“Aaron apa yang kaulakukan di sini?” Aaron terkejut dengan suara yang tiba-tiba muncul di sebelahnya. Sean berbicara dengan tatapan bertanya. Ia sama seperti Aaron, tidak bisa tidur karena tadi terlalu banyak memakan kue yang manis dan meminum rum. Mengakibatkan perutnya sedikit sakit. Dia sudah dua kali ke kamar mandi.
“Shhtt!” Aaron langsung menutup mulut Sean dan mengajaknya bersembunyi. Sean menatapnya heran. Ia lalu melepaskan tangannya di mulut Sean.
“Aku sedang mencuri dengar apa yang mereka bicarakan,” ucap Aaron dengan suara kecil. Sean semakin heran. Pasalnya dia tidak tahu sama sekali apa yang dilakukan Aaron di sana.
“Siapa?” tanya Sean penasaran.
“Leo dan Alana,” jawab Aaron. Sean semakin menatapnya heran lagi lalu ia dengan perlahan mengintip keduanya dari balik pintu. Sean melihat Alana dan Leo yang sama-sama diam sambil menatap langit.
“Apa yang sedang mereka bicarakan?” tanya Sean kepada Aaron. Ia sekali lagi mengintip kalau saja ada sesuatu hal yang terjadi sehingga membuat Aaron bertingkah seperti sekarang.
“Hanya membicarakan mengenai perang yang akan terjadi,” jawab Aaron jujur. Sean menatapnya masih dengan bingung. Entah mengapa ia merasa ada yang aneh pada diri temannya.
“Lalu mengapa kau tersenyum aneh ketika aku mendapatimu tadi?” tanya Sean masih dengan nada penasaran. Aaron tersenyum semakin aneh dan lebar lagi lalu ia tertawa tertahan. Sean mulai curiga jika Aaron akan mulai seperti biasanya.
“Aku tadi sedang mengkhayalkan mereka. Kau tahu di dalam khayalanku itu Leo adalah pangeran dan ia sudah mencintai Alana selama ini. Aku mengkhayalkan mereka memadu kasih di atas balkon ini. Aku membayangkan mereka berciuman mesra lalu Leo melamar Alana memintanya menjadi pendamping hidup selamanya. Jika saja aku ini seorang penulis maka aku akan membuat kisah cinta mereka seperti itu. Nyatanya sayang sekali bahwa aku hanyalah pria tampan pemikat hati wanita yang lebih banyak bertarung dibandingkan punya kisah cinta. Kau tahu aku ini penyuka hal-hal yang romantis. Jika saja aku ini adalah seorang penyihir maka aku akan menyihir kedua hati orang itu,” ucap Aaron dengan mata yang berbinar-binar. Sean menatapnya dengan tatapan tanpa ekspresi. Benar kecurigaannya. Aaron pasti mengkhayal lagi. Semua hal tadi hanyalah khayalan Aaron belaka. Harusnya memang dia dilahirkan sebagai penulis bukan prajurit yang hanya ditakdirkan bertarung.
“Kau mulai lagi menjadikan Leo sebagai objekmu. Bahkan kali ini lebih parah. Kau pasti membuat karakter Leo yang berlebihan seperti bukan dirinya,” kata Sean yang sudah sangat paham. Aaron tertawa pelan dan ia mulai berdiri.
“Ayo masuk ke kamarmu. Aku akan menceritakan khayalanku tadi ketika aku melihat mereka berdua saja. Kau tahu mengapa aku mengkhayal seperti itu?” Sean sama sekali tidak berminat menjawab pertanyaan Aaron. “Karena aku menginginkan cerita yang romantis di antara kedua orang itu. Kau lihat, bagaimana tatapan keduanya, tetapi sampai sekarang tidak ada ucapan cinta. Kukira Leo akan mengucapkan kata cintanya kepada Alana, tetapi sampai aku bosan mendengar keduanya mengobrol tetap saja mereka hanya membicarakan perang…perang… dan perang. Jadi itulah mengapa aku mengkhayal tadi. Untuk menghibur hatiku sendiri,” cerita Aaron sambil berjalan menuju kamar Sean. Sean yang tidak tahu harus berkata apa hanya mengangguk-angguk mengerti. Ia sebenarnya juga berpikiran sama seperti Aaron.
Itulah khayalan Aaron. Ia memang paling bahagia dengan cerita cinta romantis. Ia sering menjadikan Leo objek khayalannya karena menurutnya Leo itu lebih hebat dari mereka. Keempat temannya itu sudah tahu dengan hal aneh milik Aaron. Ia bahkan pernah menceritakan khayalannya mengenai Sean itu adalah adik Leo dan mereka adalah saudara yang terpisah karena suatu kejadian. Reaksi Sean dan Leo yang mendengarnya waktu itu adalah menghela napas untuk Leo dan Sean langsung menyiramnya dengan air agar otaknya yang penuh khayalan itu tercuci. Aaron juga pernah mengkhayalkan Marco dan Alvin adalah seorang wanita yang sedang menyamar menjadi pria karena wajah lembut serta imut keduanya. Reaksi Alvin yang mendengarnya langsung saja ingin memanah Aaron dengan panahnya dan Marco langsung ingin memenggal kepala Aaron. Itulah mereka dengan semua kekonyolan masing-masing.
“Hanya sebatas itu saja khayalanmu? Kau tidak mengkhayal lebih dari itu?” tanya Sean sambil membuka pintu kamarnya.
“Memangnya hal seperti apa yang lebih dari itu?” tanya Aaron penasaran.
“Yang lebih dari itu! Yang sering dilakukan domba dengan domba,” ucap Sean menerangkan. Aaron menatapnya heran. Domba dengan domba. Apakah adu domba?
“Adu domba? Mengapa harus adu domba? Bukankah kita tidak boleh bermusuhan?” tanya Aaron lagi. Sean memukul kepala Aaron dengan bantal. Dia yang salah menggunakan istilah apa temannya itu terlalu bodoh karena banyak mengkhayal pikir Sean. Padahal keduanya sama-sama salah.
“Maksudku domba dengan domba membuat anak. Kau dan aku pernah menonton domba membuat anak. Itu sewaktu kita berlatih di istana dan Marco serta Alvin mengajak melihat domba tersebut. Di taman belakang istana kita, dua domba itu membuat anak,” terang Sean dengan bahasa yang tidak jelas dan membuat Aaron harus berpikir ke belakang mengingat-ingat.
“Oh maksudmu dua domba itu jantan dan betina lalu mereka membuat anak!” Aaron baru mengerti dan Sean mengangguk. Entah harus bagaimana lagi menerjemahkan ucapan keduanya, yang jelas bahasa mereka hanya mereka yang paham. Menggunakan istilah yang aneh dan penjelasan yang aneh.
“Benar! Jadi kau tidak mengkhayalkan Leo dan Alana sampai ke sana?” tanya Sean ingin tahu. Aaron langsung tertawa aneh. Ia tersenyum mencurigakan.
“Sepertinya menarik mengkhayalkan mereka seperti itu. Hei ayo kita mengkhayal. Kau telah membangkitkan khayalan liarku!” Aaron dengan terharunya menatap Sean. Sean juga tertawa. Mereka sepertinya mendapat ide cemerlang untuk mengisi malam penuh kebosanan.
“Ayo kita khayalkan mereka!” ucap Sean setuju lalu keduanya sekarang tertawa tidak keruan. Sean langsung berbaring di kasurnya dan Aaron melakukan hal yang sama. Kemudian keduanya menutup kepala mereka dengan bantal dan yang terjadi berikutnya adalah mereka berdua sibuk mengkhayal mengenai Leo dan Alana yang sedang beradu domba. Itu istilah Aaron dan Sean.
“Leo, jangan terburu-buru!” suara Aaron dari balik bantal. Ia berdialog sendiri sambil berkhayal. “Alana, sebaiknya kau harus lebih berani. Leo suka wanita yang bisa menyerang!” sambungnya.
Sean menyingkirkan bantal dari wajahnya untuk menarik napas sejenak. Ia mendengar ucapan Aaron sambil terkikik-kikik geli.
“Hei Aaron, apakah kau membuat Leo dihabisi oleh Alana?” tanyanya penasaran.
Aaron berhenti berdialog lalu menyingkirkan bantal dari wajahnya.
“Sepertinya menarik membuat Leo tersiksa dan dihabisi oleh Alana. Aku yakin tersiksanya seorang Leo adalah kebahagiaan yang diidam-idamkannya. Ngomong-ngomong aku membuat mereka beradu domba di tengah padang bunga. Bagaimana menurutmu?” tanyanya pada Sean.
Sean semakin tertawa geli. Otak sahabatnya satu itu memang sudah tidak waras.
“Bagaimana jika bukan hanya di padang bunga. Di atas perahu juga menarik!” ucapnya.
“Semua tempat akan terasa bagai di surga bila tengah beradu domba! Sudahlah sebaiknya kita lanjutkan saja khayalan kita. Aku sudah memasuki tahap yang menarik!”
Sean tertawa terpingkal-pingkal. Hanya mereka berempat yang sering menjadikan Leo bahan candaan dan segala hal aneh. Contohnya seperti saat ini, bahkan Leo pun tidak luput dari khayalan kotor kedua sahabat laknatnya.
TBC...