“Leo, sebaiknya kita bersikap biasa saja di depan mereka. Aku tidak ingin mereka selalu menggoda kita,” pinta Alana kepada Leo sebelum mereka keluar dari kamar Alana untuk menemui teman-temannya. Alana jelas tahu hal itu, bayangkan saja bagaimana Sean, Marco, Alvin, dan Aaron yang akan bersorak ketika melihat keduanya. Alana bisa membayangkan apa yang akan terjadi dan ia tentu akan malu setengah mati. Sesuatu yang tidak penting saja akan berlebihan di mata keempat pria aneh tersebut, apalagi ini menyangkut tentang hubungan Alana dan Leo yang sering mereka goda.
“Baiklah, sepertinya memang harus seperti itu,” jawab Leo setuju. Alana tersenyum dan segera menggandeng tangan Leo untuk keluar.
“Hanya sampai sebelum bertemu mereka. Nanti aku akan melepaskannya,” kata Alana sambil menggandeng lengan Leo dengan manja. Leo hanya bisa tersenyum kecil. Dulu ia tidak pernah berharap akan seperti ini, tetapi buah kesabarannya telah memberikan apa keinginannya.
“Ya dan kau harus makan setelah ini. Kau terlihat kurus.” Leo menghentikan langkahnya dan ia memegang pipi Alana. Alana mengangguk dan tersenyum kembali. “Kau tidak pernah makan selama aku tidak ada?”
“Aku makan sedikit, tetapi hari ini aku akan makan banyak. Aku tidak akan kurus lagi. Kita akan berlayar dua hari lagi. Kita harus cepat menyatukan empat pemimpin itu. Dan hari ini kita akan kembali ke istana.” Alana kembali menggandeng Leo dan berjalan bersamaan. Leo hanya bisa menghela napasnya. Alana manja sekali. Ia tidak pernah berpikir bahwa Alana akan semanja ini kepadanya, tetapi dia suka.
Ketika sampai di meja makan, Leo dan Alana mendapati tatapan kedelapan pasang mata yang menatap mereka berdua dengan tatapan aneh. Keempat putri Pixie itu tersenyum simpul sedangkan keempat sahabat konyolnya tersenyum penuh arti. Leo sudah mengetaui gelagat keempat sahabatnya itu. Ia sangat tahu pastilah Aaron, Sean, Marco, dan Alvin sedang menjaga sikap mereka terhadap bangsa peri Pixie, tetapi kenyataannya Leo tidak tahu bahwa keempat temannya saat ini sedang tersenyum penuh arti atas hubungan baru Leo dan Alana.
“Kenapa?” tanya Leo pada Marco yang dari tadi terus menatap Leo dengan senyum konyolnya.
“Tidak ada, aku merindukanmu jadi aku menatapmu,” jawab Marco sekenanya. Leo merinding mendengar ucapan Marco. Ada apa dengan temannya satu ini, apakah ia mengalami kelainan semenjak Leo tinggal beberapa hari?
“Kau menakutkan, sialan,” jawab Leo sambil menampakkan wajah curiga kepada Marco.
“Aku menakutkan? Memangnya ada yang aneh dengan wajahku?” tanya Marco balik. Ia seolah tidak merasa ada yang salah dengan dirinya. Marco lalu mengambil sendok dan mulai berkaca. Leo semakin merasa aneh melihatnya.
“Bagaimana kau bisa terpikir untuk berkaca dengan sendok!” ucap Alvin yang menatap Marco heran. Ia senang sekali mencari kesalahan teman-temannya untuk dijadikan candaan.
“Lalu bagaimana caranya aku berkaca untuk melihat wajahku. Leo tadi mengatakan bahwa wajahku aneh,” ucap Marco dengan perasaan bingung. Obrolan mereka mulai keluar dari topik pembahasan. Keempat putri Pixie hanya mampu tertawa pelan mendengar obrolan itu sementara Alana berusaha untuk tidak peduli. Akan berbahaya jika ia ikut campur, mungkin akan ada perang mulut di antara mereka.
“Sudahlah hentikan obrolan tidak penting itu, kita sekarang sedang bahagia jadi jangan merusak suasana ini dengan tindakan gila kalian,” ujar Sean dengan nada bersahaja. Seolah dia bukanlah bagian dari sekumpulan orang aneh tersebut.
“Tidak perlu menasihati. Bukankah kau sama saja seperti kami. Heh, aku aneh melihatmu berkata dengan bijak. Itu tidak cocok, kau lebih cocok menjadi orang bodoh. Jangan katakan kau sedang menjaga sikapmu agar baik di mata putri Pixie tercintaku yang cantik-cantik ini,” jawab Aaron sekenanya. Tunggu, situasi ini sebentar lagi akan memanas! Tinggal menunggu beberapa kalimat lagi maka semuanya akan mulai tidak terkendali kembali.
“Orang bodoh? Bukankah kau juga bodoh? Jika kau bodoh itu wajar, tetapi jika aku bodoh itu tidak wajar. Otakmu saja selalu penuh dengan khayalan aneh. Leo, aku akan memberitahumu satu hal. Kemarin ia mengintipmu dan Alana yang sedang berada di balkon dan ia membayangkan kau dan Alana sedang berciuman serta memadu kasih lalu ia juga mengkhayalkan kau dan Alana sedang membuat anak. Otak Aaron juga selalu memikirkan ingin menikah dengan putri-putri cantik.” Sean tanpa basa basi membongkar rahasia Aaron. Ia balas dendam terhadap Aaron. Semua yang ada di sana langsung membulatkan mata mereka termasuk Marco dan Alvin. Namun, detik berikutnya Marco dan Alvin langsung tertawa terpingkal-pingkal. Wajah Aaron sudah memerah. Sayangnya wajah Alana lebih merah lagi. Ia malu setengah mati mendengar pembahasan seperti itu mengenai dirinya.
“Lalu apakah khayalan Aaron itu juga mengenai Leo adalah anak raja Sierra yang selama ini dirahasiakan?” tanya Marco yang tanpa bisa menahan tawanya. Sean sejenak diam, dari mana Marco tahu. “Aaron juga pernah mengatakan khayalannya itu kepadaku,” jawab Marco masih dengan tawanya.
“Ya ampun, mereka saling membongkar rahasia,” kata Valda sambil memutar bola matanya. Isadora, Maribel dan Karin terkikik geli sedangkan Alana dan Leo seperti patung. Mereka adalah pusat dan korban dari keempat sahabatnya dalam khayalan kotor mereka.
“Apakah khayalannya juga dengan karakter Leo yang berlebihan?” Alvin sampai memukul-mukul meja karena tertawa geli. Sean mengangguk lagi. Jadi Aaron sudah menceritakan tentang khayalannya itu kepada dua temannya. Jadi bukan dia sendiri yang tahu mengenai khayalan Aaron malam itu. Sean mendesah. Aaron menatapnya dengan tatapan ingin memenggal kepala Sean.
“Kalian! Siapa yang menyuruh kalian mengkhayal seperti itu?” Alana bangkit dari duduknya dan langsung murka. Ia menarik telinga Sean karena Sean duduk tepat di sebelah Leo. Aaron yang tadi duduk di sebelah Sean langsung berdiri dan lari karena takut terkena jeweran dari Alana. Marco dan Alvin mengikutinya. Hanya Sean yang sial dengan keadaan itu.
Marco, Alvin, dan Aaron sekarang tertawa puas melihat Sean dari jauh. Alana juga akan memberikan hukuman kepada mereka jika ada kesempatan. Sementara Alana yang sekarang tengah menjewer Sean yang sedang memohon-mohon untuk dilepaskan, Leo makan dengan tenang. Seolah ia tidak peduli dengan keadaan, tetapi sebenarnya dia adalah orang yang sangat peduli. Leo tidak marah sama sekali dengan teman-temannya itu. Ia sudah biasa dan memakluminya karena seperti itulah sifat teman-temannya. Kadang Leo juga ingin menjadi mereka. Mereka berempat hidup seolah tanpa beban yang berat sedangkan Leo hidup dengan serius serta dipenuhi beban, makanya Leo ingin sekali jika ada kesempatan untuk mengubah sifat, ia ingin menjadi seperti keempat sahabatnya.
“Teman-temanmu memang sangat menyenangkan. Beruntungnya kau memiliki mereka,” ucap Isadora kepada Leo. Leo mengangkat kepalanya dan tersenyum kecil. Ia memang beruntung. Lalu Leo menoleh kepada Alana yang masih belum melepaskan Sean dan pandangannya kemudian menuju Marco, Aaron, dan Alvin yang tertawa dari kejauhan melihat nasib Sean. Benar, Leo memang beruntung.
TBC...