"Cantik banget sih kamu sayang. Kalo kakak cowok udah kakak tandain kamu jadi masa depan." Ucap alina seraya terkekeh.
Alina baru saja selesai memandikan kalea. Sebelum memandikan kalea ia harus menonton tutorial memandikan bayi di youtube. Mana berani ia memandikan bayi sembarangan.
"Anak siapa sih ini gemes banget." Alina terus mencium kalea dengan gemes.
Alina menggendong kalea dengan pelan, "kita ke papa yah, kakak mau mandi."
Rasanya alina mau menangis, tidak ia tidak sedih tapi amat bahagia. Dari sekian lama ia kesepian akhirnya ia punya mainan dan teman bicara walau kalea ngga ngerti sih. Menjadi anak tunggal membuat ia begitu kesepian. Tentu saja ia berharap mempunyai adik. Namun takdir berkata lain.
"Kak saga." Panggil alina.
Saga membuka kan pintu kamar nya, "Hm?" Gumam saga dengan tanda tanya melihat kehadiran perempuan itu di depan kamar nya.
"Jaga kalea bentar dong, mau mandi." Alina menyerahkan kalea pada sagara.
Mata bayi itu mengerjap begitu lucu, "ih gemes banget cepat cepat bisa liat yah."
Setelah mengatakan itu alina segera meninggalkan kalea bersama saga. Pria itu membawa kalea ke kamar nya.
"Bentar yah papa mau buka baju dulu gerah." Saga meletakkan kalea dengan hati-hati di atas kasur.
Setelah melepas kaos nya sagara ikut berbaring di sebelah kalea menggenggam jari kalea yang begitu kecil.
"Pasti mommy sama daddy baby bangga liat baby sehat dan cantik banget." Saga tau bayi itu tidak mengerti ucapan nya karena itulah ia bicara.
"Besar nanti baby ngga boleh ngerasa kesepian. Kalo besar nanti baby ngga boleh dekat sama cowok yah." Saga membayangkan kalo putrinya itu ada yang mendekati membuat ia geram.
Ia akan menjadi ceweret ketika depan kalea. Karena menurutnya kalea itu pengganti kembaran nya yang selalu menjadi tempat ia bercerita.
"Baby kalo udah besar jangan dulu pacaran yah. Papa aja sampai sekarang ngga ada pacar tu."
Nih saga kayak lagi curhat.
Saga mengelus pipi kalea dengan begitu pelan, "Ngga rela banget ada yang usapin pipi kamu selain papa." Lirih saga.
Mata kalea terus bergerak, "bener kata bocah itu kalo mata kamu indah banget."
"Kalea hanya punya papa. Papa ngga akan biarin siapapun nyakitin kalea. Papa akan jaga kalea dari wanita iblis dan kakek yah."
Faktanya papa saga juga ikut berperan untuk menghancurkan kalea, cucunya sendiri. Papa nya tidak menyetujui hubungan salina dan farel, wanita iblis itu memfitnah farel. Mengatakan kalo farel lah yang membunuh anak nya bersama wanita iblis itu. Padahal wanita itu sendiri yang menggugurkan kandungan nya.
Farel mati di tangan ayah mertuanya sendiri. Saga begitu ingat betapa hancurnya alina melihat farel telah tiada. Perempuan itu berniat mengakhiri hidupnya sebelum mengetahui kalo dia hamil.
Nafas saga begitu sesak, ia menangis lirih. Ia kesepian, ia ketakutan, ia tidak sekuat itu. Kenapa dunia begitu kejam padanya. Kalea menangis seolah ikut merasakan nya.
Saga segera menggendong kalea, "sst tenang yah baby juga kangen mommy yah?"
Cklek
"Kalea kenapa kak?" Alina segera membalikkan tubuhnya ketika melihat saga bertelanjang d**a.
"Kak tarok dulu kalea nya di kasur." Titah alina gugup. Bagaimana tidak, tubuh yang begitu sempurna itu terpampang di hadapan nya.
Saga menurut ia meletakkan putrinya, alina yang merasa kondisi sedikit aman ia segera melangkah mundur agar lebih dekat dengan kasur.
"Kenapa hm?lea laper yah?" Alina menggendong kalea keluar tanpa menoleh ke arah saga membuat pria itu mendengus.
Untung saja bocah itu tidak melihat ia menangis.
"Kakak buatin s**u lea dulu yah."
"Sini saya gendong."
Alina tersentak, ia menoleh ke belakang untung saja pria itu sudah memakai kaos hitam polos.
"Oke ikut papa dulu hm tunggu yah." Alina segera menyerahkan kalea. Saga hanya menatap datar alina yang sibuk membuat s**u buat kalea.
"Saya akan ke malang besok." Ucap saga seraya menimang alea di gendongan nya. Tubuh alea begitu mungil, hanya satu tangan saja sudah cukup melingkupi tubuh bayi itu.
Alina yang telah selesai membuat s**u kalea pun hanya mengangguk, "Berapa lama?" Tanya alina.
"Satu minggu bisa lebih." Jawab saga. Ia sudah memperkirakan kepergian nya.
"Ngapain?" Alina mengarahkan dot s**u itu ke mulut kalea. Sungguh ia sangat bersyukur bayi itu mau menyusu melalui dot.
"Memantau bisnis saya." Jawab saga singkat.
Alina mengangguk saja. Lagian itu memang tugas saga, bagaimana pria itu mendapatkan uang jika tidak bekerja.
"Biar saya yang Siapkan makan malam." Ucap saga ketika alina ingin mengambil alih alea.
Alina hanya menurut. Perut nya juga sudah minta di isi, kenapa ia merasa menjadi istri yah. Ia yang mengasuh lea dan saga yang menyiapkan makan malam. Sempurna banget.
Alina menggeleng udah gila lo al sadar.
*******
"Wih kakak bisa masak."
Saga yang baru saja meletakkan nasi goreng seafood yang ia buat itupun menoleh.
"Lo bisa makan seafood?"
Alina mengangguk dengan semangat. Ia begitu menyukai seafood. Melihat hidangan di hadapan nya membuat ia menelan ludah.
"Hapus iler lo dan cepat makan."
Alina tersentak ia meringis malu dan mengusap pinggiran mulutnya namun tidak ada satu titik pun iler di sana.
"Pembohong." Dengus alina.
Ia mengambil kursi di depan saga, setelah membaca doa ia segera makan karena memang ia sudah lapar.
"Kak kapan kak galen ngasih aku tugas?" Tanya alina. Semenjak ia pindah galen belum menghubungi nya sama sekali.
"Ngga tau." Jawab saga seadanya. Ia benar-benar tidak tau kapan sahabatnya itu memberikan tugas kepada alina. Yang ia harapkan semoga tugas yang galen berikan tidak memberatkan alina untuk menjaga alea.
"Kak besok kerja ngga?"
"Iya."
"Boleh ngga sore hari kalo baby udah satu bulan aku ajak main taman di dekat apartemen?" Tanya alina penuh harap.
"Ngga!"
"Kak." Mohon alina.
"Makan alina."
Alina mendengus ia tidak biasa makan dalam kesunyian seperti ini. Lagipula ia harus mengetahui beberapa hal pada saga. Alina fokus pada makanan nya seperti saga.
Sepuluh menit mereka selesai makan alina cepat cepat membereskan piring kotor. Ia harus berbicara lagi pada saga.
"KAK TUNGGUIN."
Saga berhenti membuat kening alina menabrak punggung lebar itu.
"Auuwwww kalo berhenti ngomong is." Gerutu alina. Ini badan saga besi apa, kening nya sedikit sakit.
Saga menghela nafas ia seperti ragu mempekerjakan alina yang seperti bocah tiga belas tahun ini.
"Apa?"
"Kita harus bicara kak." ucap alina dengan serius.
"Hm." Dehem saga mengangguk setuju.
Alina mendengus lagi lagi ia harus bersabar menghadapi sikap dingin bos nya itu. Apa bos?tidak saga bukan bos nya hanya galen bos nya.
"Langsung saja."
Alina mengangguk, "kak di sini aku mau izin buat pakein semua barang disini."
"Silahkan." Potong saga cepat. Ia tidak mempersalahkan barang-barang yang ada disini untuk alina gunakan.
"Nanti kalo ada barang yang habis?"
"Ini." Lagi-lagi saga memotong ucapan alina seraya meletakkan kartu atm milik nya.
Alina memejamkan matanya, "KAKAK DENGERIN DULU AKU NGOMONG!"
Saga tersentak ia menatap heran perempuan di hadapan nya. Sepertinya alina benar benar kesal padanya terbukti dari wajah alina yang memerah.
"DIEM DAN DENGER ALINA NGOMONG!"
Saga mengangguk patuh.
"Nanti kalo ada barang yang habis alina bakalan minta sama kakak,DIEM DULU!"
Saga kembali menutup mulut nya yang hendak berbicara tadi.
"Hanya barang baby dan dapur kok. Terus kalau ada makanan yang ngga bisa kakak makan kakak bisa catet terus di tempel di pintu kulkas. Kalo ada ruangan yang ngga boleh aku masuk tolong kasih peringatan di depan nya. Alina ngga ngatur tapi alina lagi minta izin." Jelas alina singkat.
"Oke."
Alina melongo hanya itu yang saga jawab? Benar benar di luar angkasa.
"Lo bebas mau memasuki ruangan manapun kecuali kamar gue." Peringat saga.
Siapa juga yang mau ke sana. Batin alina mendengus.
"Lo tidak hanya mengasuh baby tapi juga menjaga nya." Peringat saga kesekian kalinya.
"Lo pakek kartu ini terserah lo mau beli apapun disini. Ini udah gue urus atas nama lo, password nya tanggal lahir baby nominal nya ada sekitar 2,5 milyar."
Alina melotot ia mendorong kartu tersebut kepada saga, "Kebanyakan kak takut hilang ngga ada gantinya. Kalo perlu nanti aku minta aja."
"Ribet. Kalo ilang tinggal di proses alina." Paksa saga. Uang segitu bukan apa-apa baginya.
"Tapi."
"Lo mau beli keperluan pribadi juga boleh."
"Beneran kak?" Tanya alina penuh harap.
"Iya." Jawab saga. Ia juga tidak mempermasalahkan alina menggunakan uang nya untuk keperluan pribadi. Menurut saga itu sudah seharusnya untuk alina, jika perempuan itu benar-benar menjaga alea.
"Alina boleh jajan disini?" Tanya alina sekali lagi.
"Hm." Saga mengangguk.
"Oke nanti kalo alina jajan alina minta nota nya tapi kalo ngga ada alina kirim pap pembayaran nya." Ia tidak ingin sembarangan menggunakan uang saga.
"Ngga perlu. Sekarang tidur kalea sendiri." Titah saga. Ia percaya dengan alina.
Setelah mengatakan itu saga segera meninggalkan alina yang termenung. Entah apa yang ia pikirkan.