“Sebaiknya kau tidur, sekarang sudah sangat malam. Besok kita akan memulai perjalanan.” Leo memasukkan kedua tangannya di saku celana dan ia mulai akan meninggalkan Alana di balkon.
“Tunggu.” Alana menghentikan langkah kaki Leo yang siap pergi. Ia lalu melepaskan mantelnya dan mengembalikannya kepada Leo. “Ini, terima kasih,” sambung Alana.
“Ya sama-sama. Sebaiknya kau masuklah, berbahaya untukmu sendirian di luar. Bisa saja mereka mengirim monster untuk menyerangmu,” kata Leo yang sekarang sudah masuk. Alana terdiam sebentar.
“Ya aku akan tidur. Selamat tidur,” ujar Alana yang mengambil rangkaian bunga dandelionnya dan membawanya masuk. Leo menunggunya di depan pintu lalu ia mengunci pintunya.
“Aku akan mengantar ke kamarmu,” ucap Leo setelah ia selesai mengunci pintu.
“Tidak perlu, aku bisa sendiri. Sebaiknya kau tidurlah,” tolak Alana dengan halus.
“Tidak apa-apa, aku harus memastikan semuanya aman,” jawab Leo. Ia teringat dengan obrolan-obrolan dari makhluk yang berada di dinding kamarnya tadi. Mereka membicarakan Alana dan mengenai siapa penguasa baru yang akan menggantikan Alana.
“Terima kasih,” ucap Alana pelan sambil mulai berjalan. Leo mengikutinya dari belakang.
“Boleh aku bertanya?” tanya Leo sambil terus memperhatikan langkah kaki Alana. Alana menghentikan langkahnya dan menoleh kepada Leo lalu menatapnya sebentar dan ia langsung mengangguk. “Apakah di istanamu ini ada makhluk lain selain bangsa manusia?” tanya Leo lagi.
Alana mengernyit heran. Tidak ada siapa pun selain manusia dan hewan peliharaan yang tinggal di istananya. Siapa yang dimaksud oleh Leo pikir Alana, tetapi tunggu, Alana melupakan sesuatu yang sering menyusup ke istananya untuk mengambil makanan ketika pesta sedang berlangsung atau pesta telah usai. Itu teman-temannya dari bangsa Beacan. Kurcaci-kurcaci yang tinggal di bawah tanah dan mereka sering ke istana apabila di istana Alana sedang mengadakan pesta. Mereka mengambil makanan sisa yang masih layak. Kadang para pelayan memang menyediakan bagian untuk mereka. Itu semua atas pesanan Alana untuk teman-temannya. Namun, tidak ada manusia selain Alana yang pernah melihat rupa mereka. Rupa mereka sangat buruk. Tubuh kecil kerdil. Kepala dengan rambut yang jarang berwarna-warni. Berhidung kotak memanjang. Tubuh mereka berwarna coklat tanah dengan banyak kerutan. Mata yang bulat seperti mata kodok. Bibir mereka tidak pernah terlihat tersenyum. Namun, di balik fisik mereka yang buruk rupa, mereka adalah bangsa yang sangat baik. Tidak mengganggu manusia bahkan mereka sering menolong manusia yang kesulitan.
“Apakah kau melihat mereka?” tanya Alana. Leo menggeleng dan ia membuang napasnya.
“Aku hanya mendengar suara mereka dari balik dinding kamarku. Mereka membicarakanmu,” jawab Leo. “Jadi siapa mereka itu?” tanya Leo lagi.
“Mereka teman-temanku. Kurcaci tanah. Mereka bangsa Beacan. Mereka bukan penghuni istana ini. Mereka hanya sering berkunjung untuk mengambil makanan pesta. Kau mendengar pembicaraan mereka? Apa yang mereka bicarakan?” tanya Alana ingin tahu. Ia melanjutkan langkahnya. Leo mengikutinya dari belakang lagi.
“Tidak, bukan pembicaraan penting,” jawab Leo berbohong. Ia memutuskan untuk tidak menceritakan apa yang dibicarakan oleh makhluk-makhluk itu sekarang. Alana tidak akan pergi tidur jika Leo menceritakannya sekarang. Sang ratu pasti akan memaksanya mati-matian untuk melanjutkan cerita apabila Leo mengatakan hal yang sebenarnya.
Mereka menaiki tangga dengan perlahan. Alana masih memegangi rangkaian bunga dandelion yang ia letakkan di gelas. Ketika Alana lewat semua lukisan yang awalnya tertidur menjadi bangun lalu memberi hormat kemudian setelahnya mereka tidur kembali setelah Alana lewat. Leo terus mengikuti langkah Alana yang pelan. Rambutnya yang terurai panjang berayun-ayun indah ketika Alana menaiki tangga. Jalannya sangat anggun meskipun sifatnya tidak seanggun cara berjalannya.
“Leo, boleh aku tahu satu hal?” tanya Alana yang sekarang menghentikan langkahnya kembali ketika ia menaiki tangga. Leo berada tiga tingkat di bawahnya dan ia juga ikut menghentikan langkahnya ketika Alana berbalik menghadapnya.
“Apa?” tanya Leo.
“Apakah kau merasakan sesuatu?” tanya Alana sambil menatap Leo. Leo membalas tatapannya, tetapi ia tidak mengerti dengan maksud pertanyaan Alana.
“Sesuatu apa yang kaumaksud?” tanya Leo lagi.
“Sesuatu yang membuatmu selalu merasa berdebar setiap mendapatkan perlakuan istimewa. Ah, maksudku, ketika kau dekat dengannya. Dengan orang yang kau berikan perlakuan istimewa.” Alana merasa ucapannya sangat aneh karena ia bingung bagaimana cara menyampaikannya kepada Leo secara tidak langsung.
“Aku tidak mengerti isi ucapan sialanmu, tetapi aku bisa menyimpulkannya dan jawabannya adalah tidak. Aku tidak punya cukup waktu untuk hal-hal seperti itu. Perang sedang di depan mata jadi aku fokus untuk melindungimu dan kerajaanmu,” jawab Leo sambil membalas tatapan mata Alana. Alana merasakan sesak di dadanya tiba-tiba. Tatapan matanya kepada Leo mulai tidak fokus. Alana cepat-cepat mengalihkan tatapan matanya dan ia berbalik lalu berjalan menaiki tangga.
“Baguslah, kau memang harus fokus kepada perang,” ucap Alana dengan suara yang sedikit aneh. Leo masih diam tidak melanjutkan langkahnya. Ia membiarkan Alana berjalan menaiki tangga sendirian.
Setelah cukup lama Leo akhirnya menyusul Alana menaiki tangga. Tangga itu berliku-liku dan langsung menyatu dengan dinding. Penerangan di sana tidak terlalu terang karena lampu-lampu hanya terletak di dinding dan jaraknya yang tidak terlalu dekat. Saat Leo dan Alana menaiki tangga tiba-tiba terdengar suara aneh yang memekakkan telinga. Alana langsung menoleh ke arah Leo dan Leo dengan cepat menyusul Alana.
“Shhtt! Diamlah.” Leo langsung mendekati Alana dan menariknya ke pelukannya. Alana langsung terdiam kaku. Ini mengingatkannya dengan kejadian beberapa hari yang lalu.
“Apa itu Leo? Makhluk seperti kemarin lagi?” tanya Alana sambil berbisik. Satu tangannya yang bebas mencengkram lengan Leo dengan kuat.
“Ya, sepertinya mata-mata lagi. Tenanglah, kita harus setenang mungkin agar tidak membuat kekacauan di tengah malam seperti ini. Tetaplah diam dan perlahan menaiki tangga,” bisik Leo sambil menuntun Alana menaiki tangga.
Makhluk di luar yang sedang mengintai istana Alana adalah peliharaan raja penguasa jahat. Ia adalah Bahemoth. Seekor makhluk berkaki empat, berekor, memiliki rambut di tengkuknya, wajahnya mengerikan mirip seperti serigala, mempunyai dua tanduk melengkung yang panjang dan sangat tajam di kepalanya, memiliki cakar yang sangat panjang dan ukurannya rubuhnya sangat besar. Ia salah satu makhluk mitologi bangsa Yahudi.
“Berjalan dengan sedikit lebih cepat Alana. Kita harus melihat seperti apa makhluk sialan itu,” bisik Leo sambil mengajak Alana untuk lebih cepat menaiki tangga. Ketika sampai di jendela Leo melihat makhluk itu. Ia tepat berada di luar lingkungan istana Alana. Tubuhnya sebesar Mammoth. Ia mengelilingi tembok istana Alana dan suaranya yang nyaring itu terus berbunyi. Alana khawatir jika para prajuritnya yang baru beristirahat terbangun.
“Dia tidak terlalu kuat. Aku bisa mengatasinya sendirian,” ucap Leo sambil memegang kedua bahu Alana dan menatapnya. “Alana, tetaplah di kamarmu. Aku akan menghadapinya sendirian. Jangan ke mana-mana. Tetaplah di kamarmu. Kau mengerti,” perintah Leo.
“Tidak, aku tidak akan membiarkanmu menghadapinya sendirian. Aku akan meminta bantuan teman-temanku. Jangan bertarung Leo kumohon!” ucap Alana dengan penekanan dan memohon. Ia tidak bisa melihat Leo bertarung sendirian sedangkan ia berada di kamarnya menunggu dengan cemas. “Atau aku akan ikut bersamamu bertarung jika kau tetap memaksaku!” sambung Alana lagi.
“Tidak Alana, kau tidak akan ikut bertarung. Aku tidak ingin melibatkanmu lagi. Aku tidak sanggup jika harus melihatmu terluka untuk kedua kalinya.” Alana dengan cepat melepaskan tangan Leo di bahunya. Ia menatap Leo tajam. Alana sungguh tidak ingin Leo bertarung sendirian. Ia juga sama seperti Leo. Tidak sanggup melihatnya terluka.
“Tetaplah bersamaku dan menjagaku. Aku akan memanggil teman-temanku untuk menghadapinya. Bangsa Wulf, Ezio, dan Oxa cukup untuk menghadapinya. Kau adalah prajuritku dan kau harus menuruti perintahku!” Alana mengeluarkan titah ratunya yang artinya tidak boleh ada yang membantahnya.
“Sialan!” umpat Leo yang tidak bisa membantah.
Alana lalu menghadap ke jendela dan ia diam. Leo tidak bisa melakukan apa pun jika itu sudah perintah dari Alana. Ia hanya mampu menahan tangannya yang sudah sangat gatal ingin bertarung melawan makhluk itu. Tidak lama kemudian Leo mendengar suara pekikan elang dan gemuru suara derap kaki yang datang dari hutan. Lolongan serigala juga terdengar mengerikan. Alana tetap diam dan ia melihat kedatangan rombongan bangsa Ezio yang bergerombol datang dari langit. Elang jenis Harpy Eagle itu mengepakan sayapnya dengan indah lalu tanpa menunggu lama mereka langsung menyerang Bahemoth. Cakar dan paru mereka yang tajam mereka gunakan untuk mencabik daging keras makhluk itu. Tidak lama dari itu kawanan bangsa Oxa datang. Mereka menyerang dengan tanduk tajam mereka. Bangsa Oxa adalah sekumpulan lembu yang memiliki tubuh besar dan tanduk panjang yang tajam serta kokoh. Tanduk mereka menjulang keluar menghadap kepalanya dan sangat mudah untuk menyerang lawan. Bangsa Wulf tanpa ampun segera menyerang Bahemoth dan menundukannya. Gigi mereka yang tajam dan cakar mereka yang tajam berhasil menyabik-nyabik daging makhluk tersebut. Tidak perlu menunggu waktu lama. Makhluk itu lumpuh dan menjadi makanan kawanan serigala serta elang. Leo dan Alana melihatnya dari jendela dan Alana tersenyum penuh kemenangan.
“Kau lihat, teman-temanku bisa diandalkan. Kau tidak perlu membuang tenagamu untuk bertarung,” ucap Alana dengan senyum penuh kemenangan.
“Bagaimana caranya kau berbicara dengan mereka?” tanya Leo yang mengabaikan senyum Alana.
“Hanya berbicara dari hati ke hati. Mereka tidak berbicara dengan sembarang orang. Hanya orang-orang terpilihlah yang dapat berkomunikasi dengan mereka. Mereka memahami bahasa manusia. Bahasa mereka adalah bahasa gelombang suara yang sangat halus. Hanya bisa dipahami dari hati ke hati. Aku tidak mempelajarinya, mereka sendiri yang memberikannya kepadaku dan memilihku,” jawab Alana. Ia lalu menghadap jendela lagi dan mengucapkan terima kasih kepada teman-temannya.
“Ayo sekarang cepatlah ke kamarmu. Kau harus istirahat. Aku juga akan istirahat.” Leo berjalan lebih dulu dan Alana mengikutinya lalu Leo menghentikan langkahnya mempersilahkan Alana untuk berjalan lebih dulu. Setelah sampai di depan kamar Alana mereka berhenti. Tidak ada prajurit yang berjaga karena Alana menyuruh mereka beristirahat.
“Selamat tidur,” ucap Leo kepada Alana ketika Alana sampai di pintu kamarnya dan ia membukanya. Alana menatap Leo dan mengangguk.
“Terima kasih dan selamat tidur,” jawab Alana. Leo membalas tatapan Alana dengan mata teduhnya. Mata hijau yang misterius itu membuat Alana berat untuk menutup pintunya. Ia ingin terus menatap Leo.
“Masuklah dan kunci pintunya. Jika terjadi apa-apa segera panggil aku,” ucap Leo lagi. Alana masih menatap Leo dan tidak melepaskan tatapannya.
“Selamat malam,” ucap Alana yang akhirnya melepaskan lebih dulu tatapan matanya terhadap Leo. Perlahan Alana menutup pintu kamarnya. Setelah menutupnya Alana langsung menyandarkan bahu di pintu kamarnya dan ia memegangi dadanya. Jantungnya benar-benar telah terkontaminasi racun yang berbahaya.
Leo yang masih belum pergi dari depan pintu kamar Alana yang sekarang tertutup hanya memandangnya dengan pandangan kosong. Ia lalu memutuskan untuk duduk dan bersandar di dinding sambil matanya menatap pintu kamar Alana yang tertutup. Ia akan menjadi penjaga kamar Alana malam ini. Ia memutuskan untuk tidur di sana. Bahaya semakin dekat mengintai Alana dan ia harus berwaspada.
TBC...