“Dia yang akan berkuasa!” ucap seseorang dengan suara kecil, tetapi kata-katanya sangat ditegaskan. Suaranya berat menandakan ia bukanlah sosok orang muda. Dari suaranya terlihat bahwa yang berbicara sudah cukup berumur.
“Bagaimana kau tahu?” tanya suara kecil itu lagi. Suaranya sedikit mirip, tetapi berbeda. Bisikan halus kembali terdengar.
“Kami mendengarnya!” kali ini suara lain lagi, tetapi sama kecilnya dan sama tegasnya.
“Ratu kamilah yang berkuasa. Malkia, dia penguasa segalanya di dunia tengah!” perdebatan kecil dengan suara berbisik itu terus terjadi di tengah malam yang sudah dikuasai semesta.
“Kau salah. Dia orang baru yang akan berkuasa! Perang besar nanti akan mengubah segalanya!” sahutan terdengar lagi. Mereka berbicara di dalam kegelapan. Kelompok kecil itu berusaha mengecilkan suaranya agar tidak ada yang mendengar.
“Kau tidak memercayai Malkia, dia pemimpin kita. Apa yang kaukatakan!” bisikan kembali terdengar.
“Tidak, jabatannya akan turun. Ada yang akan menggantikannya!” sahutan itu terdengar kembali. Namun, jelas kali ini nadanya marah.
“Siapa? Tidak mungkin Malkia kita kalah!” sahutnya lagi.
“Shht! Kecilkan suaramu. Manusia akan mendengar!” kali ini suara berat itu cukup membentak, tetapi tetap berbisik.
“Manusia sudah tidur. Dia tidak akan melihat kita dan tidak akan mendengar kita. Kembali ke topik awal. Siapa yang kaumaksud akan menggantikan jabatan kekuasaan Malkia?” tanyanya lagi.
“If….” temannya langsung menutup mulut orang yang berbicara itu. Matanya melotot memperingatkan bahwa jangan menyebut namanya. Temannya itu langsung melepaskan tangan temannya dan meminta maaf. “Maaf, aku lupa,” ucapnya.
“Jangan menyebut namanya. Dia bisa melihatmu!” peringat temannya lagi.
“Dia sangat kuat. Dia memiliki kekuasaan sepenuhnya. Aku tidak sanggup menyebutkan betapa kuatnya dia,” ucap makhluk itu lagi.
“Lindungi Malkia, dia bisa melakukan semuanya. Kekuatannya akan bangkit,” ucap suara lain.
“Kekuatan Malkia adalah kekuatan yang tidak akan bisa kita bayangkan. Dia adalah penguasa yang sebenarnya,” ucap suara lain lagi.
“Tidak! Sudah kukatakan akan ada penggantinya!” suara yang lebih terdengar tua itu terdengar lagi.
“Kau tidak memercayai Malkia!” ucap suara lain yang marah. “Dia memercayai kita, tetapi kau tidak memercayainya! Hanya dia manusia yang memandang kita dengan derajat yang tinggi. Kau membela raja gelap!” tiba-tiba suara yang tadinya berbisik sekarang mulai meninggi.
“Tidak! Kau salah paham. Aku tidak membela raja gelap. Aku sepenuhnya untuk Malkia, sungguh!” ucapnya dengan bersungguh-sungguh.
“Lalu mengapa kau mengatakan bukan Malkia yang akan menjadi penguasa sepenuhnya?” tanyanya mempertanyakan kesungguhan temannya.
“Karena akan ada orang lain yang menggantikannya. Aku mendengar sendiri pengakuannya!” jawab suara lain.
“Pengakuan siapa?” tanya suara lain. Begitu banyak suara yang berbeda terdengar berbisik-bisik di sana.
“Aku tidak tahu siapa namanya. Aku hanya mendengar suaranya!” jawabnya. Teman-temannya mulai meragukan ucapan makhluk itu.
“Shht! Diam, jangan berbicara dengan suara besar. Kau akan membangunkan manusia!” temannya mengingatkan untuk berbicara dengan suara kecil lagi.
Saat kelompok kecil itu sedang berdiskusi sambil berbisik-bisik. Leo tidak sengaja mendengarnya, tetapi ia hanya mendiamkannya. Ia tahu suara itu berasal dari balik dinding batu kamarnya. Ia memasang telinganya dengan tajam. Ia tidak tahu makhluk jenis apa yang sedang berbicara di balik dinding itu, yang Leo tahu mereka bukanlah orang dari kerajaan tamak karena menganggap Alana sebagai ratu mereka. Leo mengendap-endap mendekati dinding karena berniat mendengar lebih dekat percakapan mereka.
Mengapa Leo bisa mendengar suara itu? Awalnya Leo tidak bisa tidur karena ada perasaan yang mengganggunya. Perasaan tidak tenang yang Leo tidak tahu apa itu. Ia takut, takut jika semua hal ini akan membahayakan Alana dan kerajaannya. Takut tidak bisa membantu Alana meskipun ia sudah berusaha mati-matian. Ia tidak ingin itu terjadi. Leo tidak ingin perjuangan rajanya dulu untuk merebut kebebasan dunia Mašte seolah tidak ada arti. Ialah yang bertanggung jawab atas kerajaan itu meskipun kerajaan itu terombang ambing di kegelapan Daegal.
“Hei ayo sembunyi. Manusia bangun!” sekejap suara mereka langsung hilang ketika mendengar perintah dari temannya.
Saat Leo mendengarnya suara itu menghilang. Sepertinya mereka tahu mengenai keberadaan Leo. Leo tidak terlalu mempermasalahkannya karena mereka mungkin saja peri penunggu istana ini. Leo lalu mengelilingi kamarnya. Keempat temannya itu tidur terpisah-pisah di kamar masing-masing. Mereka yang meminta sendiri kepada Alana agar kamar mereka terpisah dan Alana mengabulkannya. Leo yang tidak bisa tidur memutuskan keluar dari kamarnya. Ia ingin ke balkon tempat ia dan Alana berbicara tadi. Pesta memang telah usai dari satu jam yang lalu dan pastilah para prajurit sedang beristirahat karena kelelahan. Ketika Leo berjalan para lukisan juga terlihat tertidur. Leo menuruni tangga marmer berwarna keemasan. Leo melihat pintu balkon yang mengarah ke arah depan istana itu terbuka. Leo mengendap-endap mengintip siapa orang yang sedang ada di sana. Ternyata sosok itu adalah Alana Alexandra Culver. Sang ratu tengah berdiri sambil membiarkan rambutnya terbang melayang-layang. Pandangannya kosong seolah tidak ada yang ia lihat. Ia mengenakan gaun tidur yang tipis padahal angin malam cukup kencang. Leo berpikir apa yang sedang Alana lakukan. Leo kembali lagi ke kamarnya dengan cepat lalu ia mengambil mantel tebalnya dan sekarang ia sudah berada di pintu balkon lagi. Alana masih tetap dalam posisi semula.
“Apa yang kaulamunkan?” tanya Leo sambil menyelimuti Alana dengan mantelnya dari belakang. Alana terlonjak kaget. Ia menoleh dan langsung mendapati Leo. Jantungnya kembali berpacu dengan tidak normal saat melihat Leo di depan matanya.
“Kau mengagetkanku!” ucap Alana sambil mengusap d**a dan memburu napasnya.
“Maaf,” jawab Leo singkat. “Kau melamun di tempat angin kencang seperti ini. Pakaian tidurmu sangat tipis. Kau bisa masuk angin. Apa yang sedang kaupikirkan?” tanya Leo yang sekarang ikut Alana memandang langit.
“Aku tidak bisa tidur,” jawab Alana dengan helaan napas berat. Leo menoleh dan melihat Alana lalu pandangan matanya turun ke arah gelas yang saat ini berisi rangkaian bunga dandelion pemberiannya.
“Mengapa kau membawanya?” tanya Leo sambil menunjuk bunga yang sekarang diletakan di pagar pembatas balkon.
“Untuk menemaniku. Aku senang karena serpihannya yang terbang bebas,” jawab Alana lagi. Keduanya kemudian diam kembali. Alana mengeratkan mantel milik Leo yang dipasangkan Leo di tubuhnya tadi. Leo tahu apa yang ia butuhkan dan Leo tahu bagaimana cara menghangatkannya.
“Alana, apa kau takut? Takut menghadapi semuanya?” tanya Leo. Alana menghela napasnya sekali lagi dan mengangguk.
“Ya jujur saja, aku takut. Aku takut menghadapi semuanya. Aku takut aku tidak bisa menyelamatkan semua rakyatku. Leo, aku ini ratu yang manja. Kau tahu itu tentu saja. Aku tidak yakin meskipun kau mengatakan aku ini bisa menyatukan tiga dunia itu,” cerita Alana.
Saat Leo dan Alana sedang berada di balkon, Aaron yang juga tidak bisa tidur melihat keduanya dengan perasaan curiga. Ia penasaran mengapa kedua orang itu berada di sana. Naluri Aaron yang ingin tahu segala hal mulai bersembunyi di balik pintu lalu menajamkan telinganya untuk mencuri dengar percakapan antara sang ratu dan sahabatnya. Aaron dapat mendengar obrolan keduanya dengan cukup jelas. Jujur saja, ia ingin tahu bagaimana perasaan Leo kepada Alana meskipun ia dan ketiga temannya dapat menyimpulkan semuanya hanya dengan kejadian tadi sewaktu pesta dansa.
“Aku harus tahu dan harus mendapat berita bagus,” ucap Aaron sambil terus bersandar dan mendengar pembicaraan Leo dan Alana. Alana dan Leo sama sekali tidak mengetahui kehadiran Aaron di sana.
“Kau tahu, bukan hanya kau saja yang takut. Aku juga takut. Aku bahkan lebih takut darimu. Aku takut tidak bisa melindungimu sepenuhnya meskipun aku sudah berusaha mati-matian dan mempertaruhkan nyawa satu-satunya milikku. Aku takut itu terjadi,” aku Leo jujur. Alana menatapnya tanpa berkedip. Angin memainkan rambutnya dan rambut Leo. Semilir angin pun seakan menikmati kehadiran keduanya di tengah malam yang damai bertaburkan bintang.
TBC...