12. Misterius

1175 Kata
“Jadi, lo mau gue urus soal ancaman dari Oddy atau kasus kecelakaan puncak?” Gildan memprotes, karena ia seolah dilimpahkan banyak tugas dan desakan oleh kawannya. Bhumi sedang bersiap-siap untuk bertemu narasumber. Ia merapikan pakaiannya. “Dua-duanya.” “Aissh!” keluh Gildan. “Bawa aja ke polisi kalau gitu kasus Oddy!” “Lo yang bilang, kan, kalau hasil rekaman CCTV di basement nggak berhasil menangkap wajah orang yang coretin mobil gue? Lagi, lo juga yang bilang kalau nomer yang Oddy pakai juga nggak bisa kelacak.” “Bagus, itu biar jadi tugas polisi!” tegas Gildan. Bhumi mengenakan jas-nya. “Bilang aja kalau lo males!” “Woi!” Gildan membelalak. “Gimana nggak males? Lo nggak sabaran!” Ia memekik saat kawannya itu keluar begitu saja meninggalkannya. Gildan lantas hanya bisa berkacak pinggang sambil berdecak kesal atas kelakukan Bhumi yang memang suka semena-mena. “Wah…” Ia terkekeh. “Bhumi… dia emang Bhumi yang nggak pernah membumi.” Lantas menggeleng heran. ^^^ Menjelang siang, udara di Kampung Cikoneng tetap sejuk. Di sana kedamaian. Suara-suara merdu serangga yang tak pernah lepas itu menggema syahdu di antara nyiur angin yang melambai. Sinar matahari menghangatkan. “S-siapa… kamu…?” tanya Jean gemetaran. Lucunya, perempuan itu tak menjawab dan justru semakin merapatkan diri dan berjinjit sehingga Jean secara reflek memundurkan kepalanya, tapi ia tidak bisa melarikan diri. Seolah pergerakannya terkunci begitu saja. Dengan jantung yang bergemuruh, pria 28 tahun itu memastikan kaki perempuan berkepang dua tersebut. Oh, napak ternyata—agaknya ia sedikit bisa bernapas lega. Bug! “A-akh!” rintih Jean saat kakinya tiba-tiba ditendang oleh perempuan itu. “Apa-apaan, nih? A… aduh.” Ia mengangkat satu kaki. “Emangnya aku setan?” “Ya, makanya lo siapa?” Jean masih penasaran. “Lo yang punya nih rumah?” “Iya. Kenapa?” “Akh…” Jean masih kesakitan. “Kenapa harus nendang, sih? Gue pernah cedera di sini, tau!” rengeknya. Perempuan kepang dua itu terbelalak. “S-serius?” “Ngapain juga gue drama?!” “Y-yaudah.” Setelah sempat bingung, pada akhirnya perempuan tersebut merangkul Jean, menuntunnya ke serambi rumah kayu nan teduh itu karena merasa bersalah. Ia juga menuntun Jean untuk duduk di atas kursi panjang. Meluruskan kakinya yang disambut rengekan pria itu kesakitan. Perempuan tersebut pun berusaha perlahan-lahan. “Gue udah coba buat hati-hati dalam segala hal, eh, lo malah asal tendang aja. Emangnya lo pemain bola?!” protesnya. “Maaf… maafin gue.” Perempuan menggemaskan itu hanya bisa tertunduk dan bingung. “Trus diapain? Dikompres?” Jean menghempaskan napasnya pelan. Ia memandang langit biru. “Udah, lah. Biarin aja. Yang ada malah mengorek luka lama.” “Uhm?” Jean menoleh. “Nggak usah kepo!” Perempuan itu pun mengangguk. Lalu duduk di sofa yang tepat berada di sisinya. Ia melihat Jean sedang memejam, seolah sedang menikmati momennya. Sepertinya sangat nyaman bersantai di serambi rumah kayu tersebut. “Enak, ya, di sini?” tanya perempuan itu antusias, terus menatapnya, memperhatikannya sambil menunjukkan rasa bangga. Senyum di wajah pria itu terukir begitu teduh, menikmati setiap tarikan napasnya. Pun perempuan itu terus menatapnya hingga menjulurkan tangannya, “Aku, Hazel!” Jean membuka mata sambil menyipit. Kemudian menatap tangan bersinar perempuan pemilik senyum ceria yang menyenangkan. Secerah hari itu. Karena Jean masih terpaku dan tak segera membalasnya, Hazel menarik tangannya. Menggenggam erat. “Kamu siapa?” “J-Jean,” jawabnya masih belum mencerna situasi. Hazel reflek memukul lengan pria itu. “Kok bengong?” “Akh…” Jean merintih sehingga membuat Hazel panik lagi. “Sakit juga?” “Enggak! Kaget aja.” Jean menahan lengannya. “Isssh!” Hazel menendang sembarang benda di hadapannya. Jean terkekeh, lalu bersandar lagi dengan tenang di kursi panjang yang nyaman itu. “Kamu yang punya rumah ini?” “Iya.” “Disewain?” “Kenapa?” Sambil berbaring, Jean menoleh. “Mau aku sewa buat terapi penyembuh kakiku.” Hazel mendelik bingung. “Emangnya bisa?” “Sedikit. Jadi, boleh disewa, nggak?” “Enggak, lah. Aku tinggal di mana?” Jean terbangun. Ia mengais hipotesa rumah yang baginya selalu sunyi. Namun, setelah diperhatikan, rumah ini tampak lebih rapi dari sebelumnya saat ia selalu lewat. “Kamu umur berapa?” tanya Jean. “25.” “Bocil, dong!” “Emang kenapa?” “Berarti ini rumah orang tua lo, dong?” Jean menerawang ke segala arah. “Enggak. Punya aku, kok.” Hazel menjawab dengan nada-nada manja seperti anak kecil yang lucu sehingga membuat Jean menahan senyum sekaligus tak terbiasa. “Berarti lo pewaris.” Hazel tertegun sejenak. “M-mungkin?” Jean menaikkan satu alis. “Kok mungkin? Tadinya nggak tinggal di sini?” “Kamu siapa? Kok nanyanya jauh amat.” “Dih!” Jean mendelik. Ia lantas bangkit. “Trus lo kerja di mana kalau tinggal di sini. Lo kerja sekitar sini?” Alih-alih langsung menjawab, Hazel tampak bingung sendiri sambil menggaruk kepalanya sehingga membuat Jean ikut bingung sekaligus penasaran. “Ajak aku kerja, dong!” Hazel menarik kaos pria itu. Jean membelalak. Wajah tampannya tampak konyol sekaligus bergidik ngeri sambil membeku. “L-lo apaan, sih, sebenernya?” ^^^ “Dibalik setiap angka dan fakta, ada kisah nyata yang menanti kebenaran. Demikian crimevestigation malam hari ini, saya Bhumi Kamayel, terima kasih atas perhatian anda. Sampai jumpa pekan depan,” tutup Bhumi dengan tegas, namun tetap bernada. Suaranya begitu sopan membisik di seluruh telinga para penonton. “Okey!” seru director. Setelah berpamitan dengan narasumber, Bhumi lantas membuka berbagai peralatan yang berada di sekitar tubuhnya dibantu dengan staf yang segera menghampiri. “Dudung, mana?” “Di sini, Pak!” Dudung berlari melewati kerumunan staf selepas siaran. “Ini, HP sama tas-nya.” “Makasih.” Bhumi lantas menunduk sekilas pada seluruh staf. Ia berpamitan pergi dengan wajah datarnya yang sudah tidak lagi dipertanyakan oleh seluruh rekan kerjanya, seolah sudah biasa. Setelah seharian bekerja, Bhumi yang rencananya ingin melanjutkan pekerjaan lain pun memutuskan untuk menunda lantaran fokusnya terpecah dan langsung menuju basement sambil mengarahkan ponsel ke telinga. “Kenapa dia nggak jawab?” Bhumi menghempaskan napas yang cukup bertenaga. Menjauhkan ponsel dari telinga. Menatap layar bertuliskan satu nama kontak, ‘Stranger’. Tak hanya sekali Bhumi mencoba menghubungi sang istri. Sudah ia coba sejak siang, namun tetap tidak ada jawaban dan chat-nya juga hanya centang satu. Dan itu semakin membuat pria itu penasaran. Normalnya, meskipun Arin jarang menjawab—begitu juga sebaliknya, setidaknya dalam chat, masih tampak dua centang. Pun sebenarnya Bhumi sering penasaran setiap Arin pergi dari rumah. Tapi ia tak mau peduli. Tapi kali ini kepergiannya cukup aneh. Pergi dari tengah malam begitu saja. Bhumi segera masuk mobil sedan mewahnya untuk menuju ke rumah. Namun saat keluar belokan kawasan kantor, sebuah motor menghadangnya sehingga ia harus mengerem mendadak. Ia pun tercengang, apalagi pikiran sedang bercabang. Seketika ia turun mobil untuk memastikan sosok di balik helm dan pakaian serba hitam tersebut. “Oddy?” Sosok misterius itu hanya melambaikan tangan dan segera menungganggi lagi kuda besinya, sehingga Bhumi semakin dibuat terbelalak. “Mau ke mana lo?!” pekik Bhumi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN