“Mereka mulai akan bergerak hari ini,” ucap Ajatar sambil mengepakkan sayapnya. “Kita perlu menggagalkan pergerakan mereka,” sambungnya.
“Penguasa menyuruh kita melakukannya secara mulus. Jangan sampai mereka tahu bahwa kita bergerak.” Cyclops berbicara suaranya itu lagi-lagi menggetarkan.
“Kita tidak boleh membiarkan mereka sampai ke Majë. Dia akan meminta pertolongan kepada Yupiter terkutuk itu. Aku tidak akan membiarkannya. Dia sudah tahu apa yang bisa membantunya dan bisa menyeimbangi kekuatan kita.” Ogre juga berbicara sambil sedikit mengerang memperdengarkan bahwa ia makhluk menakutkan dan rakus.
“Aku akan turun tangan. Aku akan mengacaukan rencana mereka.” Wyvern mengajukan dirinya untuk turun tangan hari ini.
“Aku akan ikut denganmu. Aku ingin membunuh Morani itu!” Minotaur sangat berapi-api jika sudah menyangkut akan menyerang kerajaan Alana karena Leo ada di sana. Dendamnya kepada Leo belum surut.
“Kau terlalu besar dan lambat. Belum saatnya kekuatanmu dibutuhkan. Kita mengandalkan kegesitan dan kecerdasan dalam bersembunyi dari mereka. Kita membutuhkan ukuran yang lebih kecil agar mudah menyelinap,” jawab Nidhog. Minotaur menatap Nidhog tidak suka. Ia ingin menancapkan tombaknya itu ke mulut Nidhog agar ia diam.
“Biarkan penguasa yang memutuskan,” ucap Tiamat yang membuat semuanya diam kembali. Lima kepalanya saling bergerak. Ia mengeram pelan dengan suara yang menandakan dia adalah makhluk berbahaya.
“Penguasa, jika kau mengizinkanku untuk mengamuk kembali di Majë, aku akan melakukannya. Aku ingin melihat kekuasaan Yupiter hancur agar ia tidak bisa membantu mereka.” Ladon yang merupakan b***k terkuat angkat bicara. Satu setengah tahun yang lalu ia pernah mengobrak-abrik kerajaan di Majë. Kerajaan yang dipimpin oleh Yupiter dan ratunya adalah Saturnus. Ia menyerang kerajaan di Majë atas perintah penguasa raja tamak untuk menghancurkan Yupiter, tetapi ia waktu itu kalah karena belum terlalu hebat seperti sekarang. Ia berhasil memporak-porandakan dunia atas, tetapi tidak dengan mengalahkan Yupiter.
“Tidak. Ini belum saatnya kalian keluar. Kalian adalah kartu andalan dan akan kukeluarkan di saat yang tepat,” ucapan penguasa mereka menegaskan segalanya. Raungan kembali terdengar. Api muncul di sekitar mereka. Penguasa mereka adalah penguasa dari segala penguasa iblis. Dia makhluk kelas neraka.
“Aku sudah tahu siapa yang akan kukirim ke sana. Dia cocok bertarung di daerah sana. Meskipun dia tidak sekuat kalian, tetapi dia cukup ganas dan tidak segan mengancam penghuni dunia Majë,” penguasa mereka berbicara lagi. Semburan api di sekitar mereka semakin kuat.
“Siapa makhluk yang beruntung itu, Penguasaku?” tanya Ajatar ingin tahu.
“Beowulf, perintahkan dia menghadapku sekarang juga. Aku akan memberitahu dia apa yang harus dilakukan,” jawab penguasa jahat itu lagi. “Tiga dunia harus hancur, tiga imajinasi harus binasa. Mašte harus lenyap dan Daegal yang akan menggantikan semuanya. Aku akan menjadi raja dari segala raja dan kalian akan menjadi budakku untuk para iblis. Manusia-manusia bodoh itu akan tahu sedang berhadapan dengan siapa. Mereka harus lenyap sebagai penguasa Mašte,” erangnya dengan berapi-api. Api semakin banyak membakar kegelapan di sana. Raungan dari para monster sili berganti. Semua makhluk di Daegal dapat mendengar jika penguasa mereka sedang memerintahkan pasukannya untuk mempersiapkan pasukan berperang yang akan di bawah ke dunia atas.
♜♜♜
“Biarkan aku yang membawa semua barangmu,” ucap Leo ketika Alana ingin menenteng tas kulitnya. Isinya adalah sedikit pakaian serta perbekalan. Ia memperkirakan perjalanan mereka tidak akan cepat dan butuh proses untuk merundingkan rencana.
“Tidak, aku bisa sendiri,” jawab Alana dengan kaku. Ia langsung menyeret tasnya yang besar. Isinya lebih banyak makanan yang disediakan pelayannya daripada pakaiannya sendiri.
“Kau hanya akan menghancurkan tasmu jika menyeretnya seperti itu. Berikan kepadaku, aku akan mengangkatnya.” Leo mengulurkan tangannya, tetapi Alana tidak menanggapinya. Bagaimana ia bisa menanggapi Leo setelah kejadian di taman belakang tadi terlebih keempat temannya yang aneh itu melihat apa yang terjadi. Sekarang Sean, Aaron, Marco, dan Alvin sedang menatap keduanya secara diam-diam. Mereka menyibukan diri dengan mengobrol hal yang tidak penting padahal mereka memperhatikan keduanya. Mereka melakukan itu karena takut tiba-tiba Leo membahas kejadian tadi, jadilah mereka pura-pura menyibukan diri.
“Meskipun aku ini adalah ratu, aku tidak ingin dimanjakan. Aku bisa,” jawab Alana sambil melengos. Ia melihat ke arah teman-temannya yang kedapatan tengah mencuri pandang. Ketika pandangan Alana bertemu keempatnya mereka melemparkan tawa dibuat-buat lalu pura-pura berbicara lagi. Wajah Alana memerah lagi jika mengingat keempatnya yang ketahuan tengah melihat apa yang ia dan Leo lakukan.
“Baiklah, aku tidak akan memberikan tawaran untuk ketiga kalinya,” ucap Leo akhirnya. Saat itu juga mereka langsung mendengar suara sekelompok elang datang. Alana langsung keluar dan menyambut bangsa Ezio. Merlin langsung membentangkan sayapnya lalu memeluk Alana.
“Lama tidak bertemu denganmu Merlin, apa kabarmu?” tanya Alana. Merlin menjawab pertanyaan Alana dalam hatinya. Alana tersenyum mendengar jawaban Merlin. Merlin dan teman-temannya baru saja pulang dari gunung. Mereka membentuk sarang untuk tempat tinggal baru mereka di sana. Ia tidak ikut dalam penyerangan Bahemoth semalam karena ia memang sedang bepergian dan baru pulang pagi tadi ke istana Breen atas panggilan Ivan.
“Dia itu ratu yang gila. Semua bangsa seperti itu dan aneh adalah temannya,” celetuk Sean sambil geleng-geleng kepala.
“Tapi dia itu hebat. Dia mendapatkan kekuatan seperti itu,” sambung Alvin sambil bersandar di pintu.
“Kira-kira jika ia punya anak, apakah hal itu akan menurun ke anaknya atau tidak?” Marco menggerutkan dahinya memikirkan pertanyaanya sendiri.
“Kau sudah berpikir tentang anaknya. Pertanyakan dulu siapa yang akan menjadi suaminya,” celetuk Aaron sekenanya. Ketiga mata mereka langsung mengarah ke arah Leo yang saat ini tengah menatap Alana. Aaron juga mengikuti arah mata teman-temannya. Leo yang sadar keempat temannya itu memandangnya langsung menoleh.
“Apa? Kalian taruhan sialan lagi? Atau berencana mengintip lagi seperti tadi? Atau kalian sedang merencanakan sesuatu sialan atau sedang membicarakan sesuatu sialan tentangku dan Alana?” keempatnya langsung menggeleng bersamaan diiringi meneguk ludah mereka. Leo benar-benar tahu isi pikiran keempatnya.
“Tidak, tenang saja itu tidak terjadi!” jawab keempatnya bersamaan. Mereka lalu menyunggingkan senyum aneh khas mereka berempat. Leo hanya menyeringai kecil melihatnya. Ia terlalu tahu isi otak keempat sahabatnya. Mereka sudah berteman dari kecil dan tumbuh bersama-sama. Orangtua mereka semua adalah para pelayan dan prajurit istana. Mereka berlima sudah melewati berbagai petualangan bersama-sama. Menghabiskan masa latihan sebagai prajurit istana bersama-sama sehingga mereka disebut sebagai petarung terkuat di kerajaan mereka. Persahabatan mereka di atas segala-galanya.
“Jangan berprasangka buruk dengan kejadian sialan tadi. Dia yang memintaku. Jika aku melakukannya maka dia akan memaafkanku. Aku tidak bisa membiarkannya marah kepadaku. Karena aku tidak bisa melindunginya jika hubungan kami buruk. Ingatlah tujuan utama kita. Mengambil kembali potongan Mašte dan merebut kerajaan kita serta melindunginya. Hanya dengan melindunginya kita bisa membuka jalan untuk bertemu penguasa terkutuk itu dan menghancurkannya. Dia itu sangat berarti dan aku tidak ingin menyakitinya,” keempatnya seolah tidak percaya dengan kata-kata yang keluar dari mulut Leo. Leo jarang berbicara panjang lebar seperti itu dan dengan kata-kata seperti itu.
“Bagaimana sebenarnya perasaanmu kepadanya? Tatapan mata kalian yang aku artikan kalian saling tertarik. Ayolah Leo, katakan bagaimana perasaanmu sebenarnya terhadap Alana.” Aaron bertanya dengan menggebu-gebu. Dia memang yang paling bersemangat ingin tahu.
“Kau mencintainya?” tanya Sean yang juga ingin tahu.
“Tidak ada alasan untuk tidak mencintainya. Kau juga mencintainya, kau juga, kau juga, dan kau juga,” tunjuk Leo kepada keempat sahabatnya. “Rakyatnya pun mencintainya dengan sepenuh hati. Prajurit, pelayan, dan bangsa teman-temannya itu. Mereka mencintainya dan memang tidak ada alasan mengapa tidak bisa mencintainya,” jawab Leo yang sama sekali tidak memberikan jawaban pasti.
“Mencintai dalam maksud yang lain, Leo.” Alvin geram karena Leo seolah bodoh mengerti maksud pertanyaan Sean.
“Aku tidak ingin serakah. Kalian juga punya kesempatan,” ucapan Leo sungguh mengandung kalimat ambigu. Ia lalu diam dan tidak ingin menjawab pertanyaan apa pun. Keempat temannya penasaran setengah mati dan sibuk menebak-nebak. Saat itu Alana menghampiri mereka setelah berbicara dengan Merlin.
“Tyrone menyuruh kita untuk datang ke Breen sebentar sebelum kita berangkat ke Majë. Ada yang ingin ia beritahukan kepada kita. Ayo segera kita berangkat. Mereka sudah menunggu kedatangan kita,” ucap Alana sambil menyeret kembali tasnya. Marco langsung berinisiatif membantu Alana. Ia langsung mengambil talinya dan mengangkatnya di pundaknya. Marco lalu tersenyum tulus kepada Alana.
“Aku akan membantu ratu sebisaku. Semangatlah ratu kami, kau tidak boleh lelah hanya karena tas berat dan besar ini,” ucapnya. Alana mau tidak mau tersenyum membalasnya.
“Terima kasih prajuritku. Seorang prajurit memang seharusnya membantu dan langsung berinisiatif tanpa berkata atau bertanya terlebih dahulu,” ucap Alana sekenanya di depan Leo. Ia sengaja menyindir Leo. Namun, Leo tidak menanggapinya dan jadilah Alana sendiri yang kesal. Alana selalu kesal terhadap Leo. Kesal jika Leo mengabaikannya, kesal jika Leo di dekatnya, dan kesal jika Leo menyakiti perasaannya.
Alvin menahan tawa melihat Alana yang kesal. Ia tahu benar Alana sedang menyindir siapa. Aaron dan Sean juga sama seperti Alvin. Menahan tawanya. Mereka tertawa karena melihat wajah Alana yang terlipat-lipat kesal dan reaksi Leo yang biasa saja seolah ia tidak mendengar. Itu mengartikan satu hal secara pasti. Marco, Alvin, Aaron, dan Sean tahu sesuatu.
Mereka menaiki kawanan bangsa Ezio. Seperti biasa, keempat manusia ajaib itu lagi-lagi bertingkah berlebihan ketika berada di ketinggian. Suara teriakan memekakkan telinga mereka memenuhi udara di sekitarnya. Mereka menaiki satu persatu Elang tersebut. Gerombolan kali ini yang datang memang cukup banyak. Sekitar dua puluh ekor. Mereka mengawal Alana atas perintah Ivan dan akan mengantarkan mereka menuju Majë.
“Aku tidak menyangka akan terbang. Jadi seperti ini rasanya terbang! Ah! Aku ingin meminta sayap kepada bangsa Pixie. Agar aku bisa kapan saja terbang dan menemui mereka!” teriak Alvin penuh kebahagiaan.
“Lihat sungai itu. Apakah di sana ada peri-peri cantik yang sedang mandi. Aku ingin melihatnya. Kumohon aku ingin melihat peri mandi!” Sean juga berteriak dengan rasa senang. Sikap mereka sungguh memalukan. Alana banyak meminta maaf kepada bangsa Ezio karena ulah temannya itu. Seandainya menjatuhkan teman dari ketinggian bukanlah hal berdosa, Alana akan meminta para bangsa Ezio melakukan itu untuk keempatnya.
“Mereka itu memalukan. Kuharap Yupiter dan Saturnus tidak merasa terganggu dengan tingkah mereka nanti. Aku harus menyuruh mereka menyembunyikan anak-anak mereka jika ada. Cukup hanya aku saja yang diperebutkan oleh orang aneh seperti mereka. Tidak bisa kubayangkan bagaimana mereka melihat wujud Yupiter nanti,” ucap Alana dengan sekenanya. Ia mengusap dadanya melihat Aaron yang saat ini memeluk erat leher burung Elang tersebut sambil berteriak-teriak meminta turun. Ia takut ketinggian. Julukan Grimbold itu tidak berlaku kepada Aaron karena ia ternyata mempunyai sisi penakut. Dia takut ketinggian dan sepertinya sebentar lagi akan mati karena berteriak tidak berkesudahan.
“Bulu burung ini sangat lembut. Sangat nyaman tidur di atas mereka. Seandainya ada wanita cantik di sampingku dan membelaiku lembut selembut bulu burung ini, aku tidak ingin turun dari sini. Aku akan sukacita tinggal di udara seperti ini,” khayalan Marco saat ini adalah adanya seorang wanita yang membelai kepalanya padahal kenyataannya angin yang membelai kepalanya. Alana menghela napas lagi. Mereka terbang tidak terlalu cepat karena Alana yang memintanya. Namun, melihat kondisi teman-temannya seperti itu ia ingin mempercepat perjalanan agar mereka berhenti mempermalukan diri mereka sendiri. Leo yang tidak peduli dengan semuanya. Ia lebih memilih mengawasi keadaan jika saja ada serangan tiba-tiba.
Mereka sampai di istana Breen. Ivan dan para putri langsung menyambut mereka. Lagi dan lagi keempat temannya itu memalukan diri sendiri. Aaron yang tadi ketakutan akan ketinggian sekarang segar bugar setelah melihat Isadora, Karin, Valda, dan Maribel. Alana sudah banyak memperingatkan mereka untuk berhenti tebar pesona, tetapi percuma itu tidak berlaku bagi mereka. Hanya Leo yang saat ini serius mengikuti langkah Ivan yang berjalan di depan menuju istana. Setelah sampai di istana Ivan menyuruh mereka untuk duduk sambil makan.
“Hal yang ingin kuberitahu kepada kalian sebelum memulai perjalanan adalah sesuatu yang sangat penting. Harap kalian tahu jika di sana berbeda masa dengan manusia. Berbeda dunia, tetapi dia adalah bagian dari Mašte. Ada beberapa yang tidak bisa manusia lakukan di sana sesuka hatinya. Maka aku memberikan ini kepada kalian.” Ivan menyuruh Isadora untuk membuka kotak yang telah mereka siapkan. Di dalamnya ada beberapa helai daun berwarna hijau, tetapi itu bukanlah daun biasa. Itu daun istimewa.
“Silk Leaf, dibuat dari gabungan kloroplas yang diekstrak dari tanaman untuk menghasilkan oksigen layaknya di dunia Mitjà. Mampu menyerap air dan karbon dioksida di Majë. Terbuat dari protein sutra dan mampu hidup di udara tekanan tinggi. Berikanlah sedikit air dan sedikit cahaya maka dialah yang akan menolong kalian di dunia Majë. Dia adalah napas kalian. Aku memberikannya kepada kalian karena kalian adalah temanku. Karena Mašte harus segera kembali ke tempat asalnya. Hanya kalianlah yang bisa melakukannya.” Ivan kemudian menyerahkan kotak yang berisi daun sintetis itu kepada Alana sebagai bekal mereka di dunia Majë. Keempat orang yang tadinya sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing sekarang mengerumuni Alana karena rasa penasaran. Mereka mengaggumi daun itu. Sean tidak sabar ingin memegangnya. Tangannya sudah gatal. Marco tidak sabar ingin mencobanya.
Alana mengambil satu daun yang sudah diberi rantai kecil. Jadi ia memakainya sebagai kalung. Mereka satu per satu mendapatkannya lalu antusias mencoba daun pemberian para bangsa Pixie. Perlahan mereka bisa merasakan oksigen dengan kadar yang lebih besar di dalam ruangan istana Breen. Oksigen itu berasal dari Silk Leaf yang telah diberi sedikit air dan sedikit cahaya. Ini hal yang sangat luar biasa bagi manusia. Kehebatan bangsa peri memang tidak diragukan lagi. Para bangsa peri tidak hanya peri Pixie yang mempunyai istana bernama Breen. Di pegunungan lain ada peri Atmos dengan istana mereka bernama Monastère. Mereka hidup terpisah di setiap hutan atau pegunungan.
“Sekarang persiapan kalian sudah selesai. Satu pesanku, jika Yupiter menantangmu maka kalahkan dia dan dia akan tunduk kepadamu, tetapi jika ia menyambut kalian dengan hormat, itu pertanda baik,” pesan Ivan kepada semuanya. Mereka bersiap-siap menaiki punggung burung elang yang sudah menunggu. Hanya ada tiga burung Elang yang pergi. Tiga yang kemampuannya di atas rata-rata bisa menembus awan Mitjà. Aaron yang takut ketinggian bersama Sean, Alvin dan Marco sedangkan Alana bersama Leo.
“Erat-eratalah memegangku. Aku tidak akan menjamin perjalanan kita mulus,” ucap Leo sambil menarik tangan Alana lalu melingkarkannya di perutnya. Itu membuat Alana melotot kaget lalu wajahnya memerah serta jantungnya berdetak kencang lagi. “Tetapi jika kau terjatuh aku akan mengikutimu terjatuh karena aku harus menyelamatkamu apa pun caranya. Kau orang yang berarti untukku. Kuharap kau paham apa maksudku,” sambung Leo. Alana tanpa sadar mengeratkan pegangannya di perut Leo. Tidak! Apa ucapan Leo itu benar pikir Alana.
TBC...