“B4jingan kaya lo nggak pantas ditutupi kaya gini.” Bhumi pada 10 tahun lalu dalam balutan seragam sebuah televisi swasta yang berada di tengah kerumunan depan polres sedang membabi-buta. Menarik masker yang menutupi sosok pria dalam balutan setelan serba oranye yang sedang digiring polisi.
“Lo pantas dipermalukan!” pekik Bhumi pada pria 20 tahunan yang sebelah matanya tertutup rambut. Sementara mata lainnya tampak tajam dan membara. Memberikan tatapan dendam pada Bhumi selaku wartawan.
Masih dalam balutan kemeja pernikahannya, Bhumi berkendara dengan kecepatan tinggi. Namun harus terhenti ketika menemukan kemacetan kota yang membuatnya frutrasi setelah ancaman yang membuatnya khawatir akan seseorang.
Tapi ia tidak mengemudikan mobil penuh cat itu. Ia membawa mobil milik sekertarisnya.
“Arin…?”
Saat berhasil sampai di kamar dengan napas yang tersengal, dorongan makanan lah pemandangan yang pertama ia temukan di living room. Dengan alis yang nyaris menyatu, ia bergeser, mendekat ke kamar sehingga napasnya berhembus lega.
Arin tengah terlelap di sudut ranjang, masih dengan gaun pernikahan mereka.
Bhumi memundurkan rambutnya. Ya, orang asing tidak semudah itu masuk ke dalam hotel elit ini, apalagi sampai menyusup ke kamar. Namun, siapapun dapat melakukannya apabila didasari oleh dendam. Dan kekhawatiran juga dapat mengusik siapa saja tanpa mengedepankan logika.
Bhumi juga mengingat bahwa dirinya sempat mengubungi Arin bahwa petugas akan datang untuk mengantar makanan yang Bhumi sendiri perintahkan sebelum adanya teror.
Hanya helaan napas yang bertenaga yang selalu memenuhi atmosfer ruangan. Bhumi berbaring di sofa untuk menetralisir pikiran yang kacau bersamaan dengan ponselnya yang berdenting.
From: +62xxx
Lo takut? Berarti emang ada sesuatu di hotel itu.
Bhumi tak berbicara. Ia hanya memandangi ponselnya dengan tatapan dingin. Seperti sedang berpikir begitu dalam, namun tidak dapat terbaca.
Pria itu memilih untuk mengabaikannya. Meletakkan ponsel ke atas meja. Ia menutup kedua mata dengan satu lengannya sampai tidak terasa jika terlelap begitu dalam selepas apa yang menimpanya. Sungguh drama.
Kemudian satu jam berlalu begitu saja dan Bhumi terperanjat.
“O-oh?!”
Saat matanya terbuka ia sangat terkejut menemukan sosok perempuan berambut panjang dengan riasan luntur dan gaun putih di hadapannya.
“Aku nggak boleh minum juga di kontrak pernikahan kita?” tanya Arin sinis.
Bhumi segera bangkit. “B-bukan…”
Arin yang sedang duduk di depan mini bar itu menenggak air mineral dengan lahap. Ia seolah nyaris dehidrasi setelah menangis seharian.
“Trus gue kaya setan?” lanjut Arin.
“D-dikit.”
Arin terkekeh. “Mungkin emang gue setan di kehidupan lo. Tapi jangan lupa kalau lo juga setan di kehidupan gue.”
“Mau ke mana?” seru Bhumi saat Arin melenggang. “Makan dulu. Seenggaknya snack ini.” Ia menunjuk troli makanan.
Arin berdecih. “Buat apa peduli? Gue mati atau enggak… lo juga nggak ada urusannya di situ. Bukannya itu isi perjanjian pernikahan kita?” Ia memastikan. “Definisi urus kehidupan masing-masing.”
“Gue manusia!” pekik Bhumi. “Gue juga punya hati!”
“Syukur, deh, kalau masih manusia,” tutup Arin masuk ke dalam kamar.
“Wah!” Bhumi sampai berdiri berkacak pinggang. “Dia lebih kurangajar dari image-nya. Nggak tau apa gue udah lari ke sini.”
“Aissh!” Bhumi berdecak kesal.
Terus seperti itu. Arin selalu acuh dan Bhumi juga pada akhirnya menganggap Arin tidak ada. Mereka juga punya kamar terpisah di rumah Bhumi yang modern dan megah sekali di sebuah town house elit. Bahkan asisten rumah tangga hanya bekerja dari siang sampai sore, tidak ada yang tinggal demi menjaga kerahasiaan perjanjian pernikahan mereka.
^^^
From: Bella Manager
Arin… udah lama banget, nih. Are you okey? Lo nggak pernah balas pesan gue, apalagi telepon gue. Gue juga datang ke rumah lo, katanya lo nggak tinggal di sana lagi.
Arin dalam balutan dress coklat tua sepanjang lutut serta lengan puffy panjang itu kebetulan sedang memeriksa ponsel setelah seharian bekerja di Yayasan Peduli Indonesia selaku direktur.
Arin termenung membaca pesan tersebut. Napasnya diam-diam melena mengembus. Ia kemudian menatap pepohonan rimbun di sekeliling saat dirinya memang sedang beristirahat di bangku taman gedung yayasan yang dibinanya.
“Bahkan gue semakin nggak baik-baik aja,” ucap Arin meratapi alur hidupnya yang serupa pacuan adrenalin—semua terjadi begitu cepat.
Arin pun mengetik balasannya.
To: Bella Manager
Maaf, Bel. Apa ada yang baik setelah ditinggal suami? Tapi gue masih survive, kok. Maaf banget ngerepotin lo. Atau lo ngurus artis lain aja? Gue jadi nggak enak. Gara-gara gue, kerjaan lo juga jadi kehambat.
Arin membelalak saat ponselnya bordering. Bella meneleponnya. Mendadak Arin panik. Ia belum siap untuk memberikan alasan atau apapun terkait kondisinya yang sangat berantakan.
To: Bella Manager
Gue belum siap telepon. Maaf banget, Bel.
Tanpa perlu menunggu layar menghitam, ia sudah menerima pesan balasan.
From: Bella Manager
Alhamdulillah lo bales juga chat gue walaupun belum siap buat ngobrol banyak. Tapi lo harus tau, gue pure cuma nanya kabar. Soal kerjaan gampang, kok. Sekalipun gue kerja sama yang lain dulu, gue akan balik ke lo, Rin. Gue sesayang itu sama lo. Nggak banyak nemu artis sehangat lo, padahal lo juga bisa dibilang punya kuasa karena lo anak konglomerat. Kalau lo baik-baik aja, nikmati dulu hidup lo, sesekali kabari gue juga, ya.
“Aissh!” Arin menyeka air matanya yang meluncur tiba-tiba. “Kenapa nangis, sih? Aku udah berbulan-bulan nangis.”
Arin menahan diri untuk tidak berlarut terlalu dalam. Namun pada dasarnya, Arin memang perempuan berhati hangat dan lembut. Ia udah terharu dalam berbagai hal.
“Teh Arin!”
Perempuan itu segera menyeka air mata saat staf lain datang menghampiri.
“Nggak pulang?”
“Ah, saya mau ada rapat sebentar setelah ini. Duluan, ya, Bu.” Arin bangkit sambil tersenyum lebar sekali sampai tiada yang sadar jika air matanya baru saja leleh.
Dalam langkahnya, Arin termenung. “Pulang?”
Ya, sekarang ia merasa tak benar-benar punya tempat pulang. Jadi, ia begitu malas jika harus kembali ke rumah mewah dan merasakan dinginnya atmosfer di dalam sana.
Sedangkan dahulu, ia punya tempat pulang yang hangat—Ada Iko yang selalu membuatnya bersemangat untuk pulang. Bahkan sebelum ada Iko, sang kakak—Daniel adalah tempat pulang yang menyenangkan.
Jadi, dalam kontrak pernikahan yang mencekat, Arin kerap mengunjungi rumah kayunya di puncak walaupun harus melewati jalan di mana Iko berpulang.
Seperti pada sore ini, Arin kembali ke rumah kayunya yang tetap hangat walau Iko sudah tak lagi di sana. Meski begitu, Arin percaya bahwa Iko menyambutnya sehingga perempuan itu selalu merasa tenang saat kembali ke rumah kayu.
“Aroma…” Arin menarik napas. “Aroma yang aku rindukan.” Senyumnya terulas manis.
Arin mengelilingi setiap sudut penuh kenangan itu. Membayangkan kembali saat ia dan Iko masih bersama, menghabiskan akhir pekan di tempat ini.
Saat menengok dapur, terpercik kenangan saat Iko mengajarinya memasak atau membuat kue. Iko memang serba bisa yang dihadirkan untuk ketidaksempurnaan Arin. Perempuan itu seolah tidak bisa apa-apa. Arin banyak belajar dari Iko.
Air mata Arin memenuhi pelupuk saat membuka oven di dapur dengan iringan suara gemericik air terjun kecil di luar sana.
“Aku bahkan belum bisa bikin kue sendiri, tapi kamu udah pergi gitu aja.” Arin tersenyum pilu. Kemudian menatap seluruh ruangan itu. “Pokoknya rumah ini nggak boleh hancur karena satu-satunya tempat pulang untukku.”