Suara napas tersengal itu begitu menyeruak ke seluruh ruangan saat Bhumi baru saja memasuki rumahnya sambil melonggarkan dasi. Wajah tampannya tampak acak-acakan, namun itu tak mengurangi kadarnya. Ia justru semakin menawan.
Semua itu terjadi lantaran ia kehilangan sosok yang ia yakini adalah Oddy—mantan narapidana yang mencecarnya.
Sempat ingin mengejar sosok tersebut, tapi akhirnya Bhumi memutuskan untuk mengurungkan niatnya lantaran itu terlalu konyol. Saat pria itu mengenakan motor dan dirinya mobil. Itu tidak akan berlaku di tengah kepadatan Jakarta yang tak pernah mati.
Bhumi bersandar di sofa, menetralkan pernapasan dan tentunya emosi yang juga tak menentu. Lalu menengok ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul sebelas malam. Rumah terasa sunyi dan gelap. Hanya ruang tengah yang otomatis menyala, selaras dengan langkah kaki Bhumi saat memasukinya.
“Arin?” panggil Bhumi untuk pertama kalinya.
Sebab, ia terlalu lelah untuk berjalan ke kamar perempuan itu.
“Arin!” Ia memanggil semakin keras. Namun tak ditemukan jawaban apapun.
Akhirnya pria itu bangkit untuk membuka kamar sang istri yang ternyata kosong. Ini sudah lebih dari 24 jam. Biasanya, Arin pergi di malam hari, namun pagi-pagi sudah kembali. Atau terkadang sore hari sudah di rumah.
Kelopak mata Bhumi yang tak bertenaga itu perlahan beriak saat mengaitkan lambaian tangan misterius pria bermotor tadi dengan keberadaan Arin. Lagi, Oddy juga pernah memotret hotel tempat pernikahan Bhumi dan Arin berlangsung sebulan lalu.
“Aissh!” Bhumi menggertak. “Kalau dia mau balas dendam, kenapa harus muter-muter?”
Ia lantas membuka ponselnya. Mencoba menghubungi nomor asing yang sempat mengiriminya pesan pada sebulan lalu.
Bhumi mencoba bersabar menunggu sampai panggilan itu terangkat, namun sayangnya tak ada jawaban. Itu membuat Bhumi marah.
Ia memejam sejenak sambil berkacak pinggang. Mengembuskan napasnya secara kasar berulang kali. “Okee… kita tunggu Arin sampai besok. Dia emang nggak tau diri dan Oddy nggak akan bertindak sejauh itu.”
“Kita tunggu besok.” Bhumi menatap jam dinding. “Besok tinggal beberapa jam lagi.”
Pria itu tak ingin ambil pusing. Lagi pula Arin sering menghilang. Jadi, ia memilih untuk menghubungi Gildan terkait invesitigasinya dan apa yang telah terjadi hari ini.
^^^
Mobil mewah pabrikan Eropa dengan tipe SUV, BMW X1 berwarna oranye metalik terbaru itu memasuki garasi kediaman mewah dengan segala kecanggihan otomatis milik pasangan dingin Arin dan Bhumi. Tampak bercak bekas tanah basah seolah menghiasi ban mobil gagah itu.
Sebuah heels turun dari mobil yang agaknya cukup tinggi untuk perempuan berambut panjang dalam balutan dress sepanjang lutut itu berwarna hijau army.
Arin telah kembali.
Kedatangannya ke rumah disambut sebuah pemandangan yang membuat langkahnya terhenti. Ia menemukan sang suami tertidur sembarang di atas sofa dengan pakaian kerja yang lengkap—hanya tanpa jas. Barangnya juga berantakan di sekitar. Padahal yang Arin tau setelah sebulan tinggal bersama… ya, Arin menganggapnya, mereka hanya tinggal bersama. Bukan pasangan suami-istri.
Setelah sebulan tinggal bersama, ia melihat sosok Bhumi adalah pria yang sangat perfeksionis. Ia sangat rapi dan kaku. Beberapa hal sedikit mirip dengan Iko, tapi Iko tidak kaku. Dia hangat dan penyayang.
Arin memutar bola matanya jengah. Ia tak mau peduli dan memilih untuk menuju dapur. Entah mengapa rasanya sangat haus. Meletakkan tas fancy-nya dari brand kenamaan dunia ke atas meja bar. Sedikit berjinjit mengambil gelas dan…
Pyar!
Benda itu terpeleset dari tangannya hingga membangunkan Bhumi.
Pria itu terperangah, tetapi segera tanggap dan mendekat.
“Ah!” kaget Arin saat Bhumi menarik kasar tangannya yang hendak memunguti pecahan gelas di lantai.
“Kenapa kamu selalu ceroboh?!” sentak Bhumi. Matanya melotot tegang.
Arin yang tadinya berjongkok, perlahan berdiri, mendongak, menatap tajam sang suami sembari menghempaskan tangannya. “Kenapa harus marah?”
“Karena kamu terus mengulang kesalahan yang sama?!” pekik Bhumi.
Arin terkekeh. “Apa ini masalah buat kamu? Aku bahkan baru sekali jatuhin gelas.”
“Tapi kamu sering menjatuhkan dirimu sendiri.”
“Apa urusannya?!” Arin lebih memekik. “Biar aku yang urus! Kalau gelas jatuh, pecah… aku yang beresin. Kalau kamu masih nggak terima… aku ganti!” Dad4 Arin tampak naik-turun berkemelut emosi. “Kalau aku harus bayar untuk tinggal di sini… aku bayar! Kalau harus pergi… aku bersyukur!”
Sudah semakin muak, Arin berbalik. Ia memutuskan untuk mengambil kotak sampah. Namun pergelangan tangannya tertahan.
“Apa lagi?” seru Arin. Ia berhasil menatap wajah datar sang suami yang semula berapi-api.
“Aku aja yang beresin.”
Pun Arin terpaku di tempat. Ia memerhatikan pergerakan Bhumi yang mengambil wadah untuk meletakkan pecahan kaca yang besar. Memungutinya. Sambil berdecak kesal, Arin pun hanya sampai di situ. Ia memilih untuk meninggalkannya, pergi ke kamar.
^^^
Meski songsong matahari begitu terang, tapi tidak terlalu terasa terik lantaran cuaca yang lebih sejuk. Tapi tetap saja itu membakar kulit. Bahkan kulit Jean, semakin hari, semakin tan. Tapi ia menikmatinya, membuka keran-keran di setiap sisi kebun untuk melakukan irigasi sprinkle sebagai salah satu teknik pengairan kebun teh.
“Wohooo!” seru Jean justru betah di antara irigasi yang menyemburkan air ke udara. Rasanya segar sekali.
“Jean!” teriak Aki. “Malah mainan air!”
Jean tertawa puas dari balik jas hujan ponco putih bening. “Bentar, Ki. Adem banget, sumpah!”
“Bentar-bentar deui!” keluh Aki dari balik saung.
Di usia yang ke 28, Jean seolah baru menikmati hidup setelah bertahun-tahun menjadi prajurit yang selalu diikat dengan berbagai kegiatan berat dan terikat.
“Ah!” Jean terbelalak, mengingat sesuatu. “Kayanya dia diajak bantuin sini aja kali, ya.” Ia menatap kebun teh yang sangat luas milik keluarganya, apalagi saat melihat hampir seluruh pekerja kebun adalah orang tua. “Kayanya butuh orang muda lagi ini untuk ngurus ini.”
Jean melepas jas hujan. Ia pergi ke suatu tempat untuk mengabarkan sesuatu. Namun saat sampai di rumah kayu, tampak sepi sekali. Tapi, bukankah memang sering seperti itu?
“Hazel!” panggil Jean. Kemudian ia terkaget sendiri. “Sok akrab banget, nggak, sih, gue?”
“Ah!” Jean mengelak. “Enggak, ah. Tuh, anak juga begitu.”
Sambil berbaring di kursi empuk panjang di serambi, Jean memanggil dengan santai, “Hazel! Katanya lo mau kerja?!”
Jean membuka mata setelah menikmati sedikit waktu saat menyadari tak pernah ada jawaban. Ia lantas memeriksa setiap bagian. Membuka gagang pintu yang terkunci.
“Dia pergi?”
^^^
“Perasaan aku nggak lagi ke Puncak, tapi kok bisa bangun di sana, ya?”
Arin berbaring di atas ranjang, menatap langit-langit abu muda sambil berusaha menerka apa yang terjadi. Apalagi setelah memeriksa ponselnya yang beberapa orang sedang mencari dirinya. Arin tak datang ke yayasan.
Setelah menikah dengan Bhumi, Arin sering tidur di Puncak, tapi pada pagi hari ia sudah kembali dan bekerja. Tapi kali ini rasanya Arin bingung sendiri.
Arin berusaha mengingat lagi suasana rumah kayu yang terasa rapi sekali, seolah Iko hidup di sana. Sebab, Arin sadar jika dirinya adalah pribadi yang berantakan.
“Ah, nggak tau.” Arin menggeleng sambil memegangi kepalanya.
Kemudian meraih ponselnya. Memeriksa lagi riwayat panggilan dan chat. Ia tertegun saat menemukan nama kontak, ‘Adipati Bhumi Kamayel’ yang menelponnya berulang kali. Juga dengan pesan singkatnya.
Kamu di mana?
Kamu nggak pulang?
Arin berdecih. “Dia banyak melanggar batas.”
Sementara di luar sana, Bhumi sudah rapi dengan pakaian kerja. Ia hendak ke kantor. Menyempatkan diri untuk menoleh sekilas ke kamar sang istri. Hanya sekilas, lalu pergi begitu saja. Tak berpamitan.
Bhumi membuka pintu mobil. Namun, satu pandangan menghentikan langkahnya. Ia berbalik dan mendekat ke mobil milik Arin untuk memastikan sebuah noda di sekitar kap mobil dan juga ban.
“Dari mana dia?” terkanya. “Bekas tanah becek?”