Anima

2223 Kata
“Jadi dia calon itu?” ucap suara bertanya kepada temannya. “Aku dengar iya, karena dialah saat ini yang terkuat,” jawab temannya yang memiliki suara halus. “Haruskah kita membantunya?” tanya temannya yang lain. “Kita memang sudah membantunya,” jawab suara yang sedikit nyaring “Dia terluka parah. Aku menyaksikan kejadian tadi. Dia hampir mati,” ucap pemilik suara halus. “Untung dia tidak sempat terjatuh terlalu jauh. Kau bertindak cepat menyelamatkannya,” jawab pemilik suara yang sedikit nyaring. “Kau tahu siapa dia?” tanya suara yang bertanya lagi. “Kudengar dia adalah pemimpin pasukan pemberani. Kalau tidak salah julukannya Morani. Dia orang hebat,” jawab pemilik suara halus itu lagi. Saat itu Leo yang setengah sadar langsung membuka matanya. Leo melihat ia berada di sebuah tempat yang atasnya adalah pusaran bintang. Oksigen di sekitarnya mulai terasa ada. Leo bisa bernapas kembali seperti biasanya. Ketiga makhluk tadi kemudian menatap Leo yang masih berusaha membuka kelopak matanya. “Dia sudah sadar!” ucap suara nyaring itu dengan perasaan bahagia. Leo yang sadar kemudian langsung terduduk lalu ia mengelilingi penglihatannya. “Di mana aku sekarang?” tanyanya panik. Leo panik karena dia sadar tadi tengah bertarung melawan Beowulf, tetapi tiba-tiba makhluk itu membalikkan tubuhnya dan Leo tidak ingat apa pun setelahnya. “Di Mound,” jawab pemilik suara lembut. “Kau tadi terjatuh ke Mitjà dan kami menolongmu,” sambungnya. “Siapa kalian? Di mana teman-temanku?!” tanya Leo kembali panik. “Kami adalah peri bulan. Orang-orang memanggil kami peri Luciane. Kami melihat pertarunganmu melawan makhluk Daegal tadi,” jawab pemilik suara yang sedikit nyaring tersebut. “Kami tahu siapa kau sebenarnya, Silk Leaf itu, dia kepunyaan bangsa Pixie. Bangsa Pixie adalah teman kami. Kami sama seperti mereka, perbedaannya kami di dunia atas sedangkan mereka dunia tengah,” jawab pemilik suara halus lagi. Peri Luciane memang bangsa peri yang berada di bulan. Seperti halnya bangsa peri Pixie dan Atmos, mereka mempunyai kelebihan tersendiri dari segi kekuatan. “Baiklah, terima kasih atas bantuan kalian, tetapi bisakah kalian membantuku membawa aku kembali ke pertarungan. Aku sedang bertarung dan aku tidak ingin teman-temanku menjadi korban. Kami harus bertemu Yupiter dan membujuknya untuk menjadi sekutu kami,” ucap Leo lagi. “Baiklah jika itu keinginanmu, tetapi kau harus ingat sesuatu,” ucap pemilik suara lembut lagi. “Senjatamu itu tidak akan berfungsi banyak di sini. Pedangmu tidak sebanding untuk melawannya,” sambungnya. Kening Leo mengernyit heran. “Lalu senjata apa. Aku hanya memiliki pedang sialan ini. Ini pedangku yang paling baik. Aku sudah memakainya selama bertahun-tahun,” jawab Leo sambil melihat pedangnya dengan saksama. “Aku tahu pedangmu pedang hebat, tetapi dia akan lebih hebat jika kau memandikannya dengan air suci,” jawabnya lagi. “Aku tidak punya waktu untuk memandikan pedangku ini. Aku harus menyelamatkan teman-temanku. Kumohon, bawa aku ke tempat pertarungan,” pinta Leo memohon. “Berikan pedangmu, prosesnya tidak akan lama dan setelah itu kami akan mengantarkanmu,” ucapnya. Leo tidak ingin menunggu lagi dan ia dengan cepat memberikan pedangnya. Pikirannya sangat cemas. Memikirkan teman-temannya dan juga Alana. Leo tidak bisa berdiam diri dan bersantai. Ia harus mengalahkan makhluk itu dengan tangannya atau ia akan menyesalinya seumur hidup karena menjadi pengecut. Saat ini pedangnya itu dicelupkan ke dalam sebuah danau yang berwarna kebiruan berkilauan. Gemercik air dari danau itu seolah bertambah besar. Air danau itu lalu menggumpal di dekat pedang Leo yang dicelupkan. Leo bisa melihat pedangnya mulai berubah warna menjadi kebiruan. Peri itu lalu mengangkatnya dari danau kemudian memperlihatkan pedang Leo kepada pemiliknya. Pedang itu kini berkilauan, seperti ada butiran-butiran kristal halus yang menghiasinya. Leo dapat merasakan aura yang berbeda pada pedangnya. Aura yang lebih kuat. Peri Luciane memang terkenal akan kekuatan mereka dalam segi senjata. Bebatuan di istana peri Luciane merupakan elemen terkuat untuk membuat senjata. Banyak bangsa peri di dunia tengah menempa pedang mereka dari bahan batu bintang milik peri Luciane. Selain batu bintang yang menjadi elemen pembuatan pedang, peri Luciane juga mempunyai air suci untuk menyulap senjata biasa menjadi luar biasa. Di Mound yang merupakan istana bangsa Luciane juga terdapat beberapa pusaka serta senjata kuno yang kekuatannya luar biasa. Yupiter pun menyimpan beberapa senjata legenda miliknya di sana dan akan digunakan pada saat dibutuhkan. “Pedangmu adalah dirimu. Kami memberikan keistimewaan kepadamu. Sekarang pedang itu bisa memotong besi yang kuat sekali pun,” ucapnya sambil menyerahkan pedang itu kepada Leo. Leo mengambilnya dan aura itu semakin kuat. ♜♜♜ “Alvin! Serang terus matanya!” perintah Aaron. Aaron berusaha mengukur tombaknya agar tepat sasaran mengenai kepala makhluk itu. “Aku sedang berusaha. Dia cukup bisa membaca pergerakan anak panahku!” jawab Alvin sambil terus mengukur targetnya. “Kau mengambil temanku maka aku akan membayarnya dengan nyawamu!” ucap Marco sambil mulai menghunuskan pedangnya. Sean tidak ikut menyerang karena ia sibuk menenangkan Alana. Alana tidak melepaskan pelukannya dari Sean. Alana terus menangis dan Sean berusaha menenangkannya. Pertarungan terus terjadi. Aaron, Alvin, dan Marco terus menyerang dengan seluruh kekuatan mereka serta membabi buta. Makhluk itu memang cukup kuat. Tubuh besinya adalah kekuatan pelindungnya, tetapi hal itu tidak membuat ketiganya menyerah. Nyawa dibayar nyawa. Bulan, planet, galaxy, makhluk-makhluk penunggu dunia atas menyaksikan kejadian itu. Menyaksikan ketiga petarung melawan makhluk Daegal. Kejadian langka yang bisa mereka lihat ketika seorang manusia melawan makhluk buas nan jahat. Semburan bola-bola api terus dilancarkan. Aaron mencoba melemparkan tombaknya ke kepala makhluk itu. Marco menangkis serangan bola-bola api itu dengan pedangnya. Marco memanfaatkan bola-bola api yang disemburkannya untuk kembali dipantulkan ke makhluk tersebut. Tidak dimungkiri bahwa ketiganya mengakui kekuatan makhluk itu. Ia memang lebih kuat dari makhluk-makhluk sebelumnya, selain itu mereka bukan berada di dunia mereka sehingga sedikit kesulitan dengan dunia baru ini. Mengatur napas dengan persediaan yang terbatas karena jumlah oksigen yang sedikit. Kelelahan menghinggapi ketiganya. Mereka sudah mengeluarkan tenaga mereka semampunya. Alvin sudah banyak menembakkan anak panahnya ke kepala makhluk itu, tetapi dia selalu berhasil membaca pergerakan anak panah Alvin sehingga tidak banyak mengenai titik-titik vitalnya. Saat harapan mulai menipis, tiba-tiba keajaiban itu datang. Leo! Dia datang dari atas tubuh makhluk itu tanpa disadari oleh makhluk itu sendiri. Begitu cepat serta menyisakan keterkejutan di benak Marco, Aaron, dan Alvin. Leo langsung menancapkan pedangnya tepat di kepala Beowulf. Erangan mengerikan tiba-tiba terdengar sehingga menyadarkan Alana dan Sean. Betapa terkejutnya Alana melihat sosok itu yang saat ini tengah menancapkan pedangnya ke kepala makhluk tersebut. Berikutnya Leo mencabut pedangnya lalu ia tanpa ragu memotong leher makhluk yang terbuat dari besi. Sekarang Leo sudah tahu kekuatan dari pedangnya yang telah dimandikan air suci oleh peri Luciane. Pedang itu memang benar-benar mampu memotong besi layaknya memotong kue. “Leo!” teriak Alana dengan perasaan campur aduk. Senang, bahagia, terharu, sedih, bertanya-tanya, marah, kesal, dan benci sili berganti menghinggapi hati Alana. Ia Senang melihat sosok Leo. Ia bahagia Leo hidup dan tidak mati seperti dugaan semuanya. Ia sedih melihat sosok Leo yang terluka. Ia bertanya-tanya apa yang terjadi sebenarnya kepada Leo. Ke mana dia dan bagaimana bisa. Alana marah karena Leo telah membuatnya sangat khawatir. Dan Alana benci karena Leo betul-betul hampir membuatnya kehilangan sosok itu. “Alana! Kau lihat, itulah mengapa ia disebut petarung. Itulah mengapa ia menjadi pemimpin kami!” seru Sean sambil menghapus air matanya. Rasa haru juga menghinggapinya. Ia bahagia setengah mati melihat sahabatnya baik-baik saja serta membuat kejutan untuk mengalahkan musuh mereka. Leo langsung melompat dari tubuh makhluk itu seceat kilat. Ia telah kalah total. Pedang itu berhasil mengalahkannya. Alvin, Marco, dan Aaron langsung berlari ke arah Leo kemudian memeluknya. Sukacita menyelimuti mereka. Sean mengajak Alana untuk ikut bergabung. Kelimanya berpelukan dengan erat. Leo membalas pelukan dari para sahabat-sahabatnya. Alana menyaksikannya sambil menghapus air matanya yang bercucuran. “Kau gila! Kau membuat kami semua cemas!” ucap Alvin sambil memukul pelan punggung Leo. “Aku langsung ingin berhenti menjadi petarung jika tidak ada kau di kelompok kami,” ujar Sean sambil menghapus air matanya. Kedekatan emosional mereka sebagai sahabat dari kecil memang benar-benar terlihat. Leo menggusap kepala Sean dan memeluk kepala Sean. Ia tahu betul bahwa sahabat-sahabatnya akan sedih setengah mati bila memang hal buruk akan terjadi kepadanya karena ia juga akan bersedih ketika sahabatnya mengalami hal buruk. “Maafkan aku teman-teman. Aku juga hampir mati jika bangsa peri bulan tidak menyelamatkan aku,” jawab Leo. Leo tahu Alana berdiri di depan mereka dan menyaksikan mereka. Namun, Alana menghormati persahabatan mereka di atas segalanya. Ia tidak ingin mengganggu sukacita kelima sahabat itu. Leo melemparkan senyum kepada Alana. Menandakan dia baik-baik saja. Alana membalasnya dengan senyum berurai air mata. Setelah sahabat-sahabat Leo selesai memeluk Leo saat ini giliran sang ratu yang langsung memeluk Leo. Ia langsung memeluk erat Leo dan menangis di sana. Semua perasaannya tercurah di sana. “Aku sudah berpikir tidak akan melihatmu lagi di dunia ini. Jika kau pergi siapa yang akan melindungiku. Siapa yang akan menyelamatkanku. Siapa orang yang akan aku percaya lagi?” isak Alana sambil terus menangis. “Maaf membuatmu khawatir. Aku juga mengkhawatirkamu,” aku Leo. Detak jantung Alana kembali berpacu mendengar ucapan Leo. Ia senang mendengarnya. Ia senang Leo mengkhawatirkannya. “Aku sangat cemas. Leo, jangan seperti itu lagi. Jangan bertarung sendirian,” isak Alana lagi. Leo mengangkat kepala Alana dan ia menatapnya lalu menghapus air mata Alana. Ia juga cemas ketika hampir saja kalah. Nyawa Alana dan sahabat-sahabatnyalah yang akan terancam. “Adegan romantis dimulai kembali. Coba saja ada putri berdada besar. Aku juga ingin dipeluk,” gumam Alvin mulai bercanda. “Aku tadi sudah dipeluk oleh Alana,” ucap Sean teringat tadi Alana tidak melepaskan pelukannya. Ia berbicara seolah menyombongkan diri kepada ketiga sahabatnya. “Kau harus mandi dan membersihkan diri setelah ini. Hanya Leo yang boleh memeluknya. Kau tidak boleh dan bekas dirinya di tubuhmu harus dihilangkan sesegera mungkin. Itu bisa gawat. Bisa-bisa kau yang mengkhayal adu domba dengannya,” ucap Aaron dengan nada panik. Sean langsung tertawa terpingkal-pingkal mendengar ucapan Aaron. “Kau memberikan ide yang sangat brilian!” ucap Sean dengan mata berbinar-binar. “Hapus pikiran kotormu. Hanya mereka yang boleh kita khayalkan.” Aaron langsung menutup mulutnya tiba-tiba setelah berkata seperti itu. Hampir saja ia membongkar kedoknya dan Sean yang pernah mengkhayalkan Leo dan Alana beradu domba menurut istilah mereka. Untung Alvin sedang tidak terlalu peduli terhadap obrolan keduanya. Ia tengah sibuk meratapi nasibnya yang melihat Leo dan Alana berpelukan. Jika saja Alvin atau Marco mendengar pasti mereka ingin tahu apa maksud perkataan Sean dan Aaron tadi. “Leo!” ucapan Marco yang cukup keras itu mengagetkan Leo. Leo melihat raut wajah Marco yang menatapnya dengan wajah sejuta pertanyaan. Ada apa pikir Leo? Alana lalu melepaskan pelukannya dari Leo. Wajahnya memerah dan panas. Pelukan Leo mampu membuatnya tenang. “Apa?” tanya Leo. “Kau tadi mengatakan kau diselamatkan putri bulan? Lalu mana putri bulannya? Aku ingin melihat. Apakah mereka cantik? Sexy? Berdada besar? Jangan katakan kau menyuruh mereka untuk bersembunyi agar tidak bertemu dengan kami.” Alvin seolah tersadar dengan ucapan Marco. Benar juga, ada putri bulan. Itu langsung membangkitkan saraf Alvin, Sean, dan Aaron seperti sedia kala. Radar di tubuh mereka seakan tersengat jika mendengar kata gadis cantik. “Aku tidak mengatakan mereka putri. Aku mengatakan mereka peri bulan. Aku beritahu satu hal kepada kalian,” ucap Leo sambil tersenyum misterius. Ia kemudian menyuruh teman-temannya untuk mendekatkan telinga mereka. Alana penasaran dan ia juga mengikuti keempatnya. “Mereka berbentuk aneh. Kalian pasti akan lebih memilih bangsa Pixie sialan itu daripada Luciane,” sambung Leo. Lalu setelah mendengar ucapan Leo kelimanya mengernyit heran. “Maksudmu?” tanya kelimanya bersamaan. “Mereka seperti sosok laki-laki, tetapi menyerupai perempuan. Kalian mengerti maksudku?” kelimanya menggeleng karena memang tidak mengerti. Leo menggaruk kepalanya dengan bingung. Ia tidak tahu bagaimana harus menjelaskan kepada teman-temannya. “Seperti kau,” tunjuk Leo kepada Marco. Ia mencontohkannya kepada Marco. “Tetapi kau memakai pakaian seperti Alana. Pakaian perempuan,” sambung Leo. Kelimanya mulai mengerti. Namun, keempatnya terlihat langsung pucat pasi. Hanya Alana yang langsung tertawa keras sambil memegangi perutnya. “Jadi makhluk di dunia atas berbentuk seperti itu?” tanya Marco kecewa. Ia menampakkan raut kekecewaan di wajahnya yang teramat dalam. “Jadi mereka tidak memiliki d**a besar. Begitu maksudmu. Jadi d**a mereka rata?” tanya Alvin frustrasi. Ia langsung terduduk lemas. khayalannya salah total. Ia menyangka bangsa peri bulan itu cantik-cantik dan menawan. Sexy serta berdada besar seperti khayalannya, tetapi Leo dengan teganya menghancurkan khayalannya setelah mengatakan bahwa wujud peri-peri bulan itu sangat aneh. “Sudah kukatakan kita sebaiknya dengan putri duyung saja.” Sean menemani Alvin yang frustrasi. Ia ikut terduduk lemas. Alana dengan senang hatinya tertawa di atas penderitaan mereka. Mau tidak mau Leo tertawa juga. Leo jarang tertawa, tetapi sekali ia tertawa dapat membuat semuanya terdiam. “Leo tertawa. Ini hal yang sangat langka. Bahkan lebih langka daripada melihat putri duyung mandi,” ucap Aaron asal. Alana melihat Leo yang tertawa tidak bisa menyembunyikan senyumnya. Jadi itu wajah bahagia Leo. Jadi seperti itu ketika Leo bahagia. Jadi seperti itu caranya untuk bisa membuatnya tertawa. Alana senang bisa lebih banyak mengetahui tentang Leo sedikit demi sedikit. “Aku hanya bercanda. Mereka tidak berwujud seperti itu. Mereka seperti bangsa peri lainnya, tetapi aku harus mengakui bahwa bangsa peri Pixie jauh lebih unggul kecantikannya dibandingkan bangsa Luciane,” secercah harapan kembali datang kepada keempat pria kesepian serta mengenaskan soal percintaan. Mereka langsung mengerubuni Leo dengan berbagai pertanyaan. Alana hanya mampu tertawa melihat ulah bercanda mereka. Setidaknya itu bagus karena mereka baru saja selesai menangis dan bersedih. TBC...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN