Moveo

1057 Kata
Hari sudah mulai malam dan sebentar lagi pesta dansa akan dimulai. Suasana di dalam istana sangat meriah. Lukisan-lukisan seolah ikut berpesta. Nyanyian-nyanyian dari paduan suara serta alat musik menggema. Peri-peri kecil dari tumbuh-tumbuhan meramaikan pesta itu. Mereka beterbangan di langit-langit sambil menaburkan kelopak-kelopak bunga. Kelopak bunga yang mereka taburkan seolah tidak pernah habis. Atap istana itu sekarang berwarna biru kehitaman khas langit malam. Ada bintang, pusat galaxy, planet, dan bulan sabit bertengger di sana. Alana senang dengan suasana ramai seperti ini. Membuatnya tidak bosan dan kesepian. Keempat teman Alana yang bertingkah tidak seperti manusia normal itu sekarang sedang mengantri untuk berdansa bersama Alana Alexandra Culver. Mereka lagi-lagi melakukan hal aneh. Sekarang keempatnya sedang adu panco. Siapa yang menang berarti dia yang pertama berdansa dengan sang ratu. “Hentikanlah ulah konyol sialan kalian itu. Dia tidak akan berdansa bersama kalian,” ucap Leo sekenanya. Ia sekarang memilih duduk menyandar punggung pada kursinya. Keempatnya tengah sibuk pemanasan. Penampilan kelimanya kali ini berbeda dari biasanya. Jika biasanya mereka hanya memakai pakaian biasa dan sekadarnya maka sekarang mereka sangat berbeda. Dengan busana mewah resmi milik kerajaan yang sangat cocok dipakai oleh mereka. Mereka terlihat seperti pangeran. “Ini demi kebahagiaan hidup kami,” jawab Sean sambil memijat-mijat otot tangannya. Ia lalu melemaskan tangannya dengan berbagai gerakan. Kemudian memijatnya lagi. “Alana! Kau mau berdansa bersama kami?”Alvin langsung bertanya tanpa basa basi kepada Alana yang sekarang duduk di kursi mahkotanya di depan. Leo menatap Alana dari kejauhan. Alana memakai gaun terusan berwarna merah terang yang berkilauan. Gaun berlengan panjang itu sangat memukau penampilan Alana Alexandara Culver. Bahunya yang cukup terbuka memperlihatkan kulit putihnya yang terlihat sangat kontras dengan warna gaun merah. Rambutnya ditata dengan sangat cantik. Tidak ketinggalan kali ini ia memakai mahkotanya. Mata birunya menghipnotis siapa saja yang melihatnya. Sekarang penampilannya benar-benar terlihat bahwa ia adalah seorang ratu tidak seperti biasanya. Kesimpulannya, Alana Alexandra Culver sungguh sangat cantik. Tidak ada yang menolak kecantikannya bahkan untuk seorang Leo Vinzel juga mengakui dalam hati secara diam-diam. “Aku tidak ada niat untuk berdansa bersama kalian,” jawab Alana sekenanya sambil tertawa geli. Keempatnya langsung berhenti pemanasan dan sekarang memilih duduk seperti Leo. Nafsu mereka untuk beradu panco hilang. “Sudah kukatakan tadi,” ucap Leo dengan seringai mengejek. Keempatnya menoleh dan memberikan tatapan kesal kepada Leo. Leo tertawa pelan. Dia jarang tertawa, melihatnya tertawa merupakan sebuah kehormatan. “Kalian ingin tahu bagaimana cara memikat hatinya?” kali ini keempatnya menoleh kepada Leo dan saling pandang heran. Itu tidak seperti kalimat yang sering Leo ucapkan. Leo bukan tipikal seperti itu. “Bagaimana?” tanya Sean dengan rasa penasaran meskipun ia heran setengah mati melihat Leo seperti itu, tetapi tidak menutupi rasa penasarannya. Tepat saat itu pesta dansa dimulai. Pengawal, prajurit, dan para pelayan semuanya turut berdansa. Lagu-lagu romantis bermain memenuhi isi istana. Gerakan-gerakan indah memenuhi lantai dansa. Senyum terkembang dari sepasang penari. Bunga-bunga yang ditaburkan oleh peri bunga semakin banyak. Suasana benar-benar berubah romantis. “Akan kutunjukkan,” ucap Leo sambil berdiri. Keempatnya hanya mampu terdiam dan melihat apa yang akan Leo lakukan. Mereka penasaran setengah mati. Leo Vinzel melangkah dengan pelan. Jujur saja, dia tidak terlihat tenang seperti penampilannya yang sangat tidak acuh dan terkesan dingin. Ia mengandalkan wajah berekspresi datar miliknya seperti biasa. Ada kalanya ia sering merasa gugup dan itu terjadi sekarang ketika ia perlahan melangkah mendekati kursi mahkota Alana Alexandra Culver. Alana yang tahu Leo sedang menuju ke arahnya juga merasakan hal yang sama. Jantungnya kembali berdetak kencang. Ini gawat pikir Alana. efek racun itu tidak boleh datang sekarang. Ia tidak ingin malam membahagiakan ini dirusak oleh efek racun yang membuat jantungnya berdetak kencang. Jantungnya semakin berdetak kencang ketika Leo sudah berdiri di depannya dan menyodorkan tangannya lalu dia menunduk hormat. Alana hampir saja mendengar suara jantungnya jatuh ke lantai karena saking terkejut dengan perlakuan Leo. “Tidak!” keempat temannya itu berteriak tanpa sadar. Jadi itu yang telah Leo lakukan, memikatnya dengan cara pria sejati. Sean terkulai lemas dan bertumpuh di meja. Aaron langsung bersandar di kursi lalu menutup matanya dengan kecewa. Alvin juga melakukan hal yang sama seperti Sean. Marco langsung meminum habis anggur merah di depannya. “Itu bukan memberitahu kita, tetapi memang dia ingin berdansa bersama  Alana,” ucap Sean yang masih terkulai lemas di meja makan. “Benar yang dikatakan Alana bahwa Leo sialan itu pintar memanfaatkan situasi!”Alvin menghela napasnya. “Apakah artinya ini?” tanya Marco sambil menopangkan dagunya dan menatap Alana serta Leo. Alana belum membalas uluran tangan Leo. Tangannya terlalu kaku untuk digerakkan dan juga keringat dingin membasahi tangannya. Tidak! Mengapa pengaruh racun itu datang di saat yang tidak tepat pikir Alana. Leo masih menunggu uluran balasan dari tangan Alana dengan sabar. Dia melihat keraguan di dalam mata sang ratu. Jelas ia tahu dari mana asal keraguan tersebut. Mungkin karena dirinya yang membuat keraguan tersebut tercipta. “Malkia,” ucapan dari penasihat Alana menyadarkan Alana dari lamunannya. Ia menarik napasnya dan dengan ragu sambil mengelap tangan yang berkeringat di gaunnya. Setelahnya Alana menyambut tangan Leo. Saat itu juga semua orang yang sedang berdansa berhenti. Semua mata menatap ke arah mereka. Hanya lantunan musik dan taburan bunga yang tersisa. Semua lukisan seakan tersenyum menatap keduanya. Tidak lama setelah itu riuh tepuk tangan terdengar ketika Leo dan Alana tiba di lantai dansa. “Itu mengartikan semuanya!” Alvin mau tidak mau tersenyum melihat hal tersebut. Ia bahkan ikut bertepuk tangan dan yang paling keras. “Mereka terlihat cocok!” “Hatinya ternyata bisa panas.” Sean ikut berdiri dan bertepuk tangan untuk mereka. Ia bahkan bersiul-siul menyoraki dengan suara besar yang memalukan. “Cepatlah lamar dia! Buatkan kami banyak keponakan! Segeralah sebelum kau bertambah tua!” suara tawa terdengar pecah di ruangan besar tersebut. “Leo! Aku rela melepaskan Alana demi pria sejati sepertimu!” Marco tidak ingin kalah seperti Sean. “Ini akan menjadi kisah cinta teromantis yang pernah aku lihat seumur hidupku. Leo dan Alana cepatlah menikah! Kami tidak tahan melihatmu kesepian! Kau perlu menyalurkan birahimu kepada wanita!” teriakan Aaron memenuhi seisi ruangan dan semuanya tertawa. Namun, tidak dengan Leo Vinzel dan Alana Culver. Mereka saling tatap seolah tidak ada siapa pun di sana kecuali keduanya. Hanya keduanya yang tahu perasaan masing-masing. Hanya keduanya yang tahu arti tatapan masing-masing. Iringan lagu membuat keduanya mulai berdansa. Hanya dansa dengan gerakan sederhana, tetapi cukup membuat keduanya bertambah dekat. TBC...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN