Baby sister?

1510 Kata
Saga hanya menatap datar dua makhluk di hadapan nya. Ia bisa melihat perempuan yang ia tolong dengan rasa kemanusiaan tadi sedang menyanyikan lagu untuk putrinya. "Baby nya sudah tidur kak." ucap alina dengan sangat pelan. Saga mengangguk, ia menatap makhluk mungil yang terlelap di atas kasur dengan tenang. "Saran aja ya kak, lebih baik beliin box bayi buat baby nya." ucap alina yang berusaha turun dari kasur tanpa menganggu sang bayi. Teman-teman saga di luar dan hanya dirinya dengan saga di kamar ini bertiga dengan sang bayi lebih tepat nya. Alina mendekati saga yang duduk di atas sofa. Berdiri di hadapan saga, kalau boleh jujur ia sedikit takut dengan pria di hadapan nya ini. "Saran aja kak, cari baby sister kak buat baby kasihan kalau ngga ada yang urus." Alina tidak berani menyinggung masalah istri saga. Di rumah ini tidak ada sama sekali foto pernikahan. "Dan gue mau bilang terima kasih banyak sudah bantuin gue dari preman-preman tadi." ucap alina dengan tulus. "Lo ngga takut disini?" Tanya saga dengan darar. Alina paham maksud pria itu. "Awal nya takut sih kak, tapi teman-teman kakak asik semua jadi sedikit berkurang. Kalau begitu gue pamit pulang, sekali lagi terima kasih." Alina sedikit membungkuk dan siap pergi meninggalkan saga. "20juta?" Langkah alina terhenti, ia menatap bingung dengan saga, "Apanya yang 20 juta?" Tanya alina. Saga menatap alina datar, "20juta jadi baby sister." Alina paham maksud pria datar di hadapan nya. Alina menggeleng, "Ngga! Gue mau kerja sesuai dengan pendidikan gue selama ini. Bukan baby sister." tolak alina halus. Tadi teman saga yang bernama galen sempat menawarkan pekerjaan di restoran nya dengan posisi sebagai manager. Bagaimana ia bisa menolak. "30 juta?" tawar saga kembali. Alina tetap menggeleng, "Bukan masalah gaji. Gue mau ngebanggain ibu untuk kerja sesuai dengan bidangnya." Ibu nya sakit-sakitan agar ia bisa kuliah hingga sekarang berada di sisi tuhan. Bagaimana mungkin ia bekerja sebagai baby sister. "Pergi!" Alina menghela nafas, ia tau pria di hadapan nya sedikit kecewa. Nominal uang yang daga tawarkan bukan sedikit, tapi sungguh ini bukan hanya masalah uang. "Kakak bisa cari baby sister yang jauh lebih berpengalaman di yayasan kak." Alina mencoba memberi saran. "Aku tidak memiliki pengalaman dalam mengasuh bayi." Saga tidak menjawab alina. Ia fokus pada ponsel nya. Alina menghembuskan nafas nya dengan perlahan. Ia merasa tidak enak karena saga lah yang membantu dirinya dari preman tadi. Tapi, ia juga tidak memiliki pilihan. "Kalau begitu gue izin pulang yah kak, dan sekali lagi terima kasih." Tanpa menunggu jawaban saga, alina segera berlalu dari kamar saga. Saga hanya menatap datar punggung alina, ia juga tidak paham mengapa ia ingin menjadikan alina sebagai baby sister putrinya. "Alina?" gumam saga. ******* "Al boleh tanya ngga kak?" Alina menatap saka yang fokus menyetir. Yah saka lah yang mengantar dirinya pulang. "Hm?" "Ibunya baby meninggal karena apa kak?" Tanya alina takut menyinggung. Ia sudah mengetahui kalau istri saga sudah tidak ada. Saka tersenyum tipis apakah ia harus menceritakan nya? Namun entah kenapa ada rasa percaya ia kepada gadis ini. "Percaya ngga kalo saga buka papa kandung nya baby?" "HA?" Raut bingung alina terlihat jelas. Saka menghela nafas, "Bayi itu ponakan saga. Lebih tepatnya anak dari kembaran nya saga. Adik saga meninggal setelah melahirkan baby nya." Alina mengangguk paham, "Oh jadi seperti itu. Bapak kandung baby nya mana kak?" Saka menoleh membuat alina meringis apakah ia terlalu banyak bertanya? "Maaf kak lupain aja." Saka terkekeh kecil, "Al kalo gue ceritain tentang baby apa loh mau jagain baby nya?" Saka sudah mengetahui kalau saga sempat menawarkan alina untuk jadi baby sister dari alina nya sendiri. "Maksud kakak?" Bingung alina. "Baby nya dalam bahaya al. Adik saga meninggal bukan karena melahirkan tapi karena di bunuh. Berhasil melahirkan baby aja itu udah syukur banget." Saka menerawang kejadian yang membuat sahabat nya itu begitu terpuruk. FLASHBACK ON "AL ALINA LO DIMANA?" Saga terus berteriak memanggil alina membuka seluruh sudut apartemen sang adik. Apalagi dengan keadaan apartemen yang begitu kacau. "a abang." "ALINA!" saga segera berlari ke arah sang adik yang terkulai lemas dengan bersimbah darah. SALINA ARABELLA SMITH kembaran dari SAGARA KAIVAN SMITH itu terbarik tak berdaya di lantai. "Al bertahan yah." Lirih saga mengangkat tubuh adiknya itu. "Abang pertahanin baby nya yah." Alina mengusap pipi saga dengan lembut. Saga mengangguk, "Gue pertahanin lo dan baby. Lo harus bertahan." Saga meletakkan alina di kursi samping pengemudi. "Mereka jahat al me mereka ingin bunuh baby." Lirih alina. Saga terus menggenggam tangan alina, tembakan di d**a perempuan itu membuatnya sakit. Mereka kembar tentu saja saga bisa merasakan itu. "Bertahan yah." Saga terus mengecup punggung tangan alina ia melaju mobil nya dengan cepat. Setelah sampai di rumah sakit saga segera membawa alina dan meletakkan nya di brankar. Semua perawat segera mendorong brankar alina. Tubuh saga berhenti ketika pintu icu itu di tutup. Ia menggeleng lirih, jangan jangan lagi cukup ibunya yang pergi jangan adiknya. "Saga?" "Ren gue mohon selamatin alina ren." Saga menggenggam tangan iren penuh harap. Iren menatap sahabat kekasihnya itu dengan sendu, "Gue akan berusaha semaksimal mungkin ga." Setelah mengatakan itu iren segera masuk kedalam ruang operasi. "Saga gimana?" Saga menoleh ke arah ketiga sahabatnya yang datang dengan nafas yang tak teratur. Saga menggeleng, "gue takut." Saka melangkah maju menepuk pundak sahabatnya, "Alina pasti baik baik saja." Tubuh saga luruh, bagaimana bisa ia gagal menjaga adiknya. Hampir 5 jam mereka menunggu operasi itu berjalan akhirnya lampu berubah menjadi hijau pertanda operasi telah selesai. "Ren gimana?" Tanya saga ketika iren keluar. "Selamat ga bayi nya perempuan. Keadaan bayinya sehat dia ada didalam lagi di bersihkan." "Gue tanya keadaan adik gue ren!" Saga memegang bahu iren dengan harap. Iren memejamkan matanya, "operasinya lancar, alina ingin bicara sama kamu setelah di pindah kan keruang rawat." Saga menghela nafas lega namun itu tak berlangsung lama ketika iren kembali berucap. "Ga jangan berharap lebih, jantung alina rusak parah akibat peluru itu. alina wanita kuat ia mempertahankan kesadaran nya sekarang dan dia ingin bicara sama lo." Saka segera menahan tubuh saga, "Ga lo harus kuat ayok temuin alina." ******* "Baby nya udah lahir hm." Saga mengelus rambut perempuan yang begitu ia sayangi. "Jagain baby nya yah." Pinta alina dengan lemah. Saga mengangguk, "tentu saja kita akan menjaga nya bersama sama." Perempuan itu tersenyum seraya mengelus pipi saga, "Kamu harus bahagia, cari perempuan yang mencintai kamu sama baby juga." Cup "Gue ngga suka lo ngomong gitu." Saga mengecup keningnya begitu lama. "Aku udah ngga sanggup ga." Saga menggeleng ia menggenggam tangan dengan begitu erat, "lo harus kuat." "Hiks mereka jahat ga, aku benci mereka." Saga mengangguk ia mengusap lembut rambut alina, "Iya makanya lo harus bertahan kita buat mereka hancur." Alina menggeleng, "Janji yah jagain baby nya kamu harus cari ibu buat baby nya." "Alina stop ngomong gitu! Ayo istirahat." Saga menyelimuti alina dengan lembut. Alina tersenyum ia memejamkan matanya, "Aku sayang banget sama kamu dan baby ga." Lirih nya. Saga menggeleng ketika layar monitor bersuara begitu nyaring. "Alina hei wake up. AL GUE BILANG BANGUN YAH BANGUN!" Oek oek oek "Ga." Saga menoleh, "ka tolong bangunin alina ka." Saga memohon dengan suara lemah nya. Saka melotot ia segera meriksa keadaan alina, "Ga bawa baby nya keluar." Titah saka. Saga mengangguk ia segera menggendong bayi perempuan itu dengan lembut, "Doain mama yah." Bisik saga lirih. Bayi itu berhenti menangis ketika tubuhnya di dekap dengan begitu hangat. Pintu ruang rawat di buka, "ka gue harap lo bawa berita bagus." Ucap saga tajam. Saka menunduk dan menggeleng, "Alina sudah istirahat dengan tenang ga." Saga tersenyum tipis, "Lo emang dokter terbaik ka." Saka mendongak, "Alina udah istirahat untuk selama lamanya ga, ikhlasin!" Tubuh saga mematung ia menggeleng, "ngga ini ngga adil ka." Oek oek oek Bayi itu kembali menangis seolah ikut merasakan kehilangan. Air mata saga menetes, ia baru saja kehilangan wanita yang begitu amat berarti untuk nya. Saga masuk kedalam ruang rawat alina dimana perawat sudah melepaskan alat yang ada di tubuhnya. Saga meletakkan bayi perempuan itu ke tempat nya terlebih dahulu lalu ia menghampiri alina. "Abang ikhlas al kamu tenang di sana yah." Bisik saga setelah itu ia mengecup kening alina lama. "Ga baby nya nangis. Tenangin ga dia butuh lo, pemakaman alina biar kami yang urus." Ucap saka. Saga menghampiri bayi nya alina ia menunduk melihat betapa cantiknya bayi tersebut. Persis seperti alina. "Maafin om yah ngga bisa jaga mama, om akan kasih yang terbaik buat kamu." Lirih saga. FLASBACK OFF Alina termenung di dalam kamar kosan nya. Setelah mendengar cerita dari saka ia merasa prihatin dengan bayi tersebut. Dan juga pasti tidak mudah bagi saga menjalankan itu. "Huh gue bingung mana tu nama adeknya mirip lagi sama gue." Alina membaringkan tubuhnya. Ia harus beristirahat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN