“Maaf membuatmu tidak nyaman. Aku hanya menunjukkan kepada mereka bagaimana mestinya seorang petarung sialan sepertiku memenangkan hati seorang wanita angkuh sepertimu,” ucap Leo sambil terus menatap Alana. Ia menyelam ke dalam mata biru Alana yang indah.
“Kau, kau ternyata lebih dari yang aku bayangkan,” kata Alana yang terus membalas tatapan mata Leo. Mata hijau Leo seperti menyimpan jutaan misteri di dalamnya. Alana terpesona dengan warna mata langka miliknya. Sangat cocok dengan kepribadian Leo Vinzel.
“Aku tidak seperti yang kaubayangkan,” jawab Leo. Alana mengalihkan pandangan matanya. Ia memilih menunduk. “Ada yang ingin aku bicarakan denganmu.” Leo mengangkat kepala Alana dengan perlahan kemudian ia menatap sang ratu dengan tatapan serius.
“Apa? Katakanlah,” jawab Alana diiringi detak jantung yang bertalu-talu keras.
“Tidak di sini. Maukah kau ikut denganku?” tanya Leo sambil menghentikan gerakan dansanya.
“Ke mana?”Alana bertanya balik kepada Leo.
“Ke balkon lantai atas. Bagaimana?” tanya Leo lagi. Alana berpikir sebentar sebelum mengiyakan ajakan Leo.
“Mengapa tidak di sini saja?” tanya Alana lagi. Leo melihat di mata Alana seperti ia ragu.
“Aku akan menceritakan satu hal kepadamu dan itu sangat penting. Kau harus tahu. Aku tidak akan macam-macam kepadamu. Kau percaya kepadaku?” tanya Leo lagi. Alana menatap mata Leo lagi. Ia berpikir sejenak. Sejauh yang ia kenal Leo meskipun baru beberapa hari ini, Leo adalah orang yang baik. Menghormatinya sebagai seorang wanita, tetapi tidak sebagai seorang ratu. Bertanggung jawab dan selalu menjaganya. Apa yang Alana takutkan?
“Baiklah, kau duluan saja nanti aku akan menyusulmu.” Leo melepaskan pelukan dan juga genggaman tangannya dari Alana lalu ia mengangguk. Leo berjalan ke arah temannya dan di sana ia sibuk mengatur ekspresi wajahnya karena mendapat sorakan.
“Leo, jangan menutupinya lagi dari kami. Kami sudah tahu.” Aaron tersenyum dengan lebar kepada Leo.
“Yang kalian lihat tidak seperti yang kalian bayangkan. Sudah kukatakan aku hanya mencontohkannya untuk kalian, sialan!” jawab Leo tidak peduli sambil mengambil gelas anggur merah yang telah ia isi.
“Tetapi fakta yang terlihat di lapangan tidak seperti yang kau maksud. Pandangan tidak bisa dibohongi!” Alvin bersikeras dengan ucapannya.
“Terserah kalian, aku sudah berkata apa adanya,” jawab Leo sekenanya dan ia langsung meninggalkan keempatnya sambil membawa minuman.
“Hei kau mau ke mana?” tanya Sean ingin tahu. Sean masih ingin menggoda Leo yang ia yakini sedang jatuh cinta, tetapi tidak sudi mengakuinya. Semua orang yang melihat tadi beranggapan seperti itu. Siapa yang tidak, bahkan Alana yang tidak mengerti cinta juga beranggapan seperti itu.
“Mencari udara segar,” jawab Leo sekenanya. Lalu ia masuk ke dalam ruangan lain dan langsung menaiki tangga yang terbuat dari batu marmer berwarna keemasan. Alana melihat Leo sudah lebih dulu pergi dan sekarang ia memutuskan untuk menyusul dari pintu dan tangga yang berbeda.
“Paman, aku ingin ke atas sebentar. Ada yang ingin aku bicarakan dengan Leo. Tampaknya penting sekali. Paman tolong jagalah di sini dan jika ada yang mencariku katakan saja aku sedang di kamarku. Aku dan Leo hanya di balkon atas. Paman tenang saja, Leo tidak akan macam-macam kepadaku.” Alana bercerita kepada penasihatnya. Penasihatnya itu seakan paham dan ia tersenyum.
“Ya saya mengerti Yang Mulia, silahkan dan saya akan menanganinya,” jawabnya.
“Terima kasih, Paman.” Alana lalu melangkah menuju pintu lain dan ia langsung menaiki tangga. Sesampainya di lantai atas Alana langsung menoleh dan melihat Leo yang sudah menunggunya di balkon. Ia berdiri sambil bersandar di pagar balkon. Sesekali ia meminum minumannya.
“Pakai ini, udara sangat dingin.” Leo langsung menyodorkan Alana mantelnya. Mau tidak mau Alana menatap Leo dengan tatapan bingung. Kenapa pria ini bisa mendadak perhatian kepadannya. Leo menghela napasnya. “Pakailah, atau kau akan sakit,” ucap Leo lagi. Alana akhirnya menurut. Benar saja, sekarang terasa lebih hangat.
Dari balkon itu mereka bisa melihat hujan meteor. Bulan, bintang, langit, galaxy, dan aurora semuanya seakan sangat dekat dengan mereka. Jika Alana berada di puncak istananya maka Alana bisa menyentuh awan. Ia pernah melakukannya ketika Merlin membawanya terbang dan Alana berada di puncak istananya.
“Apa yang ingin kaubicarakan?” tanya Alana yang mulai gugup kembali ketika berdekatan dengan Leo. Di pikiran Alana saat ini adalah Leo yang mungkin saja akan menyatakan perasaannya, minimal atau melamarnya, maksimal. Tidak! Ia teringat perkataannya sendiri siang tadi kepada Leo sewaktu di istana Breen. Bagaimana jika itu terjadi, Alana belum siap. Ia seorang ratu dan itu saja masih belum cukup baik baginya menjalankan hal tersebut, bagaimana ia mau menjadi seorang istri. Hayalan Alana sudah semakin liar.
“Musuh sudah bergerak cepat. Kau tahu hal itu?” tanya Leo. Alana mengangguk. “Kau punya rencana untuk menghancurkannya?” tanya Leo lagi. Alana mengangguk dan entah mengapa ia merasa kecewa dengan topik kali ini. Kenyataan memang tidak seindah hayalan.
“Aku punya rencana. Ya, menyelamatkan semuanya dan berperang melawan mereka. Akan aku lakukan apa pun demi rakyatku,” jawab Alana dengan sangat yakin. Leo menggelengkan kepalanya. Alana menatapnya bertanya-tanya.
“Musuh kita kali ini sangat kuat. Kau tidak akan mampu melawannya hanya dengan prajuritmu termasuk kami berlima. Kau akan membuang banyak nyawa.” Leo meminum minumannya lagi secara perlahan.
“Aku percaya kepada kekuatan para prajuritku. Aku tidak mungkin meminta bantuan kepada yang lain? Siapa? Kerajaan manusia sudah sangat sedikit bahkan hitungan jari. Mereka mungkin akan membantu, tetapi tidak banyak. Bangsa Pixie? Mereka akan menyalahi aturan hukum mereka jika terlibat peperangan bangsa manusia. Aku mengandalkan prajuritku dan teman-temanku. Bangsa Wulf, bangsa Ezio, bangsa Beacan, bangsa Oxa, dan bangsa lainnya. Mereka bisa membantu,” jawab Alana yang mulai kesal karena Leo seolah meremehkan prajuritnya.
“Itu tidak akan cukup. Aku tahu perang besar yang menimpa kerajaanmu dua tahun lalu dan menewaskan ayahmu. Kau sudah melihatnya sendiri betapa kuatnya mereka. Kau perlu kekuatan lain,” ucapan Leo membuat wajah Alana bertekuk-tekuk. Leo menyuruhnya mencari kekuatan lain, apakah Leo pikir dirinya itu bangsa Pixie yang punya kekuatan hebat? Dia hanya manusia biasa.
“Maaf saja, aku tidak punya kekuatan lain dan tidak akan ada kekuatan lain yang membantu kita,” jawab Alana yang mulai malas menanggapi ucapan Leo. Perkiraannya jauh meleset. Leo bukan mengatakan seperti yang dihayalkannya.
“Ada, dan hanya kau yang bisa memanggil mereka semua serta menyatukannya.” Leo menatap Alana lagi dan berusaha meyakinkannya.
“Apa?” tanya Alana yang tidak berminat. Entah mengapa tiba-tiba ia merasa Leo seperti ingin berkuasa atas kerajaannya. Itu hanya pikiran Alana dan ia tidak tahu kebenarannya.
“Bangsa Pixie yang mengatakan ini semua kepadaku. Akan kuceritakan semuanya kepadamu dan kau boleh bertanya kepada mereka bila kau merasa aku berbohong.” Alana yang awalnya merasa malas dan menilai sedikit buruk kepada Leo tiba-tiba menjadi ingin tahu. Bangsa Pixie, itu teman-temannya yang terkenal hebat. Mereka peri yang mempunyai kekuatan di luar nalar manusia biasa seperti mereka.
Leo mulai menceritakan apa yang ia tahu kepada Alana. Semuanya berawal dari waktu Alana yang masih pingsan karena sengatan dari ekor kalajengking. Leo memang belum mengatakannya kepada Alana dari siang tadi kerena ia melihat Alana yang makan dengan rakus dan sekaranglah waktu yang tepat karena Leo tidak ingin menunda-nunda perkataannya.
TBC...