Terra

1147 Kata
Leo menarik kursi dan mendekatkannya ke tempat Alana berbaring lalu ia duduk. Dilihatnya wajah tertidur sang ratu yang cantik jelita. Wajahnya tidak seperti kemarin yang sangat pucat. Sekarang aliran darahnya sudah normal. Bibirnya kembali memerah. Wajahnya kembali cerah bersinar. Lama Leo memandanginya sampai akhirnya suara keempat putri peri Pixie menyadarkannya. “Dia masih belum sadar, mungkin sebentar lagi. Kami sudah memberitahukan keadaan kalian ke istana. Merlin yang memberi kabar jadi kau tidak perlu khawatir,” ucap Valda Osborn. Ia lalu menghampiri Alana kemudian membelai kepala temannya itu. “Terima kasih,” jawab Leo singkat. Mereka membalasnya dengan senyuman. “Bagaimana cara kalian menyembuhkan lukaku?” tanya Leo. “Itu salah satu keahlian kami. Kami bisa melakukan semuanya dan karena kau adalah teman kami maka sudah seharusnya kami menolongmu.” Karin Osborn menjawab pertanyaan Leo. “Apakah lukanya sudah benar-benar sembuh?” tanya Leo lagi. “Dia sudah sembuh, hanya kondisi fisiknya yang lelah karena tubuhnya cukup lama bertahan dari racun itu. Untunglah kau cepat membawanya kemari. Jika tidak, Alana pasti tidak akan selamat,” jawab Maribel Osborn. Ia duduk di kursi dekat jendela sembari memperhatikan tanaman bunga mawar yang tumbuh subur di dekat jedela. “Leo, kau seorang manusia yang bertanggung jawab. Tidak salah kami memilihmu dan memercayakan semuanya kepadamu.” Leo menoleh kepada Isadora ketika mendengar ucapan Isadora. “Kejahatan mulai mendekati kerajaan Alana. Hanya tersisa tiga kerajaan yang bisa bertahan. Harapan satu-satunya adalah di tangan para Grimbold. Harapan bangsa manusia ada di tangan kalian. Kami tidak bisa membantu kalian berperang. Kami punya hukum alam sendiri. Aku tidak tahu di mana mereka menyembunyikan potongan-potongan Mašte. Tempat itu sangat gelap, bahkan mata peri yang aku punya tidak bisa menembusnya. Penglihatanku tidak bisa menjangkaunya. Kekuatan mereka semakin bertambah seiring tumbangnya kerajaan lain. Mereka memakai roh-roh para raja-raja dan prajurit yang kalah berperang. Pasukan mereka adalah pasukan monster dan kasat mata. Ada cara khusus untuk melawan mereka. ” Karin Osborn menjelaskan kepada Leo. Ia adalah Theola (peramal dari bahasa Yunani), julukan untuk Sang Peramal di bangsa peri Pixie. Ia menjelaskan apa yang berhasil ia lihat kepada Leo. “Cara apa itu?” tanya Leo ingin tahu. “Alana, kau dan teman-temanmu harus menyatuhkan tiga bagian dunia. Atas, tengah dan bawah,” jawab Valda. Leo terlihat bingung. “Dunia atas adalah Majë (atas dari bahasa Albanian), dunia tengah adalah Mitjà (tengah dari bahasa Catalan) dan bawah adalah Mông (bawah dari bahasa Vietnam),” jelas Maribel. Leo masih belum mengerti. Ia memang tidak terlalu banyak tahu seperti bangsa Pixie. “Dunia atas maksudnya semua yang ada di atas. Galaxy, bulan, bintang, meteor, planet. Mereka memiliki kehidupan seperti di sini. Mempunyai raja, prajurit dan pasukan-pasukan hebat. Pemimpinya adalah Yupiter dan ratunya adalah Saturnus. Dunia tengah adalah kalian bangsa manusia. Dunia bawah adalah bangsa para ikan. Mereka membagi empat wilayah kekuasaan. Barat, utara, selatan, dan timur. Pemimpin utara adalah Poseidon, pemimpin selatan adalah Neptune, pemimpin timur adalah Oceanus dan pemimpin barat adalah Triton. Jika tiga kekuatan ini bersatu maka besar kemungkinan kemenangan akan kalian raih, tetapi….” Valda memutus perkataannya. Leo menatapnya penasaran. “Tetapi apa?” tanya Leo yang membutuhkan lanjutan ucapan Valda. “Kesulitan untuk menyatukan keempat pemimpin Mông. Mereka memiliki pemimpin yang sering bertentangan dan tidak jarang mereka hampir berperang. Itu adalah tugas berat bagi Alana untuk membujuk keempatnya bersatu serta melawan pemimpin raja-raja tamak. Karena sisa dari kerajaannyalah yang terkuat maka ialah yang harus meyakinkannya.” Isadora menjawab pertanyaan Leo. Leo mengembuskan napasnya perlahan lalu ia menatap Alana yang masih tertidur. Beban berat dipegang oleh sang ratu. “Lalu setelah berhasil meyakinkan mereka apa yang akan terjadi?” Leo bertanya sebanyak mungkin karena ia butuh informasi apa saja yang bisa membantunya. Ia akan mengatakan semuanya kepada Alana nanti. “Tentu saja perang besar akan dimulai. Mereka akan keluar lalu menampakkan diri. Setelahnya tidak ada yang akan tahu bagaimana nasib Mašte. Aku tidak bisa mengetahui akhir perang itu. Batas penglihatanku tidak sampai ke sana,” jawab Karin sembari membelai lembut kepala Alana. Leo menatap keempatnya bergantian. Lalu ia mengalihkan tatapannya kepada Alana. “Itulah alasan mengapa kami memilih kau dan teman-temanmu. Kalian adalah pemberani dan petarung yang hebat. Kau ditugaskan untuk membantu Alana. Hanya kalian yang mampu melakukannya.” Maribel meyakinkan Leo bahwa mereka benar-benar memilih kelompoknya dengan alasan tepat. Pemberani dan petarung yang tangguh. “Dan kau Leo, kau adalah calon penguasa yang akan mendampingi Alana. Kau calon kandidat terkuat, tetapi tidak menutup kemungkinan teman-temanmu juga akan menjadi kandidat terkuat mengalahkanmu. Namun, sejauh yang kami lihat untuk saat ini adalah kau yang terkuat,” sambung Maribel. Leo sedikit melebarkan matanya mendengar ucapan Maribel. Tidak, ia tidak ingin senang dengan ucapan Maribel karena semua itu belum pasti. Semua masih semu. Semua ramalan bisa saja tidak sesuai kenyataan. “Baiklah, aku akan membantu dan melindunginya. Akan kuabdikan diriku untuknya,” jawab Leo dengan yakin. Keempatnya sudah tahu dengan jawaban Leo itu. Mereka tersenyum mendengar keyakinan dari diri Leo. Semua sesuai dengan ramalan yang terlihat. Alana terdiam mendengar cerita Leo. Dia menyesal telah berpikir buruk terhadap Leo. Semua yang Leo lakukan adalah untuk melindunginya dan melindungi kerajaannya. Ia tahu apa yang tidak Alana tahu. Ia ingin membantu Alana melewati semuanya. Ia siap mati jika memang harus demi Alana. Petarung sejati dan pria sejati pantas disematkan kepada dirinya. “Maafkan aku sebelumnya karena tidak memercayaimu. Jadi apa yang harus kita lakukan untuk menyatukan mereka?” tanya Alana dengan tatapan menyesal. Ia menggigit bibir bawahnya. Benar-benar menyesal telah berpikir buruk dengan orang sebaik Leo yang sudah menolongnya. “Tentu saja kita harus ke dunia atas. Menemui mereka, tetapi bagaimana caranya untuk sampai ke dunia atas. Aku harus mencari puncak yang tinggi agar kita bisa ke sana,” jawab Leo dengan sedikit putus asa. Alana seperti teringat sesuatu dan ia membulatkan matanya. “Merlin! Dia bisa membantu membawa kita ke dunia atas,” jawab Alana dengan wajah berbinar-binar. “Dia adalah temanku dari bangsa Ezio. Dia adalah pemimpin dari bangsa burung Elang,” sambung Alana. Kali ini Leo menatap Alana menunggu penjelasan Alana lebih lanjut. “Dari puncak istanaku kita bisa menyentuh awan. Itu adalah gerbang menuju dunia atas kurasa. Kita harus mencobanya!” jawab Alana yang sekarang sangat antusias. Leo mengangguk setuju. Jelas Alana lebih tahu mengenai hal ini dibanding dirinya. “Untuk di dunia bawah kita harus berlayar. Benar! Kita harus berlayar!” ucap Alana lagi. Leo bisa melihat sisi kekuasaan Alana saat ini. Ia tahu apa yang harus dilakukan ke depannya. “Persiapkan dirimu dan semuanya. Kita harus bergerak cepat. Semakin cepat kita menyatukan ketiganya maka perang akan semakin cepat berlalu. Kita tidak boleh menunda semuanya. Besok, semua prajurit harus berlatih kembali. Besok kita akan memulai petualangan kita di dunia atas.” Leo meyakinkan Alana. Alana menatap mata Leo dan melihat ketegasan di sana. Ia seperti melihat sosok ayahnya yang sangat tegas dan bertanggung jawab. Leo memiliki aura itu. Aura seorang penguasa. TBC...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN