Pernix

1842 Kata
“Sean! Jika kau berani melepaskan tanganmu dari tangganku aku akan membunuhmu setelah sampai di Majë!” teriak Aaron ketakutan. Ia terus memejamkan matanya, tetapi mulutnya tidak berhenti berteriak. Sean yang berada di depannya sudah mati bosan mendengar ancaman Aaron. Ia benar-benar berniat melepaskan pegangan tangannya dan menjatuhkan Aaron di hamparan hutan oak jika saja ia tidak ingat bahwa Aaron adalah prajurit yang hebat dan dapat diandalkan. Berbeda dengan nasib Sean dan Aaron yang merana, Marco dan Alvin terlihat sangat bahagia. Bahkan keduanya membuat drama kecil dengan cara membentangkan tangan lalu memejamkan mata mereka dan berteriak-teriak mengucapkan kata-kata cinta. Seolah keduanya adalah sepasang kekasih yang dimabuk asmara dan paling beruntung. “Oh Alvin kekasihku! Marilah kita arungi dunia nan luas ini dengan kebahagiaan. Jangan kau ragukan ajakanku karena aku memang tidak serius!” teriak Marco asal. “Ayo cepat sambung ucapanku!” sambung Marco sambil menepuk punggung Alvin. “Baiklah Marco kekasihku. Mari kita mati bersama-sama!” Marco langsung memukul kepala Alvin karena mengajaknya untuk mati. “Aku ralat. Maksudku marilah kita hidup bersama-sama dan menemukan putri berdada besar!” sambungnya. Kali ini Marco setuju dengan ucapan Alvin. Keduanya lalu tertawa terpingkal-pingkal di atas tubuh burung elang tersebut tanpa mengindahkan perasaan Aaron dan Sean yang tersiksa. Gelak tawa Marco dan Alvin serta ringisan Sean dan Aaron tidak berpengaruh kepada dua orang yang saat ini hanya diam. Leo dan Alana berada di depan keempatnya. Alana masih memeluk Leo dari belakang. Pelukannya erat sekali. Seperti yang dikatakan Leo, Alana takut melepaskannya. Takut jika ia terlepas dan terpisah dari Leo meskipun ia jatuh dan perkataan Leo yang akan mengikutinya meskipun Alana terjatuh, tetapi Alana tidak ingin itu terjadi. Tujuan mereka adalah ke dunia atas lalu bertemu dengan Yupiter. “Kau tidur?” tanya Leo sambil sedikit menolehkan kepalanya ke belakang. “Tidak, aku tidak bisa tidur,” jawab Alana. “Kau takut?” tanya Leo lagi. “Tidak, aku tidak takut. Untuk kepentingan umat manusia aku tidak akan takut,” jawab Alana. Leo lalu memegang tangan Alana yang berada di perutnya dan ia menggenggamnya. Alana yakin saat ini jantungnya sudah jatuh ke hamparan hutan oak karena terlalu kaget. “Tidurlah, aku akan menggenggam tanganmu seperti ini agar kau tidak terjatuh. Aku tahu kau mengantuk. Matamu lelah,” ucap Leo. Alana tidak dapat menjawab apa pun. Ia hanya mampu meneguk ludahnya. Entah itu kekuatan dari mana yang mendorong Alana untuk menyandarkan kepalanya di punggung belakang Leo. Rasanya sangat nyaman. Bantal ternyaman yang pernah Alana rasakan. Detak jantungnya tidak menentu. Sudut bibirnya ingin terangkat merasakan perasaan bahagia yang dia sendiri tahu akan hal tersebut. Tanpa sadar Alana mengeratkan genggaman tangannya di tangan Leo. Alana mau tidak mau tersenyum dan memejamkan matanya. Ia bahkan sulit menahan sudut bibirnya yang terus terangkat. “Aaron! Buka matamu dan lihat kejadian di depan kita!” Sean langsung panik dan menyuruh Aaron segera membuka matanya. Aaron awalnya tidak mau, tetapi Sean terus memaksanya. “Kau akan rugi jika tidak melihatnya!” ucap Sean lagi. Mau tidak mau karena rasa penasaran Aaron membuka matanya meskipun dengan rasa takut mengerayaki dirinya. “Dia bersandar di punggung Leo! Oh Tuhan! Itu sangat romantis! Tolong, aku ingin melihatnya dari dekat!” Marco dan Alvin langsung menatap Aaron heran. Kenapa Aaron bisa berubah tidak ketakutan seperti itu pikir mereka. Lalu mereka berdua melihat arah mata Aaron dan mereka langsung tahu. “Kejadian romantis di atas udara. Kuharap mereka berciuman seperti tadi! Leo apa yang kau tunggu. Ayo cium Alana lagi!” sorak Marco yang lupa dengan ketakutannya terhadap Leo. “Aku juga ingin seperti itu. Marco ayo kita lakukan!” ajak Alvin. Lalu Marco dan Alvin meniru apa yang Leo dan Alana lakukan, tetapi keduanya melakukannya dengan berlebihan. Berlebihan dalam arti Marco dan Alvin saling melemparkan kata-kata konyol untuk menyindir Alana dan Leo. “Jangan lepaskan tangan sialanku, Marco. Aku tidak ingin kau terjatuh sialan. Jika kau terjatuh siapa teman sialanku untuk mencari putri berdada sialan besar!” teriak Alvin dengan kata-kata berlebihan. “Tidak akan Alvin sialan. Aku tidak akan melepaskanmu. Hanya maut sialan yang memisahkan kita!” jawab Marco menanggapi ucapan Alvin. Sean dan Aaron tertawa terpingkal-pingkal melihat ulah konyol Marco dan Alvin. Aaron bahkan melupakan ketakutannya. Itulah cara mereka menghibur diri di antara kebosanan dan kadang tidak tahu situasi. Alana yang mendengar teriakan-teriakan bernada menggoda di belakangnya langsung menjauhi kepalanya dari punggung Leo dan tidak lupa Alana langsung menarik tangannya. Wajahnya memerah seperti tomat. Ia malu sekali mendapat sorakan dari keempat temannya yang aneh itu. “Lebih baik kau malu mendapat sorakan sialan dari mereka daripada kau tidak selamat dan terjatuh,” ucap Leo yang tidak peduli akan teriakan-teriakan menggoda sahabatnya di belakang. Benar juga apa yang dikatakan Leo. Alana lalu melingkarkan tangannya kembali untuk memeluk Leo. Sorakan di belakangnya semakin menjadi, tetapi Alana berusaha untuk tidak peduli. Tunggu saja, ia akan memberi pelajaran kepada empat temannya itu nanti. Mereka sebentar lagi akan sampai di puncak istana Alana. Sudah terlihat dua menara tinggi istana Alana. Mereka sengaja memilih puncak istana Alana sebagai patokan tempat tertinggi. Mereka akan menyeberangi dunia atas dari sana. Keenamnya sedikit merasa gugup karena baru pertama kali ingin memasuki dunia atas. Mereka tidak pernah ke sana sebelumnya dan ini adalah pengalaman pertama. Aaron berpegangan erat di pundak Sean. Marco berpegangan pada lengan Alvin. Alana memeluk erat Leo. Kecepatan terbang mereka bertambah untuk menembus lapisan terluar dunia atas. Butuh waktu sekian detik sampai mereka merasakan tubuh mereka mulai ringan. Keenamnya lalu membuka mata dan sekarang dunia mereka sudah berganti. Sebuah dunia yang dulu sering mereka lihat dari bawah, sekarang mereka menginjakan kaki di atasnya. Aurora yang berwarna warni mengelilingi mereka. Langit di sana berwarna gelap. Banyak kumpulan bintang-bintang besar di atas mereka yang sekarang tengah berputar-putar pelan. Berwarna-warni bersinar terang. Di kejauhan Leo dapat melihat satu bongkahan besar berbentuk bulat. Bongkahan itu dikelilingi oleh sinar-sinar terang berwarna merah keemasan. Tempat mereka berpijak adalah awan yang sangat lembut. Karena massa tubuh mereka berbeda sekarang itulah mengapa mereka tidak terjatuh di awan yang selembut itu. Kalung Silk Leaf mereka mulai berfungsi dengan benar. Ia mengeluarkan cahaya kehijauan yang lemah tanda ia mengeluarkan oksigen untuk mereka bernapas. “Kita tidak akan terjatuh?” tanya Aaron takut. Ia memastikan kakinya menginjak awan itu dengan benar. Awan yang mereka injak memang lembut. Dari sana tidak terlihat dunia tengah, tetapi dunia tengah bisa melihat dunia atas. Itulah kelebihan dunia tengah yang tidak dimiliki dunia atas. “Tidak adakah putri-putri cantik berdada besar yang menyambut kita?” tanya Marco sambil mengelilingi penglihatannya di tempat tersebut. Keempat orang itu saat ini tengah sibuk bertanya-tanya hal aneh mengenai Majë. Alana mengucapkan terima kasih kepada bangsa Ezio karena sudah mengantar mereka melewati dunia atas. Merlin lalu memeluk Alana dan setelah itu mereka pulang. Tidak lupa Merlin berpesan kepada Alana dan teman-temannya untuk berhati-hati. Ivan sudah memberitahu tempat kerajaan Yupiter berada. Mengikuti petunjuk rasi bintang yang diarahkan Ivan. Kerajaan Yupiter adalah kerajaan yang dikelilingi oleh dua belas rasi bintang utama dan tujuh puluh enam anak rasi bintang lainnya. Semua rasi bintang itu berjumlah delapan puluh delapan. Kedua belas rasi bintang utama adalah prajurit terkuat milik Yupiter. Itulah hal yang dikatakan Ivan kepada mereka sebelum berangkat tadi. Aquarius, Aries, Cancer, Capricornus, Gemini, Leo, Libra, Pisces, Sagittarius, Scorpius, Taurus dan, Virgo adalah nama rasi bintang tersebut. Mereka memiliki kekuatan tersendiri dan tugas tersendiri. “Itu kerajaan Yupiter.” Leo menunjuk sesuatu di depannya. Cukup jauh dan harus ditempuh perjalanan seharian untuk mencapai tempat tersebut. Keenamnya menoleh dan terpukau. Sebuah tempat berbentuk bongkahan bulat besar berwarna merah keemasan. Dikelilingi oleh delapan puluh delapan rasi bintang di sekitarnya yang berwarna biru berkilauan. Rasi bintang itu berwujud sambungan pertemuan titik tiap bintang yang membentuk benda-benda dari pencerminan nama rasi bintang itu sendiri. Misalnya Sagittarius, maka rasi bintang itu berbentuk panah berwarna biru berkilauan dari garis-garis pertemuan titik tiap bintang-bintang kecil. Begitu pula dengan nama-nama lainnya. Sangat cantik dan megah. “Ayo kita ke sana. Kita harus cepat menyelesaikan misi ini.” Alana berjalan lebih dulu. Ia paling semangat untuk bertemu dengan Yupiter. Leo mengikutinya di belakang lalu Sean setelah itu Aaron berikutnya Marco dan terakhir Alvin. Alvin mengerutu pelan karena dia yang harus membawa tas besar milik Alana. Padahal ia ingin berjalan lebih dulu dan berharap bertemu putri berdada besar seperti khayalannya. Namun, baru sebentar mereka berjalan tiba-tiba mereka mendapat serangan dadakan. Sangat dadakan karena serangan itu berasal dari bawah. Leo dengan cepat menggapai Alana dan menariknya mendekat. Serangan bertubi-tubi muncul dari bawah. Menembakkan bola-bola api. Sean, Aaron, Alvin dan. Marco langsung sigap. Serangan itu kemudian berhenti, tetapi tidak mengendurkan kewaspadaan mereka. Alana mencengkram erat lengan Leo yang saat ini memeluknya kembali. Ia benar-benar melindungi Alana seperti perkataannya. “Apa itu!” teriak Sean sambil mengelilingi penglihatannya serta mencari di mana makhluk tersebut bersembunyi. “Makhluk kiriman dari penguasa kegelapan! Waspadalah dia sedang mengintai kita dari bawah!” Alvin memegangi anak panahnya yang siap ia tembakan jika makhluk itu muncul. Leo sudah mengeluarkan pedangnya. Semuanya bersiaga. Mereka tidak tahu makhluk seperti apa yang menyerang mereka. Mereka tidak bisa mengharapkan bantuan dari kerajaan Yupiter karena mereka belum bertemu dengan Yupiter. “Leo! Lindungi Alana sebisamu. Kami yang akan menghadapinya. Ingatlah, Alana adalah satu-satunya harapan kita!” teriak Marco mengingatkan Leo. “Aku tahu, tetapi jangan halangi aku untuk bertarung. Aku bisa menjaganya sekaligus bertarung. Kau lupa julukanku itu apa,” ucap Leo pelan, tetapi nadanya sangat tegas. Alana yang mendengarnya bergetar. Tanda bahwa Leo memang memiliki aura seorang penguasa yang kuat. “Awas jika saja kau lalai seperti kemarin. Aku tidak akan memaafkanmu!” ucap Aaron sambil terus waspada. Leo mengeratkan pelukannya terhadap Alana setelah mendengar ucapan Aaron. Jika ia ingat kejadian itu Leo akan marah kepada dirinya sendiri. “Percayalah kali ini aku bisa melindungimu. Aku akan membayar semua kesalahanku kemarin. Aku akan menghabisinya untukmu. Tidak akan ada yang bisa menghalangimu untuk menyatukan dunia yang terpisah-pisah ini,” ucap Leo dengan tegas. “Aku selalu percaya kepadamu. Aku tidak pernah meragukan kemampuanmu, Leo.” Alana mengangkat kepalanya dan menatap mata Leo. Pandangan mata mereka bertemu. “Aku selalu percaya kepadamu. Ingatlah,” sambung Alana lagi. “Hei apa yang kalian lakukan. Jangan bermesraan seperti itu. Aku menyuruhmu untuk melindunginya bukan saling tatap seperti itu!” kesal Marco. “Ingatlah ada makhluk mengerikan yang sedang mengintai kita,” ucap Marco yang mengacaukan situasi antara Leo dan Alana. “Kau cerewet sekali. Diamlah, hadapi saja makhluk itu. Jika kalian tidak berhasil maka aku tidak akan memberikan kalian makan siang!” kesal Alana sambil menyembunyikan wajah merahnya. Sean, Aaron dan, Alvin tertawa terpingkal-pingkal melihat hal tersebut. Mereka lupa bahwa sedang dalam situasi genting. Saat ketiganya sedang tertawa, makhluk mengerikan itu menampakkan dirinya. Ia menembus lapisan terluar Majë. Alana langsung membulatkan matanya. Kelimanya kembali berwaspada. Makhluk itu berbentuk seperti komodo bersisik. Hampir seluruh tubuhnya terbuat dari besi kecuali kepalanya. Sayapnya seperti sayap kelelawar. Gigi taringnya tampat mencuat ke luar. Aroma belerang menyengat ketika ia mendengus. Gumpalan-gumpalan api kecil menari-nari di dekat hidungnya. Itu menandakan ia mempunyai kekuatan api dan ialah makhluk yang tadi menyerang dengan bola-bola api. Dia adalah Beowulf, utusan dari penguasa kegelapan untuk menghentikan perjalanan keenamnya menuju kerajaan Yupiter. TBC...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN