5. KEPUTUSAN NALENDRA

1076 Kata
"Ayo, Sayang! Mama sudah menunggu kita. Dia ingin sekali bertemu dengan calon menantunya," ucap Nalendra lembut. Perkataannya sontak membuat Amel membola. "Mama kamu, ingin bertemu aku?" Nalendra mengangguk dan tersenyum lembut. "Iya, Sayang. Mama sangat merestui hubungan ini. Dia malah tidak sabar, menunggu kamu menjadi menantunya." Amel semakin bengong dibuatnya. Mimpi apa dia kemarin malam, sehingga dalam waktu singkat, dirinya dicintai oleh keluarga konglomerat? Nalendra mengulurkan tangan kanannya. Dia memperlakukan Amel begitu lembut dan penuh hormat. Orang-orang yang melihatnya pun dibuat iri karenanya. Amel meraih tangan Nalendra. sebenarnya dia cukup ragu untuk melakukannya. Mengingat, ia bukan berasal dari keluarga kaya. "Nalen. Dengerin dulu penjelasan gue." Galaxy datang mendekat dan mencoba untuk melerai perkara yang belum usai itu. Nalendra menepis tangan Galaxy dengan cepat. "Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi. Aku sudah melihat kebusukanmu, Galaxy. Bahkan semua orang yang ada di sini menjadi saksinya!" tegas Nalendra tanpa berkedip. Dia berdengus kesal. Kemarahannya terhadap Galaxy tidak ia sembunyikan. Amel yang berada di sisinya pun, hanya bisa diam. Melihat dua pria yang dahulunya berteman dekat, kini saling bermusuhan satu sama lain. "Mulai detik ini. Anggara Group tidak akan lagi bekerja sama dengan perusahaan Wiguna. Kontrak kerja sama kita, berakhir sampai di sini!" Nalendra menekan bidang d**a lawan bicaranya dengan jari telunjuk. Galaxy pun terpaku. Kerja sama yang baru berjalan satu tahun itu, berakhir hanya karena persoalan biasa? Galaxy tidak terima, harga dirinya direndahkan serta dipermalukan seperti ini, di muka umum. Dia mengepalkan kedua tangannya. Galaxy merasakan darahnya berdesir hebat, hingga ke ubun-ubun. "Ayo, Sayang!" Nalendra pun kembali mendekap Amel. Tidak akan dia biarkan orang-orang jahat seperti Galaxy dan Lusiana menghinanya. Apa lagi sampai berbuat diluar kembalinya. Narendra berjalan melewati Galaxy, yang masih terdiam di tempatnya. "Berhenti!" Galaxy berseru lantang, lalu berbalik badan di waktu bersamaan. Nalendra diam. Begitu juga dengan Amel. Namun, keduanya tidak berbalik badan. Bagi Nalendra, mengurus orang seperti Galaxy, sama saja membuang waktunya yang berharga. "Gue tidak terima, diperlakukan seperti ini! Nalendra! Tidak sepatutnya lu mengakhiri kontrak kerja sama ini, cuma demi cewek miskin kayak dia!" Kini giliran Nalendra yang mengepalkan kedua tangannya. Dua gendang telinganya terasa panas saat Galaxy menyebut Amel, dengan sebutan 'Cewek Miskin'. "Meskipun lu jadikan dia istri, statusnya tetaplah cewek miskin! Dia enggak pantes buat lu. Keluarga Anggara bakalan malu!" "GALAXY! JAGA BICARAMU!" teriak Nalendra. Dia berbalik badan, menatap nanar Tuan Muda dari keluarga Wiguna itu. Emosi Nalendra sudah mencapai puncaknya. Kalimat yang Galaxy lontarkan sudah tidak bisa ditoleransi lagi. Dia mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat. "KEAMANAN! Cepat, bawa dia pergi dari ruangan ini! Aku tidak ingin lagi melihat wajahnya di sini!" perintah Nalendra dengan suara lantang. "Baik, Tuan Muda!" jawab beberapa pria secara serentak. Tanpa menunggu lama lagi, mereka mendatangi Galaxy. Ada lima pria bertubuh besar dan gagah, mengepung Tuan Muda Keluarga Wiguna itu. "Apa-apaan ini! Kalian tidak bisa memperlakukanku seperti ini! Apa kalian tidak tahu, kalau aku ini Tuan Muda Keluarga Wiguna, ah?" Seruan Galaxy seolah angin lalu bagi mereka. Tidak peduli, dia pewaris utama atau anak presiden sekalipun, kalau sekiranya membuat onar, maka mereka bertanggungjawab untuk mengambil tindakan tegas. "Jangan cuma dia saja! Bawa pergi juga, wanita busuk itu, dadi ruangan ini! Dia telah membuat calon Nyonya Keluarga Anggara merasa malu!" tunjuk Nalendra, sekaligus menjatuhkan perintah kepada para pengawalnya, untuk menyingkirkan Lusiana juga. Di ruangan ini, bukan hanya ada lima pengawal saja, melainkan lebih dari dua puluh pengawal, yang disiapkan untuk berjaga-jaga selama berjalannya acaran. Hal tersebutlah, yang membuat Nalendra mengetahui kejadian saat Amel diceburkan ke dalam kolam renang. "Lepasin tanganku! Kalian tidak pantas menyentuh wanita terhormat sepertiku!" teriak Lusiana seraya memberontak. Mencoba untuk lepas dari cengkraman para pengawal Nalendra. Nyatanya, usaha yang Lusiana lakukan sia-sia. Tenaganya tidak sebanding dengan dua pria yang menarik kedua tangannya. Nalendra pun tersenyum miring. Bisa-bisanya dalam keadaan ditarik paksa, Lusiana masih sempat bersikap arogan. Terdengar jelas oleh semua orang, bagaimana Lusiana sangat menyombongkan dirinya saat dua pria menariknya dengan tidak hormat. "Nalendra! Awas kamu! Aku tidak akan membiarkan kamu hidup dengan tenang!" Galaxy menjatuhkan ancaman dan tatapan tajam, sebelum akhirnya dia meninggalkan ruangan ini. Nalendra menunjukkan ekspresi datar. Ancaman itu, bukanlah hal yang patut ia takutkan. Amel pun menatap calon suaminya itu. Apa dia pernah membayangkan kejadian ini akan menimpa dirinya? Tentu saja tidak sama sekali, terlintas dalam benaknya. "Kenapa, kamu menatapku seperti itu?" tanya Nalendra penasaran. Rentetan kejadian ini, membuat Amel bagaikan boneka di antara para konglomerat. Dipermainkan, dipermalukan, lalu diangkat derajatnya dalam satu waktu. "Sepertinya kita harus berbicara," kata Amel sangat serius. *** Amel pun mengajak Nalendra untuk berbicara empat mata. Hanya ada dirinya dan pria yang kini berstatus calon suaminya itu. "Sebenarnya, apa yang ingin kamu bicarakan denganku? Sepertinya sangat serius?" Nalendra bertanya lebih dahulu. Sedangkan Amel tampak cemas. Terlihat dari sorot mata serta guratan yang ada di wajahnya. Tanpa Nalendra sangka-sangaka, Amel melepaskan cincin berlian yang melingkar di jari manisnya itu. "Apa yang kamu lakuin, Mel? Kenapa cincinnya dilepas?" Nalendra terkejut bukan main. "Aku enggak pantes pake cincin ini, Len." Amel mengembalikan cincin itu kepada pemiliknya semula. "Siapa yang bilang, kalau kamu enggak pantes pake cincin ini?" Nalendra mulai tak tenang. Dia takut, Amel akan membatalkan pernikahan yang telah dirancangnya. "Aku yang bilang!" tegas Amel. "Tapi kenapa, Mel? Kamu pantes pake cincin itu." Amel menggeleng cepat. "Enggak! Gara-gara cincin ini, hubungan pertemanan kalian menjadi rusak. Gara-gara cincin ini juga, acara yang kamu siapkan secara khusus, menjadi berantakan. Semua orang pasti membicarakanku ..." "Aku menjadi penyebab dua keluarga bermusuhan. Akulah ...." Muach ... Nalendra menyambar bibir ranum Amel, sebelum gadis mungil itu bisa menyelesaikan kalimatnya. Amel terlalu banyak berbicara dan menyalahkan dirinya sendiri. Akhirnya membuat Nalendra geram. Tidak ada cara lain, selain membungkam mulutnya, dengan ciuman. Amel membola. Sedang Nalendra memejamkan kedua matanya. Dia mendorong tubuh Amel, hingga ke tembok. Nalendra pun melepaskan ciumannya beberapa saat setelahnya. Dia menyentuh pipi chubby gadis mungil berstatus calon istrinya itu. "Kenapa kamu cerewet banget, Sayang? Apa kamu kira, aku membuat acara ini hanya untuk mencari uang saja, sehingga ketika aku memutuskan hubungan dengan mereka, keluargaku akan jatuh miskin? Apa itu, yang kamu cemaskan? Amel pun tidak merespon. Namun, diamnya itu membuat Nalendra menarik kesimpulan. Kalau dugaannya benar. "Kalau begitu, pernikahan kita akan dipercepat. Satu Minggu dari sekarang! Dengan begitu, tidak akan ada lagi, orang-orang yang menghinamu!" tegas Nalendra, sekaligus mengakhiri pembicaraan yang membosankan ini. "Lagipula, aku sudah tidak sabar mengajakmu untuk berbulan madu. Menghabiskan waktu berdua. Hanya kamu dan aku. Tidak ada perusuh di antara kita." Nalendra pun cengengesan setelah itu. Sementara Amel melotot. Sedikit menganga. "Apa? Bulan madu?" Secepat itukah, Nalendra mengubah keputusannya?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN