“Selamat sore, Mas Bhumi!”
Hentakan napas yang cukup bertenaga itu memenuhi atmosfer ruangan kerja saat kedatangan seseorang berbalutkan setelan kemeja dan sepatu pantofel licin yang sangat berkilau. Pria itu menampilkan senyum konyol di hadapan Bhumi.
“Saya menggantikan Pak Hans sebagai kriminolog crimevestigation. Mohon kerja samanya, Pak Bhumi.”
Bhumi lebih sibuk dengan laptopnya sehingga dihadiahi tawa pria konyol itu.
“Yah… emang aneh kalau kita harus se-formal itu.” Ia menarik satu kursi di hadapannya. “Lo nggak suka gue gantiin Pak Hans? Beliau lagi dinas di Finland.”
“Uhm. Gue nggak suka.” Bhumi berucap seolah tanpa beban.
Pria di hadapannya itu pun hanya tertgelak penuh tawa seolah sudah tau sosok Bhumi seperti apa. Dan tentu saja itu terjadi. Sebab, kriminolog bernama Gildan itu adalah teman lama Bhumi.
“Lo mending urus kasus ini.” Bhumi menyerahkan sebuah dokumen tebal.
“Apa ini? Untuk bahan tayangan kita?” Gildan memerhatikan judul dokumen tersebut.
Kecelakaan Tunggal Puncak, Bogor
“Pokoknya pelajari aja itu.”
^^^
Hidup Arin semakin hilang arah. Belum kering air matanya, ia justru dipaksa untuk menikahi pria lain dalam masa berkabungnya, apalagi pria tersebut adalah sosok yang jauh di lubuk hatinya tersimpan dendam mendalam lantaran ucapannya di pemakaman mendiang Iko.
Sebelum kontrak pernikahan antara Arin dan Iko terjadi, Arin sempat mengalami dilema berat. Ia pun memilih untuk bermalam di rumah kayu. Meski sepi tanpa Iko, rasanya sangat menenangkan tinggal di sana. Ia seolah masih tersimpan aroma dan segala kenangan tentang Iko.
Bahkan seelah Arin kembali bekerja sebagai direktur yayasan, Arin masih sering datang ke rumah kayu selepas kerja.
Namun, pada suatu hari, mata Arin mengerjap. Ia segera memarkirkan mobilnya saat melihat keramaian bersama alat berat di depan rumah penuh kenangan tersebut. Arin panik.
“Ada apa ini?”
“Minggir, Neng!” seru pekerja yang lengkap dengan helm proyek.
“Ini kenapa?!” pekik Arin.
“Kita diminta untuk merubuhkan rumah ini.”
Pernyataan itu bagai petaka bagi Arin. Sempat tak bisa mencerna situasi, pada akhirnya Arin mencecar atas siapa yang memerintah.
“Ini rumah saya! Ini tanah saya!” Arin murka sambil berderai air mata.
“Tapi kami cuma diperintah…”
“Perlu bukti?” tantang perempuan berambut lurus panjang itu.
“Pak Bos telepon.” Staf lain memberikan ponsel kepada kepala proyek tersebut.
Sayangnya, Arin lebih dulu merebut benda tersebut. Yang semula marah dan dendam, kini wajahnya tampak tercengang saat berhasil mendengar suara dari seberang sana.
“Kalian sudah mulai bergerak?”
“A-Ayah?” Air mata Arin meleleh. Meluncur begitu lambat melewati pipinya.
“Bagus, kamu ada di sana.”
“Tapi kenapa?”
“Melenyapkan kenangan yang tak berguna untuk masa depan.”
“Ayah!” Arin memekik. Mungkin ini pertama kalinya ia bersuara lebih tinggi dari pada ayahnya sehingga pria tua di seberang sana tak kalah terkejut.
“Itu tanda kamu mencintai orang yang salah, Arin. Orang yang benar nggak akan mendidik kamu untuk meneriaki ayahnya.”
Arin mengusap wajahnya frustrasi. Ia sampai kehabisan kata-kata, hanya tangis tanpa suara.
“Kalau rumah itu terus ada, kapan kamu siap untuk melangkah? Hidupmu masih terus berjalan!”
“Tapi ayah nggak berhak melakukan ini! Arin dan Mas Iko yang…”
“Pilihannya cuma dua. Rumah kayu reot itu dirubuhkan atau menikah dengan Bhumi.”
Itulah alasan rumah kayu yang kini masih sering disinggahi Arin tetap berdiri kokoh meskipun harus menikahi pria yang tidak ia inginkan. Ralat, Arin bahkan belum ada niatan untuk menikah lagi.
Arin datang tapi tidak menginap seperti biasanya. Hanya menyendiri di sana. Sesekali ia membersihkan rumah tersebut. Sesekali ingin memasak telur, tapi gosong dana sin. Arin sungguh payah dalam kegiatan rumah tangga.
^^^
Bhumi memarkirkan mobil ke dalam garasi pintu otomatis kediaman mewahnya yang berbentuk seperti tumpukan kubus itu. Ia pun tertegun saat melihat mobil sang istri yang sudah terparikir pada malam tersebut yang justru membuatnya heran.
Sambil menenteng tas jinjing, ia membuka pintu pintar rumahnya tersebut dan hal pertama yang ia lakukan adalah meneguk air mineral dingin. Namun satu pandangan membuatnya terhenyak. Ia mendekati ke atas meja bar yang terdapat satu kantong plastik berisikan satu porsi macaroni schotel. Yang lebih mengagetkan lagi adanya sebuah catatan di sana.
Jangan lupa dipanasin dulu sebelum dimakan.
Bhumi mengerutkan kening. “Buat aku?”
Secara reflek, ia menoleh, menatap pintu kamar Arin yang sunyi. Rasanya agak aneh jika perempuan itu memberikan perhatian padanya. Sebab, selama hampir tiga minggu pernikahan, sama sekali tak pernah ada makanan di meja. Tak pernah makan bersama. Tak pernah ada kehangatan dalam rumah mewah itu.
Keduanya makan masing-masing di luar. Bahkan Arin sering tidak bermalam di rumah, berbeda dengan Bhumi yang selalu pulang.
Bhumi berdiri di depan pintu kamar Arin. Mempertimbangan untuk membukanya. Namun, akhirnya ia dengan lantang melakukan hal tersebut yang hanya disambut kesunyian dari kamar luas sang istri sehingga Bhumi tampak bingung.
“Ke mana lagi dia?”
Kemudian terdengar suara senandung yang membuat Bhumi semakin masuk ke dalam kamar tersebut. Sepertinya cukup penasaran. Bagaimana tidak? Ia tidak pernah mendengar suara manis Arin.
“Orang seperti apa Arin sebagai artis?”
“Mbak Arin ramah banget sama wartawan. Cuma kemarin waktu berduka, dia diam aja. Itu wajar. Tapi biasanya selalu nyapa dan senyum. Kata yang kerja bareng juga dia sopan banget walaupun ternyata dia anak konglomerat.”
“Cuma di depan kamera aja pasti.”
“Enggak, Pak. Dari refleknya aja baik dan lembut banget.”
Sebelum menikahinya, Bhumi sudah menanyakan tentang perempuan itu sebagai bentuk antisipasi dalam drama pernikahannya.
“Aaaa!”
Suara jeritan yang memekik itu mengejutkan Bhumi. Apalagi menemukan Arin dalam balutan sehelai handuk saja, serta rambut panjang yang dibungkus handuk pula.
Bhumi jadi mati gaya. Ia juga bingung harus bereaksi seperti apa, sehingga membuatnya gugup dan hanya berakhir berbalik badan.
“S-sorry!”
“Lo ngapain?!” pekik Arin.
“Maaf.” Bhumi pun melangkah dengan cepat keluar dari kamar istrinya sendiri.
Pria yang masih dalam balutan setelan jas itu hanya bisa bersandar di balik pintu sambil menetralkan pernapasannya yang sangat acak. Ia tidak menyangka jika Arin sedang dalam penampilan seperti itu. Tapi bukankah itu tidak masalah? Arin istrinya.
Cklek!
Bhumi mengerjap saat pintu di baliknya terbuka. Tampak tubuh Arin sudah tertutup kimono handuk beserta tatapan belatinya.
“Kamu udah melanggar kontrak kita,” ucap Arin tanpa nada. Datar sekali. “Buat apa masuk kamar orang? Hah?”
Bhumi menghela napasnya pelan. “Cuma pengen memastikan kalau ternyata kamu beneran di rumah. Biasanya kamu jarang tidur di rumah, kan?”
“Trus? Itu bukan urusan kamu, kan?” Arin terkekeh. “Kita nggak boleh saling peduli!”
Bhumi memicing. “Aku udah bilang. Aku cuma penasaran karena kamu tiba-tiba di rumah.”
“Jangan melewati batas!” tutup Arin memberikan penekanan.
“Kayanya kamu yang melewati batas duluan.”
Kalimat Bhumi membuat Arin mendadak mengerem langkah. Sempat tertegun, lantas perlahan menoleh pria songong di hadapannya.
“Buat apa macaroni schotel itu?” Bhumi menunjuk posisi meja bar dengan dagunya sehingga Arin turut menoleh.
Sial. Kenapa juga aku harus kasih itu ke dia?—begitulah Arin merutuki dirinya dalam hati.
“Aku beli itu pas lapar banget. Tapi, ternyata… satu aja cukup,” jawab Arin dengan nada-nada yang terdengar agak canggung. “Bukan melanggar batas. Tapi nggak mau mubahadzir aja,” tutupnya segera masuk ke dalam kamar, meninggalkan Bhumi yang tertawa tipis sekali.