“Maa, Maaaaaa, Maaa . . . Aku punya tebak – tebakkan.” Troy menggoyangkan tangan Daya, meminta perhatiannya. Daya yang sedang melipat pakaian untuk membantu bu Desi menyetrika, menghentikan kegiatannya untuk mendengarkan Troy. “Apa Nak?” “Kenapaa, eengg kenapa sepeda banyak yang suka hayooo?” Daya meletakkan jari telunjuknya di dagu, pura – pura berpikir keras. Troy menunggu dengan wajah kesenangan, berharap Daya tidak bisa menjawabnya. “Uhmmm, karena naik sepeda menyenangkan.” Jawab Daya. Troy tergelak senang dan berkata, “salah!” Daya mengerutkan kening. “Lho, jadi kenapa?” “Kaa—renaaaaa, sepeda itu bike (dibaca baik – red).” Spontan Daya tertawa dan memegang kedua sisi wajah Troy hingga menciumi kepalanya dengan gemas. “Kok cerdas banget sih, siapa sih yang ngajarin hm?” Goda

