POV Aldo. "Jangan!" "Jangan sentuh Dina!" "Dina mohon, Om." Rintihan pilu seperti ini keluar dari mulut gadis yang baru beberapa jam yang lalu aku nikahi, walau matanya terpejam sempurna. Raganya terlelap tetapi jiwanya meronta, jelas sekali ada luka menganga di sana. Mama bilang aku salah karena telah memilih memasuki kehidupan rumit bocah ini, tapi sisi hatiku berkata ini harus kulakukan. Entah mengapa melihat airmatanya berlinang begitu menyakitkan, rasa tidak rela melihat wajah cantiknya terbingkai nestapa. Namun malam ini aku tahu, lukanya jauh lebih dalam dari yang terlihat. Bebannya jauh lebih berat dari yang semua orang ketahui, hingga menumbuhkan lebih banyak kekaguman dalam hati karena selama ini dia sendiri. Tidak tertutup kemungkinan orang lain tidak akan sekuat di

