Amans

1260 Kata
Karin, Maribel, Valda, dan Isadora tersenyum bahagia. Sedangkan Sean, Marco, Alvin serta Aaron melihat keempatnya dengan perasaan heran. Mereka tidak tahu apa yang sedang terjadi. Keempat putri peri itu yakin sekali bahwa keempat manusia dengan tingkah aneh itu akan luar biasa bahagia jika mengetahui apa yang sebenarnya sedang terjadi antara Alana dan Leo saat ini. “Apakah mereka gila?” tanya Sean dengan perasaan bingung pada Marco. “Mana mungkin mereka gila, tetapi entahlah,” jawab Marco sekenanya. Namun, detik berikutnya ia berkata lagi. “Hm, atau jangan-jangan mereka sedang tersenyum karena tertarik kepada kita,” ucap Marco tiba-tiba. Alvin dan Aaron yang mendengar itu langsung mendekat. Mereka berempat akhirnya berbisik-bisik. “Benarkah? Dari mana kau tahu? Siapa yang tertarik kepadaku. Cocokah ia denganku? Oh akhirnya mereka terjerat pesonaku. Tidak sia-sia aku mengeluarkan semua pesonaku. Aku memang sudah menduga mereka akan tertarik kepada kita. Tidak apalah mereka tidak berdada besar, yang terpenting mereka sangat cantik. Tidak banyak orang yang bisa menaklukan wanita cantik apalagi dari bangsa peri.” Alvin sibuk mengkhayal dan membanggakan dirinya. Mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. “Aku sebentar lagi akan menikah. Menikah dan mempunyai istri lalu anak. Ah, memikirkan mempunyai keluarga adalah impianku, tetapi aku tidak menyangka akan datang secepat ini. Aku akan segera mencari nama untuk anak-anakku. Harus nama yang indah dan baik. Aku juga akan segera menentukan tanggal pernikahan.” Sean ingin menangis mendengar ucapan Aaron yang berlebihan. Khayalannya lebih parah dari siapa pun di antara keempatnya. “Tapi apakah benar saat ini mereka sedang memikirkan kita? Mengapa mereka tidak tersenyum ke arah kita?” tanya Sean masih dengan perasaan bingung lagi. Mendadak Aaron, Alvin, dan Marco menghentikan khayalan mereka. Benar juga apa yang dikatakan Sean, keempat putri peri itu seperti tidak penasaran dengan apa yang mereka bicarakan. Keempatnya sibuk membahas hal lain. “Apakah kita perlu menanyakannya kepada mereka?” usul Aaron. “Di mana harkat, derajat dan martabatmu sebagai seorang petarung. Jangan lakukan itu, kita harus membuat mereka yang mengejar kita. Kita haruslah bersikap tenang dan tidak mengebu-gebu. Kita harus seolah menjaga sikap kita, jangan sampai mereka tahu bahwa kita mengejar mereka,” kali ini Marco memberi usul. Percuma usulan Marco itu terucap karena keempat putri itu sudah tahu dengan isi pembicaraan keempat makhluk konyol itu. Sean, Alvin, dan Aaron seolah mengerti dengan ucapan Marco. “Lalu jika mereka memang tidak tertarik kepada kita apa yang harus kita lakukan?” tanya Sean masih dengan perasaan yang bingung seperti tadi. Alvin sampai-sampai ingin mencekik leher Sean jika saja ia tidak ingat sedang menjaga sikapnya di depan putri bangsa Pixie. “Kita harus mengasa pesona kita lagi. Kita harus belajar dari Leo,” jawab Marco lagi. Ketiganya kemudian mengangguk mengerti. “Bagaimana jika Leo tidak mau?” tanya Sean lagi. Kali ini Alvin tidak tahan lagi. Ia langsung mencekik leher Sean dengan kejam sampai-sampai Sean terbatuk gara-gara perlakuan Alvin. “Apa yang kaulakukan! Kau ingin membunuhku?” tanya Sean sambil terbatuk-batuk. Wajahnya terlipat-lipat kesal. Alvin tidak peduli dengan jaga sikapnya lagi. “Bukan! Dari tadi kau selalu bertanya terus! Bisakah kau diam dan langsung memahami saja. Kau terlihat bodoh karena selalu bertanya!” jawab Alvin masih dengan perasaan kesal yang menguasainya. Akhirnya mereka tidak berbisik-bisik lagi. Isadora, Maribel, Karin, dan Valda tertawa melihat tingkah keempat manusia aneh dan ajaib itu. Seperti yang pernah mereka bicarakan, keempat sahabat Leo adalah orang yang menyenangkan dan selalu ceria. Serempak keempat manusia konyol itu diam kala melihat tawa yang sangat cantik dari keempat putri Pixie itu. Terpesona adalah kata yang tepat untuk menggambarkan keadaan mereka sekarang. “Aku ingin mimisan,” ucap Sean sambil menatap keempatnya yang sedang tersenyum kepada mereka. Ia tidak bisa menyembunyikan ketertarikan dan kekagumannya. “Aku ingin menikah,” ucap Aaron yang sama seperti tatapan Sean. Ia kembali mengkhayal bahwa dirinya adalah orang yang akan segera menikah. “Aku ingin memeluk mereka dan mengatakan aku mencintainya.” Marco dengan berbinar-binar menatap keempatnya. Pikirannya sudah jauh melayang bebas. “Aku ingin membesarkan d**a mereka,” ucap Alvin tanpa pikir panjang. Sontak Marco, Aaron, dan Sean langsung menghentikan khayalannya serta menatap Alvin yang kini sudah mengkhayal kotor. Ketiganya langsung memukul kepala Alvin tanpa ampun. “Pikiranmu kotor sekali!” teriak ketiganya sambil memukul kepala Alvin. Isadora, Maribel, Karin, dan Valda tertawa melihat ulah konyol mereka. Mereka benar-benar bisa mencairkan suasana. “Sepertinya mereka memang memiliki pesona. Aku semakin tertarik,” aku Valda kepada kakak-kakaknya. “Siapa yang sudah membuatmu tertarik?” tanya Isadora pada Valda. Valda hanya menanggapi dengan senyum. Isadora langsung tahu siapa yang dimaksud Valda. “Tidak buruk jika aku harus menjadi manusia dan hidup bersamanya. Dia orang yang bisa membuatku bahagia,” kali ini Maribel juga berkata sambil menatap satu orang yang menarik minatnya. “Dia memang gila, tetapi aku yakin jika bersamanya hidupku akan selalu dipenuhi tawa dan aku yakin dia akan menyayangiku dan tidak akan berpaling.” Karin juga mengulas senyumnya. Ternyata mereka berempat sedang jatuh cinta. Sama seperti yang dirasakan Alana dan Leo saat ini. Keempat pasang orang itu juga tengah jatuh cinta. “Aku punya kabar gembira.” Isadora tiba-tiba menghentikan pertengkaran kecil antara keempat makhluk konyol yang membuat kegaduhan di Breen. Keempatnya kemudian diam, tetapi tetap mamandang Isadora dengan terpesona. “Ratu kalian saat ini sudah mempunyai calon pendamping hidupnya. Leo baru saja mengatakan bahwa ia mencintai Alana dan sekarang keduanya sedang….” Sean, Marco, Aaron, dan Alvin langsung terkejut setengah mati. Tidak menyangka akan secepat itu Leo bergerak dan mendahului mereka. Sean langsung berdiri dari kursinya, Marco membuka mulutnya, Alvin melebarkan matanya, dan Aaron meringis kesakitan karena kepalanya baru saja terkena sikut Sean yang berdiri karena terkejut. “Benarkah!” ucap keempatnya bersamaan. Isadora mengangguk dan tersenyum. “Lalu sedang apa keduanya sekarang?!” tanya mereka lagi. Mereka seakan ingat dengan taruhan mereka. “Apakah adu domba?” tanya Sean penasaran setengah mati. Valda, Isadora, Maribel, dan Karin tidak paham dengan maksud Sean. Sean sendiri langsung menutup mulutnya. Ia lupa situasi. “Membuatkan kami keponakan?” Aaron dengan beraninya memperjelas maksud pertanyaan Sean. Marco dan Alvin tidak protes karena mereka juga penasaran. Wajah Maribel, Karin, Valda serta Isadora memerah ketika mendengar ucapan tersebut. Mereka cukup tidak menyangka dengan perkataan Aaron. Ternyata pikiran manusia-manusia konyol itu benar-benar aneh pikir putri bangsa peri itu. “Tidak, tidak sampai seperti itu. Saat ini keduanya hanya saling berbagi ciuman. Ya hanya saling mengungkapkan perasaan mereka,” terang Isadora. Di luar dugaan keempatnya bukan senang, melainkan kecewa. Hal tersebut membuat para putri bangsa Pixie itu heran. “Leo kurang bergerak cepat. Kita harus memberikannya banyak pelajaran. Dia harus segera memberiku banyak keponakan dan akan aku nikahkan dengan anakku,” ucap Aaron tanpa pikir panjang. “Eh, tetapi aku ingin melihat mereka berciuman!” sambung Aaron dengan tidak tahu malunya. “Dia lebih bergerak cepat daripada kita. Dia sudah memiliki Alana dan kita belum memiliki kekasih.” Marco menunduk dan wajahnya sangat menyedihkan. “Hei jangan bersedih, seharusnya kita bahagia karena Leo berani juga mengatakannya. Selama ini dia hanya menahannya dan sekarang itu merupakan kemajuan pesat. Kita tidak boleh kalah dari Leo. Ayo kita harus bergerak cepat,” hibur Sean. Sangat jarang melihat mereka bisa berpikir waras di saat yang tepat. “Benar. Mereka sudah ada di depan mata. Ayo kita bergerak cepat,” jawab Alvin yang juga setuju. Lalu keempatnya tertawa aneh sambil melirik putri bangsa Pixie yang kini melihat mereka heran. Keempatnya cepat sekali mengubah keaadaanya. Baru saja mereka melihat keempat manusia konyol itu terkejut, detik berikutnya mereka kecewa lalu detik berikutnya lagi mereka bersemangat dan terakhir mereka tertawa ceria. Mereka memang unik dengan segala keunikannya. TBC...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN