Para

1712 Kata
Sejujurnya Leo benar-benar sudah lemah. Tangannya yang terluka membuat Leo benar-benar terkulai lemas. Darah tidak berhenti menetes dari lukanya. Ia menahan darah yang banyak keluar dengan satu tangannya. Ia membiarkan Alana yang menunggangi kudanya saat ini. Leo pun sempat tidak sadarkan diri dan ketika ia bangun ia sudah berada di kasur empuk yang nyaman. Leo langsung meringis saat ia menggerakkan tangannya. Lengan dan punggungnya penuh dengan perban. Lalu ia berusaha untuk duduk. “Jangan memaksakan diri untuk duduk. Kau belum pulih.” Leo langsung menoleh ke sampingnya dan ia mendapati Alana yang tengah duduk di kursi. Di pangkuannya ada seekor hewan aneh. Hewan mirip kucing, tetapi tubuhnya cukup besar. Bulu-buluhnya bercorak totol-totol hitam pekat dan kucing itu berwarna putih. Telinganya cukup panjang ke atas dan warna bola matanya ungu terang. Ekornya seperti ekor singa. Entah binatang jenis apa yang tengah menatapnya saat ini. Ruangan kamar itu berwarna maron kecoklatan dan dilengkapi ornamen-ornamen keemasan. Ruangan yang cukup besar dan mewah. Beberapa lukisan-lukisan terpajang di dinding. Lukisan-lukisan itu seolah hidup. Mereka bergerak-gerak layaknya manusia normal. Atap ruangan kamar itu juga dilukis. Atapnya mempunyai lukisan tata surya. Ada planet, bintang, galaxy, bulan. Semuanya seolah bergerak seperti nyata. Sungguh indah dipandang dan sedap ditatap. “Di mana teman-temanku?” tanya Leo yang tetap memaksakan dirinya untuk duduk. “Entahlah, mungkin sedang makan atau tidur dan bisa juga sedang menggoda para pelayan perempuan,” jawab Alana sambil terus membelai hewannya. “Di mana pakaianku? Aku ingin keluar.” Leo sudah berhasil berdiri. Ia mencari di mana pakaiannya. Saat ini ia hanya memakai celana panjang. Otot-otot tubuhnya sedikit menggoda Alana untuk terus meliriknya. Pria di depannya ini menarik, tetapi sayang dia tidak tertarik kepada wanita secantik dirinya. “Pakaianmu sudah hancur. Aku menggantinya dengan yang baru. Namun, aku tidak akan memberikan pakaian kepadamu sekarang. Kau masih harus istirahat. Kau bahkan tidak tahu bahwa kau sudah tidak sadarkan diri dari kemarin. Kau kehilangan banyak darah. Istirahatlah dulu. Kau tidak akan mati hanya karena beristirahat,” kesal Alana karena Leo tetap saja memaksa untuk keluar dari kamar. Leo tidak peduli dan ia menuju pintu keluar, tetapi pintu itu tidak bisa terbuka karena dikuci. Ada beberapa pengawal yang menjaganya di luar. Alana terkekeh geli melihat Leo yang tidak bisa melakukan apa pun. Ia tidak bisa mendobrak pintu itu atau sebagainya. “Jika kau berniat keluar kau lompat saja dari jendela itu.” Alana masih terkekeh geli. Ia memang senang bermain-main. “Cepat buka pintu sialan ini sekarang juga dan serahkan pakaian untukku,” pinta Leo sambil menatap Alana tajam. Mata hijau yang misterius itu tidak melepaskan Alana sedikit pun. Alana akui ia terpikat dengan mata hijau milik Leo yang misterius. “Kau bertingkah seperti itu kepada ratumu. Itu menyebalkan. Kau tahu itu sangat menyebalkan! Tidak pernah ada orang seumur hidupku yang berani menatapku dengan pandangan seperti itu! Biasanya mereka akan memandangku terpesona lalu memuji kecantikanku, tetapi kau! Yang kaulakukan adalah menatapku dengan pandangan menyebalkan itu!” ucap Alana dengan intonasi suara tinggi. “Aku tidak pernah menganggapmu sebagai ratuku, sialan! Aku hanya bersedia membantu kerajaanmu,” jawab Leo dan ia terus menatap tajam Alana. Menatap gadis cantik yang mirip jelmaan bidadari di depannya. “Tetapi aku menganggapmu sebagai anak buahku! Titik! Kau tidak boleh membantah!” “Aku tidak akan pernah mengabdi kepadamu. Ratu sialan yang manja!” ketus Leo. Ia kemudian membuka beranda kamar tempatnya sekarang. Kamar yang ditempati Leo berada di lantai empat istana. Cukup tinggi untuk sampai ke bawah atau akan mati jika mencoba meloncat ke bawah. Alana meletakkan hewan yang dari tadi dipangkunya lalu ia berjalan ke beranda. Leo sedang melihat-lihat keadaan kemudian ia masuk kembali. Alana melihat gerak-gerik Leo yang mencurigakan. Ia kesal kepada Leo. Dari awal ia sangat kesal karena Leo pernah tidak mengacuhkannya sewaktu di istana bangsa peri jadi Alana sekarang sedang membalas dendamnya. Ia harus membuat Leo tunduk kepadanya. “Aku akan membukakan pintu.” Leo tidak menghentikan langkahnya yang sedang mencari kain untuk menutupi tubuhnya. “Tetapi dengan satu syarat.” Leo tidak juga mendengarkan Alana. Alana mengertak-ngertakkan giginya karena kesal dan akhirnya ia masuk lalu menutup pintu beranda. “Jangan mengabaikanku! Aku sedang berbicara kepadamu!” teriak Alana sambil menyilangkan tangannya kesal. Leo mengembuskan napasnya lalu ia menatap Alana yang memandangnya kesal. “Kau merasa terabaikan?” “Tentu saja! Mana pernah ada orang yang mengabaikanku sesukanya sepertimu. Kau ingat, akulah yang menyelamatkanmu hingga kau bisa sadar seperti ini. Aku juga yang mengobati lukamu, mengelap tubuhmu, mengganti pakaianmu! Ah tidak, bagian itu lewatkan. Aku tidak melihat tubuhmu ketika menggantikan pakaianmu. Sungguh, aku memejamkan mataku,” ujar Alana dengan raut wajah serius. “Oh ya kembali ke permasalahan awal. Intinya aku sangat kesal kepadamu!” “Aku tidak memintamu melakukan itu semua. Kau yang memaksaku. Cepat serahkan pakaian dan buka pintu sialan ini. Aku perlu latihan, musuh bisa kapan saja akan menyerang. Aku harus tetap waspada.” Leo kembali menatap tajam Alana yang sekarang memandangnya kesal. “Tidak, tidak akan sebelum kau beristirahat dan lukamu sembuh!” jawab Alana masih bersikeras. “Aku sanggup melakukan semuanya walaupun dengan luka sialan ini. Aku adalah petarung, ingat julukanku adalah Morani! Petarung. Itu adalah aku, luka sialan seperti ini tidak akan mempengaruhiku. Jadi cepat laksanakan keinginanku sebelum aku melakukannya dengan cara kasar,” ucapan Leo pelan, tetapi nadanya sangat menusuk. Alana tidak takut dengan ancaman Leo. Ia sama sekali tidak ada niat membukakan pintu untuk Leo. Alana tahu luka Leo sangat dalam dan berbahaya jika ia terus latihan maka itu akan membuat lukanya terbuka semakin lebar. “Kenapa kau ini keras kepala sekali. Sebaiknya kau istirahat saja, berbaring, dan makan. Kau itu terluka. Heh, apa semua petarung itu keras kepala. Penasihatku, kau, semuanya keras kepala dan menyebalkan. Tukang paksa dan berlagak seperti raja!” Ketika Alana tengah berbicara tiba-tiba ada bunyi aneh yang terdengar. Alana dan Leo langsung menoleh ke arah beranda. Sekarang mereka melihat Roxxatte terbang mendekati istana. Leo langsung menarik Alana untuk menjauh dari beranda kamar itu. Roxxatte adalah makhluk menyeramkan. Tubuhnya seperti tubuh singa, wajahnya seperti wajah naga. Ia memiliki tanduk rusa kutub. Memiliki kaki seperti cakar elang. Bersayap seperti naga dan berekor kalajengking. “Cepat sembunyi! Mereka sedang mengawasi!” Leo langsung menarik Alana untuk menjauhi beranda kamarnya. Ia menyudutkan Alana di dinding sedangkan Leo sendiri mengintip dari balik jendela. Makhluk itu berwarna hitam pekat dan matanya berwarna merah menyala. Makhluk itulah dulu yang pernah Leo temui ketika kerajaannya masih ada. Makhluk pengawas yang ditugaskan penguasa kegelapan untuk menakut-nakuti para penduduk agar mereka ketakutan dan jika ada kesempatan mereka akan menculik raja atau ratu kerajaan tersebut. Mereka sangat berbahaya dan ganas. Petarung yang benar-benar hebatlah yang bisa mengalahkannya. “Mereka bisa mencium keberadaanmu. Kemarilah maka aroma tubuhmu akan tersamarkan.” Leo tanpa basa basi langsung memeluk Alana. Alana membulatkan matanya, tetapi ia tidak menolak. Ia tahu dirinya juga terancam bahaya saat ini. “Kau telah diincar, sialan! Artinya setelah ini mereka akan menyerang kerajaanmu. Ini yang aku katakan harus tetap waspada!” Leo semakin erat memeluk Alana dan Alana hanya dapat mencengkram lengan Leo yang tidak terluka dengan kuat. “Apakah mereka mengerikan?” “Lebih mengerikan daripada Cerberus sialan yang telah membunuh ayahmu!” “Kau tahu ayahku dibunuh oleh Cerberus?” “Ya aku tahu. Sudahlah sekarang itu tidak penting. Kau diam saja, makhluk sialan itu sedang mendeteksimu. Aku tahu prajuritmu dan teman-temanku sedang berusaha untuk menyerangnya.” Alana memilih untuk diam dipelukan Leo. Leo mengintip dari balik jendela. Makhluk itu terbang mondar-mandir di pintu beranda kamar tersebut. Kepakan sayapnya dan deru napasnya terdengar menyeramkan. “Cepat kita keluar dari sini dan buka pintu! Ia mencium aroma darah sialan dari luka sialanku dan itu bisa membahayakan kita.” Leo menarik Alana ke arah pintu sekarang. Alana dengan gugup membuka pintu. Kunci yang ia sembunyikan terjatuh dan dengan sigap Leo mengambilnya lalu ia yang membuka pintunya. Pintu terbuka dan semua pengawal langsung mendapat perintah dari Alana untuk mejauhi kamar karena makhluk itu sedang berada di dekat berandanya. “Jangan jauh dariku. Kau tidak akan aman jika terpisah denganku.” Leo menarik Alana untuk menuruni tangga istana. Tangga di sana berliku-liku terbuat dari batu marmer berwarna keperakan. Semua orang panik dengan kehadiran makhluk itu. “Malkia! Anda tidak apa-apa?” penasihatnya itu tergopo-gopo menaiki tangga untuk melihat keadan Alana. Raut wajahnya sangat cemas karena menghawatirkan Alana. “Tidak apa-apa. Cepatlah siapkan prajurit. Kita akan menyerangnya!” “Berikan perintah pada teman-teman sialanku itu untuk berada di barisan depan. Mereka tahu bagaimana cara menghadapi makhluk sialan itu. Kami pernah membunuh dua makhluk sialan itu sebelumnya!” Leo memberikan perintah kepada penasihat Alana. “Prajurit sedang bersiap. Kami akan melaksanakan perintah Anda, Yang Mulia,” ucap penasihat Alana. Mereka melanjutkan menuruni tangga. “Yang Mulia, Anda sebaiknya tidak ikut bertarung. Mereka mengincar keberadaan Anda,” sambung penasihatnya. Ia berhenti berjalan dan menatap memohon kepada ratunya. “Dia akan bersamaku. Aku yang akan melindunginya. Percayalah kepadaku. Ratumu akan baik-baik saja.” Leo menatap penasihat kerajaan Alana dengan keyakinan penuh. Sang penasihat menatap Leo seolah mencari kepercayaan di dalam mata hijau tajam tersebut. “Baik, saya percaya kepada Anda. Tolong jaga ratu kami,” ucapnya sebelum benar-benar melanjutkan menuruni tangga. Leo kembali menarik Alana untuk berjalan menuruni tangga. Namun, Alana segera menghentikan langkah kaki Leo. “Kau akan ikut bertarung?” tanya Alana dengan penuh keingintahuan. “Ya. Aku akan bertarung,” jawab Leo tidak acuh. Alana mencengkram lengan Leo dengan kuat. Ia menatap nanar Leo. Lukanya itu belum sembuh sama sekali. “Bukankah kau akan melindungiku? Mengapa kau ingin bertarung? Kau tidak boleh melakukannya!” hardik Alana dengan marah. Kali ini mata birunya menatap Leo marah. “Aku bertarung demimu. Aku bertarung untuk melindungimu. Kau akan menjadi tangan kananku. Ayo bertarunglah bersamaku dan aku akan memastikan keselamatanmu,” ucapan Leo itu membuat Alana menatapnya lama. “Tanganmu? Bagaimana bisa kau memegang pedang?” “Aku ini petarung. Luka sialan seperti ini tidak berarti apa pun demi nyawamu. Percayalah kepadaku jika aku bisa melindungimu.” Alana terus menatap Leo sampai akhirnya tangannya menarik Leo untuk melanjutkan menuruni tangga. “Ayo kita berjuang bersama-sama. Aku akan menjadi tanganmu yang satunya,” Alana dengan yakin melangkah menuruni tangga. Tangannya dengan erat menggenggam tangan kokoh Leo. Alana tahu bahwa Leo adalah orang yang tangguh jadi ia memercayakan nyawanya kepada Leo. Ia menyerahkan semua hidupnya di tangan Leo. TBC...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN