Bellum

1306 Kata
 “Pakailah pakaian ini.” Alana memberikan Leo zirah besi. Ia lalu membantu Leo memasangnya. Alana memasangnya dengan sangat perlahan takut mengenai luka Leo. “Terima kasih,” jawab Leo sambil menatap Alana yang sekarang membantunya memasang sarung tangan. Baju besi itu cukup berat dan tidak membuat Leo bisa bergerak bebas. Namun, jika tidak memakai pakaian itu maka ia tidak menjamin tubuhnya akan terlindungi. “Jangan mengucapkan terima kasih, aku tidak melakukan apa pun dan kau belum menyelesaikan tugasmu untuk melindungi kerajaanku,” jawab Alana sekenanya. Sekarang ia mengembuskan napasnya dan menatap Leo. Di tangan Alana sekarang ada topeng besi yang berfungsi untuk melindungi kepala. “Aku berterima kasih karena kau menyelamatkanku,” jawab Leo. Alana menatapnya lagi lalu mengangguk pelan. Kemudian ia memasangkan topeng besi ke kepala Leo. “Jangan terlalu banyak menggerakan tanganmu yang sebelah kanan. Aku yang akan menjadi tanganmu sebelah kanan. Kemampuan berpedangku cukup baik. Kau tidak perlu meragukannya,” kali ini Alana tengah memasangkan baju besi di tubuhnya. Alana telah siap dengan pakaian perangnya. Leo benar-benar tidak percaya ada seorang ratu yang begitu berani padahal Leo tahu sifat Alana itu sangat manja. Di kerajaannya dulu tidak ada ratu atau putri yang berani berperang. Biasanya mereka hanya memantau atau berlindung. Perang melawan makhluk buas akan terjadi sebentar lagi. Mereka bukan makhluk biasa yang bisa dibunuh oleh dua atau tiga orang. Perlu banyak pasukan dan taktik untuk menunbangkannya karena makhluk yang sekarang sedang berputar-putar mengelilingi istana Alana adalah salah satu makhluk terkuat pemilik penguasa raja-raja tamak. Rakyat sudah mereka perintahkan untuk bersembunyi dengan aman dan jangan keluar dari rumah bawah tanah mereka. Prioritas utama mereka adalah menyelamatkan rakyatnya. “Ayo. Kita harus menghadapinya,” ucap Alana yakin. Ia berjalan lebih dulu melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tersebut. Leo mengikutinya sambil membenarkan letak pedangnya. Prajurit sudah bersiap dengan posisi masing-masing. Dilihat Leo empat temannya sudah berada di garis depan. Mereka menunggangi kuda masing-masing. Punggung keempatnya menampakkan keberanian yang selalu Leo sukai. Tanpa teman-temannya ia tidak akan bisa melakukan semua ini sendirian. Roxxatte masih terbang berputar-putar di sekitar istana. Kepakan sayapnya menghasilkan angin yang cukup kencang di sekitarnya. Tubuhnya sangat besar dengan tinggi sekitar delapan meter dan panjang sepuluh meter. Leo mengajak Alana untuk menaiki kuda yang sama. Alana berada di depannya. Leo akan menyusul teman-temannya di barisan depan, tetapi tiba-tiba penasihat Alana mencegat mereka. “Malkia, kumohon berhati-hatilah,” ucapnya dengan nada penuh kekhawatiran. “Tenang saja, aku akan baik-baik saja. Kau pimpin pasukan di sini. Aku akan berusaha membunuhnya dan membuat rakyat kita kembali merasa aman,” ucap Alana. Ia kemudian menjalankan kudanya. “Tetaplah di dekatku, aroma tubuhmu sudah dikenalinya. Berbahaya jika ia menyadari kau menyerangnya. Aku akan terus memelukmu dari belakang agar aroma tubuhmu tersamarkan,” ucap Leo dengan nada memerintah. Alana mengangguk pelan. Jujur saja ia merasa gugup. Tidak pernah ada laki-laki yang memperlakukannya seperti ini. “Leo! Alana! Mengapa kalian berdua?” tanya Sean terkejut ketika keduanya sudah berkumpul bersama teman-temannya. “Kau dan dia? Apa yang terjadi? Kalian seperti pasangan pengantin!” Aaron juga terkejut. “Kalian berkuda berdua. Posisi seperti apa itu?” Marco tidak terima dengan keuntungan yang didapatkan oleh Leo. Harusnya dia yang ada di sana bersama Alana. “Kalian ikut berperang? Bukankah kau masih terluka, Leo?” hanya pertanyaan Alvin yang paling masuk akal saat ini. “Diam, aku hanya terpaksa!” jawab Alana ketus. Bagaimana ia tidak ketus karena mendapat pertanyaan yang aneh dari keempat orang tersebut–kecuali Alvin—dan pertanyaannya cukup menjurus ke arah negatif. Mereka masih sempat bertanya dan pertanyaan mereka tidak tepat padahal di depan mata mereka sebentar lagi perang melawan makhluk buas terjadi. “Alvin sialan bersiap untuk memanah matanya. Kita harus membuat mata sialannya buta. Itu titik lemahnya,” perintah Leo. Alvin bersiap dengan busur panahnya. Ia mengarahkan anak panahnya pada makhluk yang saat ini sibuk menampakkan kekuatannya. Alvin mengukur sasaran dan membaca arah mata angin untuk membuat tembakannya akurat. “Aaron sialan, siapkan tombakmu. Ketika ia hampir terjatuh langsung arahkan tombak sialanmu ke lehernya,” perintah Leo lagi. Leo memang selalu suka menyebut nama teman-temannya dan diakhiri umpatan karena hal tersebut dapat memacuh mereka lebih bersemangat. Itu sudah menjadi perjanjian mereka semenjak lama dan sulit untuk diubah. “Alana, sekarang bersiaplah menunggangi kuda dan bersiaplah memainkan pedang sialanmu,” bisik Leo di telinga Alana. Keempat temannya menoleh lagi melihat Leo dan Alana. “Mengapa dia yang bisa dekat dengan Alana,” protes Sean. “Dan dia tidak memanggil nama Alana dengan embel-embel ‘sialan’ andalannya itu,” celetuk Aaron. “Leo menyebalkan, si b******k itu,” rutuk Marco tidak terima. Bagaimana mereka tidak terima, Leo orang yang paling tidak acuh dan tidak suka pada Alana serta ia beberapa kali bertengkar dengan Alana, tetap yang mereka lihat sekarang Leo sangat dekat dengan sang ratu. “Alvin sialan, tembak sekarang!” perintah Leo. Alvin langsung mengarahkan anak panahnya ke mata makhluk besar di depannya. Tepat sasaran. Alvin melakukannya lagi dan sekali lagi tepat sasaran. Makhluk itu mulai tidak seimbang. Aaron mengambil kesempatan tersebut dan langsung melemparkan tombaknya. Raungan makhluk itu terdengar mengerikan. Ia mengamuk di udara. Penasihat kerajaan Alana segera menurunkan perintah untuk menyerang. Ratusan anak panah langsung menghujaninya, tetapi semuanya tidak mempan. Kulit makhluk itu sangat keras. Ia hanya bisa dikalahkan dengan menyerang titik lemahnya. Leher dan mata adalah titik lemahnya. Di bagian lehernya adalah pertemuan antara kepala naga dan tubuh singa. Pembulu darah penting banyak terdapat di sana. “Arahkan panah kalian di lehernya!” teriak Leo. Serempak anak panah kembali terbang. Makhluk itu mengamuk. Ia mengeluarkan lengkingan suaranya yang memekakkan telinga. Lalu semburan api keluar dari mulutnya. Ia turun ke daratan dan langsung mengamuk. Tanah-tanah di sana hancur karena cengkraman kuku tajamnya. Beberapa pohon hampir tumbang karena terkena tubuh besarnya. Prajurit yang memakai tameng melindungi diri mereka dari semburan api. Kesempatan itu dimanfaatkan oleh keenamnya untuk maju. “Jangan takut Alana. Lakukan sebisamu. Percayalah kepadaku!” ucap Leo sambil terus menunggangi kuda dengan satu tangannya yang terluka. Tangan kirinya memegang pedang. Alana yang berada di depannya menarik napasnya dalam-dalam. Jujur ia sangat takut karena ini sangat berbahaya, tetapi kata-kata Leo barusan menenangkannya. Tangan kanannya memegang pedang. “Serang kakinya dan lumpuhkan dia maka kita bisa menjangkau lehernya!” teriak Leo kepada teman-temannya. Sementara mereka berenam sedang menuju ke arah makhluk itu, prajurit Alana menembakinya dengan panah serta tombak. Bola-bola api dari atas benteng juga menembak secara bergantian. Penasihat Alana, Edmond yang menjadi pemimpinnya. Ketika ia ikut memanah, matanya tidak lepas menatap kelima kuda yang sekarang maju berlari ke depan seperti tidak ada rasa takut. Semangat mereka sama seperti semangatnya dulu. Bertarung untuk kemenangan. “Malkia, anda seperti ayah Anda. Sangat berani,” gumam penasihatnya. Penasihatnya itu adalah orang yang paling menyayangi Alana setelah kedua orangtua Alana pergi. Dialah orang kepercayaan ayah Alana. Ia melakukannya karena balas jasa. Dulu hidupnya pernah diselamatkan oleh ayah Alana. “Alana, hati-hati dengan ekor sialannya! Ekor kalajengkingnya itu mengandung racun sialan!” ucap Leo mengingatkan Alana. “Aku tahu,” jawab Alana. Ketika semakin dekat dengan kaki-kaki makhluk itu mereka serempak berpencar. Mengambil posisi masing-masing untuk menyerang. Semburan api terus dikeluarkan makhluk tersebut. Beberapa prajurit tumbang. Makhluk itu menginjak-injak tubuh-tubuh prajurit yang tumbang dengan kaki besarnya. Kakinya yang seperti cakar elang telah beberapa kali menyepak kumpulan prajurit-prajurit. Leo dan Alana sudah hampir mencapai targetnya lalu tanpa ragu Alana langsung mengayunkan pedangnya setelah itu diikuti Leo. “Terus Alana, jangan ragu untuk menebasnya. Kita harus melumpuhkan kakinya!” Leo terus mengarahkan kudanya mengikuti pergerakan kaki makhluk itu. Leo, Alana, Aaron, Sean, dan Marco terus berupaya menjatuhkan makhluk itu dengan cara melumpuhkan kakinya sedangkan Alvin saat ini tengah membidik anak panahnya untuk menembaki leher makhluk sombong yang sudah menganggu hari tenang mereka. Mereka melakukannya dari jarak dekat. Tidak ada rasa takut yang mereka rasakan. Itulah alasan mengapa mereka terpilih untuk membantu kerajaan Alana dan akan menjadi kandidat petarung terkuat. TBC...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN