“Uhmm… gue denger, Oddy udah keluar.”
“Menurut lo, kenapa dia nggak ambil kesempatan remisi? Katanya di dalam dia berkelakukan baik.” Bhumi memastikan dari balik meja kerjanya.
“Yang gue tau, secara umum mereka mungkin malas. Nggak ada semangat hidup atau bisa jadi kaya pernyataan tegas Oddy setiap harinya kalau dia bukan pelakunya dan memilih untuk menjalani kehidupannya di penjara sampai waktu yang tepat dari pada harus mengakui kesalahan.”
“Tapi, kan, remisi nggak harus mengakui kesalahan?” terka Bhumi penasaran.
Gildan merenung lebih dalam berdasarkan kasus yang pernah ada sebelumnya. Meski tidak merasa salah, jika mendapat remisi, tentu saja akan diambil. Sebab, syarat remisi, salah satunya berkelakuan baik.
“Kemungkinan dia pasrah. Kaya yang gue bilang diawal,” imbuh Gildan. “Gue nggak menangani kasusnya. Tapi yang gue tau, psikologisnya nggak bagus.”
“Buka hp, lo!”
“Uhm?” kaget Gildan secara reflek merogoh saku jas untuk meraih ponsel. Ia pun menyelami apa yang dikirim oleh kawannya itu sambil sesekali menatapnya. “T-tunggu… ini…? Ini mobil lo? Mobil lo dicoret begini?”
Gildan mengerjap, masih berusaha memastikan asumsi. “Ulah O-Oddy?”
“Siapa lagi? Kejadian itu tepat beberapa hari setelah berita kebebasan dia.”
Gildan memiringkan kepala. “Dia balas dendam sama lo?”
“Apa lagi? Makanya itu jadi tugas lo buat menelusuri itu. Kalaupun balas dendam, kenapa baru sekarang sedangkan dia bisa ambil remisi dan segera balas dendam dari dulu?”
Gildan pun sedang merenung gambar mobil milik Bhumi yang dipenuhi oleh berbagai warna pilox bertuliskan: ‘Long Time No See, Bhumi!’, juga beberapa pesan ancaman.
“Trus… hotel ini… ada apa sama hotel ini. Lo lagi acara di sin…?”
Belum sempat Gildan menamatkan kalimat, Dudung selaku asisten Bhumi masuk ke dalam ruangan sehingga membuat canggung mereka.
“S-saya ganggu?” Dudung memastikan.
Bhumi menghempaskan napas pelan. “Apa?”
“Pak Handoyo bersedia jadi narasumber.” Dudung memberikan senyum terbaiknya yang cukup menjengkelkan.
“Ya, udah, sana pergi!”
“Pak Bhumi.”
Bhumi menoleh jengah. “Apa lagi?”
“Tanda tangan dulu, Pak.” Dudung memberikan sebuah laporan yang harus ditandatangani oleh atasannya itu sambil tersenyum manis sehingga Gildan pun turut tak tahan dengan sikapnya.
Bhumi dengan tenang membaca laporan tersebut, lantas memberikan tanda tangannya yang indah itu di sana. Namun, agaknya satu pandangan membuat Dudung membelalak. Ia terfokus pada sebuah benda yang melingkar di jari manis Bhumi.
“Pak?”
“Apa lagi?!” Kali ini Bhumi memekik. Ia benar-benar tidak punya lembaran kesabaran yang memadahi.
“E-ee… itu…” Dudung menunjuk jari manis. “Pak Bhumi sudah tunangan?”
Seketika pertanyaan itu membuat Bhumi tercekat dan Gildan ikut membelalak. Ia mendadak membeku. Sebab, sudah hampri satu bulan mengenakan benda itu, tapi tak ada satu pun yang sadar. Bhumi pun secara reflek menatap jemarinya.
“Siapa, Pak?” Dudung penasaran. Heboh sekali.
“Ada.”
Dudung bersorak-sorai.
“Serius, lo, Bhumi?” Gildan memastikan.
“Apa ini penting sampai kalian segitunya?!” sentak Bhumi.
“Penting banget. Kapan coba tau Pak Bhumi dekat sama cewek?”
“Lo nggak mau kasih tau gue?” Gildan menyerobot.
Pun Dudung menyenggol lengannya. Mereka saling menatap sinis. “Lo siapa?”
“Lo? Lo?!” Gildan terkekeh. “Beraninya ‘lo’? Gue ini udah lama banget jadi temen dia. Jangan kira karena gue baru gabung…”
Selagi keduanya berdebat, Bhumi menepi ke sudut ruangan untuk menjawab panggilan dari orang rumah sang ayah yang memintanya untuk pulang. Bahkan tanpa berpamitan, Bhumi meninggalkan ruangan. Membiarkan kedua orang itu berdebat di dalam ruangannya.
^^^
Saat sampai di ruang keluarga yang mewah, didominasi warna keemasan itu, Bhumi terhenyak saat seseorang yang menyambut bukanlah sang ayah, melainkan sang ibu, Anita—istri sang ayah.
Meski agak canggung, Bhumi merapikan pakaiannya sebelum duduk berhadapan dengan wanita berambut panjang yang sedang menikmati teh hangat tersebut.
“Ayah atau Ibu yang manggil saya?”
“Ayahmu. Buat apa aku panggil kamu.” Ibu Anita berdecih, membuat jengah. “Tapi dia mendadak ada rapat, jadi dia suruh aku buat bicara sama kamu.”
“Ada apa?”
“Mau teh atau kopi?” tawarnya dengan nada-nada elegan, namun terkesan bengis.
“Langsung bicara aja. Saya nggak punya banyak waktu,” elak Bhumi.
“Nanti malam ayahmu minta makan malam. Ajak istrimu juga. Kamu perlakukan dia dengan baik, kan?” Ibu Anita meletakkan cangkir ke atas meja. “Meskipun kalian tidak mungkin menerima pernikahan ini dengan baik, senggaknya perlakukan dia dengan baik.”
“Anak itu… dia terlahir dari keluarga penuh ambisi,” lanjut Ibu Anita. “Kamu juga harus hati-hati. Mereka adalah keluarga yang tidak pandang bulu apabila ada satu noda yang mengotori kehidupan mereka.”
Bhumi menukikkan satu senyum tipis yang licik. “Bukannya itu mirip Ibu sendiri?”
Ibu Anita tergelak. “Ya ampun. Kamu masih berpikir aku yang bun*h mamamu?”
Bhumi hanya terdiam, dingin, namun tatapannya mematikan.
“Terserah. Buktinya kamu udah puluhan tahun jadi jurnalis investigasi nggak penah, kan, menemukan apapun buktinya?” Wanita 58 tahun yang masih bersinar itu tertawa puas. “Gali aja terus. Aku yakin nggak akan ketemu, karena emang bukan aku.”
“Itu kecelakaan, Bhumi,” lanjut Ibu Anita menekankan.
“Saya pamit,” tutup pria itu begitu datar.
^^^
Arin mengemas barang setelah membubuhi tanda tangan untuk anggaran yayasan yang dikelolanya itu. Ia pun mengemas barang untuk pulang ke rumah. Ya, rumahnya hanya satu. Rumah kayu. Jadi, Arin bersemangat seolah Iko menyambutnya.
“Teh Arin!” Shafa, selaku asistennya di yayasan itu berlari masuk. Cukup panik.
“Kenapa?”
“Teh Arin ada janji atau mungkin ada kasus yang berkaitan sama teteh?”
Arin mengerutkan kening, perlahan membeku di tempat duduk. “Apa maksudnya?”
“Teteh tau host acara krimin…”
“Saudari Sandrinna?”
Arin tercekat. Matanya melebar. Dunianya seolah berhenti berputar saat lelaki gagah nan rupawan itu memasuki ruangan kerjanya seolah cahaya itu berada di sekelilingnya. Tapi bukan itu. Arin tak pernah menyangka jika pria itu ada di hadapannya. Selama menikah, sama sekali tidak pernah Bhumi mengunjungi kantornya di hadapan banyak orang.
“Sepertinya sibuk sekali. Telepon saya sampai diabaikan,” sambung Bhumi tersenyum tipis sambil mengangkat satu alis seolah sedang mengintimidasi dan mengalahkannya.
“O-ohh… kenapa masuk? Maksud saya, belum ada yang mempersilakan masuk,” ujar Arin terbata-bata. Canggung.
“Pintunya terbuka. Jadi, bukankah itu tanda bahwa saya boleh masuk?”
Arin menengok. Seketika menggigit bibir saat menyadari bahwa pintunya memang terbuka lebar lantaran Shafa lupa menutup.
“Teh Arin!” staf keamanan mendatangi karena panik pria asing memasuki ruangan bos.
“Nggak apa-apa. Kalian boleh pergi,” titah Arin.
“Kayanya kita yang harus pergi.”
Arin tak bisa berkata-kata, selain hanya bisa membelalak dan menahan dad4-nya yang sangat panas ingin meluapkan emosi.
^^^
“Masuk, sini!” perintah Bhumi saat Arin hendak memasuki mobilnya sendiri.
Sambil memutar bola mata jengah, Arin pun berjalan malas menuju mobil Bhumi. Sambil menahan kesal, perempuan itu pun tersandung batu hingga tersungkur. Semua terjadi begitu cepat, sehingga Bhumi juga terkejut.
“Akh!” rintihnya.
Bhumi menghempaskan napas. Ia mendekat. “Kenapa kamu ceroboh banget, sih?”
“Bantuin, kek!” pekik Arin.
“Cepet bangun sendiri!” Bhumi pun berlalu masuk ke dalam mobil selagi Arin berusaha keras untuk bangun sambil menggerutu.
Keduanya pun duduk berdampingan di mobil untuk pertama kalinya.
“Mau ke mana? Aku udah bilang aku nggak mau ikut dinner!” tegas Arin.
“Nggak ingat perjanjian kita? Ini berkaitan dengan keluarga, Arin!” Bhumi berusaha sabar. Menahan amarahnya yang terpendam sejak perempuan itu bersikap kasar saat telepon.
“Trus kita mau ke mana sekarang? Ini masih sore!”