Pada pernikahan normal, setiap pagi pasti penuh kehangatan. Suami-istri duduk di meja makan untuk melakukan sarapan pagi bersama. Tapi, Arin dan Bhumi juga bukan suami-istri yang normal seperti pada umumnya.
Arin keluar kamar setelah rapi mengenakan vintage dress lengan pendek yang sedikit menggembung. Ia tampak anggun dan manis. Sedangkan Bhumi sudah gagah dengan setelan jas. Keduanya sama-sama hendak bersiap untuk bekerja tanpa menyapa satu sama lain.
Arin keluar rumah lebih dulu. Sedangkan Bhumi masih bertandang di dapur—setidaknya ia harus mengonsumsi buah dan air mineral di pagi hari. Pria itu pun hanya menatap punggung sang istri yang telah berlalu.
Hentakan napasnya memenuhi atmosfer. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Ia pun duduk sejenak untuk menikmati buah pisang.
Rasanya Arin dan Bhumi bukanlah suami istri, melainkan dua orang yang sedang nge-kos. Mereka bak tinggal di satu rumah berbagi, yang hanya saling berbicara jika diperlukan. Sisanya, keduanya bagai orang asing.
^^^
“Dihabisin, ya, Nak!” meski wajah Arin tak seterang biasanya, senyum lembut itu tetap menghangatkan bagi anak-anak yayasan saat perempuan itu turut serta membagikan makan siang di tengah istirahat sekolah.
“Baik, Bunda. Thank you.”
“Bunda Arin… so happy to see you again!” sapa seorang anak remaja lelaki itu saat menengadahkan piringnya.
“Kamu kangen sama Bunda?” tanya Arin sambil membagikan lauk.
“Banget.”
“Makan yang banyak dan belajar yang semangat, ya!”
Lembut kata-kata Arin selaku direktur yayasan seperti sebuah dekapan hangat. Ia tak hanya bekerja di balik meja, tapi selalu terjun menemui anak-anak yang membuat hidupnya semakin berwarna.
“Arin…”
“Ya?” Ia menoleh pada Bu Khansa yang berada di sisinya, ia merupakan kepala sekolah yang tadinya sedang menyapa anak-anak di ruang makan.
“Kamu sudah ada yang punya lagi?” Bu Khansa menunjuk ke arah jari manis Arin.
Detik itu juga Arin sempat gugup. Ingin menyembunyikan tangannya, tapi itu terlalu canggung dan kaku. Jadi, ia memilih pasrah dan hanya tersenyum.
“Ini cincin biasa aja.” Meski rekat, ia tetap menjawab dengan ramah.
“Ah… kaya cincin nikah. Tapi, sekarang emang banyak modelnya, ya, cincin, tuh.”
Arin lagi-lagi hanya tersenyum sambil menelan pil pahit akan sebuah cincin yang enggan sekali ia pakai. Namun ada perjanjian di balik semua itu.
“Di mana cincin nikah kamu?”
“Apa aku harus pakai?”
“Meskipun nggak tertulis di kontrak, tapi itu perlu sebagai lambang pernikahan kita. Apalagi kalau di hadapan orang tua.”
Menyendiri di taman selagi anak-anak sudah masuk jam sekolah memang pilihan terbaik. Arin merenungi banyak hal, termasuk ultimatum terkait cincin nikah. Lantas Arin menyesap es kopinya, lalu menatap benda yang melingkar dan berkilau di jari manis.
“Selama ini gue pasti hidup di dalam mimpi buruk,” ujar Arin memejamkan mata.
“Arin!”
Perempuan berambut panjang tak berponi itu pun mengerjap. Membelalak saat seorang perempuan manis pemilik kulit tan itu datang menghampiri dengan antusias.
“Apa ini?” Arin masih belum bisa mencerna situasi saat sang manajer menyambanginya. “Kok lo…”
“Suruh siapa lo nggak kasih gue kesempatan buat datang.” Bella menghempaskan napasnya sambil meletakkan barang-barang di bangku. “Tadinya gue pengen kasih ruang buat lo. Tapi seiring waktu, kayanya gue harus menerobos ruang itu.”
“Nih… soft cookies!” Bella memberikannya. “Lo suka banget kue.”
Arin tersenyum lembut. Ia menjadi semakin bersinar. Ada keteduhan dan ketenangan yang terpancar dari kerliangan matanya, meskipun ia jadi teringat akan Iko yang suka sekali membuat kue atau camilan manis lainnya.
“Thank you.”
Bella menatap pepohonan rindang di gedung yayasan yang menyatu dengan sekolah SD dan SMP yang tampak seperti bukan di Jakarta. Sejuk dan menenangkan.
“Gue datang ke sini bukan sebagai manajer lo. Tapi sebagai Bella, temen lo.” Ia menatap manis Arin yang dihadiahi senyum hangatnya. “Yah, walaupun gue nggak tau lo nganggap gue apaan.”
“Temen. Lo temen gue,” ujar Arin sambil menyeka sudut bibirnya—sungguh ia bak putri kerajaan yang sangat anggun dan rapi di setiap tindakannya.
“Temen apanya? Lo bahkan nggak bersikap seperti teman ke gue.” Pernyataan Bella membuat Arin terperangah. “Kalau lo anggap gue temen, lo harusnya datang. Bel, gue kesulitan. Bel, bantuin gue. Bel, gue nggak bisa. Bel, gue nggak mau. Bel, temenin gue.”
Mata Arin bergetar mendengar penuturan Bella yang terdengar tulus dan seolah dapat membaca ke dalam dirinya dengan sangat tepat.
“Awalnya, gue kira lo emang nggak demen temenan ama orang yang beda kasta. Tapi ternyata, lo emang terlalu tenggelam dalam diri lo sendiri,” lanjut Bella.
“Lo tau banget gue.” Arin lagi-lagi hanya mengulas senyum.
“Udah gue bilang, kan, gue ini temen lo.” Bella pun menarik napasnya dalam-dalam, menghempaskannya perlahan. “Yah… ngeliat lo semakin kurus, gue nggak akan memaksa apapun. Jadi, lo jangan nggak enakan sama gue soal kerjaan.”
“Gue mau berhenti.”
“Apa?!” sentak Bella. “B-berhenti apa? Jangan bilang lo berhenti jadi…”
“Gue mau berhenti jadi artis.”
Bella sampai belum sempat mencerna situasi. “G-gue nggak maksa lo. Tapi bukannya lo harus berhenti. Dan ini bukan soal kerjaan aja, tapi… jadi aktris. Akting… itu passion lo, Rin!” Ia sampai tak habis pikir. “Maksud gue… buat bisa meraih ini semua, lo punya perjuangan yang panjang. Lo bahkan nggak diijinin jadi aktris, tapi lo menerobos itu semua.”
“Itu karena dorongan abang gue.”
“Tapi abang lo juga udah lama berpulang, kan? Dan lo bisa melakukannya sendiri. Apa karena Iko?”
Arin tak langsung menjawab. Ia tampak menekuri lantainya sambil terdiam beberapa waktu. Entah apa yang ada dalam benak.
“Iko…” Bella memejam sejenak. “Iko pasti bangga lo bisa bertahan. Iko nggak suka lo menyerah, Rin!”
“Gue nggak nyerah.” Arin menatap Bella. “Gue cuma mau kehidupan yang baru. Gue tetap di sini sama anak-anak. Tapi untuk kembali ke dunia entertain… rasanya nggak tau kapan gue harus siap.”
“Tolong dipikirin dulu!”
“Uhm?”
“Jangan asal ambil keputusn, Rin!” tegas Bella. “Pikirin gimana lo bisa berdiri sendiri tanpa nama orang tua lo sampai detik ini. Gimana lo sebagai lady doir Indonesia. Sebagai aktris eksklusif.”
Perempuan berambut panjang itu hanya terdiam. Ia merasa sudah tidak ada lagi yang perlu dipikirkan. Tapi ia mencoba mengerti perasaan Bella dan berakhir mengangguk mengerti hingga sebuah ponsel bergetar.
Adipati Bhumi Kamayel.
“Hah?!” Arin segera meraih ponselnya bersamaan dengan Bella yang reflek menatap layar ponsel miliknya.
“G-gue…” Arin memberikan isyarat dengan tangannya bahwa ia harus menjawab panggilan tersebut yang dihadiahi anggukan Bella.
Arin pun menepi di bawah pohon.
“Halo?”
“Jam setengah delapan malam di Li Feng Mandarin Oriental.”
“T-tunggu…” Arin menyergah lantaran Bhumi hendak menutup panggilan. “Apa ini?”
“Kamu pasti udah tau kalau itu restoran, kan? Buat apa nanya? Kamu ke restoran buat mandi?”
Arin menggigit bibir bawahnya sambil menahan diri ingin mengumpati suaminya yang berlidah tajam itu.
“Enggak. Nggak mau!” tutup Arin menyungut.
Hentakan napas perempuan itu membara. Rasanya ia berada di puncak emosi. Memang sejak awal, Arin tak hanya terpaksa menikahi Bhumi, tapi ia juga membencinya. Paras rupawan, bergelimang harta dan populer. Tapi semua itu tak berguna jika tak punya sopan santun.
“Apa Mama sama Papa nggak mikirin panjang perusahaan? Laki ini bener-bener nggak tau sopan-santun. Siapa lagi, kalau bukan dari didikan ortunya? Nggak jelas kaya gini kok disetujui untuk kerjasama.” Arin terus menggerutu sambil berjalan menghampiri Bella.
Ponselnya berulangkali bergetar, Bhumi terus meneleponnya. Tapi perempuan itu abai.