Pagi mulai turun dan sisa – sisa hujan dini hari masih membasahi pepohonan juga jalan. Hawa dingin pasca hujan berhembus menusuk tulang orang – orang yang berlalu lalang tanpa meninggalkan jaket mereka. Membuat siapapun yang masih bergelung dalam selimut, enggan beranjak. Tak terkecuali Daya, yang berada dalam pelukan hangat Ezra dan belitan kaki pria itu yang memenjarakan kedua kakinya agar tak bergerak. Meski ia sudah terjaga sejak tadi, Daya masih enggan keluar dari kehangatan tangan Ezra yang merangkulnya erat di atas kasur kecil dalam kamarnya yang tidak seberapa luas. Sesekali, diusapnya lengan kokoh nan liat itu dengan lembut. Ezra bergumam, menikmati sentuhan Daya pada lengannya yang membuat nyaman. Setelah semalam Daya menangisi sikap Ezra yang mengabaikannya sebab kedatangan

