10. The Worst Dinner

1143 Kata
“Nuhun, nya, kasep [Makasih, ya, ganteng.],” kata Aki setelah diantarkan oleh cucu kesayangannya menggunakan pick up berwarna biru tua. “Jangan lupa besok pagi jemput Aki lagi.” “Siap, atuh, Aki!” Pria muda yang tetap terlihat tampan walau dalam balutan kaus putih dan celana kolor itu begitu sumringah. Senyumnya tak pernah pada walau di akhir hari yang melelahkan setelah membawa daun-daun teh ke tempat pelayuan. “Aki…” “Ya?” Pria tua itu menghentikan aktivitas membuka pintu. “Rumah di depan sana…” Pemuda itu menunjukkan dengan dagunya. “Rumah siapa, sih? Kayanya bagus banget. Nyatu sama Puncak.” “Rumah kayu?” “Iya. Rumah kayu perpaduan desain trandisional dan modern. Bawahnya ada kaca gitu. Itu teh villa atau naon?” Aki terdiam sejenak. Menatap rumah tersebut. Walau jauh, tapi masih nampak gagah dan teduh. “Tapi kalau villa… keliatannya sepi amat,” lanjut sang cucu. “Aya nu boga [Ada yang punya].” “Saha? Sayang atuh kalau sepi banget. Mendingan dijual atau dibuat villa pasti rame pisan.” “Orangnya masih sering datang, kok. Dah, Aki mau masuk. Siap-siap ke masjid. Jangan lupa bersih-bersih trus sholat. Bentar lagi maghrib, Je.” “Iya, Ki. Ati-ati turunnya.” Jean, pria 28 tahun itu tak pernah sekalipun tampak memadamkan senyumnya. Ia memandangi sang kakek yang masih gagah dan sangat terluka apabila harus dituntun layaknya kakek pada umumnya itu dengan penuh ketulusan. ^^^ Arin dan Bhumi berakhir di sebuah butik mewah. Perempuan itu hanya mengekori sang suami dengan wajah masam. Ia benar-benar tak punya daya lagi untuk melakukan apapun. Hanya pasrah. “Kenapa nggak pulang aja, sih?” tanya Arin malas setelah Bhumi meminta beberapa pakaian. “Di rumah ada banyak baju.” “Biar habis ini kita langsung berangkat,” jawabnya datar, lalu duduk santai di sofa. “Apa?” kaget Arin. Ia bahkan sudah kehabisan energi, setidaknya mengisi daya sebentar saja. Tapi pria itu membuat keputusan sepihak. Lantas Arin berkacak pinggang. “Aku nggak ngerti jalan pikir kamu. Tiba-tiba merintah, tiba-tiba harus nurut.” Ia berdecak. “Lo kira gue babu?” “Sudah?” Alih-alih menanggapi sang istri, Bhumi justru fokus pada staf yang datang membawakan beberapa potong pakaian dalam sebuah gantungan dorong. “Wah!” Arin memanas. “Dasar b***t!” Ia terkekeh. “Emang. Kupingnya nggak pernah di-service. Mulutnya, kupingnya. Emang nggak ada yang beres!” “Ambil salah satu yang kamu mau!” titah Bhumi. Dengan amarah yang meletup-letup. Arin meraih asal salah satu dari gantungan tersebut secara kasar sambil melotot, memberikan tatapan mengintimidasi pada Bhumi yang hanya tenang, seolah tak terjadi apapun. “Aduh!” Suara decakan Arin membuat Bhumi akhirnya menoleh. Ia menemukan sang istri menatap sebuah dinding yang langsung dihampiri staf. “Dasar ceroboh!” celetuk Bhumi menatap Arin yang sudah masuk ke dalam bilik ganti. Sebab, ini bukan pertama kalinya Bhumi menemukan sang istri dengan kecerobohannya. Tadi, perempuan itu tersandung. Dan banyak hal lain yang Bhumi temukan saat di rumah. “Jadi, yang mau dicoba duluan yang mana, Kak?” tanya staf. Bhumi pun mengerjap dari lamunannya. “O-oh…” Matanya tampak memilih beberapa kemeja. “Yang ini aja.” ^^^ Bhumi pun kembali lebih cepat dengan kemeja biru muda dan celana cream serta sneaker putih. Tampak menyatu sekali dengan tubuh tinggi semampainya yang proporsional. Tema yang sangat cocok digunakan untuk makan malam. “Saya ambil yang ini aja,” kata Bhumi pada staf. Ia lantas duduk di atas sofa sambil menggulir ponsel. Tak lama, seorang putri dari negeri kerajaan Nirmala keluar dari kereta kuda. Secara reflek, Bhumi mendongak. Terpaku sepersekian detik saat Arin terbalut dress sepanjang di atas lutut berwarna hitam dan pink dengan pemanis pita di sisinya. Bhumi segera berkedip. Ia lantas memanggil staf. Tampak membisik sesuatu yang disambut dengan anggukannya dan segera pergi. “Apa lo liat-liat?!” tantang Arin pada suaminya. “Sama suami nggak boleh kaya gitu,” ungkapnya pelan tak bernada, tatapannya juga tak berarti apa-apa. “Suami apanya?!” Arin berdecak kesal, lalu duduk sembarang di samping Bhumi dengan bermandikan jarak. "Pernikahan itu nggak berlaku kalau lagi berdua!" “Kamu nggak mau cobain baju yang lain?” Bhumi seolah tak menanggapi racauan sang istri. “Gue mau pakai ini, nggak usah maksa!” Arin bersedekap. Kemudian staf datang memberikan sesuatu pada Bhumi selagi Arin membuka ponsel. Tiba-tiba perempuan itu terhenyak saat Bhumi bertekuk lutut di hadapannya. Ia sempat ingin mengumpat, namun mendadak terhenti saat memerhatikan pria itu sedang membuka obat merah. “Liat, lututmu!” Arin yang duduk di sofa itupun mendadak mengarahkan pandangan ke lututnya yang ternyata berdar4h akibat tersandung tadi. Lantas membeku saat sang suami mengoleskan obat merah tersebut. Bhumi melakukannya dengan telaten di balik wajah dingin, lalu menutup dengan plester. Sementara Arin juga hanya menurut. Membiarkan lukanya diobati. “Emangnya kamu balita?” “Balita?” “Ada beberapa bekas luka lain di sekitar lututmu.” “Nggak usah lihat-lihat!” protes Arin menjulurkan pakaiannya. Bhumi mendongak. “Ganti baju yang lebih panjang supaya nutupin itu luka.” Arin memutar bola matanya jengah, tapi karena itu ide yang bagus, jadi Arin menurut. Mengganti dress-nya dengan yang lebih panjang sebelum bertemu dengan mertuanya di acara makan malam pribadi. ^^^ Makanan khas Canton dengan sentuhan klasik namun mewah telah tersaji di hadapan Arin, Bhumi, Bu Anita dan Pak Adi di dalam ruangan pribadi restoran tersebut. Interior yang unik dengan memberikan sentuhan ornamen berbentuk ombak yang terbuat dari kaca dengan disusun seperti ombak di lautan, konsep ini terinspirasi dari sejarah perdagangan China dan Batavia yang di desain dalam bentuk gradasi warna pada setiap kristal kaca yang terdapat pada ornamen. Awalnya hanya ada keheningan, namun Pak Adi berusaha mencairkan suasana menyambut anak dan menantunya. “Ayo, kita makan sama-sama!” ajak Pak Adi mempersilakan lainnya agar tidak canggung. “Kita hanya berempat. Jadi, jangan terlalu formal, Arin.” Arin punya hanya tersenyum. Bhumi menghempaskan napasnya pelan. Mengusap mulutnya setelah menyeruput minum. “Ayah mau bicara apa?” “Cuma makan aja,” kekeh Ayah. “Lagian kalian ini anak ayah. Apa salahnya?” “Apa Bhumi memperlakukan kamu dengan baik, Arin?” Pertanyaan ibu menjadi pusat perhatian kedua lelaki di sana. Seolah ada sesuatu yang membuat mereka agaknya cukup tercengang. Arin tak langsung menjawab. Ia menekuri lantainya sejenak, sehingga sempat membuat situasi cukup tegang, terutama Bhumi yang sedang menatapnya harap-harap cemas. “Hey… Bhumi pasti bisa bertanggungjawab,” sela Ayah sambil tertawa. “Ya, kan, Bhumi?” Bhumi hanya menampilkan wajah datar. “Lagian mereka menikah sambil belajar mengenal satu sama lain. Seiring waktu, mereka nanti akan kasih kabar cucu.” Ayah tampak terlihat paling antusias dan heboh. “Betapa bagus kabar ini!” Arin membasahi bibir bawahnya sambil mengelak mentah-mentah ucapan ayah mertuanya itu dalam hati. Pun Arin secara reflek menoleh pada Bhumi yang ternyata juga sedang menatapnya. Sontak Arin segera membuang muka dengan menyesap minumnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN