5. Drama

1160 Kata
25 Agustus 2025—Akad nikah Bhumi dan Arin dilangsungkan di ballroom Hotel Indonesia Kempinski dengan dekorasi serba putih berbunga. Tampak sederhana namun cantik sekali walaupun tamu undangan hanya keluarga inti—bahkan ketiga kakak perempuan Bhumi tidak hadir di sana. Pernikahan diadakan secara private—semua dilakukan demi menjaga status Arin yang belum lama menyelesaikan masa iddah-nya agar tidak menimbulkan huru-hara di luar sana. Lagi, Arin dipastikan tidak sedang mengandung atas pernikahan sebelumnya. Pernikahan diadakan tanpa adat tertentu dengan mengusung tema vintage. Tampak Arin dengan penampilan sederhana namun tetap bersinar dengan gaya rambut simple bun nan manis dengan aksesori rambut. Ia duduk di sisi Bhumi dalam setelan jas yang gagah. Pria itu menyalami tangan Ayah Fahri, menyematkan akad yang membuat Arin sedang berusaha keras menahan gejolak. Matanya sudah dipenuhi cairan bening. Ia berusaha menahan agar tidak meleleh di hadapan banyak orang. “Sah?” Arin menggigit bibir bawahnya sekeras mungkin demi menahan diri dari perasaan buruk atas pernikahan yang tak pernah diinginkan ini. Lagi, ia masih mengingat dengan jelas—tak sampai setahun lalu, Iko lah yang menjabat tangan ayah. “Sah!” Luruh sudah air mata Arin sehingga ia berusaha keras menunduk demi menutupi betapa kacau dirinya saat ini dari hadapan banyak orang yang menyaksikan. Semua terasa seperti hidup di tengah mimpi buruk yang panjang. Di saat seluruhnya bahagia, kedua pengantin tersebut hanya tampak datar. Arin masih betah menunduk, sementara Bhumi tak tau harus bereaksi seperti apa. Ia pun secara reflek menoleh pada perempuan asing yang resmi menjadi istrinya. Arin diam-diam menyeka air mata saat keduanya hendak saling memasangkan cincin pernikahan satu sama lain. Tampak tangan Arin bergetar saat Bhumi hendak menyematkan benda tersebut di jari manisnya. Semua tak terkendali. Pemandangan itu sontak membuat Bhumi menggenggam tangan Arin. “Ah… penganten baru, biasalah. Malu-malu!” celoteh Mama Rani mencairkan suasana sambil sesekali memberikan tatapan mengintimidasi pada putrinya. Bhumi lantas meluruskan jari-jari Arin yang membuat perempuan itu sempat tersentak. Ia juga memberikan tatapan peringatan. Saat itu juga Arin merasa mendadak sakit kepala. Semua seolah mengintimdasinya dalam skenario ini. Ia pun berakhir pasrah saat Bhumi menyematkan cincin di jari manisnya yang lentik itu. Arin pun dengan berat hati melakukan hal serupa pada pria dingin di hadapannya itu. Bahkan saat mencium punggung tangan Bhumi, hati begitu sesak. Napasnya mendadak tersengal. “Mas Bhumi boleh cium kening…” “Nggak perlu.” Seketika seisi ruangan hening. Apalagi nadanya terdengar ketus. “M-maksud saya… biar jadi privasi kami,” sambung Bhumi. Bahkan saat sesi foto keluarga, hanya kedua pasang orang tua mereka yang begitu antusias. Kedua mempelai tampak hanya mengikuti ke mana arah mereka akan dibawa. Seperti biasa, Bhumi dengan wajah dinginnya yang cuek. Sedangkan Arin tampak pucat dan menyunggingkan senyum yang sangat tipis. Rasanya pedih sekali saat hati begitu hancur, tapi harus dipaksa menyenangkan keadaan. “Satu lagi!” pinta Ayah Bhumi. “Sesi fotonya cukup sampai di sini!” sergah Bhumi mengheningkan suasana. Semua mata tertuju padanya. “Kita lanjutkan di pernikahan publik lain waktu. Kami perlu istirahat.” Arin yang tampak kosong itu mendadak tergugah saat sebuah tangan menggenggam, masuk di celah jemarinya. “Ayo!” ajak Bhumi meninggalkan ballroom. Tangan keduanya terus bertautan sampai masuk ke dalam lift dan menghempaskannya secara kompak. Meskipun hanya ada mereka berdua di ruang sempit itu, Arin berdiri menjauh. Ia memalingkan wajah selagi Bhumi menekan tombol menuju kamar pengantin yang telah disiapkan. “Skenario apalagi yang kamu buat?” tanya Arin menatap dinding dingin lift yang memantulkan rupa Bhumi sekilas—keduanya masih mengenakan gaun pernikahan. “Jeda waktu sebelum beralih ke skenario lain yang masih panjang.” Pun Arin tak menyahut. Air matanya sudah leleh. Ia hanya bisa menahannya sampai dad4 terasa sangat ngilu dan pintu lift terbuka. Mereka diberikan sebuah kamar mewah yang langsung menghadap ‘monumen selamat datang’ yang berada di jantung kota Jakarta. Kamar deluxe berukuran lebar dengan ranjang berukuran king size yang dibatasi dinding dengan area living room mewah tanpa pintu. “Istirahat dulu di kamar, sana!” titah Bhumi. Tanpa berpikir panjang dan tidak peduli apapun, Arin segera melenggang menuju kamar sambil melepas hiasan di kepalanya dengan kasar. Sementara Bhumi melepas jas, menarik dasinya dengan keren. Melonggarkan kancing kemeja untuk melepaskan segala tekanan drama kehidupannya. Hentakan napasnya begitu membumi bersamaan dengan dirinya yang terduduk di atas sofa dalam keheningan. Kemudian suara-suara kecil mengusiknya. Bhumi melebarkan mata sambil memastikan sesuatu, hingga pada akhirnya memilih untuk keluar dari kamar hotel tersebut. Menutup pintunya pelan. Lantas bersandar di baliknya. Ia terkekeh. “Orang gila mana yang tega menjadikan anaknya umpan?” “Dia bahkan baru aja ditinggal suaminya,” lanjut Bhumi tak habis pikir. Bhumi meninggalkan Arin di kamar sendirian. Membiarkannya yang sedang menangis kecil itu agar bebas menumpahkan betapa hancur dirinya saat ini. Dan setelah sadar Bhumi keluar, Arin semakin tak terkendali. Ia menangis sampai gemetaran. Seluruh riasannya luntur. “Maafin aku, Mas Iko.” Kalimat itu terus berulang di antara pecah tangisnya. Arin memukul-mukul dad4-nya agar meredakan rasa sesak yang ternyata justru semakin mengikat. Semuanya kacau. Rasa bersalah, muak dan kesal. Semua berkemelut menjadi satu. Ia menjerit untuk melepaskan seluruhnya. ^^^ Bhumi meninggalkan hotel untuk membaca berkas sebelum rapat untuk judul baru yang akan dibahas dalam programnya di kantor. Ia juga masih mengenakan celana dan kemeja setelah akad. “Ini tambahan berkas yang Pak Bhumi minta.” Asisten produser itu memberikan sebuah map yang membahas kasus kriminal. “Saya sudah minta kerja sama dengan Polres Bandung.” “Makasih, ya. Tolong dijadwalkan untuk pertemuan sama pihak polres,” pinta Bhumi. “Ya, Pak.” “Kasus ini belum terungkap?” “Masih dalam penyelidikan.” “Jadi, ini kasus baru.” Bhumi membolak-balikkan kertas. “Seminggu yang lalu, pembakaran rusun. Dugaan sudah ada, tapi bukti belum lengkap.” “Uhm.” “Tapi, Pak… omong-omong soal Bandung… dia udah keluar.” Bhumi sempat menghentikan aktifitasnya. Lantas mengangguk mengerti dan mempersilakan staf-nya untuk meninggalkan ruangan selagi ia berkutat dalam pekerjaannya di tengah huru-hara drama pernikahannya. Kemudian ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal. Bhumi mengerutkan kening. Ia pun membukanya yang ternyata terdaoat sebuah gambar yang baru saja dikirim, menampilkan gedung Hotel Indonesia. Alis tebal Bhumi pun menyatu. From: +62xxx Kayanya ada sesuatu nih di sini. Bhumi memutar bola matanya jengah. Sebab, semua begitu rahasia. Tapi kenapa ada orang asing yang seolah-olah tau sesuatu?—belum sempat Bhumi memberikan jawaban, pesan yang baru kembali masuk dari nomor yang sama.. From: +62xxx Gue masuk, ah. “Sialan!” celetuknya. Bhumi segera meninggalkan pekerjaan. Berjalan cepat untuk kembali ke hotel pada malam itu. Entah mengapa perasaannya sangat tidak baik, ia gelisah. Dalam perjalanannya menuju basement tempat parkir, ia mencoba menghubungi istri kontraknya. “Kenapa dia nggak jawab?!” gerutu Bhumi kesal. Satu pandangan membuatnya terhenyak. Langkah cepat itu terhenti di tempat parkir, tepat di seberang mobilnya sendiri. Matanya tercekat. Alisnya berkerut saat menemukan mobilnya terdapat coretan bertuliskan: Long time no see, Bhumi. Mata tenang Bhumi beriak. Hanya satu hal yang ia pikirkan. “Arin?”—Bhumi berlari pergi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN