4. Wedding Agreement

1158 Kata
Makan malam kedua orang penting itu sepertinya berlangsung lancar. Satu pihak adalah calon presiden yang akan datang. Satu lagi adalah pengusaha kondang. Keduanya seolah bersinergi demi tujuan yang sama. Sementara para istri juga sibuk menyimak sambil terus tersenyum. Sesekali menimpali. Arin hanya memandangi mereka sampai tidak menghabiskan makanannya. Sungguh memuakkan sehingga selera makannya hilang. Senyum-senyum penuh kepalsuan yang selalu Arin lihat sejak kecil. Kemudian tanpa sengaja matanya menatap pria di ujung sana yang ternyata juga sedang memandangnya. Arin segera memalingkan wajah. Ia menenggak minumnya demi meloloskan diri dari pria itu. Kenapa pula dia menatapnya? “Jadi, bagaimana? Bukankah lebih baik kita segera atur jadwal pernikahan?” tanya Pak Adi memastikan. “Apa mereka nggak perlu saling mengenal dulu?” Calon ibu negara itu memberikan pertimbangan lain. “Untuk apa? Kita sudah saling tau keluarga masing-masing sejak lama. Bukan begitu, Pak Fahri?” Pak Adi terkekeh. “Benar.” “Saya belum selesai masa iddah.” Arin berucap sambil menekuri lantai saat semua tatapan mengarah padanya. Kemudian ia mendongak perlahan. Menatap yang lain. “Gimana kalau saya punya anak dari pernikahan sebelumnya?” Sejujurnya pertanyaan Arin adalah pertanyaan pasrah atas hidupnya yang terus diatur. “Kita harus membesarkannya.” Ucapan singkat dan dingin dari Bhumi itu menjadikan suasana hening begitu saja. Pria itu tampak santai dan tenang seolah tak ada sesuatu besar yang terjadi. Arin bahkan tak habis pikir dan menghela napasnya kasar sambil memijat kening yang berdenyut. “Betul. Kita besarkan sama-sama menjadi penerus yang hebat!” seru Pak Fahri selaku Ayah Arin yang disetujui oleh kedua belah pihak orang tua tersebut. “Bisa saya bicara berdua sama Mas Bhumi? tanya Arin dengan wajah dinginnya. “Silakan. Kalian harus banyak ngobrol,” kekeh Pak Adi. Arin menatap sekilas sosok Bhumi yang berada di ujung meja, lalu berdiri dan keluar begitu saja. Namun pria tampan nan gagah itu pun seolah mengerti interupsinya sehingga ia mengekori Arin dan berakhir di sebuah taman sepi restoran tersebut. Angin malam menyambut keduanya dengan lembut di antara dahan dan ranting pepohonan, melambaikan rambut panjang Arin dalam gaya half up, half down. Namun agaknya suasana menenangkan malam itu tak setenang keadaan keduanya. “Kenapa tiba-tiba mau nikahin aku setelah nyerang di pemakaman suamiku?” Lalu Arin berdecih menatap udara kosong. “Kamu pikir aku nikahin kamu karena mau?” Bhumi menenggerkan kedua tangan di saku. “Aku rasa kita sama-sama nggak menginginkan ini?” Arin pun menoleh, mendongak, menatap Bhumi yang jauh lebih tinggi darinya, sehingga ia bisa melihat wajah pria yang selalu tegas dan kaku itu dengan jelas. Bhumi menarik napas dalam-dalam, lalu mengeluatkan ponsel dari saku jas. Ia memberikannya pada Arin. “Tulis nomor kamu di sini.” “Buat apa?” Arin berdecih. “Apa yang mau kamu rencanain?” “Tulis nomor kamu dulu!” Bhumi memberikan interupsi lewat gerakan alisnya. Dengan ketus, Arin meraih kasar ponsel tersebut dari tangan Bhumi. Ia menuliskan nomornya di sana. Lantas pria itu meninggakan Arin di tempat sehingga perempuan tersebut menertawai situasi yang semakin kacau. “Dia pergi gitu aja?” Arin berkacak pinggang. “Orang-orang di sekitar gue emang nggak ada yang waras. Gue pun juga udah gila.” “Nggak masuk?” Suara yang terdengar agak jauh itu pun membuat Arin menoleh. Ia menemukan Bhumi berada di depan serambi, menantinya untuk masuk bersama. Ya, tentu saja bukan untuk sepenuhnya menunggu Arin, tapi Bhumi baru ingat jika mereka tengah berada di antara makan malam keluarga. ^^^ Selanjutnya, Oddy Suteja selaku terdakwa pembunuhan pemagang Indo Media TV telah resmi bebas setelah 10 tahun mendekam di penjara. Seorang perempuan dengan setelan ja situ tampak rapi menghadap kamera saat mengabarkan berita terkini dalam sebuah liputan. Dan di belakang layar, ada banyak sekali staf—salah satunya Bhumi yang sedang berdiskusi dengan beberapa staf lain. “Berdasarkan hasil penyelidikan polisi dan juga kontribusi kiriminolog, mereka nggak menemukan adanya tanda-tanda aneh dalam kejadian di Puncak sebulan lalu. Tapi nanti malam, Pak Bhumi bisa briefing bareng Pak Rendra sebelum liputan Crimevestigation pekan depan.” Selama staf tersebut bertukas, Bhumi hanya mengangguk-angguk kecil sambil tenggelam dalam pikirannya. “Pak Bhumi?” Staf tersebut memastikan. “Jadi, murni kecelakaan?” Bhumi memsatikan. “Iya. Tapi, emangnya kenapa Pak Bhumi mikir ke arah yang lain?” Bhumi menghempaskan napasnya. Menepuk bahu staf tersebut. “Makasih. Nanti saya tetap di sini untuk briefing.” ^^^ Semua yang bekerja bersama Arin pun menanyakan alasan aktris tersebut memilih untuk absen dalam waktu lama, tapi ia tak memberi jawaban pasti dan menutup komunikasi. Arin hanya menyendiri di kamarnya—seolah tak lagi punya harapan. Hidupnya bagai anjing Pavlov—lingkungan yang mencekam selaku reflek kondisional. Sudah hampir dua bulan sejak kepergian Iko. Arin hanya mengikuti ke mana ibunya akan membawa ia pergi. Kali ini dijadwalkan melakukan fitting baju bersama calon mempelai pria setelah Arin mendapat pesan dari Bhumi. “Selamat sore, Pak Bhumi,” sapa staf dengan ramah yang disambut senyum tipisnya yang nyaris tak tampak. “Mari, masuk! Calon pengantin bapak ada di dalam.” Bhumi yang masih rapi dalam balutan setelan jas selepas kerja itu pun menurut. Bahkan ia menenteng sebuah map. Pun saat masuk, sebuah cahaya seolah menyilaukan pandangannya hingga ia menyipit—rupanya cahaya tersebut datang dari kilau sosok Arin dalam balutan gaun pengantin bergaya vintage. Sederhana, namun terlihat mewah. Arin sama sekali tak menyunggingkan senyum, tapi Bhumi bisa melihat aura pengantin yang nyata dalam diri perempuan itu. “Gimana, Pak? Cantik banget, kan?” Staf sedang mencairkan suasana. “Uhmm… bisa tinggal kami berdua sebentar?” pinta Bhumi yang dituruti oleh para staf sehingga hanya ada keduanya di dalam ruang ganti tersebut. Saling bertatapan dingin. “Baca dan tanda tangani ini!” Bhumi menyerahkan satu map beserta pena pada Arin. “Hanya untuk kita berdua.” Perempuan itu hanya terdiam dan membuka benda tersebut. Terdapat sebuah lembaran kertas terkait perjanjian pernikahan. Ia membacanya dengan seksama. 1. Tak ada niat dalam pernikahan ini sehingga mempelai pria dan wanita tidak perlu saling peduli dan mengurus urusan masing-masing. 2. Meski begitu, mempelai pria dan wanita harus tinggal satu rumah, tapi dengan kamar terpisah. 3. Apabila mempelai wanita hamil dari pernikahan sebelumnya, maka tetap bersama-sama mengurus anak tersebut walau tetap harus melakukan tes DNA. 4. Pernikahan tidak dipublikasi sampai setahun sebelum pemilu. 5. Pernikahan terjadi selama tiga tahun, setidaknya sampai Adipati Sudaryanto terpilih menjadi presiden. 6. Tidak ada yang boleh tau perihal kontrak ini. Apabila ada yang melanggar, maka membayar denda 10 Milyar. “Pernikahan kita hanya di atas kertas. Jadi, saat kita berdua, anggap aja nggak ada yang pernah terjadi. Aku tau kamu punya tujuan yang sama.” Tak menjawab, tak protes, Arin hanya membubuhi tanda tangannya di atas materai. “Nggak ada yang harus ditanya, kan?” Bhumi memastikan. Arin mendongak. Menatap sinis. “Ngelihat kamu aja udah bikin muak, buat apa lama-lama sampai harus bertanya?” Arin memberikan benda tersebut ke dad4 Bhumi sembari mendorongnya dengan cukup bertenaga sampai pria itu terhuyung, lantas melenggang pergi meninggalkan sisa emosi di atmosfer.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN