Beatus

3132 Kata
Alana masih berbaring sambil terus memegangi kalung pemberian Leo. Ia hanya diam dan kadang-kadang memejamkan matanya. Saat Alana memejamkan matanya ia dapat merasakan Leo ada di dekatnya. Sentuhan bibir Leo di bibirnya bahkan masih sangat terasa di bibir Alana. Jantungnya selalu berdetak kencang jika mengingat kejadian itu beberapa saat yang lalu. Hanya kejadian itulah yang bisa membuat Alana tersenyum di dalam kegundahan hatinya. Hatinya sangat tidak tenang memikirkan apa saja yang terjadi. Teman-teman Alana dari bangsa Wulf, Ezio, dan Oxa memang tidak ada yang memberitahukan mengenai kabar Leo. Bangsa Pixie yang memintanya untuk merahasiakan semuanya. “Alana!” Alana hanya menoleh tanpa minat ketika mendengar namanya dipanggil oleh Isadora. “Ada apa?” tanya Alana tanpa bergerak dari tempatnya berbaring. Isadora ingin menyampaikan sesuatu, tetapi ia tidak tega. Wajahnya menampakkan kesedihan dan keraguan. Ia sungguh tidak tega melihat Alana yang sekarang tengah memikirkan banyak hal. Meskipun kemenangan menjadi milik mereka, tetapi berita Leo yang hilang tentu akan membuat Alana sedih. Ia tahu betapa dalamnya cinta Alana kepada Leo. Isadora mendekati Alana dan membelai kepala sahabatnya itu. Alana sedikit merasa aneh melihat raut wajah Isadora. “Ada apa Isadora?” tanya Alana mulai curiga. Isadora melihat Alana masih memegang kalung pemberian Leo. Ia semakin tidak tega mengatakannya. “Tidak Alana, tidak ada apa pun. Aku hanya mengkhawatirkan keadaanmu,” jawab Isadora berusaha mengembangkan senyumnya. Kali ini ia memutuskan untuk tidak memberitahu Alana yang sebenarnya. Mereka akan berusaha mencari keberadaan Leo dan Alana tidak perlu tahu bahwa Leo hilang. “Apakah ada kabar mengenai kerajaanku serta sahabat-sahabatku dan Leo?” tanya Alana pada Isadora. Lidah Isadora tiba-tiba keluh ketika mendengar pertanyaan Alana. “Belum Alana, perang masih berlangsung,” dusta Isadora. Ia sangat menyesal harus berdusta kepada Alana. Namun, bagaimana lagi, dia tidak ingin melihat Alana menderita. Mereka bangsa peri juga tidak tahu di mana keberadaan Leo. Leo berada di luar penglihatan mata mereka. “Kapan perang akan berakhir. Aku mengkhawatirkan semuanya.” Alana akhirnya memilih untuk duduk. Isadora menggenggam tangan Alana untuk memberikannya kekuatan. “Yakinlah, semua akan segera berakhir dan kemenangan akan menjadi milik kita. Alana, sebaiknya sekarang kau makan. Kami baru saja memcoba memasak beberapa menu baru. Ayolah, kau perlu makan. Leo akan sedih melihatmu jika kau kurus karena tidak makan,” bujuk Isadora. Alana yang mendengar perkataan Isadora akhirnya mau makan meskipun dengan berat hati. Demi Leo ia akan melakukan apa pun. Ia tidak ingin Leo melihatnya kurus, ia ingin Leo melihatnya bahagia. Isadora tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Alana jika mengetahui apa yang terjadi kepada Leo. Isadora, Karin, Maribel, dan Valda sepakat untuk merahasiakan ini dari Alana dan mereka akan mengadakan pertemuan rahasia dengan keempat sahabat Leo tanpa Alana. Mereka akan melakukan cara apa pun untuk menemukan Leo. Kunci semuanya ada pada Alana, jika kondisi Alana seperti itu maka semuanya tidak akan terlaksana dengan baik maka dari itulah Leo harus ditemukan agar Alana membaik. ♜♜♜ Leo saat ini terbaring di tempat yang sangat asing. Sudah satu hari ini ia pingsan tidak sadarkan diri. Sangat gelap dan sangat beraroma busuk. Sebelum ia membuka matanya, rentetan kejadian melintas di otaknya dengan sangat cepat. Mereka yang memperoleh kemenangan lalu Leo mengalahkan Minotaur dan roh Minotaur membawanya pergi dari dunianya. Kemudian Leo ingat lagi, ketika dalam perjalanan Minotaur membawa Leo, ia melawannya. Leo menebas roh itu lalu akibatnya mereka terpisah di tengah jalan. Leo saat ini berada di dunia ambang. Sebuah dunia perbatasan dunia hidup dan mati. Dunia itu berada di bawah lapisan tanah. Gelap sekali, Leo tidak bisa melihat apa pun. Aroma menyengat sangat menusuk hidungnya. Namun, tiba-tiba dalam kegelapan itu pedang Leo menyala memberikan cahaya penerangan yang cukup terang. Barulah Leo bisa melihat ada di mana ia sekarang. “Tempat apa ini?” tanya Leo sambil mengarahkan pedangnya sebagai penerangan. Tempat seperti sebuah terowongan raksasa. Di sana banyak sekali berserakan bangkai-bangkai jenis apa pun. Leo merasakan perutnya mual mencium aroma busuk menusuk penciumannya. Leo akhirnya memuntahkan isi perutnya karena tidak tahan. Cacing-cacing, belatung, dan lalat-lalat besar sedang mengerumuni bangkai-bangkai itu. Leo dengan cepat berlari untuk mencari jalan keluar. Ia rasa akan mati jika tidak segera pergi dari sana secepatnya. “Di mana aku saat ini?” tanya Leo pada dirinya sendiri sambil terus berlari dengan menahan napasnya. Ia beberapa kali hampir terjatuh karena tersandung bangkai-bangkai itu. “Aku harus kembali. Aku harus menjemput Alana,” ucap Leo terus menguatkan agar ia bertahan dengan semua rintangan itu. Saat Leo sedang berlari diiringi penerangan dari pedangnya, tiba-tiba ada bayangan yang sangat besar di depan Leo. Leo langsung berhenti mendadak. Ia waspada dan tenaganya tidak cukup banyak jika harus bertarung lagi. Luka di tubuhnya saja sudah banyak saat ini. Namun, perlahan bayangan itu semankin mengecil seiring mendekatnya sosok tersebut dan pandangan mata mereka bertemu. Leo sedikit membulatkan matanya melihat sosok yang sangat kecil dan aneh di depannya. “Siapa kau?” tanya makhluk itu sambil bersembunyi setelah melihat sosok Leo. Ia bersembunyi di balik batu terowongan yang besar. Awalnya kurcaci itu mengintip karena mendengar keanehan dari dalam lorong terowongan. Ia memang bertugas menjaga terowongan itu. Lalu ia melihat sosok yang aneh, pikirnya itu adalah makhluk-makhluk peliharaan Ifrit yang sedang makan seperti biasanya, tetapi sosok kali ini berbeda. “Aku manusia. Siapa kau?” tanya Leo sambil mengarahkan pedangnya dengan hati-hati. “Kau tidak perlu tahu siapa kami!” jawabnya sambil terus bersembunyi. Leo semakin mendekatinya karena ia penasaran. Namun, Leo tiba-tiba ingat sesuatu. “Kalian bangsa Beacan?” makhluk yang bersembunyi tadi tiba-tiba keluar dari persembunyiannya. Leo melihat sosok kecil kerdil dengan rambut jarang yang berwarna warni dan hidung kotak yang panjang. Matanya seperti mata kodok. Sosoknya sangat aneh. “Dari mana kau tahu kami?” tanyanya sambil tetap berwaspada terhadap Leo. Sosoknya kini sudah terlihat oleh manusia lain selain Alana. “Kau teman Yang Mulia Alana Culver, aku tahu mengenaimu. Aku pernah mendengar kalian berbicara di dalam istana Alana. Kalian membicarakan Alana.” Leo langsung mengendurkan pertahanannya. Sosok itu kemudian juga mengendurkan kewaspadaannya. “Malkia! Kau mengenal Malkia kami?” tanyanya kepada Leo. Leo mengangguk. Kemudian kurcaci itu melihat penampilan Leo yang berantakan dan penuh luka. “Apakah kau adalah Morani?” tanyanya. Leo mengangguk lagi. Kali ini matanya yang seperti kodok itu terlihat semakin besar. Leo bisa melihat pupil matanya mengecil karena ia terkejut. “Ya, aku adalah prajurit di kerajaan Alana. Aku melindunginya,” jawab Leo. “Cepat ikut denganku. Kau bahaya berada di sini. Cepatlah!” kurcaci itu langsung mengajak Leo untuk berlari dengan kaki kecilnya. Ia tidak cukup cepat berlari. Leo akhirnya memutuskan untuk membawa kurcaci itu di pundaknya dan ia akan mengikuti perintah dari kurcaci itu menuju suatu tempat. “Tempat apa ini?” tanya Leo kepada kurcaci itu. “Ini dunia perbatasan. Tempat perbatasan hidup dan mati. Di sini banyak bangkai karena banyak manusia atau hewan-hewan yang matinya tidak diterima jadilah mereka membusuk. Di sini juga tempat makan para raja tamak. Mereka sering memakan bangkai ini. Itulah mengapa kau bahaya jika berada di sini,” jawab kurcaci itu. “Rajak tamak yang kaumaksud adalah para anak buah penguasa kegelapan?” “Benar! Mereka berbahaya!” “Lalu kenapa kau ada di sini?” tanya Leo sambil meniti jalan yang masih penuh dengan bangkai. “Aku bertugas menjaga gerbang tempat ini dan kami tinggal di sini,” jawabnya dengan suara nyaring. “Belok ke kanan,” perintahnya. Setelah perjalanan yang cukup melelahkan akhirnya Leo sampai di tempat yang tidak terlalu gelap lagi. Di sana seperti ada kehidupan sendiri. Kumpulan bangsa Beacan dengan kehidupan di bawah tanahnya. Semua awalnya takut terhadap sosok manusia seperti Leo karena selama ini mereka hanya tahu satu manusia yang baik, yaitu Alana seorang. Namun, kurcaci yang bertemu dengan Leo tadi segera mengenalkan Leo dan sekarang terjadilah bisik-bisik yang sangat ramai di kumpulan para bangsa Beacan itu. Mereka mendengar julukan Leo dan semuanya langsung menunduk hormat. Leo bingung dengan apa yang terjadi. Leo yang bingung akhirnya menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Lalu mereka mengatakan seperti yang pernah dikatakan bangsa Pixie. Bahwa Leo adalah calon pendamping Alana dan calon penguasa terkuat. Jadi Leo sekarang tahu mengenai siapa sosok yang pernah dibicarakan bangsa Beacan di balik tembok kamarnya waktu itu. Itu adalah dia. Leo kemudian meminta tolong kepada mereka agar bisa kembali ke dunianya dan menjemput Alana serta bertemu dengan sahabat-sahabatnya. Mereka masih akan melakukan persekutuan dengan empat pemimpin Mông. Namun, sebelumnya Leo menceritakan kepada mereka apa yang telah terjadi sehingga Leo bisa berada di tempat perbatasan itu., tetapi para kurcaci itu tidak mengizinkan Leo untuk segera pulang karena luka yang diderita Leo sangat serius. Leo ingin menolak, tetapi ia tidak bisa, hanya kurcaci-kurcaci inilah yang bisa menolongnya. Ia harus sabar. ♜♜♜ Ini sudah hari ketiga, tetapi tidak ada kabar sama sekali. Alana semakin resah. Wajahnya pucat. Ia selalu murung. Jika saja Leo sudah menjemputnya pastilah sekarang mereka tengah berlayar menuju Mông. Namun nyatanya Leo belum menjemputnya. Alana sudah memikirkan kemungkinan terburuk semuanya gagal. Ia menangis sampai matanya membengkak. “Tidak ada kabar?” tanya Alvin kepada Karin. Karin menggeleng dengan lesu. Penglihatan mata perinya tidak sampai ke tempat perbatasan itu. Saat ini Alvin memilih untuk bersikap normal terhadap semua wanita karena ia juga sedang tidak bernafsu untuk menggoda mereka. Semenjak Leo hilang, keempat sahabatnya itu sama seperti Alana. Sangat mengkhawatirkannya. Mereka sekarang memang tinggal di Breen untuk sementara waktu, tetapi Alana tidak mengetahui keberadaan keempatnya karena memang masih dirahasiakan. Alana masih menganggap bahwa perang terus terjadi padahal kenyataannya perang telah usai dan mereka menang, tetapi Leo hilang. Sean saat ini terlihat tidak bernafsu makan padahal biasanya ialah orang yang paling rakus jika menyantap masakan lezat. “Alana masih menangis?” tanya Aaron kepada Isadora. Isadora mengangguk. “Dia tidak berhenti menangis dari malam tadi dan tidak ingin makan. Kondisinya sudah benar-benar mengkhawatirkan. Kakakku, Ivan juga sudah membujuknya, tetapi dia tetap tidak ingin makan. Aku kasihan sekali melihatnya,” kata Isadora sedih. “Aku benar-benar ingin Leo kembali agar Alana dan kami tidak menderita.” Marco dengan lesunya berkata. Ia sama seperti Alvin. Saat ini sedang mengistirahatkan pikirannya mengenai wanita. Padahal jika situasi tidak sedang seperti ini, keempatnya adalah orang yang paling semangat untuk bertemu putri bangsa Pixie, tetapi sekarang sedang suasana mencekam dan mereka pun lebih memilih untuk memikirkan sahabat mereka daripada wanita. Itulah apa yang disebut persahabatan di atas segala-galanya. Maribel dan Valda memandang iba keempat prajurit itu. Ternyata di balik sifat aneh mereka, mereka tetaplah sahabat yang peduli dengan sahabat lainnya. Itu nilai lebih yang berhasil ditemukan oleh keempat putri bangsa Pixie terhadap keempat sahabat Leo. Saat semuanya sedang terdiam, tiba-tiba Karin berteriak dengan cukup kencang dan mengagetkan semuanya. “Ini keajaiban!” teriak Karin. Sean, Marco, Aaron, dan Alvin langsung bingung dan penasaran. Isadora, Maribel dan, Valda langsung membulatkan matanya. Mereka tahu apa yang terjadi. “Ada apa?” tanya Aaron penasaran. “Ayo kita cepat keluar. Ada seseorang yang sebentar lagi akan sampai di depan istana!” Valda langsung menarik Sean untuk segera berlari. Yang lainnya juga mengikuti. Meskipun keempatnya penasaran setengah mati, tetapi tetap saja mereka mengikuti dan sampailah mereka di depan pagar istana. Bunga semanggi langsung terbentang. Tidak lama mereka menunggu akhirnya sosok yang ditunggu itu muncul. Marco, Alvin, Aaron, dan Sean langsung membulatkan matanya. Leo muncul dari dalam tanah. Ia muncul dengan kekuatan para kurcaci tanah yang tadi membuatkan Leo jalan. Sontak saja keempat sahabat Leo langsung menghambur memeluk Leo. Sukacita dan keharuan langsung memenuhi mereka. Leo membalas pelukan sahabat-sahabatnya itu, tetapi matanya mencari sesuatu. Tidak ada sosok Alana di antara putri bangsa Pixie. “Leo! Kau kurang ajar! Kau membuat kami khawatir. Ke mana saja kau? Apa yang terjadi?” tanya Aaron sambil memeluk Leo erat. Ia benar-benar senang dan bahagia setengah mati. Leo memang selalu membuat mereka merasa khawatir. Ini sudah kedua kalinya Leo hilang karena ulah para makhluk itu. “Aku akan menceritakannya nanti. Maafkan aku teman-teman,” ucap Leo sambil memeluk Marco. Lalu Sean memukul pelan bahu Leo. Sean menangis, ia adalah yang paling mudah tersentuh dengan keadaan. “Tidak tahukah kau, Alana menderita karena kami harus merahasiakan tentangmu.” Leo terdiam mendengar ucapan Sean. “Ayo sebaiknya kita masuk. Kita akan membicarakannya di dalam saja,” ajak Maribel. Mereka semua lalu menurut dan di dalam istana itu Leo menceritakan semuanya. “Leo, kau sepertinya memang diberkati. Kau selalu selamat dan selalu ada yang menolonmu. Ini benar-benar pertanda,” ucap Valda tersenyum. Leo membalas kecil senyum Valda. Jika dipikirkan memang benar perkataan Valda. Leo selalu lolos dan ada yang membantunya. Seolah semuanya berpihak kepadanya. “Di mana Alana. Boleh aku menemuinya?” itulah kata-kata yang dari tadi ditahan Leo untuk diucapkannya. Semua yang tadinya tengah bercengkrama dengan serunya tiba-tiba terdiam dan semuanya tersenyum. “Tentu saja boleh, Alana pasti senang bertemu denganmu. Dia ada di kamarnya. Kau tahu kamarnya, tempat ia pernah di rawat,” jawab Karin. Leo mengangguk lalu ia langsung bangkit dari duduknya. Leo lalu pamit untuk menemui Alana. Sementara Leo menemui Alana, keempat sahabatnya itu kembali seperti semula. Ini kesempatan bagus bagi mereka untuk bersama putri bangsa Pixie dan mereka tidak akan menyia-nyiakannya. ♜♜♜ Leo sudah sampai di depan pintu kamar Alana. Ia dengan perlahan membukanya, Leo mengintip sebentar dan ia langsung mendapati Alana yang sedang berbaring menghadap jendela. Ruangan yang sama seperti dulu, berlantai kaca dan beratap luar angkasa. Alana tidak menyadari kehadiran Leo yang masuk ke kamarnya. Ia terus saja memegang kalung pemberian Leo. Wajahnya pucat dan air matanya terus mengalir. Ia sangat merindukan Leo. Sungguh sangat merindukannya. “Aku sudah ada di sini, berhentilah menangis,” bisik Leo di telinga Alana. Alana langsung berbalik cepat dan ia mendapati sosok Leo yang saat ini tengah menatapnya sambil tersenyum. Alana membulatkan matanya dan ia cepat-cepat duduk. “Leo!” ucap Alana masih terkejut. Alana langsung menyentuh wajah Leo untuk merasakan bahwa itu benar-benar Leo dan bukan khayalannya semata. “Apa kabar? Maaf aku lama menjemputmu,” ucap Leo sambil membalas tangan Alana yang ada di pipinya. Alana langsung memeluk Leo dan ia menangis sejadi-jadinya. Leo akhirnya memilih duduk dan membalas pelukan Alana. Ia mengusap-usap punggung Alana menenangkan ratunya itu. “Aku takut sekali. Mengapa kau lama menjemputku, Leo? Aku sangat takut terjadi sesuatu kepadamu,” isak Alana yang tambah memeluk Leo dengan erat. “Ada sedikit kendala, maafkan aku membuatmu khawatir. Aku ada di sini sekarang dan akan menjemputmu untuk pulang.” Leo mengusap kepala Alana dengan lembut. Hatinya sangat sedih melihat keadaan Alana. Namun, Leo masih merasa bersyukur karena bisa menepati janjinya pada Alana. “Apakah kita menang? Bagaimana keadaan Sean, Marco, Alvin, dan Aaron? Bagaimana keadaan istana?” tanya Alana tanpa melepaskan pelukannya dari Leo. Biarlah, dia tidak akan melepaskannya sampai dia merasa puas. “Kita menang, mereka baik-baik saja. Mereka sedang mengeluarkan pesona sialan mereka untuk menarik perhatian teman-teman bangsa Pixie. Keadaan istana sudah normal. Kau tenang saja, semuanya baik-baik saja. Aku menepati janjiku kepadamu untuk menang,” jawab Leo sambil terus mengusap kepala Alana. “Terima kasih Leo, kau benar-benar baik. Aku tidak tahu bagaimana membalas kebaikanmu.” Alana sekarang memilih untuk melepaskan pelukannya dan menatap Leo. Leo tersenyum kecil. “Tidak perlu berterima kasih. Aku melakukannya untuk kebaikan Mašte. Untuk era umat manusia,” jawab Leo. Alana kembali menyentuh wajah Leo dengan tangannya. Ia menelusuri wajah tampan itu. Alana sangat merindukan wajah itu. Keduanya saling tatap. “Leo, aku baru tahu kau sangat tampan,” puji Alana tanpa melepaskan tatapan matanya dari mata Leo. Mata biru Alana yang menenangkan bertemu dengan mata hijau Leo yang misterius. Alana tahu jantungnya berpacu puluhan kali lebih cepat, tetapi ia mengucapkan apa yang ingin ia katakan. “Terima kasih, kau juga sangatlah cantik. Kau wanita tercantik yang pernah aku temui,” ucapan itu adalah ungkapan Leo yang membuat Alana sampai melayang. Wajahya memerah luar biasa. Hatinya tidak keruan, sudut bibir Alana terangkat sempurna. Ia tidak bisa menahan senyumnya. Alana cepat-cepat menyembunyikan wajah malunya itu dengan cara memeluk Leo. Ia tidak ingin Leo melihat semburat merah di wajahnya. “Jangan malu, aku mengatakan yang sebenarnya.” Leo langsung mengambil kepala Alana dan menghadapkan lagi wajah Alana di hadapannya. Alana malu sekali. Ini adalah pembicaraan termanis yang pernah ia lakukan bersama Leo. “Leo, aku…” Alana susah sekali mengatakan apa yang ingin dikatakannya. “Aku tahu, sekarang kau diamlah. Tidak perlu merasa malu,” ucap Leo. Leo lalu menarik Alana kembali ke dalam pelukannya lalu ia mengelus kepala Alana lagi dan Leo mengangkatnya lagi lalu ia perlahan mencium bibir Alana. Seperti ada yang meledak di dalam hati Alana. Ciuman itu sangat lembut dan dalam. Dia benar-benar merindukan bibir itu. Bibir yang pertama kali memiliki ciuman pertamanya. Leo tidak pernah menolak untuk hal ini, dulu ia hanya menghindar karena takut Alana akan berangapan bahwa dia hanya memanfaatkan diri Alana. Dulu ia masih menghormati Alana seperti ratunya. Dulu ia selalu menahan banyak godaan dari sosok Alana. Ia pria normal yang juga tertarik kepada Alana. Namun, ialah satu-satunya sosok yang menyimpan perasaannya dengan rapi untuk Alana. Betapa senangnya Leo ketika mengetahui dari perkataan Alvin bahwa Alana juga mencintainya. Perasaanya terbalas. Cinta Leo tumbuh ketika Alana membantunya memasangkan pakaian perang untuk pertama kali. Saat itu Leo melihat sosok Alana adalah sosok yang tangguh. Ia wanita, tetapi ingin berperang dan melindungi rakyaknya. Ia tidak takut dengan apa pun. Saat itulah hati Leo yang dingin dialiri sengatan yang hangat. Cinta mulai tumbuh di sana dan ia menyimpannya. “Im gelir ceni ad lin (eem geh-leer keh-nee ahd leen, aku senang bisa melihatmu lagi),” ucap Leo kepada Alana sambil terus memandangi mata Alana. “Sen tîr? (sehn teer?, benarkah?),” tanya Alana sambil membalas tatapan mata Leo. Alana tertawa pelan mendengar ucapan Leo. Ia bahagia sekali mendengarnya. “Melin ceni hin lîn síla i’eladhach (meh-leen keh-nee heen leen see-lah ee eh-lahth-ahkh, aku senang melihat sinar matamu ketika tertawa).” Leo juga tertawa pelan sambil terus menatap mata Alana. Leo kemudian memegang kedua pipi Alana dan terus menatap Alana. “Le no an-uir nîn? (lay no ahn-oo-ear neen?, akankah kau menjadi milikku selamanya?)” tanya Leo kepada Alana. Jantung Alana rasanya berdetak sangat kencang. Kata-kata yang sangat ia tunggu akhirnya keluar dari bibir Leo. Wajah Alana memerah luar biasa, tetapi sudut bibirnya terangkat sempurna. “Gerich meleth nîn (gere-ikh mehl-ehth neen, kau memiliki cintaku),” jawab Alana dengan senyumnya. Ia membalas pegangan tangan Leo di pipinya. Saat itu semuanya terasa sangat indah. Cinta keduanya sudah terucap. Bahagia menyelimuti pasangan baru itu. Alana langsung memeluk Leo dan tidak menghilangkan senyumnya. Leo membalas pelukan Alana. Sekarang Alana adalah gadisnya. Ratunya. Wanitanya. Permaisuri di dalam hatinya. “Im meleth le (eem mehl-ehth lay, aku cinta kamu),” ucap Leo kepada Alana. Senyum keduanya terkembang. Keduanya sama-sama berbicara dalam bahasa Elvish (bahasa para Elf, Lord of The Ring, J.R.R. Tolkien) karena mereka sedang berada di Breen maka keduanya mengucapkan kata cinta dalam bahasa para peri. Bahasa yang sangat indah dan halus. TBC...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN