Mania

1515 Kata
Pagi hari telah datang. Mega luas tengah dibanjiri sinar sang surya yang menyilaukan. Burung mulai bernyanyi dan para bunga mulai menyebarkan wewangian khasnya. Penghuni istana mulai beraktifitas kembali. Pelayan wanita menyiapkan sarapan pagi. Para prajuit priaa bersiap untuk latihan. Kelima petarung itu sudah bangun. Mereka sudah selesai mandi dan rapi. Leo sudah mengatakan apa yang akan mereka lakukan hari ini. Awalnya mereka terkejut dengan cerita Leo mengenai tiga dunia itu. Namun, setelah menceritakan siapa saja yang akan terlibat, keempatnya langsung antusias. Mereka bahkan sangat tidak sabar. Mereka berempat bahkan menawarkan pelatihan khusus untuk para prajurit kerajaan Alana guna mempersiapkan perang besar yang akan terjadi. “Aku jadi tidak sabar bertemu dengan penguasa dunia bawah. Poseidon, Neptune, Oceanus, dan Triton. Aku dulu hanya sering mendengar nama dan cerita mereka,” ucap Marco dengan wajah yang berbinar-binar. “Aku lebih memilih ingin bertemu dengan anak-anak mereka. Putri duyung. Ah, aku akan pingsan melihat mereka yang memiliki kecantikan memukau. Cerita yang kudengar para putri duyung itu memiliki d**a besar. Aku semakin tidak sabar!” Alvin mulai membayangkan hal kotor di kepalanya. “Aku juga tidak sabar ingin melihatnya. Aku rela berubah menjadi ikan jika mereka menginginkanku untuk tinggal di laut bersama mereka,” kata Aaron yang tidak ketinggalan. “Aku tidak sabar bertemu dengan dewi bulan. Aku tidak sabar untuk ke dunia atas. Aku rela jadi burung asal setiap hari aku bisa terbang dan menemui para dewi yang cantik jelita.” Sean bahkan sampai mimisan memikirkan ia akan bertemu dengan dewi bulan. Leo lagi-lagi hanya menghela napasnya melihat tingkah laku keempat sahabatnya. Leo lalu mengelilingi penglihatannya di sekitar mereka dan tidak melihat kehadiran Alana. Ia lalu melihat penasihat Alana yang kebetulan sedang lewat dan Leo menanyakan keberadaan Alana. “Malkia sepertinya masih tidur. Dia mungkin lelah karena pesta semalam,” jawab penasihatnya. Leo lalu mengangguk kecil dan penasihat Alana kembali melanjutkan langkahnya. Tidak ada yang tahu mengenai kejadian malam tadi ketika makhluk itu mengintai. Semua orang tertidur lelap karena kelelahan. Leo memutuskan untuk ke kamar Alana dan membangunkannya. Mereka akan melakukan perjalanan hari ini. Dia tidak bisa tinggal diam melihat sang ratu acuh terhadap rencana mereka. “Semoga para penguasa itu merestui hubunganku dengan anak mereka,” ucap Marco berkhayal. Ia lalu melihat Leo yang berjalan menjauh dari meja makan. “Leo, kau ingin ke mana?” tanya Marco penasaran. “Membangunkan ratu sialan yang kesiangan,” jawab Leo seadanya. Aaron dan Sean saling pandang lalu keduanya tersenyum penuh arti. Mengingat apa yang mereka khayalkan mengenai domba. “Kuharap benar-benar ada kejadian di kamar itu,” ucap Aaron diiringin tawa konyol Sean. Marco dan Alvin menatap keduanya heran dan mereka bertanya, tetapi Aaron dan Sean tidak ingin memberitahu apa yang keduanya pikirkan. Keduanya menggeleng bersamaan dan kembali tersenyum konyol. Leo sudah sampai di kamar Alana. Ia melihat Alana yang masih tertidur. Tidak ada yang berani membangunkan Alana yang masih tertidur bahkan itu penasihatnya sendiri. Alana paling benci jika dibangunkan karena alasan yang tidak penting kecuali hal yang benar-benar mendesak dan membutuhkannya baru ia akan membuka mata. Leo mengambil kursi lalu meletakkannya di dekat tempat tidur Alana setelahnya ia duduk di sana. Leo melihat bunga dandelion pemberiannya itu sudah hampir banyak hilang serpihannya. Alana meletakkannya di meja sebelah tempat tidurnya. Leo lalu mengambil satu bunga dandelion itu dan ia mendekatkannya ke hidung Alana sehingga Alana merasa sedikit geli karena serpihannya mengelitik hidung Alana. Leo tertawa kecil melihatnya. Catat, tertawa kecil! “Hei bangun ratu sialan pemalas,” ucap Leo sambil terus mengelitik hidung Alana. “Aku masih ingin tidur! Keluar dari kamarku segera!” perintah Alana yang masih belum sadar siapa yang membangunkannya. “Kau harus bangun, kita akan melakukan perjalanan hari ini. Apa kau tidak ingat?” tanya Leo. Tidak ada tanggapan dari Alana. Ia sudah tertidur lagi. “Baiklah, tidak ada cara lain.” Leo bangkit dari duduknya dan ia langsung mendekati Alana setelah itu Leo langsung menggendong tubuh Alana. Alana terbangun dan mendapati Leo menggendongnya. Mata Alana memelotot terkejut. Ia masih tidak tahu apa yang terjadi. Pikirannya masih di awang-awang. Leo langsung membawa Alana masuk ke kamar mandinya dan setelah itu Leo memasukkan Alana ke dalam bak air pemandiannya. “Apa yang kaulakukan!” marah Alana yang saat ini sudah terendam di bak pemandiannya. Rambutnya sudah basah total. Ia sudah bangun total. “Membangunkanmu. Kau sangat sulit bangun,” jawab Leo tanpa rasa bersalah. “Kami para petarung biasa seperti itu jika pelatih kami membangunkan kami,” sambung Leo. “Kau kurang ajar! Tidak seharusnya kau memasukkanku ke dalam air seperti ini! Aku berbeda dengan kalian. Aku bukan petarung!” teriak Alana lagi. Ia langsung berdiri dari bak pemandiannya dengan wajah kesal. Baru Alana akan melangkah dari bak pemandiannya ia langsung melebarkan matanya lagi. Ia memakai gaun tidur tipis dan sekarang tubuhnya itu bisa dikatakan tembus pandang. Alana dengan cepat kembali masuk ke bak mandinya. “Mandilah, aku akan keluar dan menunggumu di bawah. Kita perlu rapat kecil sebelum melakukan perjalanan sialan itu,” ucap Leo sambil menatap Alana yang sekarang menatapnya tajam. Leo sempat melihat semuanya, tetapi ia mengabaikannya. Leo lalu melangkah keluar dari kamar mandi Alana dan menutup pintunya. Alana kesal setengah mati, tetapi ia tidak bisa marah. “Menyebalkan!” rutuk Alana sambil memukul-mukul air sehingga membasahi semua lantai. Mau tidak mau Alana harus mandi karena ia sendiri sudah basah total. ♜♜♜ Alana sudah siap dan ia langsung turun ke bawah untuk sarapan. Ketika sampai Alana langsung menatap Leo kesal. Semua langsung menunduk hormat dengan kehadiran Alana termasuk Leo dan keempat temannya. Selama sarapan Alana mengabaikan Leo dan ia terus mengobrol serta bercanda bersama keempat temannya yang dia akui bisa menghiburnya pagi ini. “Jika berlayar nanti aku akan membawa jaring. Aku akan menjaring semua ikan duyung dan akan membawa mereka pulang lalu aku letakkan di kamar mandiku. Mereka akan hidup di kamar mandiku dan menemaniku saat mandi.” Alvin mengkhayal sambil menopangkan dagunya. Matanya berbinar-binar penuh kebahagiaan. “Aku melarangmu membawa jaring dan membawa putri duyung ke istanaku. Pokoknya tidak!” ucap Alana yang keberatan dengan khayalan Alvin. “Kau sangat kejam, Alana. Ayolah, kami juga perlu seorang putri yang mengisi hidup kami. Kami pria petarung yang kesepihan serta merana kecuali satu orang di antara kami. Dia sudah memilikimu,” ucap Sean dengan sekenannya. Ia sengaja memancing pembicaraan seperti itu. “Benar sekali. Kau dan Leo sudah tidak bisa kami pisahkan. Mengingat saat kalian berdansa kemarin sangat romantis. Leo tidak pernah melakukan itu sebelumnya. Kau lihat caranya yang sangat mengesankan saat mengajakmu berdansa. Bahkan ia mempunyai kemampuan menaklukkan wanita lebih hebat dari kami. Leo kusarankan percepatlah melamar Alana. Atau kemampuan kami akan lebih hebat darimu dan kami akan merebutnya,” goda Aaron. Wajah Alana memerah seperti udang rebus. “Aku pernah melamarnya, tetapi dia menolakku,” jawab Leo sekenanya. Ia memutuskan mengikuti permainan teman-temannya itu. Kini kelima orang itu terkejut luar biasa dengan ucapan Leo. Sean, Aaron, Marco, dan Alvin menatap Alana serta Leo bergantian. Jika Alana sekarang berwajah terkejut bercampur malu, tetapi tidak dengan Leo. Ia berwajah santai seolah ia hanya mengucapkan hal sepele. “Benarkah!” ucap keempatnya bersamaan. Wajah kaget masih menghiasi mereka. “Itu tidak benar! Dia hanya berbicara omong kosong. Dia tidak pernah mengucapkan kata-kata itu!” ucap Alana tidak terima. Ia yakin Leo tidak pernah mengatakan hal seperti itu. Sewaktu di dalam hutan oak ucapannya tidak seperti itu dan memang waktu itu hanya bercanda. Ada apa dengan Leo hari ini? Ia sangat berbeda pikir Alana. Keempatnya masih menatap keduanya bingung. “Aku hanya bercanda. Tidak perlu menganggapnya serius, Yang Mulia,” ucap Leo sekenanya. Ia memutuskan mengakhiri permainan karena melihat Alana yang berwajah merah dan malu. Awalnya ia memang berniat bercanda, tetapi karena ketidakpandaian Leo dalam bercanda jadilah hal seperti ini. “Aku benci caramu bercanda,” ucap Alana dengan kesal. Ia lalu meninggalkan meja makan dan sarapannya. Kelimanya langsung menoleh ke arah Alana yang saat ini berjalan menjauh. Wajahnya bertekuk-tekuk kesal. Perasaannya menjadi lebih sensitif terhadap Leo. “Leo kau menyakiti hatinya. Cepat meminta maaf. Kau harus tahu, perasaan wanita itu sangat lembut. Seperti kapas dan kain sutra. Jadi jangan membiarkannya seperti itu. Segeralah meminta maaf atau ini akan kami manfaatkan untuk mengambilnya darimu,” ucap Alvin kepada Leo. Dia adalah orang yang sangat menghormati wanita sepenuhnya. Ia tidak akan tahan menyakiti hati wanita dan Alvin adalah orang yang rela mati demi wanita agar ia bahagia. “Alvin benar, cepatlah meminta maaf. Lagipula kita akan melakukan perjalanan. Akan sangat tidak baik jika ia dalam suasana hati buruk. Semua akan kacau karena ia akan marah-marah sepanjang waktu,” kata Marco yang setuju. “Meminta maaflah dengan cara yang lemah lembut, seperti caramu mengajaknya berdansa semalam. Dia pasti akan memaafkanmu,” sambung Sean. Di saat yang seperti ini keempatnya bisa berbicara serius di balik semua sifat mereka yang konyol. “Atau kau benar-benar bisa sekalian melamarnya. Itu yang ia butuhkan. Jika aku menjadi Alana, aku akan memaafkanmu kalau kau melamarku. Itu akan menjadi kata maaf yang sangat indah dan tidak terlupakan seumur hidup. Ayolah, lakukan,” ucap Aaron yang seakan memperngaruhi Leo. Leo masih diam dan seakan tidak peduli, tetapi sebenarnya ia mendengar semua ucapan teman-temannya. TBC...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN