6. KEJAMNYA IBU TIRI

981 Kata
"Kita sudah sampai di depan rumahmu," ucap Nalendra penuh semangat. Amel melihat ke luar jendela, tepatnya ke bangunan sederhana yang berjarak beberapa meter dari mobil berhenti. Dua menit berselang, Amel pun membuang napas berat. Perubahan sikap Amel tidak luput dari perhatian Nalendra. "Kenapa cemas gitu? Apa ada sesuatu yang kamu takutkan?" tanyanya penasaran. "Aku hanya mencemaskan Nenek Sihir itu saja. Kamu tahu kan, bagaimana Nenek Sihir itu bersikap kepadaku? Dia pasti akan meminta hal aneh-aneh, ketika tahu kalau kamu ..." Amel menggantung kalimatnya, kemudian membuang napas panjang. Dia tidak sanggup meneruskannya hingga ujung. Nalendra sedikit mengubah posisi duduknya. Dia menyentuh tengkuk Amel, lalu menempelkan keningnya dengan kening Amel. Tidak sampai berjam-jam, hanya beberapa detik saja. Nalendra melakukannya guna memberi support dan ketenangan bagi Amel. "Tenangkan diri kamu ya, Sayang. Nenek sihir itu, tidak akan berbuat macam-macam ke kamu. Ada aku yang selalu di sisi kamu. Kalau dia macam-macam, kamu tinggal kasih tahu aku. Biar aku yang memberi dia pelajaran setimpal," ucap Nalendra, berusaha menenangkan Amel yang sedang gelisah itu. "Ish, apaan si? Lepasin! Kamu kira, aku ini bocah ah, yang ga bisa ngelawan tuh Nenek Sihir?" sungut Amel geram, seraya mendorong bidang d**a Nalendra, supaya posisi yang semula sangat intim, menjadi jauh. Amel membuang pandangannya ke sembarang arah, guna menutupi rona merah di wajah. Pipinya terasa panas, ketika Nalendra menyentuhnya tadi. Seolah-olah ada sengatan listrik yang menyambar tubuhnya. "Iya deh, iya. Aku percaya kok sama kamu. Kamu kan cewek kuat dan mandiri. Aku yakin, nenek sihir itu balapan kamu bungkam dan enggak bisa lagi ngomong aneh-aneh." Nalendra tersenyum lebar, penuh percaya diri. Sedangkan Amel nyengir yang terkesan dipaksakan. "Udah ah, aku masuk dulu. Enggak enak kalau kelihatan tetangga." "Mana ada tetangga malam-malam, yang ada juga Mbak Kunti sama Mas Pocong," jawab Nalendra, sedikit bercanda. Amel nyengir kuda. Hanya beberapa detik, sebelum dia kembali menunjukkan raut wajah datar, terlihat hambar. "Garing!" sindir Amel, tanpa menutupi kekesalannya. Nalendra menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Tersenyum canggung. Kalau mood Amel sudah begini, bakalan susah untuk membujuknya. Amel yang imut-imut, berubah menjadi raja hutan ketika sedang marah. Tanpa banyak kata, Amel pun keluar dari mobil. Nalendra sebenarnya ingin mengantar sang kekasih hingga masuk kamar. Akan tetapi, niatnya itu langsung ditolak Amel dengan tegas. Nalendra membuang napas berat, "hadeuh ... Dia memang enggak pernah berubah. Tetap aja cuek," gumamnya. Ada sedikit kekecewaan di wajah Nalendra. Disebabkan karena Amel tidak peka. Dia menunggu, calon istrinya itu berbalik badan, lalu melambaikan tangan dan tersenyum. Kenyataannya, semua itu hanya sebatas anggan dalam bayangan Nalendra. Amel sudah masuk ke rumah, tanpa mengucapkan salam perpisahan atau semacamnya. *** Di dalam rumah, ruang tengah. "Baru pulang kamu?" tanya Susi dengan ekspresi datar. Helaan napas berat, lolos begitu saja dari mulut Amel. Dia baru beberapa langkah memasuki rumah ini, langsung disambut dengan pertanyaan dan raut wajah yang tidak bersahabat. "Iya, Bu," jawabnya singkat. Kemudian mengayunkan kakinya kembali. Dia malas untuk berdebat. "Jangan main pergi aja kamu!" Susi meraih tangan Amel. Menggenggamnya sangat erat. Hal tersebut, membuat Amel tidak nyaman. "Lepasin tanganku, Bu!" pintanya mengiba. "Mana cincin berlian itu?!" Susi langsung mengarahkan pandangannya pada jari-jari Amel. "Cincin berlian apa, Bu? Enggak ada cincin berlian!" Amel meninggikan suaranya. Dia berusaha menarik tangannya, supaya lepas dari cengkraman wanita berstatus ibu tiri itu. "Kamu enggak bisa bohongin ibu! Tadi, Ibu lihat sendiri beritanya di sosmed. Nalendra kasih kamu cincin berlian, yang harganya mahal!" Suara Susi tidak kalah tinggi. Dia melebarkan matanya, memfokuskan perhatian pada jari manis Amel. Namun, yang dicari serta dinanti-nanti sejak tadi, tidak ada di tempatnya. "Pemberitaan itu bohong! Tidak ada cincin!" tegas Amel, seraya menarik tangannya. Kali ini mampu lepas dari cengkraman Susi. "Sini, tas kamu!" Susi menarik tas selempang milik Amel, dengan paksa. "Bu! Apa yang Ibu lakukan?!" Amel sudah tidak tahan lagi. Dia menggertak, melotot matanya, merasa geram dan marah dengan melakukan ibu tirinya yang seperti hewan liar. "Diam kamu! Ibu mau cari cincin berlian yang mahal itu!" Susi tanpa merasa bersalah dan malu, dia mengeluarkan seluruh isi yang ada di dalam tas selempang itu. "Cincin itu, kalau dijual pasti harganya mahal." Dia menyeringai kecil, membayangkan tumpukan uang yang ia dapatkan, ketika menjual cincin berlian itu. Ada lipstik, charger, bedak dan dompet. Amel semakin melotot, saat barang-barangnya jatuh ke lantai. Hal inilah yang Amel takutkan. Itulah kenapa dia, menyerahkan kembali cincin berlian itu kepada Nalendra. Semata-mata untuk menjauhkan benda berharga itu dari nenek sihir yang gila harta ini. "Di mana cincin berliannya? Pasti kamu sembunyikan kan? Di mana kamu sembunyikan cincin berlian itu?! Cepat kasih ke ibu sekarang!" pintanya keras. "Cukup! Aku udah capek, kayak gini terus!" Amel ingin marah dan memaki. "Ibu benar-benar mata duitan! Matre! Wanita hina!" "Apa katamu?" geram Susi sampai merapatkan giginya. Dia menarik rambut Amel dengan sangat kuat, sampai kepalanya mendongak. "Tadi kamu bilang apa, ah? Ibu ini mare? Mata duitan, heum?" Semakin dia marah, semakin kencang pula Susi menarik rambut Amel. Sampai-sampai, Amel mengeluarkan air mata. "Bu ... Lepasin aku, Bu. Aku enggak tahu di mana cincin itu ...," mohon Amel memelas. Dia benar-benar merasa kesakitan. Seandainya boleh memilih, dia lebih baik mati, dari pada harus diperlakukan buruk seperti ini, layaknya mainan. "Ibu, enggak bakalan lepasin, sebelum kamu kasih tahu, di mana cincin berlian itu? Cincin itu, seharusnya ada di kamu kan? Nalendra udah kasih itu ke kamu, sebagai maskawin. Seharusnya kamu kasih ke ibu! Ibu udah besarin kamu, tahu!" Hati Amel semakin tercabik-cabik. Sudah dijambak, diomelin pula. Ditambah Susi mengungkit jasanya yang telah membesarkan Amel dulu. "Aku enggak pernah merasa, kalau Ibu pernah merawat aku! Ibu selalu menghukumku, ketika ayah kerja!" Amel ingin meludahi wajah ibu tirinya itu. "Berani kamu membantah, ah? Dasar anak kurang ajar!" umpat Susi. Saking kesalnya, dia mendorong Amel, hingga jatuh tersungkur ke lantai. Bawah mata Amel merah dan berkaca-kaca. Sementara Susi, semakin marah. Emosinya meledak-ledak. Susi menghampiri Amel. Dia mengangkat tangannya, siap untuk melayangkan pukulan. Namun, di waktu bersamaan, seseorang menangkap tangan Susi. "Berhenti! Sudah cukup, kamu membuat calon istriku menderita!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN