11. Siapa Kamu?

1167 Kata
Embun pagi membercak di setiap dedaunan. Kabut menyelimuti langit Puncak, Bogor. Merdu suara kokok ayam menggema di seluruh sudut kampung. Matahari bahkan masih malu-malu menampakkan eksistensinya. Beberapa warga berbondong-bondong menuju masing-masing lokakarya. Saling menyapa saat berpapasan. Ada yang membawa motor untuk pergi berdang ke pasar. Ada pula yang bergerombol menuju kebun the dan perkebunan lainnya. Pim! Pim! “Mangga!” sapa Jean sambil mengemudikan pick-up biru kesayangan menuju kebun the bersama sang kakek. “Mangga, A!” Tebaran senyum itu begitu menyenangkan, menyambut pagi yang bahagia di atas ketinggian 1500 meter di atas permukaan laut. Pagi itu, Jean dan kakek hendak bersiap memetik daun teh di pagi buta. Sebab, pagi adalah waktu yang terbaik untuk melakukannya lantaran pagi hari adalah waktu terbaik di saat udara masih belum terkontaminasi demi menjaga kualitas daun teh, serta untuk mencegah daun teh membusuk. Biasanya dimulai sekitar pukul 5-9 pagi. Pria tampan nan manis pemilik kulit tan dengan tinggi semampai itu telah mengenakan pakaian perangnya. Kaos panjang yang dirangkap rompi parasut demi menembus dinginnya Puncak, serta topi lebar dan tentunya sepatu khusus. “Wilujeng enjing!” Jean menyapa seluruh buruh petani teh yang didominasi ibu-ibu itu. “Enjing, kasep! [pagi, ganteng!].” Ibu-ibu itu tak kalah hebohnya menyambut pemuda tersebut. “Mau, nggak?” Jean berbinar. “Singkong rebus?” “Sok, dimakan dulu sebelum mulai!” Jean dengan lahap menerima tawaran bekal dari salah satu petani tersebut, membuat petani tersebut tersanjung saat Jean menerimanya dengan baik, hingga mengacungkan ibu jari. Pemuda itu sangat menyenangkan, sehingga tak jarang ibu-ibu menggodanya sebagai mantu idaman—meski sadar diri jika tak setara lantaran pria 28 tahun bernama Jean Sulaiman itu bukan sembarang buruh tani, tapi dia adalah petani, tuan tanah. “Jean!” Hampir pemuda itu tersedak saat sang kakek mengintimidasi. “Bentar, Ki. Isi amunisi dulu!” serunya. “Seret banget lagi.” Ia menyentuh tenggorokan. Lantas segera menerima air mineral dari ibu-ibu lain yang hendak terjun ke kebun. Jean adalah pria yang manis, kecintaan banyak orang. ^^^ Semalam selepas makan malam, Arin dan Bhumi kembali ke rumah. Sesampainya di sana, Arin berbelok ke kiri menuju kamarnya tanpa mengucap sepatah kata. Sementara hal serupa juga dilakukan oleh Bhumi. Ia berbelok ke kanan. Mereka kembali ke kehidupan nyata sambil memikul beban di masing-masing bahu setelah sutradara pada akhirnya menghentikan drama pada malam tersebut. Hingga pagi datang, Bhumi sudah siap dengan kemeja dan menjinjing jas serta tas. Meletakkan ke atas sofa ruang tengah yang menjadi inti dari rumah tersebut sambil tidak bisa memungkiri jika ia melirik kamar sang istri yang sunyi sebelum akhirnya beralih ke mini bar untuk menyeduh teh. Bhumi juga tidak pernah sarapan. Tapi setidaknya ia selalu membuat sesuatu. Entah teh ataupun sekedar memakan buah. Sembari menunggu air mendidih, Bhumi kembali memerhatikan pintu kamar Arin yang sama sekali tak menunjukkan pergerakan, padahal jarum jam sudah menujukkan pukul delapan pagi. Bhumi menengok jam pintarnya untuk memastikan. Namun sebuah fakta lain membuatnya sedikit terhenyak. 25 September 2025. “Udah sebulan aja…” tuturnya bersamaan dengan suara ceret tanda air sudah mendidih. Bhumi segera meracik teh. Lantas menyeruputnya. Sesekali kening itu berkerut. Alis tebalnya nyaris menyatu. Sebab, ini sudah lebih dai jam delapan, tapi Arin tidak menampakkan diri. Meskipun keduanya tidak pernah saling berbicara, Bhumi seolah sudah mulai paham kapan sang istri berangkat kerja. Ia lantas meletakkan teh ke atas meja. Mencoba memastikan. Barangkali Arin kesiangan. Namun pergerakannya mendadak membeku di depan pintu kamar Arin. Mendadak ragu, apalagi saat ia pernah ketahuan masuk ke ruangan itu tanpa izin. Rasanya memalukan. Menjatuhkan harga dirinya atas kontrak yang mereka buat. “Nggak bisa.” Bhumi mengerjap. “Ini buat kebaikan dia juga.” Akhirnya, Bhumi membuka pintu dengan yakin. Namun matanya mendadak membelalak saat kamar sang istri begitu sepi, namun cukup tidak rapi. Bantal, guling dan selimut tampak berantakan. Beberapa baju ada di luar walking closet. Ya, memang seperti ini pemandangan kamar Arin—sama seperti saat Bhumi sengaja masuk ke sana beberapa waktu lalu. Meskipun ragu, Bhumi memasuki lebih dalam kamar itu. Dan berjaga-jaga saat melewati kamar mandi yang ternyata juga kosong. Bhumi terhenyak dan heran. Ia kemudian memasuki ruangan walking closet, juga tidak ada. “Ke mana lagi dia?” Ia bertanya-tanya—apalagi semalam keduanya pulang bersama pada pukul setengah sepuluh. Bhumi menghempaskan napasnya kasar. ^^^ Seorang perempuan yang rambut panjangnya dikepang dua itu sedang asyik sekali di dapur serba kayu yang pemandangannya begitu syahdu, langsung ke hamparan kebun dan pegunungan. Membuat suasana memasak begitu menyenangkan sembari bersenandung. Rupanya perempuan itu di sini. Di rumah kayu. Namun, ia tampak berbeda. Rambut panjang dengan dua sisi poni yang biasanya dibiarkan di samping, kini menutupi seluruh dahinya dengan gaya kepang dua. Tampak sangat menggemaskan. Lagi, pakaiannya yang biasanya terlihat dewasa dengan warna-warna netral, kini menjadi lebih berwarna. Baju kodok pendek serta kaos kuning menyala, seperti senyumnya saat ini. “Wah, jadi!” serunya saat suara oven telah berdenting tanda kue telah masak. Perempuan itu menghirup kuenya dalam-dalam. Merasakan aroma pisang yang menyengat. “Uhmm… kayanya enak banget,” celotehnya begitu antusias. “Mas Iko pasti bangga banget lihat aku bisa bikin bolu pisang.” ^^^ “Ada apa ini? Bukannya Pak Adi sibuk banget?” tanya Pak Fahri menaikkan satu alis dengan satu senyum tipis. Kekehan khas Ayah Bhumi pun membumi. Kedua ayah itu sedang saling berhadapan di sebuah ruangan kerja milik Pak Fahri yang sangat mewah dengan nuansa futuristic modern. “Semalam, saya ajak anak-menantu makan malam bersama,” kata Pak Adi meletakkan cangkir teh-nya ke atas meja. “Oya?” “Dipikir-pikir… mereka saling mengenal setelah menikah, walaupun saya sudah mengenal Arin sejak kecil. Jadi, saya pengen lihat perkembangan mereka,” tukas Pak Adi tampak sumringah. “Menurut Pak Adi, gimana mereka?” “Serasi,” jawabnya dihadiahi tawa. Pak Fahri tersenyum lebar. “Pokoknya, Pak Adi harus bekerja keras. Investasi yang saya gelontorkan nggak main-main, sampai anak satu-satuku juga jadi bagian dari masa depan kita.” “Jangan khawatir, Pak,” sahut Pak Adi santai. “Saya akan lakukan terbaik. Tapi, jangan lupa… Pak Fahri sendiri yang niat mau jodohkan Arin dengan Bhumi sejak dulu. Tapi kenyatannya, Pak Fahri tidak menepati janji.” Pak Fahri lantas terdiam. Ia menarik napasnya dalam-dalam. ^^^ Setelah mengantar daun teh ke ruang pelayuan teh di pabrik, Jean menghentikan laju si biru kesayangannya itu di depan rumah yang selalu menjadi perhatiannya. Ia memotret bangunan unik tersebut. “Wah… kalau dianggurin gini, mending buat gue,” gumamnya. “Apa gue beli aja, ya? Enak ini buat rumah masa tua.” Jean terkekeh dengan pemikiran acaknya. “Selfie dulu kali.” Jean memposisikan diri sebaik mungkin di depan kamera sambil mengarahkan dua jari. Ckrik. “Hah?!” Pemuda itu terhenyak saat mendapati seorang perempuan di hasil fotonya. “Berhantu?” Perlahan dan sangat hati-hati, ia pun menoleh untuk memastikan. Namun satu pandangan yang sangat dekat itu membuatnya berteriak, ponselnya nyaris tergelincir dari tangan. Perempuan mungil dengan rambut panjang kepang itu sedang menatapnya lekat-lekat dengan jarak yang sangat dekat. “S-siapa… kamu…?” tanya Jean gemetaran.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN