“Mengapa kau ingin melindungiku? Mengapa kau rela mempertaruhkan nyawamu demiku?” tanya Alana sambil terus menatap Leo. Leo menoleh dan membalas tatapan Alana. Ia lalu mengangkat tangannya dan menyingkirkan rambut Alana yang tertiup angin agar Leo bisa melihat wajah Alana. Saat itu Alana memastikan wajahnya merah dan jantungnya… tidak! Jantungnya kembali berdetak kencang.
“Apakah melindungimu perlu sebuah alasan?” tanya Leo dengan suara lembut.
“Ya karena aku butuh kepastian. Aku tidak ingin kau melindungiku dengan niat lain. Aku ingin tahu selain alasan yang kau sebutkan tadi,” tuntut Alana meminta kejujuran.
Alana Culver menyelami mata Leo Vinzel. Dia yakin apa yang tengah Leo sembunyikan saat ini bukan hanya tentang kesetiaannya sebagai seorang prajurit atau soal janjinya sebagai petarung untuk melindungi kerajaan yang diabdikannya, dia yakin ada hal lain yang lebih dari itu.
“Karena kaulah yang akan menjadi penguasa Mašte. Aku melindungi sebisaku. Hanya itu yang bisa kulakuan. Ayahku pernah berpesan kepadaku untuk melindungi seseorang yang berarti untukku. Orang yang berarti itu adalah kau. Kau mungkin tidak tahu siapa aku sebenarnya, tetapi aku tahu kau dengan sangat baik,” aku Leo. Hati Alana rasanya ingin jatuh. Jatuh ke hati orang yang sedang memegang pipinya saat ini.
“Siapa kau sebenarnya, Leo?” tanya Alana yang masih menatap Leo.
“Apakah kau perlu sebuah pengakuan dariku?” tanya Leo dengan tatapan yang sulit untuk diartikan oleh Alana.
“Bila aku tidak tahu siapa kau sebenarnya, bagaimana aku bisa mengenalimu?” jawabnya.
Angin semilir sekali lagi menyapa mereka dalam dinginnya malam. Seakan semua semesta menyaksikan kedua insan yang mulai dirasuki rasa lain yang selama ini diam-diam hinggap. Dari kejauhan sang bulan membentuk senyum indah dihiasi permata bintang. Menyerukan pada dunia restu semesta untuk kedua pasang muda mudi dimabuk asmara.
“Baiklah jika itu membuatmu dapat mengenaliku.”
“Ya katakan dengan jujur kepadaku.”
“Aku akan membuat pengakuan kepadamu. Tidak ada satu pun yang tahu hal ini kecuali kedua orangtuaku dan penasihat kerajaan. Mungkin kau akan terkejut dengan pengakuanku dan membutuhkan alasan mengapa aku menyembunyikannya.” Leo menghela napasnya perlahan. Ia melepaskan tangannya dari pipi Alana. Alana menunggu kelanjutan cerita Leo.
“Aku adalah anak dari raja Sierra, raja itu adalah ayahku. Aku pewaris takhta satu-satunya yang tersisa.” Alana melebarkan matanya mendengar pengakuan Leo. Tidak pernah ia duga hal tersebut.
“Bagaimana bisa?” tanya Alana tidak percaya.
“Aku mempunyai saudara kembar. Saudara kembarku adalah perempuan dan aku adalah laki-laki. Ayahku memang berniat menyimpanku. Status pangeran menyandang di diriku. Ayahku tahu dengan semua kejadian yang akan terjadi di masa depan oleh karena itulah ia memutuskan mengapa menyimpanku dari semua orang. Karena ia tahu semua raja jahat akan mengincarku jika mengetahui siapa aku sebenarnya. Tidak ada yang mengetahui ini termasuk keempat sahabatku. Dia menempah diriku menjadi petarung, ia menyelamatkanku ketika diriku hampir mati. Ayah menyelamatkanku. Kau tahu betapa pedihnya perasaanku ketika ayahmu meninggal di hadapanmu karena menolongmu terlebih kau tidak bisa menyebutnya dengan panggilan ayah untuk terakhir kalinya. Itulah alasan mengapa aku ingin menolongmu. Aku ingin mengembalikan kerajaanku dan merebutnya. Aku ingin mengembalikan apa yang ayahku punya. Aku ingin mengembalikan apa yang menjadi hakku,” pengakuan Leo membuat Alana terus menatapnya. Ia benar-benar tidak menyangka dan sekarang Alana tahu siapa sebenarnya Leo. Tidak ada niat jahat di dalam dirinya, ia sama seperti Alana ingin melindungi kerajaannya.
“Kenapa kau juga menyembunyikan hal tersebut dari sahabat-sahabatmu? Kau tidak percaya kepada mereka?” tanya Alana yang kembali melihat raut sedih di mata milik Leo.
“Aku takut mereka berubah kepadaku. Aku takut mereka merasa terkhianati,” akunya jujur.
“Kau pasti sangat tertekan dengan semuanya.” Alana mengambil tangan Leo lalu menggenggamnya. Saat itu juga Leo langsung memeluk Alana. Sangat erat sampai Alana merasakan debaran jantungnya ingin meledak.
“Satu-satunya yang membuatku bertahan hanya kau. Setiap mengingatmu itulah kekuatanku datang,” pengakuan Leo lagi-lagi mengejutkan Alana. “Aku sudah mengenalmu dari dulu, saat kau dan ayahmu berkunjung ke kerajaanku. Anak perempuan yang memakai pakaian putih dan rambut terurai. Ia mengenakan mahkota rangkaian bunga dikepalanya. Saat aku bertemu denganmu di istana Breen, aku seakan tidak percaya itu adalah kau. Kau sudah berbeda dengan yang aku lihat tujuh belas tahun yang lalu. Aku mengenalimu dari mata biru indahmu itu. Tidak salah lagi, itu memang kau yang aku lihat. Kau tahu betapa senangnya aku. Betapa aku ingin berbicara kepadamu waktu itu. Namun, kubatalkan karena aku tahu kau tidak mengenalku.” Alana masih belum membalas pelukan Leo. Terlalu kaget dengan semua pengakuan Leo kepadanya malam ini.
“Selama itu kau memendam perasaanmu?”
“Ya, selama hampir hidupku.”
“Kenapa?”
“Aku selalu mati-matian menghindarimu awalnya karena aku tidak ingin lepas kendali dan mengungkapkan betapa inginnya aku memelukmu dan mengatakan aku memperhatikanmu, tetapi pertahananku tidak sekuat ketika aku bertarung. Aku lemah jika di dekatmu, aku lemah melihatmu terluka. Aku bahkan rela mati demimu,” saat itu Alana langsung mengangkat tangannya dan memeluk Leo. Ia terharu mendengarnya.
“Hentikanlah Leo, aku tidak perlu lagi mendengarnya. Aku cukup tahu semua yang kau katakan sekarang sudah membuktikan semua hal.” Alana semakin erat memeluknya. Dia menemukan orang yang rela mati deminya selain ayah dan juga penasihatnya. Laki-laki yang bertanggung jawab dan menyimpan hatinya yang begitu besar untuk Alana dalam waktu yang lama.
Leo melepaskan pelukannya dan menatap Alana. Tatapan keduanya mengartikan segalanya. Seakan naluri memanggil mereka. Keduanya mendekatkan diri masing-masing. Leo tanpa ragu mencium Alana. Saat itu semuanya terasa sangat menyenangkan. Jantung keduanya berpacu. Kecupan demi kecupan menyalurkan betapa besarnya perasaan Leo kepada Alana. Alana bisa merasakannya. Ia juga menginginkannya.
“Jadilah pendampingku Alana,” pinta Leo. Leo menatap mata Alana tanpa kedip. Alana tersenyum lalu ia mengangguk. Ia kemudian menjangkau bibir Leo dan mengecupnya. Ia tidak bisa berbohong jika ia menginginkannya.
“Kau serius dengan ucapanmu?” Alana memastikan bahwa ucapan Leo sungguh-sungguh.
“Aku tidak pernah bercanda mengenai perasaan,” akunya jujur.
Alana tahu mungkin ini terlalu cepat, tetapi dia tidak menemukan kebohongan di dalam mata milik Leo. Dia bisa merasakan cintanya membara dan kerinduan yang selama ini terpendam bukan hanya sebuah kebohongan. Dia menginginkan Alana lebih dari yang dirinya ketahui. Ketulusannya membuat Alana luluh dan tahu apa yang harus ia lakukan terhadap perasaan Leo.
“Leo, terima kasih karena mencintaiku. Terima kasih karena begitu besarnya kau menyimpan cintamu kepadaku. Terima kasih karena masih menjaganya sampai sekarang. Hatiku sangat hangat mendengarnya.” Alana menggenggam tangan Leo kembali dan mengarahkannya ke d**a Leo. Tepat di mana tempat jantungnya bersarang.
“Tidak masalah, aku lebih bahagia ketika kau mengetahui semuanya dan membalas perasaanku. Terima kasih karena kau menyediakan hatimu untukku.” Leo mengambil tangan Alana dan menggenggamnya. Ia lalu mencium Alana kembali dengan penuh rasa cinta. Bunga dandelion itu saksi mereka dan satu orang yang bersembunyi dengan senyum geli serta penuh kepuasan menghiasi wajahnya.
TBC...