4. KEHADIRAN NALENDRA

1470 Kata
"Siapkan tempat! Cepat!" perintah Nalendra sangat kencang. Suaranya nyaring, mengisi ruangan yang diisi oleh orang-orang berdompet tebal. Mereka yang semula sibuk dengan pembicaraan masing-masing, kini sama-sama berpaling ke arah Nalendra yang basah kuyup, seraya menggendong seorang gadis yang tidak sadarkan diri. Beberapa pria berpakaian rapih layaknya bodyguard itu, mulai mengumpulkan beberapa kursi, lalu dibariskan berjejer satu sama lain. Nalendra buru-buru membawa Amel ke sana. Selanjutnya di membaringkan Amel di atas kursi yang berjejer rapih itu. "Cepat ambilkan air!" teriak Nalendra kembali. Salah satu pria di sana berlari. Tak berselang lama dia kembali dan membawa segelas air putih. "Ini Tuan Muda," kata pria itu, memberikan gelas air tersebut kepada Nalendra. Dia menunjukkan rasa hormat ketika berbicara dengan Nalendra. Nalendra menyambar gelas tersebut, kemudian dia duduk berjongkok. Raut wajahnya begitu cemas. Pikirannya dihantui hal-hal buruk atau kemungkinan terburuk dari kondisi Amel sekarang. Pelan-pelan Nalendra memercikkan air itu ke wajah Amel. "Bangunlah, Sayang," ucapnya penuh kegelisahan. Nalendra menggosok-gosokkan tangan Amel, penuh harap. Hal ini dilakukan supaya Amel cepat sadar. Orang-orang memperhatikan tindakan Nalendra dengan tatapan serius. Uhuk ... Uhuk ... Amel pun batuk-batuk. Kesadarannya mulai kembali. Kedua mata Nalendra berbinar-binar. Air membuncah keluar dari mulut serta hidung Amel. Seandainya Nalendra datang lebih lama lagi, kemungkinan besar Amel akan tenggelam. Nalendra membantu Amel untuk mengubah posisinya menjadi duduk. "Syukurlah, kamu sudah sadar. Aku sangat khawatir." Nalendra langsung memeluk wanitanya dengan erat. Amel melotot. Dia sangat terkejut, mendapat perlakuan yang berbeda dari biasanya. "Aku benar-benar khawatir, Mel. Jangan pernah berpikir untuk pergi meninggalkanku, Mel. Aku sangat mencintaimu, Amelia." Kalimat itu lolos begitu saja dari bibir Nalendra, tanpa cela. Amel terkesiap. Tubuhnya seperti batang kayu yang keras, secara tiba-tiba. Nalendra melepaskan pelukannya. "Cepat, ambilkan mantel!" teriaknya kemudian. "Baik, Tuan Muda," jawab salah seorang pria, yang berpakaian rapih itu. Kira-kira ada lima pria yang berpakaian senada, berjaga-jaga di dekat Nalendra dan Amel di sana. "Kamu tenang di sini. Tidak akan ada lagi yang berani untuk mengolok-olok kamu. Seseorang akan mengambil mantel. Kamu pasti sangat kedinginan sekarang." Amel kehabisan kata-kata. Dia tidak tahu apa yang sedang terjadi di sini? Mencoba menelaah semua ini. Nalendra yang dia kenal, hanyalah pemuda biasa. Bukan pria mengenakan kemeja rapi dan dikelilingi orang-orang bertubuh gagah, yang ada di hadapannya sekarang. Hal yang paling mengejutkan, pengakuan Nalendra, soal perasannya. Nalendra sangat mencintainya. Itulah kalimat yang ia dengar tadi. "Aku tahu kamu pasti shock banget sekarang ..." "Amel. Percayalah! Aku sangat mencintaimu. Soal identitasku ini, aku akan menjelaskan semuanya nanti. Apa yang kamu lihat sekarang, nyata adanya. Aku tidak akan membiarkan kamu mendapatkan penghinaan lagi seperti tadi." Nalendra menggenggam kedua tangan Amel. Dia menunjukkan kesungguhan cintanya di hadapan banyak orang. Nalendra terlalu banyak bicara, sampai Amel kesulitan untuk mengeluarkan kata-kata. Isi kepalanya seperti tong kosong. Semua fakta yang baru didengarnya, berusaha merangsak masuk ke dalam pikirannya. "Tuan Muda. Ini mantelnya." Pria itu telah kembali. Dia membawakan sebuah mantel berwarna hitam. Nalendra menyambar mantel itu dengan cepat. Kemudian dia memasangkan mantel itu ke tubuh Amel. Seluruh pakaian Amel basah. Nalendra takut, wanita yang sangat dicintainya itu masuk angin. "Nalendra," ucapnya lirih dan datar. Hanya itu yang mampu Amel katakan. Dia menatap teduh teman pria, yang selama ini selalu berada di sisinya ketika ia sedang dalam kesulitan. Nalendra tersenyum lembut. "Tenanglah. Semua akan baik-baik saja. Percayalah padaku. Mulai detik ini, tidak akan ada lagi, yang berani menghinamu." Dengan keyakinan penuh, Nalendra menyakinkan Amel. Gadis itu, masih belum percaya, kalau dirinya dicintai oleh pria yang selama ini tidak pernah meninggalkannya. "Nalendra, tunggu dulu!" Galaxy meraih tangan pewaris utama keluarga Anggara itu. Nalendra menatap beberapa detik tangan Galaxy dengan penuh kemarahan. Selepas itu, dia menjatuhkan sorot mata tajam kepada tuan muda dari keluarga Wiguna tersebut. "Semua ini hanya salah paham," kata Galaxy pelan. "Salah paham katamu?" Nalendra menarik tangannya dengan kasar. Dia berdengus kesal dan menatap dingin lawan bicaranya itu. "Iya, Nalen. Gue enggak tahu, kalau dia ..." "Cukup!" tegas Nalendra seraya mengangkat tangan kanannya, sebelum Galaxy sempat menyelesaikan penjelasannya. "Dalam hal ini, tidak ada kesalahpahaman! Aku sudah tahu semuanya. Selama ini, kalian selalu menghina dan mencemooh Amel, di depan umum. Sekarang, tidak akan ada lagi kesempatan untuk kalian menghinanya! Setelah ini, Amel akan menjadi Nyonya Besar Keluarga Anggara." Amel terbelalak, tepat di kalimat terakhir yang Nalendra ucapkan. Nyonya besar keluarga Anggara? Dirinya? Seketika pertanyaan itu, menyeruak, mengisi kepalanya. Pengakuan Nalendra soal cinta dan perasaan, masih bisa Amel terima dengan akal sehat. Sementara pengakuan yang terakhir itu, sangat sulit dicerna oleh akal sehatnya. "Nalendra. Tunggu dulu!" tahan Galaxy, yang kali ini langsung dihadang para bodyguard. Nalendra tersenyum miring. Dia kembali memfokuskan diri pada wanita yang sangat cintanya itu. Semua pasang mata tertuju pada dua insan yang belum pernah mempublikasikan hubungan spesial di hadapan publik. Amel menatap Nalendra penuh tanya. Ada banyak sekali pertanyaan yang ingin dia lontarkan. Namun, semua itu seakan tertahan di ujung tenggorokan. Nalendra tersenyum lembut. Dia menuntun Amel. Mengajaknya untuk naik ke podium yang telah disiapkan di sana. Para awak media, tidak henti-hentinya mengambil gambar Nalendra yang merangkul tubuh ringkih Amel, yang dibalut mantel hangat itu. "Kamu mau ngajak aku kemana?" tanya Amel terdengar parau. "Aku mau ngajak kamu naik podium. Di sana, aku akan memperkenalkan kamu secara resmi kepada semua orang yang ada di sini," jawab Nalendra, tersenyum lembut penuh kehangatan. Amel semakin kehilangan ketenangannya. Sesuatu seakan ada yang ingin meledak dari dalam dadanya. Nalendra memapah Amel, sebab tubuh mungil itu seolah kehilangan tenaga, sehingga kedua kaki sedikit berat untuk melangkah dengan sendirinya. Nalendra tidak mempermasalahkan hal tersebut. Dia telah memantapkan hati, untuk mengenalkan Amel secara resmi kepada semua orang yang telah diundangkannya. "Mohon perhatian, semuanya." Nalendra mula berbicara. Dia sudah berdiri di atas podium. Tangan itu tak melepaskan rangkulannya terhadap wanita yang sangat dicintai. "Sebelumnya, mohon maaf atas kejadian yang membuat kalian, yang ada di ruangan, menjadi tidak nyaman," ungkap Nalendra, membuka pembicaraan di sana. "Sebenarnya, acara hari ini memang bertujuan untuk mengumumkan hal penting kepada kalian semua ..." Semua tertuju pada Nalendra dan Amel di atas podium. Mereka menyimak dengan serius sepatah dua patah yang Nalendra rangkai. Sementara Galaxy dan Lusiana tampak gusar. Galaxy yang paling gelisah, lantaran dia lah yang sudah menceburkan Amel ke kolam renang. Entah, apa yang akan Nalendra lakukan setelah acara ini? Reputasi keluarga Wiguna bisa rusak, seandainya Nalendra mengambil tindakan tegas. "Seperti yang kalian lihat sekarang. Ada wanita cantik yang berdiri menemaniku di sini ..." "Dia, wanita yang sangat kucintai. Tidak ada satupun wanita, yang mampu menggantikan dirinya di dalam hatiku. Tak akan pernah." Nalendra tersenyum lembut saat menatap Amel. Sedangkan gadis mungil itu menunjukkan raut wajah datar. Sebenarnya dia kesulitan untuk menunjukkan ekspresi. Mau pura-pura tersenyum pun, tidak bisa. "Baiklah. Aku tidak akan membuang waktu lagi. Aku ingin kalian yang ada di sini tahu, bahwa wanita di dampingku ini. Dia, adalah calon istriku. Nyonya Besar Keluarga Anggara selanjutnya." Nalendra berucap dengan penuh percaya diri. Dia sedikit mengangkat bahu serta dadanya. Merangkul erat Amel yang terdiam tanpa kata. "Pernikahan kami akan dilakukan satu bulan dari sekarang. Pernikahan ini akan menjadi, pernikahan termegah di kota. Aku mengundang kalian semua, untuk hadir dan menjadi saksi dalam pernikahan kami." Nalendra benar-benar membuat semua orang terkejut. Terutama Lusiana dan Galaxy. Keduanya memiliki hubungan pertemanan dengan Nalendra dan juga Amel, di masa sekolah dulu. Awak media maju ke depan podium. Mereka berbondong-bondong untuk mengambil gambar dari jarak sedekat mungkin. Namun, pada bodyguard tentu membatasi jarak mereka. Dengan disaksikan banyak pasang mata, Nalendra pun mengambil kotak kecil dari tangan salah satu Bodyguardnya. Selanjutnya, dia duduk bersimpuh di depan Amel. Hal tersebut langsung mencuri perhatian. Para awak media tidak mau ketinggalan momen spesial ini. Nalendra membuka kotak kecil itu. Sebuah cincin bertahtakan berlian, tersimpan di dalam kotak berwarna merah itu. "Amelia Putri. Di hadapan semua orang yang hadir di sini. Hari ini aku, Nalendra Putra Anggara, ingin menyampaikan sesuatu yang sebenarnya sudah lama kupendam," ungkapnya sedikit gugup. Namun, dia tetap terlihat tenang. "Amelia Putri. Wel you Marry Me," ucap Nalendra dengan lantang, seraya menunjukkan cincin berlian itu. "Menikahlahku, Amelia. Aku sangat mencintaimu. Seumur hidupku, hanya kamulah satu-satunya wanita yang ingin aku ajak bersama." "Terimalah, pemintaan kecilku ini. Amelia." Amel menutup mulutnya dengan kedua tangan. Tidak percaya, hari ini akan mendapatkan kabar yang tak pernah terlintas dalam bayangannya. "Terima!" "Terima!" Orang-orang di sana, berteriak seirama seraya menepuk tangan satu kali. Mereka ingin, Amel menerima pinangan itu. "Aku berjanji, akan membuat kamu bahagia. Selama ini, kamu sudah cukup menderita. Sekarang, saatnya kamu mendapatkan kebahagiaan yang sempurna," ungkap Nalendra, mencoba untuk meyakinkan Amel satu kali lagi. Cukup lama Amel terdiam. Sampai akhirnya, dia mengangguk. Nalendra menatap haru calon istrinya itu. Jawaban yang telah dinanti-nanti sejak lama, akhirnya didapatkan juga. Tanpa buang waktu lagi, Nalendra pun berdiri, lalu dia mengeluarkan cincin itu cari tempatnya. Kemudian menyematkan cincin berlian itu di jari manis Amel. "Aku sangat mencintaimu, Amel." Nalendra memeluk calon istrinya itu sangat erat. Orang-orang menyoroti momen bahagia ini. Mereka bertepuk tangan. Sementara Galaxy dan Lusiana tampak tidak tenang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN