"Wow ini apartemen besar amat." Gumam alina dengan takjub. Yah ia dan saga sedang berada di apartemen saga.
"Apartemen lo di sebelah belum di bersihin." Ucap saga dengan nada seperti biasa, datar.
Alina mengangguk, ia terus menggendong kalea dari perjalanan tadi. Syukurlah bayi itu tidak rewel. Saga meletakkan koper milik alina di kamar gadis itu.
"Nih berapa biaya nya kak?" Tanya alina.
"Bukan urusan lo."
Alina mendengus. Selain menjaga kalea ia harus menjaga sikap nya agar tidak memukul pria itu. Sangat menyebalkan untung cakep lo.
"Orang tua lo tinggal dimana kak?" Tanya alina. Ia mencoba mendekati saga. Eh jangan salah sangkah, maksud nya bukan mendekati pdkt gitu yah tapi ia mencoba mengakrabkan diri dengan saga saja.
"Australi." Jawab saga sesingkat mungkin. Dan itu sedikit menyebalkan di mata alina.
"Jauh bener." Gumam alina. Orang kaya mah memang beda tinggalnya.
"Letakkan di kamar saya." Alina mengurungkan niatnya untuk meletakkan kalea di sofa besar.
"Apa bedanya?" Tanya alina.
Saga tidak menjawab ia berlalu membuat perempuan itu mencibir kesal.
Alina mengikuti saga sampai di kamar nya. Alina terus memuji arsitektur apartemen saga, sungguh ini sangat mewah.
"Suka banget arsitektur nya." Gumam alina yang tiada hentinya memuji apartemen saga. Emang norak, alina akui itu.
"Omar yang desain."
"HA omar nyebelin itu yang desain?" Tanya alina.
Saga mengangguk, ia membuka kan pintu kamar milik nya, "Letakkan di kasur besok baru beli peralatan kalea." Titah saga.
Alina mengangguk ia meletakkan kalea dengan hati hati, "Tas s**u nya kalea tadi dimana kak?" Tanya alina.
"Ruang tamu."
Alina mengangguk ia segera keluar dari kamar saga untuk menyusun keperluan kalea.
Ia mengambil beberapa botol asi kalea untuk di simpan di kulkas, "Kalo stock asi di rumah sakit habis gimana yah kalea?" Gumam alina.
Mendengar langkah kaki alina membalikkan tubuhnya, "Kak mau makan siang apa?" Tanya alina.
"Apa aja." Jawaban singkat seperti biasa.
"Em kak disini ada berapa kamar?"
"Dua."
"Kak ngga usah sewa apartemen sebelah. Gue tinggal disini aja, nih apartemen besar banget, apartemen sebelah juga di pakai pasti untuk gue tidur aja."
Saga mengangkat alisnya.
"Hm dari cerita yang aku sering baca CEO itu sibuk, pasti jarang pulang. Nah kakak gitu juga kan? Aku disini aja kak. Daripada sewa apartemen lagi kan sayang duitnya."
Ketika di rumah yang pertama ia memang belum kepikiran kalau saga bakalan sibuk. Sebenarnya, kalau boleh jujur ia lebih nyaman di sini. Karena disini memiliki keamanan. Kalau di rumah saga yang pertama itu berada di lingkungan yang sepi.
Saga menghela nafas yang di ucapkan alina memang benar adanya, "Baiklah." Jawab nya singkat.
"Yaudah kalau gitu aku masak dulu yah kakak jagain kalea bentar."
Saga hanya mengangguk ia ke bawah hanya untuk mengambil ponselnya.
Alina menatap kepergian saga dengan helaan nafas, sebenarnya ia ingin menanyakan tentang saga. Apakah laki laki itu punya pacar? Jika iya, ia bingung harus bagaimana. Ia takut di labrak seumur umur dia belum pernah di labrak. Memikirkan saja membuat ia bergidik.
"Kayak di novel novel yah gue. Terjebak sama duda, tapi yang ini bukan duda sih." Alina terkikik geli ia tidak menyangka dengan kehidupan nya di kota baru ini.
Jalani aja itu yang selalu ia terapkan.
*******
"Kakak belanja sendiri aja yah atau ngga sama kak saka galen omar. Aku ngga bisa ninggalin kalea." Ucap alina.
Ia memberi saran saga untuk membeli perlengkapan dapur sama perlengkapan alea.
"Online aja." Saga menyodorkan ponsel nya ke arah alina.
Selesai makan, Mereka berdua langsung menuju kamar. Duduk di sofa yang sudah di sediakan.
"Ini beneran ngga apa apa gue yang beli?" Tanya alina.
"Kalo ngga biasa pake lo gue ganti."
Alina meringis, "yah keliatan banget yah kak?"
Saga mengangguk. Di kehidupan nya sebelum ke kota besar ini, kosa kata yang ia pakai memang tidak segaul itu. Namun, alina takut ia di kira cupu lagi.
Alina mulai membuka ponsel mahal saga, ternyata ponsel saga tidak terkunci, "Kak beli barang yang ada centang nya yah biar pasti." Saga hanya berdehem.
Ruangan itu begitu sunyi, saga sibuk dengan pikiran nya. Dan alina sibuk dengan kegiatan memilih apa saja yang di perlukan.
"Ih kok banyak banget." Gumam alina ketika melihat jumlah yang ia pesan.
"Sini." Pinta saga.
"Kak tunggu dulu." Alina mencoba meraih ponsel yang sudah berada di genggaman pria tersebut.
"Udah gue pesan." Ucap saga dengan santai nya.
"Yah kak itu mahal banget tadi." Lirih alina.
"Duit gue."
Alina mengangguk saja, lagian itu memang duit nya saga. Pria itu tidak akan jatuh miskin hanya karna belanja 25juta.
Alina mengelus pipi kalea yah mereka berada di dalam kamar saga karena kalea sempat terbangun tadi.
"Kak saga punya pacar?" Tanya alina.
Saga menoleh dari layar laptop nya, "Kenapa?lo suka gue?"
Jangan heran dengan tingkat kepercayaan diri seorang sagara. Dia berada di lingkungan dimana ia selalu menjadi pria yang di idamkan para wanita.
Alina menggeleng, "Takut pacar kak saga mikir aneh aneh."
Alina tau batasan. Ia pergi ke kota ini hanya untuk mencari pekerjaan. Sekarang ia harus menghidupkan diri sendiri, belajar untuk melakukan semua nya sendiri. Ia sudah tidak punya siapa siapa lagi.
Untuk mengasuh kalea itu ia ikhlas lahir batin. Tapi untuk suka sama papa nya kalea itu namanya ngelunjak. Lagian ia sadar diri kok, siapa dirinya siapa saga begitupun dengan saka galen dan omar.
"Ngga ada." Jawab saga.
"Saran aku kakak cepet cari pacar atau calon istri biar kalea bener bener ada yang jagain." Alina mulai mengantuk mata nya mulai terpejam.
Saga menatap alina yang telah tertidur di sofa nya. Baru kali ini ada perempuan yang berani tidur di kamar milik nya. Untuk pertanyaan alina tadi ia jawab dengan jujur. Jangan kan memiliki pacar, pacaran saja ia tak pernah. Hidup di tekanan sang papa dan sibuk melindungi salina. Membuat ia tidak memikirkan dirinya sendiri, bukan adiknya itu melarang namun dirinya yang membatasi diri.
Bagaimana ia bisa mencintai seseorang jika melindungi dirinya sendiri ia tidak mampu. Kehilangan dua perempuan yang paling berarti di hidup nya membuat saga trauma untuk menjalin hubungan. Wanita iblis itu akan terus berusaha menemukan kelemahan nya. Dia tidak ingin melemah karena perasaan nya.
Saga meletakkan selimut menutupi tubuh alina. Perempuan itu masuk kedalam hidupnya dan kalea begitu mendadak. Tidak ada yang ia pikirkan selain pertumbuhan kalea. Ia membutuhkan alina untuk menjaga kalea. Tidak lebih dari itu. Entah apa yang perempuan itu pikirkan hingga tidak menerima uang sepersen pun darinya. Alina bilang hanya penuhi saja makan nya.
"Cari biodata tentang clarabella galina." Setelah mengatakan itu saga segera memutuskan panggilan nya.
Ia keluar dari kamar menuju ruang kerja, ia sudah begitu lama meninggalkan pekerjaan nya. Melihat ada email yang masuk ia segera membuka nya, ternyata itu biodata tentang clarabella galina. Tidak ada yang aneh, ternyata perempuan itu tinggal sendiri. Ayahnya meninggal dunia ketika dia umur tujuh tahun. Dan ibunya menyusul sang suami ketika alina memasuki semester 2 perkuliahan. Ibu alina mengalami tuberkulosisdari akut, wanita itu sering sakit sakitan apalagi harus membesarkan anak seorang diri.
Walaupun tanpa sosok ayah dan ibu alina tumbuh begitu baik.
saga tersenyum ketika selesai membaca biodata alina. Perempuan itu bisa menyelesaikan perkuliahan nya tanpa di dampingi keluarga satupun. Tidak mudah untuk belajar sambil bekerja, ia juga merasakan itu.
Mengingat nama itu seketika ia ingat alina adiknya. Salina arabella, clarabella galina. Kedua nama itu hampir mirip, saga terkekeh miris entah apa yang terjadi pada hidupnya ini.
Benar kata alina mempunyai segalanya belum tentu membuat ia tenang. Jangan kan untuk tidur memejamkan matanya sebentar saja perasaan ketakutan itu menghantui nya.
Namun, saga baru menyadari ternyata bukan dirinya yang menderita di dunia ini. Bukan hanya dirinya yang kesepian.
Saga membuka laci meja kerja nya meraih botol putih tersebut apakah ia kembali meminum ini? Saga mengambil satu pil tersebut namun sebelum masuk ke dalam tenggorokan nya suara nyaring tersebut mengagetkan nya.
"KAKAK!"
BRAK
Alina menampilkan cengiran nya, "Eh maaf lagian daritadi di panggil kagak nyaut kirain kemana."
"Apa?" Tanya saga dingin.
Alina merinding, saga memang 4 tahun lebih tua darinya begitupun dengan para sahabatnya karena itulah alina memanggil mereka kakak.
"Tolong jagain kalea bentar dong, aku mau ke indomaret nih. Di kulkas ngga ada stok makanan untuk sekarang." Mata alina berputar mengelilingi ruang kerja saga.
"Wah banyak banget buku? Ada novel cinta ngga?" Tanya alina.
Saga mendengus ia segera memasukan botol tersebut ke laci. Gagal istirahat gara gara bocah satu ini.
"Ngga ada." Jawab saga singkat.
Alina mendekat, "Masa sih. Lurus amat tu hidup ngga pernah baca tentang cinta." Gumam alina.
"Keluar." Usir saga.
Alina mengangguk, saga berdiri dan siap keluar.
"WAH OBAT APA INI?" Saga melotot perempuan itu benar benar ingin bermain dengan nya.
"LEPASIN ITU ALINA!"
Tubuh alina tersentak, ia sedikit takut dengan saga saat ini.
Saga memegang lengan alina dengan erat membuat perempuan itu meringis "LANCANG!"
"Sshh ini obat tidur." Gumam alina.
"INGAT PEKERJAAN LO!" Tegas saga kembali menyimpan botol tersebut. Ia lupa menutup laci.
Alina menunduk, "aku hanya ingin tau. Takut kakak sakit terus ngga bilang siapa tau aku bisa bantu. Maaf yah."
Deg
Saga mematung, ucapan alina membuat darahnya berdesir.
"Kalo gitu alina permisi yah kak. Maaf yah lain kali ngga lancang lagi kok." Alina berlari keluar. Kenapa ia begitu lancang dengan saga, bodoh alina.
Saga yang melihat itu pun merasa ada perasaan lain yang menyusup. Seperti menyesal mungkin?
"Sst kak." Saga menoleh ke arah alina yang menyembul kan kepalanya.
"Pakek duit alina dulu yah tapi nanti di balikin oke alina buruh buruh nih."
Saga mengangguk.
"KAKAK JANGAN LUPA JAGAIN KALEA."
Saga menghela nafas, alina benar benar aneh. Ia tersenyum kecil. Padahal baru beberapa menit yang lalu perempuan itu bentak dan sekarang langsung bisa teriak.