Basium

1276 Kata
“Sudahlah, aku akan melakukannya dengan caraku sendiri,” ucap Leo sambil bangkit dari bangkunya dan menyusul Alana. Keempatnya saling pandang lalu mereka tersenyum aneh sesaat kemudian mereka tertawa bersamaan. Entah apa yang mereka tertawakan. Alana berada di dekat taman bunga yang ada di belakang istananya. Taman bunga itu adalah kepunyaan ibunya. Ibunya sangat suka menanam bunga. Berbagai jenis bunga dan warna ada di taman itu. Semerbak wangi menyengat di taman membuat siapa saja yang mengunjunginya akan berlama-lama di sana. Kupu-kupu, kumbang, burung-burung kecil ada di sana. Alana duduk di antara rerumputan hijau dengan bunga-bunga rumput berwarna putih kecil. Aliran sungai berwarna hijau karena pengaruh lumut di bebatuan serta ganggang sungai juga menambah suasana indah di taman itu. Di sanalah Alana sering menghabiskan waktunya ketika ia kehilangan ayahnya. Alana sering menangis di sana sendirian. “Pria yang tidak pengertian. Berhati keras!” kesal Alana sambil memain-mainkan rerumputan dengan tangannya. Ketika Alana tengah mengerutu tidak jelas tiba-tiba ada sesuatu di depan matanya sekarang yang menghentikan gerutuannya. Seikat bunga dandelion yang cukup banyak dengan serpihan putih yang mulai beterbangan. Alana melihat siapa pemilik tangan yang memberikan bunga itu untuknya. Ketika Alana melihatnya Leo juga menatapnya. “Ini untukmu. Maaf karena aku bercanda dan kau tidak menyukainya,” ucap Leo langsung tanpa basa-basi. Alana dengan cepat membuang pandangannya dari Leo serta tidak menyambut bunga pemberiannya. Leo akhirnya memilih duduk di sebelah Alana. Ia kemudian meletakkan rangkaian bunga dandelion itu di depan Alana. Tepat di ujung kakinya. “Aku hanya ingin sekali-kali bercanda mengikuti permainan teman-teman sialanku, tetapi aku tidak ada bakat seperti mereka yang sudah seperti itu semenjak lahir, jadi aku terlihat aneh ketika bercanda. Maaf jika aku menyakitimu,” ucap Leo dengan pelan. Alana menoleh ke arah Leo dan ia mendapati Leo yang sekarang menatap aliran sungai. Jadi seperti itu alasan Leo, dia bukan berniat menyakiti Alana atau mempermalukannya. Dia hanya ingin seperti teman-temannya yang sering bertingkah aneh. Alana menahan tawanya gelinya, tetapi ia tidak ingin Leo tahu bahwa ia menahan tawa Jadilah Alana memasang wajah kesal kembali. “Aku tidak akan memaafkanmu dengan mudahnya,” ucap Alana dengan nada kesal yang seyakin mungkin. “Katakan bagaimana caranya kau bisa memaafkanku. Aku akan melakukan cara apa pun,” ucap Leo dengan serius. Alana menahan tawanya kembali. Sekarang dia yang berniat mengerjai Leo. “Kau berani menciumku? Jika kau berani maka akan aku maafkan,” ucap Alana dengan seyakin-yakinnya padahal ia tahu Leo tidak akan melakukan hal seperti itu kepadanya. Dia itu prajurit dan Alana itu ratunya. Jadi Leo tidak akan seberani itu kepadanya, tetapi mengingat fakta Leo memeluknya dan memasukkannya ke dalam air itu bisa dikategorikan Leo cukup berani. Jika pun Leo berani, Alana berani menebak Leo hanya akan mencium pipinya. Leo memang pemberani menghadapi monster-monster, tetapi jika menghadapi permintaan anehnya, Alana tidak seyakin itu. “Di mana?” tanya Leo. Alana mengernyit heran. Di mana apanya pikir Alana. “Di mana aku harus menciummu. Di pipi atau dahimu?” sambung Leo. Wajah Alana langsung memerah. Leo bertanya seperti itu dan itu artinya Leo berani melakukannya. “Di bibirku,” jawab Alana berusaha terlihat angkuh di depan Leo. Kali ini Alana yakin Leo tidak akan berani. Namun, keyakinan Alana runtuh seketika itu juga ketika Leo sudah mendaratkan bibirnya di bibir Alana. Terlalu cepat ciuman itu terjadi sampai Alana tidak sadar bahwa Leo saat ini menatapnya. Wajah Alana memerah, panas. Bibirnya beku seperti terkena es. Jantungnya berdetak sangat kencang. Leo melakukannya dan tanpa ragu bahkan Alana tidak dapat menjelaskan semuanya. “Kau sudah memaafkanku. Seperti permintaan sialanmu dan aku sudah melakukannya,” ucap Leo sambil terus menatap Alana. Alana masih diam tidak bisa bergerak. “Sekarang ayo kita masuk dan bersiap-siap untuk pergi.” Leo berdiri lebih dulu lalu ia mengulurkan tangannya untuk membantu Alana berdiri. Alana masih terdiam kaku. Sementara Alana dan Leo yang berada di taman sedang saling tatap, ada empat pasang mata yang melihat kejadian itu secara langsung dari atas pohon. Keempatnya sibuk menahan suara mereka yang akan meledak karena melihat adegan tadi. Mereka saling menutup mulut agar tidak berteriak kencang. Sean, Aaron, Alvin, dan Marco menyaksikan dengan mata kepala mereka sendiri ketika Leo mencium Alana. Keempatnya memanjat pohon dan bersembunyi di sana. Memanjat pohon trembesi yang rindang serta berdahan tidak terlalu tinggi. Keempatnya memang berniat melihat apa yang akan Leo lakukan untuk meminta maaf kepada Alana. Awalnya mereka tidak yakin Leo akan meminta maaf dengan cara benar, tetapi seperti yang mereka lihat barusan, semuanya tercengang dan saat itu pula mereka merasa kalah total terhadap Leo. “Adegan yang sangat romantis. Akhirnya aku melihat secara langsung,” ucap Aaron dengan wajah berbinar-binar. Ia hampir menangis terharu melihat kejadian itu. Seperti khayalannya. “Leo kurang ajar. Dia mendapatkannya.” Sean mengeluh dan memukul-mukul dahan pohon yang menjadi tumpuhannya. Ia bahkan hampir menggigit dahan pohon karena geram menahan kekalahannya. “Hei Sean, kau bisa membuat kita jatuh!” marah Alvin karena Sean menggoyang-goyangkan dahan pohon. Alvin sibuk berpegangan dengan erat karena ulah Sean. “Seandainya Leo itu adalah aku, aku tidak akan menciumnya sekilas saja seperti itu. Aku akan menciumnya lama-lama. Mengecupnya, melumatnya, dan menggigitnya! Ah aku ingin menciumnya!” rengek Marco yang sekarang juga melakukan hal yang sama seperti Sean. Memukul-mukul dahan pohon. Ia melakukannya tanpa sadar. Akibat ulah Marco barusan maka terjadilah insiden yang tidak mereka harapkan. Bunyi kencang seperti benda jatuh ke tahan lalu diiringi suara berisik dan erangan membuat Alana dan Leo tersadar. Mata Alana membulat sempurna melihat keempat temannya itu sudah bertumpuk-tumpuk saling tindih jatuh ke tanah. Leo langsung memukul dahinya dan mengembuskan napasnya berat. Teman-temannya itu pasti melihat semuanya yakin Leo. “Maaf mengganggu acara kalian. Kami tidak melihat apa pun, sungguh,” ucap Aaron yang berada di atas sekali tumpukan manusia itu. Dia yang paling beruntung karena tidak merasakan sakit akibat tindihan dari yang lain. Wajah Aaron seolah menggambarkan ia tanpa dosa dan dengan mudahnya ia segera berjalan meninggalkan teman-temannya lalu ketika mulai sedikit jauh Aaron langsung melesat berlari karena ia takut kepada Leo. “Kami hanya sedang berlatih memanjat pohon. Benar, kami memang hanya memanjat pohon dan dahannya sedikit licin jadi kami terjatuh.” Marco sama seperti Aaron. Ia berniat menyusul Aaron dan seolah lepas dari kesalahan mereka. Wajah Alana memerah karena malu. Tentu ia malu. Malu karena teman-teman yang lain mencuri lihat apa yang ia dan Leo lakukan meskipun itu hanya tantangan. Alana yakin mereka tidak akan berpikir bahwa apa yang Alana dan Leo lakukan hanyalah sebuah tantangan, mereka pasti akan berpikir berbeda melihat dari gerak-gerik keempatnya. “Sean cepat bangun! Kau berat sekali!” teriak Alvin yang berada di bawah sekali. Alvin yang paling merasakan sakit di antara yang paling sakit. Ia memikul tiga berat beban teman-temannya. Sean tertawa dengan tidak lucu. Ia kemudian membantu Alvin berdiri. “Kami masih punya urusan lain. Lanjutkan saja. Nanti ketika akan memulai perjalanan panggil saja kami.” Sean langsung melesat berlari meninggalkan Alvin yang saat ini sendirian. Alvin sedikit gemetar melihat tatapan Leo yang tajam ke arahnya. Ia melemparkan senyum tidak enak yang penuh rasa takut serta menyedihkan lalu Alvin mengikuti Sean berlari. Tinggalah Alana dan Leo di sana. “Ayo kita masuk. Jangan pikirkan mereka. Mereka memang seperti itu.” Leo segera membalikan tubuhnya dan berjalan lebih dulu. Meninggalkan Alana yang masih mematung. Ia memegang bibirnya dengan jari-jari tangannya. Itu tadi seperti mimpi, tetapi rasanya masih membekas. Jantungnya lagi-lagi berdetak kencang. Ia tidak tahu apakah Leo paham dengan perbuatannya atau tidak. Kalau Leo paham, dia pasti tidak akan bersikap biasa saja seolah tidak terjadi apa pun di antara mereka. Namun, untuk dikatakan tidak paham, tatapan yang Leo berikan kepadanya sesaat setelah kejadian itu berlangsung diselubungi misteri yang dapat Alana tangkap maknanya. Dia tidak bisa menebak pria ini dengan mudahnya. TBC...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN