereka yang terbuat dari besi agar besi itu panas dan memudahkan menembus kulit keras mereka. Sean bersama pasukan lainnya menyerang di depan dengan membabi buta. Jika tidak seperti itu mereka akan kalah. Pertempuran itu memang tidak terlihat seimbang.
“Sean! Cepat panjat tubuhnya. Tengkuk mereka adalah kelemahannya!” teriak Marco yang sudah tahu kelemahan tiga makhluk raksasa itu.
Di tengkuk mereka terdapat seperti sebuah batu hitam yang menempel di tubuh mereka. Batu itu seperti aspal yang mengumpal-gumpal. Marco tidak tahu itu apa, tetapi ia merasa itu adalah titik lemah mereka karena Marco melihat di dua makhluk lainnya juga terdapat yang seperti itu. Namun, untuk mencapai ke tengkuk mereka bukanlah hal mudah. Ketiga makhluk yang mereka hadapi bukan makhluk biasa. Ketiganya adalah jelmaan dari raja tamak.
“Kau pikir memanjat tubuh mereka itu mudah seperti menaiki tangga! Jika saja aku punya sayap pasti itu akan mudah!” teriak Sean sambil mengayunkan pedangnya ke arah Cyclops. Beberapa prajurit lain sedang menyerangnya dengan meriam. Ada juga dengan senjata sejenis jangkar bertali di ujungnya dan mereka meluncurkannya ke arah tubuh raksasa tersebut. Lalu jangkar itu kemudian menembus tubuh-tubuh raksasa yang berkulit tebal. Kemudian para prajurit dengan sekuat tenaga menariknya agar makhluk itu bisa tumbang. Namun, itu bukanlah hal mudah. Beberapa kali usaha itu gagal. Mereka bukan makhluk lemah yang bisa mereka hadapi tanpa rencana.
“Hancurlah semua kalian manusia terkutuk! Hari ini akhir dari masa kalian!” Ogre langsung mengibaskan palunya. Palunya itu langsung menghantam tanah dan melukai serta menewaskan beberapa prajurit kerajaan Alana. Leo melihat itu dengan perasaan murka. Ia tidak akan membiarkan makhluk itu mengambil nyawa mereka lebih banyak lagi.
“Hari ini kau yang akan hancur. Aku tidak akan melanggar janjiku kepada ratu!” semangat Leo kembali mengebu-gebu. Bagaimana ia ingat janjinya terhadap Alana bahwa mereka tidak boleh kalah, janjinya akan menjemput Alana kembali dan janjinya untuk selalu melindungi Alana.
“Aaron! Cepat arahkan tombakmu di dekat kakinya. Buatkan aku jalan untuk memanjat tubuhnya!” perintah Leo. Aaron langsung melakukan apa yang diperintahkan Leo. Awalnya ia menancapkan satu tombaknya di kaki Ogre. Makhluk itu langsung mengerang kesakitan. Ketika ia menunduk untuk mencabut tombak Aaron, itulah kesempatan Leo untuk meloncati tubuhnya.
Leo berdiri di atas kudanya lalu ia meloncatinya dan tangan Leo sampai pada pakaian Ogre yang terkoyak-koyak. Leo dengan lincah memanjatnya. Ogre yang sadar jika Leo sudah berada di tubuhnya seperti seekor semut yang siap menggigitnya, saat itu juga Ogre langsung berusaha menggapai Leo yang sekarang ini sudah berada di punggungnya. Seperti yang Marco lihat di punggung Minotaur, Ogre juga memilikinya. Batu hitam yang menggumpal, sepertinya itu adalah tempat roh mereka bersemayam. Roh kegelapan dari diri mereka.
Penasihat kerajaan Alana yang juga ikut berperang melihat Leo sudah berada di punggung Ogre. Ogre mengamuk mengibas-ngibaskan tubuhnya sendiri agar Leo jatuh. Tangannya tidak bisa menggapai punggungnya sendiri. Leo memanfaatkan kesempatan itu dengan cepat. Minotaur yang melihat kehadiran Leo di punggung Ogre langsung segera bernafsu untuk membunuhnya. Ia tidak peduli dengan Ogre yang sekarang tengah kesulitan akibat kehadiran Leo di tubuhnya, Minotaur langsung mengibaskan kapak besarnya ke arah Leo. Semuanya terdiam melihat kejadian yang baru saja terjadi. Tubuh raksasa yang sekarang telah terbelah dua itu jatuh berdentum ke tanah. Alih-alih menyerang Leo, Minotaur justru membunuh kawannya sendiri. Erangan Ogre memekakan telinga mereka. Darah hitam langsung membasahi tanah di sana. Gumpalan-gumpalan hitam seperti batu itu kemudian keluar dan membentuk seperti cairan yang menjijikan. Cairan itu terus keluar sampai tubuh Ogre mengempis seperti balon. Kemudian cairan itu berubah wujud seperti manusia dan setelahnya ia menghilang diiringi teriakan yang sangat menyakitkan. Semua memandang ngeri kejadian beberapa saat lalu. Tidak ada yang tahu ke mana perginya wujud tadi.
Itu merupakan satu keuntungan untuk mereka. Ternyata dendam Minotaur terhadap Leo membawa dampak baik sampai ia melupakan kawanannya sendiri. Dendam kadang-kadang menguasai semuanya. Bagaimana dengan Leo sendiri? Leo berhasil menghindari kapak besar yang nyaris membunuhnya. Hampir saja kapak itu mengenai kepalanya jika saja ia tidak gesit menghindar.
“Kau membunuhnya!” ucap Cyclops terkejut karena melihat Minotaur membunuh temannya sendiri.
“Aku tidak sengaja,” jawab Minotaur tanpa rasa bersalah. Ia memandang Leo dengan bengis. Dendam menguasai segalanya.
“Haha! Dia makhluk bodoh yang membunuh temannya sendiri. Leo, sebaiknya kau melakukan hal itu lagi kepada satu temannya.” Marco tertawa terpingkal-pingkal melihat kebodohan Minotaur. “Aku lelah harus mengerakan tanganku untuk berperang,” sambung Marco masih dengan perasaan geli.
“Mereka hebat, tetapi tidak mempunyai otak. Betapa kasihannya. Harusnya kepala mereka yang besar itu diisi dengan otak udang atau sapi, tetapi otak ayam atau babi juga bagus. Eh, tetapi kurasa otak monyet, keledai, cacing, dan nyamuk juga cocok untuknya,” rutuk Alvin sambil mengingat-ngingat otak apa saja yang sedang ia pikirkan saat ini.
“Cepat tumbangkan Cyclops dan Minotaur! Tidak ada waktu untuk bercanda dan menertawai kebodohannya!” Leo kembali mengambil pedangnya dan ia dengan cepat mendekati Minotaur. Ia bertekad kali ini akan memenggal kepala makhluk bodoh itu. Tidak peduli dengan erangannya yang menakutkan atau kapaknya yang besar.
“Hati-hatilah Leo! Dia menyimpan dendam yang sangat besar kepadamu!” Aaron memperingatkan.
“Kalian urus saja sisanya! Aku akan melawannya satu lawan satu!” Leo seolah tidak mempedulikan apa pun lagi. Pedangnya tiba-tiba menyala terang. Warna kebiruan dengan kristal-kristal kecil menghiasinya. Awalnya Leo cukup terkejut dengan hal itu karena ia tidak tahu efek kekuatan pedangnya tidak hanya berpengaruh di Majë, tetapi juga di dunia tengah. Seolah mendapat kekuatan lebih Leo langsung menghadapinya.
“Kau berani datang melawanku seorang diri. Baiklah, aku akan melawanmu dan memastikan kau kalah!” Minotaur langsung menyerang Leo dengan kapak besarnya, tetapi Leo berhasil menangkisnya dengan pedangnya. Para prajurit lain Leo perintahkan untuk mundur. Ia akan menghadapinya seorang diri seperti layaknya gladiator.
Pertarungan itu berjalan alot, keduanya berimbang. Setiap serangan kapak besar itu seolah tidak berpengaruh terhadap pedang Leo. Tangkisan demi tangkisan terjadi. Leo seperti biasa, tidak membiarkan teman-temannya membantu sedikit pun. Mangsanya adalah mangsanya, tidak boleh diganggu gugat. Sean, Marco, Alvin, dan Aaron serta prajurit-prajurit lain berikut penasihat kerajaan Alana tengah menumbangkan Cyclops. Mereka cukup kesulitan karena dia memang kuat. Tubuh besarnya itu menjadi kelebihannya. Cukup memakan banyak waktu untuk membuatnya menyerah.
“Aku tidak suka dengan manusia! Aku akan menghabisi kalian!” Cyclops lalu mengamuk. Tangannya yang tadi sudah berhasil terkena tombak, busur panah, dan jangkar terlepas tanpa banyak kendala. Ia lalu menyerang dengan membabi buta. Semua prajurit kerajaan Alana langsung diserangnya tanpa ampun. Ia meraupnya dengan tangan lalu meremasnya sampai mereka tidak sadarkan diri dan melempar-lemparkannya layaknya sampah. Ia juga menginjak-injak mereka. Saat itulah Alvin merasa kesempatan datang. Ia mengambil jarak yang cukup jauh untuk memanah. Kali ini Alvin bukan menggunakan anak panahnya yang biasa. Anak panah kali ini adalah anak panah keberuntungannya. Alvin menyebutnya anak panah keberuntungan karena itu adalah anak panah yang terbuat dari kayu yang hanya tumbuh di daerah pegunungan di kerajaannya dulu Sierra. Sean dan Marco terus berusaha untuk menaiki tubuh Cyclops. Aaron terus berusaha menembaki mata satunya itu dengan tombaknya.
“Binggo!!” ucap Alvin dengan senyum lebar. Anak panah itu mengenai tengkuknya. Ia sekarang mengarahkan anak panahnya lagi. Saat Alvin tengah mengarahkan anak panahnya. Ia mendengar suara gemuru dari hutan oak. Alvin mengurungkan niatnya untuk memanah. Dari dalam hutan langsung keluar sekelompok bangsa Wulf dan Oxa yang langsung menyerang Cyclops. Sontak hal itu menimbulkan kekacauan karena kehadiran mereka yang tiba-tiba.
“Tenanglah! Mereka teman kita. Dia adalah teman-teman Alana!” Marco memberitahukan kepada prajurit yang lain untuk tidak perlu takut karena itu adalah teman-teman Alana.
Saat itu juga bangsa Ezio muncul dari langit. Serangan dan kekuatan mereka menjadi berkali-kali lipat. Cyclops seperti seekor semut yang menjadi santapan lezat bangsa Wulf dan Ezio. Namun, Aaron, Alvin, Marco, dan Sean terus membantu mereka. Sedangkan Leo masih bertarung seorang diri dengan Minotaur.
♜♜♜
“Betapa bodohnya mereka! Dendam menguasai segalanya.” Wyvern berucap dengan nada marah.
“Dia telah membunuh satu kawanan kita. Harusnya dia berpikir jika saja Ogre itu tidak kuat dan tidak menguntungkan maka barulah ia bisa membunuhnya, tetapi kenyataannya tumbangnya Ogre membuat mereka semakin kesulitan. Dasar makhluk bodoh,” kata Ajatar yang juga setuju. Semua raja-raja tamak di sana berkumpul melihat apa yang terjadi. Mereka melihatnya dari lingkaran api, seperti sebuah gambaran layar tancap yang menayangkan kejadian langsung.
“Jika mereka kalah, itu artinya mereka memang tidak bisa diandalkan.” Tiamat juga ikut berkomentar.
“Aku memang sengaja mengutus ketiganya. Karena kebodohannya. Aku ingin membuang mereka. Karena aku tahu mereka akan mengacaukan rencanaku. Kartu andalanku bukanlah mereka. Kartu andalanku adalah kalian,” semua terkejut mendengar pengakuan Ifrit. Cuku tidak menyangka bahwa sang penguasa memilih membuang satu persatu bidak yang dianggapnya tidak berguna.
“Wahai penguasaku, apakah maksudmu?” tanya Nidhog mewakili keterkejutan yang lainnya.
“Maksudku sudah jelas. Mereka hanyalah sampah yang aku manfaatkan. Kalian sudah melihat sendiri kebodohan mereka. Itu membuktikan segalanya. Yang kuat yang bertahan,” jawab Ifrit. Api kembali memenuhi tempat itu.
“Penguasa, kau tahu kita akan kalah? Kau membiarkannya?” tanya Ladon dengan suara berat khasnya. Dia berpikir mungkin saja Ifrit tengah membuat lelucon mengenai membuang bidak bodohnya.
“Aku tahu. Itu termasuk dalam rencanaku. Sudah kukatakan dari awal aku ingin membuang mereka. Tubuh lambat mereka dan otak kosong mereka tidak akan berguna banyak untuk memainkan banyak strategiku dalam menghadapi Yupiter, Poseidon, Neptune, Oceanus, dan Triton serta keenam manusia menjijikkan itu. Menghadapi mereka haruslah memakai strategi matang. Aku punya strategi lain selain strategimu, Wyvern,” ucap Ifrit dengan suara yang mengerikan. Seperti suara kobaran api ketika ia berbicara.
“Penguasaku, jika strategimu lebih baik dari strategiku maka aku akan menerimanya. Kau adalah penguasa kami maka kami akan menerimanya,” jawab Wyvern dengan penuh sopan. Mereka memang paling tunduk kepada Ifrit karena jika mereka melanggar itu sama saja dengan bunuh diri.
“Jika mereka berdua berhasil membunuh salah satu dari kelima sialan itu. Aku akan membuat mereka menjadi kartu andalanku kembali. Jika gagal maka aku akan benar-benar membuang mereka. Ladon, awasi Breen. Awasi ratu itu. Dia bisa saja lepas dari pengawasan bangsa Pixie dan saat itulah kesempatan kita datang,” perintah Ifrit lagi.
“Tentu saja, prioritas kita adalah ratu itu. Jika dia mati maka era manusia dan sekutunya akan berakhir. Kitalah yang akan menguasai Mašte selanjutnya,” sorakan mereka terdengar mengerikan meskipun sedang bersukacita dengan khayalan mereka. Ketegangan terus terjadi. Bahaya terus mengincar bangsa manusia.
♜♜♜
“Satu tahun yang lalu kau pernah mengacaukan kerajaan kami! Satu tahun yang lalu kau dan kawanamu telah membuat raja kami harus kehilangan nyawa! Satu tahun yang lalu kau dan penguasamu telah menyembunyikan kerajaan kami! Hari ini aku akan membalasnya dengan membunuhmu!” ucap Leo penuh marah. Pedangnya kali ini berhasil melukai kaki kiri Minotaur. Luka lebar menganga serta mengeluarkan darah hitam yang menjijikkan tidak dipedulikan oleh Leo.
“Aku tidak akan membiarkanmu melakukannya! Hari ini kaulah yang akan mati! Morani!” keduanya kembali terlibat pertarungan yang sengit. Adu senjata yang memang tidak seimbang itu membuat suasana semakin tegang. Sementara sahabat-sahabatnya yang lain tengah menghadapi Cyclops yang telah melemah. Tubuh Cyclops sudah banyak terluka akibat cakaran serta gigitan dari bangsa serigala serta elang dan juga akibat tandukan dari bangsa lembu. Bahkan mata satunya sudah buta akibat dari tombak Aaron. Alvin juga berhasil menancapkan anak panah keberuntungannya pada gumpalan batu yang terdapat di tengkuk Cyclops. Sudah banyak darah hitam yang mengalir di tubuh Cyclops akibat ulah mereka. Ia sudah benar-benar lemah. Hanya tinggal menjatuhkan tubuhnya yang besar itu lalu menghabisinya. Mereka tidak akan menyerah untuk mengalahkan musuh.
“Coba saja ada putri berdada besar yang melihat aksiku ini. Aku yakin mereka akan langsung terpikat kepadaku. Mereka akan berkata—Oh Alvin yang tampan, begitu hebatkah dirimu sampai bisa mengalahkannya. Izinkan aku untuk mengenalmu dan mendampingimu—lalu aku akan langsung melamarnya kemudian kami menikah,” ujar Alvin dengan mata yang berbinar-binar. Ia lupa situasi lagi.
“Coba saja bangsa Pixie melihat kita. Hei bukankah memang bangsa Pixie bisa melihat kita? Maksudku mereka sekarang sedang menonton kita dari suatu tempat? Aku ingin mimisan memikirkannya. Ayo lakukan lebih hebat lagi agar ketika Alana mengenalkan mereka kepada kita mereka langsung tertarik. Putri Pixie, siapapun yang sedang melihat kami bertarung saat ini tolong pikirkan dan persiapkan hati kalian. Kami akan mengisi hati dan pikiran kalian dengan cinta!” Marco juga melakukan hal yang sama seperti Alvin karena ia mendengar perkataan Alvin. Kedua orang itu lalu melakukan tos dan tertawa terkikik geli. Keduanya lebih memilih menjauh dan menonton pertandingan.
Jika saja Alana ada di sana pastilah keduanya akan mendapatkan pukulan atau tendangan karena bercanda dalam situasi yang salah, tetapi itulah Alvin dan Marco. Kedua orang yang pikirannya selalu kotor dan konyol serta aneh. Sementara Sean dan Aaron saat ini tengah serius untuk membunuh Cyclops.
“Marco, bagaimana jika sampai di Breen nanti kita taruhan,” ajak Alvin. Marco mengernyit heran, tetapi ia tampak tertarik. “Kita taruhan, apa yang akan dilakukan Leo dan Alana pertama kali saat bertemu,” sambungnya dengan mata yang menyiratkan sesuatu.
“Berpelukan dan aku yakin Alana akan menciumnya atau sebaliknya. Aku yakin kali ini aku akan menang. Hei jika aku menang aku akan memakan jatah makananmu,” ucap Marco yang menyetujui ajakan taruhan Alvin.
“Mereka akan melakukan adu domba!” teriak Sean tiba-tiba sambil terus mengarahkan pedangnya untuk menghadapi Cyclops. Alvin dan Marco tiba-tiba menoleh ke arah Sean. Mereka tidak mengerti Sean sedang membicarakan apa dan berbicara dengan siapa.
“Apa yang dia bicarakan dan berbicara dengan siapa dia?” tanya Marco dengan pandangan bertanya kepada Alvin. Alvin menggeleng.
“Hei Sean! Itu jawabanku! Kau jawab yang lain saja. Pokoknya aku yang menjawab Alana dan Leo akan beradu domba!” Aaron tiba-tiba juga menyahut. Marco dan Alvin semakin tidak mengerti.
“Tapi aku yang lebih dulu mengucapkannya!” teriak Sean tidak terima. Ia masih terus bertarung dengan Cyclops.
“Apa yang mereka berdua perebutkan. Apa maksudnya adu domba?” tanya Marco pada Alvin. Alvin menggeleng. Namun, tiba-tiba keduanya menoleh bersamaan dan mata mereka terbelalak. Bersamaan dengan itu Cyclops akhirnya tumbang setelah penasihat kerajaan Alana berhasil menancapkan pedangnya di tengkuk Cyclops.
“Apakah maksudnya adu domba itu membuatkan keponakan untuk kita!” ucap Alvin dan Marco bersamaan. Keduanya lalu menampakkan ekspresi terkejut, mata mereka terbelalak, mulut mereka terbuka lebar dan yang paling parah adalah khayalan keduanya.
“Kenapa kita tidak pernah berpikir seperti itu?” ucap Marco dengan pikiran kotornya. Alvin mulai tertawa aneh. Di dalam otak Marco dan Alvin sekarang berkelebat bayangan-bayangan kotor. Mereka seperti melupakan apa yang ada di depan mereka. Mereka melupakan jika saat ini Leo sedang bertarung. Sean dan Aaron yang telah selesai mengalahkan Cyclops mendatangi mereka lalu memukul kepala mereka berdua.
“Sadarlah, saat ini bukan waktunya berkhayal! Leo sedang bertarung!” ucap Aaron yang memukul kepala Alvin dan Marco dengan ujung tombangnya. Keduanya ingin protes, tetapi mengurungkan niat mereka. Saat ini Leo dan Minotaur sedang bertarung satu lawan satu. Tidak ada yang membantunya karena Leo memang seperti itu. Ia tidak suka ada yang mencampuri pertarungannya.
“Ayolah Leo, aku tahu kau pasti bisa mengalahkan makhluk bodoh itu. Aku tahu kau selalu bertambah kuat setiap harinya. Kalahkan dia Leo!” teriak Marco memberikan Leo semangat.
Sementara Leo yang sudah mulai lemah karena ia menderita beberapa luka akhirnya memilih berhenti sejenak. Darah mengalir dari lengannya, tetapi tidak membuat Leo menyerah. Yang selalu membuatnya bertahan adalah bayangan sahabat-sahabatnya dan juga Alana. Itulah yang menguatkan Leo. Tidak ketinggalan, janjinya kepada Alana yang harus ia tepati. Minotaur akhirnya kalah setelah Leo berhasil memanjat tengkuknya kemudian memotong leher Minotaur. Darah berwarna hitam kental serta menjijikkan keluar dengan derasnya. Seperti yang terjadi pada Ogre serta Cyclops, tubuh Minotaur juga mengeluarkan cairan aneh berwarna hitam membentuk sosok tubuh. Namun, nahas, sosok itu berhasil memegang tangan Leo sebelum akhirnya dia hilang membawa tubuh Leo. Semua yang ada di sana terkejut.
“Leo!” teriakan membahana dari keempat sahabatnya. Leo hilang. Dan saat itu juga semua orang kebingungan. Kemenangan yang hampir di depan mata seolah lenyap. Keempat sahabat Leo seperti orang gila karena kehilangan Leo. Lolongan dan lengkingan dari serigala serta elang juga membahana. Semua seakan tidak menginginkan kehilangan Leo.
TBC...