Alina menatap restoran di depan nya dengan kagum. Tadi pagi ia di hubungi galen untuk datang ke restoran. Sebenarnya ia ingin menolak akibat tak enak hati dengan saga. Tapi ia memang butuh pekerjaan ini.
"Halo kak gue udah di depan." Alina menelpon galen, ia tidak tau harus menemui lelaki itu dimana.
"Oke kak." Galen mengatakan untuk tunggu di depan.
"Hai al udah lama?" Tanya galen.
Alina menggeleng, "ngga kok kak."
"Yaudah kalo gitu ayo masuk kita bahas kontrak kerja." Ajak galen.
Alina menahan baju galen, "kak beneran ini gue kerja disini?" Tanya alina. Hanya untuk memastikan harapan nya.
Galen mengangguk, "iyalah, ayok ah panas disini."
Alina mengikuti galen dari belakang, tak hentinya ia berdecak kagum dengan interior restoran yang galen miliki. Pasti banyak banget duit nih orang pikir alina.
"Ayo masuk." Ajak galen memasuki ruang kerja nya.
"Loh mar?" Ucap alina ketika melihat keberadaan omar di ruangan galen.
"Mar mar sopan dikit kek sama gue." Dengus omar pada bocah di hadapan nya ini.
"Iya kalo mau." Jawab alina dengan sedikit malas.
Omar memutar bola matanya, alina bener bener bocah yang ngeselin. Gemes pengen di gue pites pites padahal mereka masih baru ketemu.
Drttt drttt
Galen mengangkat ponsel nya, "iya ga?"
"Ha oke oke." Galen mematikan ponselnya dengan raut panik.
"Mar kita harus ke rumah saga."
"Ngapain?" Bingung omar.
"Baby nangis terus." Ucap galen ketika saga meminta bantuan nya barusan.
"HA baby nya nangis?" Tanya alina ikut panik.
Galen mengangguk ia segera meraih jaketnya, "Lo tunggu disini bentar yah."
"Ikut kak." Ujar alina. Perasaan nya ikut gelisah, ia yakin para lelaki ini tidak akan bisa menenangkan bayi.
Galen mengangguk mereka bertiga berangkat menuju rumah saga. Ia harap kehadiran alina bisa membantu saga.
Rumah saga
"Ga." Panggil galen ketika melihat saga yang kelimpungan menenangkan putrinya.
"Sini kak." Alina menjulurkan tangan nya untuk menggendong sang bayi.
Saga terkejut melihat keberadaan alina. Ia memberikan putrinya kepada alina, perempuan itu menerima sang bayi dengan senang hati. Ia menimang bayi tersebut hingga tenang.
"Dia kayaknya memang benar butuh lo al." Ucap omar dengan wajah yang serius.
Alina tersentak, ia menatap ke arah bayi yang memulai memejamkan matanya itu. Ia kasihan dengan bayi cantik ini.
"Emang sebelumnya baby nya ngga ada yang jagain?" Tanya alina.
"Ada pembantu nya saga yang mengurus saga dari lahir. Tapi karena suatu alasan ia tidak bisa mengurus baby tiap saat." Jelas galen ia tau saga tak akan menjelaskan nya.
"Nama baby nya siapa kak? masa mau di panggil baby terus." Tanya alina.
"Belum ada." Jawab saga singkat, ia memejamkan matanya di sofa.
Sungguh melihat putrinya terus menangis membuat ia panik bukan main. Dan yang paling menyebalkan kenapa bayi itu berhenti menangis ketika di gendong oleh perempuan asing.
"Kok belum ada sih?" Alina berkacak pinggang. Ia telah meletakkan bayi cantik itu di box bayi karena sudah terlelap.
"Ngga baik tau kak belum di kasih nama." Alina mengelus pipi bayi tersebut dengan lembut.
"Iya ga masa udah mau tiga minggu belum di kasih nama." Timpal omar.
"Kalea." Jawab saga. Entah kenapa nama itu terbesit di pikiran nya.
"Gimana kalo KALEA NAYANA anak perempuan yang cerah bersih, memiliki mata yang indah." Sambung alina dengan semangat. Entah kenapa, nama nayana terbesit di pikiran nya.
Saga tersenyum tipis ia mengangguk setuju.
"Kita panggil baby kale." Ujar omar.
Tak
"Enak aja, panggil baby lea." Alina menggeplak kepala omar, lantaran tak setuju dengan panggilan yang di berikan omar pada kalea.
Mereka semua berada di kamar saga. Untuk saja kamar pria itu memiliki sofa yang lumayan besar.
"Al." Panggil galen.
Alina menoleh, ia menatap galen dengan tanda tanta, "Kalea butuh lo al, liat dia berhenti nangis di gendongan lo." Saga ikut menatap perempuan itu.
Alina paham maksud galen. Ia juga bingung dengan bayi itu, kenapa bisa tenang dengan dirinya. Padahal ia tidak ada pengalaman mengurusi bayi. Ia hanya sering melihat dari anak keluarganya saja.
"Kak gue sebenarnya udah mikirin ini dari semalam." Mereka menunggu apa yang akan alina ucapkan.
"Gue mau tetap kerja di restoran lo."
Saga memejamkan matanya ia sudah tau maksud perempuan itu. Ia bingung harus mencari baby sister yang benar benar ia percayai dimana. Entah mengapa ia benar benar tergerak untuk menjadikan perempuan yang ia baru temui itu menjaga keponakan nya.
"Sambil ngasuh kalea boleh kak?"
Mata saga terbuka sempurna, ia menatap bingung alina. Begitupun galen dan omar.
Alina menghela nafas ia benar benar memikirkan nya semalam. Ucapan saka membuat hati nya bergetar, "Kak gue rasa gue bisa kedua nya. Kerja sambil ngasuh, gue ngga minta bayaran gue ikhlas jagain baby nya. Tapi gaji gue harus tetap 10 yah kak."
Galen menatap alina, "Bisa kok al. Lo ngehandle nya dari rumah aja." Ia akan mempekerjakan alina setengah saja. Misalnya cuman mengurusi laporan keuangan aja ia akan membantu perempuan itu.
"Iya kak nanti setelah baby nya lebih dari 2 bulan aku sekali kali turun kelapangan. Tapi kak aku mohon kakak harus benar benar beri aku pekerjaan. Jangan di potong pekerjaan nya." Ucap alina seolah mengerti pikiran galen.
"Kakak cukup ajarin aku aja aku harus gimana sisanya nanti biar aku urus." Pinta alina.
"Ga gimana?" Galen tetap harus mendapatkan persetujuan saga.
"Gue nanti cuman mandikan baby, ngasih makan baby, terus tidurin baby kan?" Tanya alina.
Saga mengangguk, apakah perempuan itu benar benar sanggup menjaga anaknya?
"Tinggal disini."
Alina mengernyit tidak paham dengan ucapan saga.
"Saga nyuruh lo untuk tinggal disini al." Omar mencoba menjelaskan maksud sahabatnya itu.
Alina menggeleng bagaimana mungkin ia tinggal serumah dengan lelaki. Itu tidak boleh.
"Ga lo harus jelasin biar alina paham." Ucap galen berusaha memberikan pengertian kepada sahabatnya itu agar sedikit terbuka mengenai kalea.
"Biar gue aja, sih saga mana mungkin mau jelasin panjang lebar gitu." Ucap omar yang sangat mengetahui perangai saga.
"Boleh ga?" Tanya galen.
"Terserah." Jawab saga datar. Jika perempuan itu tidak bisa menjaga rahasianya, tinggal ia bunuh saja.
Omar mengangguk ia mulai menatap alina serius. Melihat tatapan omar membuat alina sedikit takut, karna jarang laki laki itu mau serius gitu.
"Al saga itu bukan dari kalangan biasa." Alina mengangguk ia paham itu lihat saja rumah pria itu sangat besar.
"Keluarganya cukup terpandang. Memiliki perusahaan di bidang perhotelan, mall, bahkan restoran. Saga bukan ayah kandung nya kalea."
"Gue tau." Jawab alina.
"Lo tau?" Saga menatap tajam alina membuat nyali perempuan itu seketika menciut.
"Dari kak saka." Cicit alina.
"Oke sampai mana saka ceritain hal itu?" Tanya omar.
"Ibu kandung kalea di bunuh." Jawab alina pelan nyaris berbisik.
Omar mengangguk, "Yang bunuh itu ibu tirinya saga."
Mata alina melotot, sedangkan saga memejamkan matanya mencoba meredam emosinya. Mengingat hal itu membuat jiwa monster nya bangkit.
"Saga memiliki ibu tiri, perempuan itu tidak terima kalau harta kekayaan bokap nya saga itu atas nama saga dan alina adiknya saga. Jadi ia berniat menghancurkan alina dan bayinya untuk mendapatkan setengah warisan itu. Tapi ternyata farel suami nya alina cukup pintar hingga diam diam ia mengalihkan harta milik alina atas nama saga dengan persetujuan alina. Mungkin mereka punya firasat kalau ini semua bakal terjadi. Melihat farel dan alina mati belum membuat wanita iblis itu puas. Jadi sekarang ia mengincar kalea."
"Kalea hanya bayi yang tidak tau apa apa kenapa harus di incar juga?" tanya alina tak terima.
"Jika mereka berhasil menbunuh saga maka harta yang saga miliki pasti jatuh ke kalea." Sambung galen.
"Bokap lo?" Alina menatap saga yang mengepalkan tangan nya.
"Mana peduli." Ketus saga. Bokap nya sudah terkena sihir wanita gila itu.
Alina mengangguk, "gini amat hidup orang kaya, udah punya duit belum tentu bikin tenang." Gumam alina.
"Bokap lo ngga bisa apa menduda selamanya? Heran." Ketus alina yang terbawa suasana.
"Untung nyokap gue nyaman ngejanda dari ayah pergi tapi sekarang mereka udah jadi pasangan sejati di surga." Lirih alina.
Fisik ibunya mulai melemah ketika ia berada di bangku SMA. Ibunya mengidap penyakit TBC dan itu sudah sangat parah karena telat berobat. Sedangkan ayahnya menjadi korban kecelakaan hingga merenggang nyawa saat kejadian ketika ia masih kecil.
"Lo tinggal disini. Gue pindah ke apartemen. " Ucap saga.
Alina mengggeleng, "Gimana kalo gue sama baby lea aja ke apartemen. Gue takut daerah sini sepi, kalo di apartemen kan lumayan rame."
"Lo beli aja apartemen di sebelah apartemen lo ga. Kan kosong tu. Alina tinggal di sana aja jadi bisa pulang nya." Saran omar.
"Oke." Jawaban singkat saga membuat alina tercengang.
"Apakah semudah itu?" Gumam alina.
Omar terkekeh, "Lo mau mansion aja di kasih."
"Beneran?" Tanya alina dengan polos nya.
Apa ia harus memanfaatkan kekayaan bapak nya kalea yah? alina terkikik geli dengan pikiran nya.
"Eits jadi istrinya dulu dong." Goda omar.
"Omar gila!" umpat alina.
"Jagain bentar." Setelah mengatakan itu saga meninggalkan kamar nya.
"Ada yang mau saga omongin. Gue sama omar pergi dulu yah al." Pamit galen.
Alina mengangguk, "Terima kasih yah kak."
Ia harus tetap berterima kasih kepada galen. Karena lelaki itu ia bisa memiliki pekerjaan dengan waktu yang singkat tanpa seleksi. Di zaman yang sekarang mencari pekerjaan tidak lah mudah. Apalagi tidak memiliki koneksi.
Galen tersenyum, "Kita yang makasih."
Ia merasa terbantu dengan adanya alina di sisi saga. Semoga perempuan itu adalah perempuan yang tepat untuk kalea.
Setelah mengatakan itu mereka benar benar meninggalkan alina di kamar saga. Alina yang bosan pun berkeliling kamar saga.
"Sagara kaivan smith." Beo alina membaca nama sagara di lemari dimana nama tersebut di ukir dengan begitu indah dan di pajang.
"Cantik banget yah." Puji alina melihat foto yang sepertinya masa kecil saga dan salina.
"Pantes besar nya ganteng banget orang dari kecil aja ngga ada keburikan." Puji alina melihat foto saga.
"Coba kalo gue, masa kecil gue yang ada hanya kecemongan. Main tanah, main rumah rumahan aduh." Alina bergidik mengingat betapa kotor nya waktu ia kecil.