"Ini seriusan ngga boleh keluar kak?" Tanya alina kepada saga yang sibuk dengan ponsel nya.
"Hm." Dehem saga mengiyakan pertanyaan alina.
"Bagaimana dengan pekerjaan aku kak?" Tanya alina dengan nada yang sedikit tak percaya.
Saga menoleh, "Menjaga kalea." Sesingkat itu jawaban dari seorang sagara.
"Is bukan itu aja, kan aku kerja sama kak galen." Ucap alina masih mempertahankan kekesalan nya.
"Lo kerja di apartemen kalo lo lupa." Sinis saga kepada alina.
Alina menyenderkan tubuhnya, ah dia sangatlah pelupa. Benar kata saga ia harus tetap disini karena menjaga kalea bayi cantik yang ada di pangkuan nya.
"Kalo sayuran habis gimana kak?" Tanya alina dengan bergumam. Namun saga tetap mendengarkan nya.
"Suruh omar." Jawab saga.
"Kak omar pasti punya kesibukan yang lain kak." Balas alina yang sedikit tidak setuju dengan ide saga. Bagaimana mungkin menyuruh seseorang yang pastinya juga memiliki kesibukan. Apa saga tidak memikirkan itu?.
Saga meletakkan ponsel nya, sebentar lagi ia berangkat ke malang dan harus meninggalkan putrinya. Sebenarnya saga tidak rela tapi pekerjaan ini mengharuskan ia terjun langsung ke lokasi.
"Dengar. Tugas lo jaga kalea! Lo keluar putri gue sama siapa? Dan satu hal lagi, keberadaan kalea tidak ada yang boleh tau! Lo ngga lupa bukan?"
Alina menatap kalea yang tertidur di gendongan nya. Ia menjadi sedih melihat bayi yang hidup nya sudah terancam dari dalam kandungan.
"Iya kak." cicit alina. Bagaimana pun ia tidak bisa membantah titah saga.
"Ada pacar galen yang akan nemenin lo disini nanti." Ujar saga ketika melihat raut gelisah alina. Ia paham apa yang perempuan itu pikirkan. Tidak mungkin juga ia meninggalkan alea dan alina saja di apartemen.
"Iya kak." Jawab alina seadanya.
Saga mendengus, ia menatap sang putri dengan teduh walaupun wajah nya tetap datar.
"Ini gendong dulu lea nya." Alina menyerahkan kalea pada saga. Ia tau pasti laki laki itu berat meninggalkan putrinya.
Saga menerima kalea dengan senang hati walau wajah nya selalu datar. Ia mendekap bayi cantik itu dengan kasih sayang. Alina bisa merasakan itu.
"Jangan bukain pintu sembarangan." Peringat saga.
Alina mengangguk.
"Kalau butuh apa apa titip sama iren."
Lagi alina mengangguk.
"Kalo ada sesuatu langsung telpon."
"Iya kak."
Saga mencium kalea dengan penuh hati hati takut membuat kulit putrinya lecet.
"Papa pergi dulu yah." Bisik saga tanpa alina dengar.
"Saya harus berangkat." Alina mengangguk ia menerima kalea dengan hati hati.
"Ingat yang saya ucapin tadi alina!"
"IYA KAKAK!" ucap alina jengkel.
"Kalo terjadi apa apa pada putri saya nyawa kamu taruhan nya." Ancam saga.
Alina melotot wah kurang ajar nih orang tua tunggal. Dia sudah ikhlas menjaga anak nya dan sekarang main ancam ancam aja.
"Ngga tau terima kasih." Sinis alina pelan. Sedikit takut sang singa mendengar.
"Saya dengar alina." Tuh kan.
Alina tersenyum memperlihatkan gigi rapinya.
"Ngga mau cium kening saya nih?" Goda alina.
Saga mengangkat alisnya bingung ada apa dengan perempuan di hadapan nya ini. Sangat frontal sekali.
"Becanda pak, jangan serius amat." Ucap alina dengan cengiran nya.
Jujur ia hanya bercanda, melihat bagaimana saga dan kalea berinteraksi, ketika pria itu mengomel membuat ia berpikir mereka adalah sebuah keluarga. Itulah ia bercanda seperti itu tadi, simulasi jadi orang tua pikir alina.
"Jangan suka saya alina." Entah kenapa ia berucap seperti itu. Untuk antisipasi saja.
"Ngga suka." Jawab alina cepat.
Saga mengangguk ia harus terbiasa dengan sikap random pengasuh putrinya itu.
"Yaudah kalau begitu saya pergi."
"Tunggu mau salim."
Saga membalikkan tubuhnya
"Katanya ngga suka sa."
"Emang. saya cuman menghargai umur anda saja." Balas alina cepat. Ia meraih tangan saga dengan cepat. Ia tadi menggendong kalea dengan satu tangan saja.
Ting nong ting nong
Saga kembali menarik tangan nya yang akan alina raih ia melangkah menuju pintu.
Cklek
"Udah mau berangkat ga?" Tanya galen yang datang atas titah dari seorang sagara.
Saga mengangguk ia memberi jalan untuk galen dan iren masuk ke dalam apartemen.
"Hai." Sapa iren kepada alina.
Alina tersenyum ya ampun cantik nya batin alina melihat wajah kekasih bos nya itu.
"Eh hai kak." Jawab alina gugup.
Iren terkekeh lucu, wajah alina sangat baby face. Perempuan itu seperti masih anak SMA. Rasanya ia kurang percaya kalau alina sudah umur 22 seperti yang galen ceritakan.
"Gue titip mereka ren." Ucap saga kepada sahabat kecilnya itu.
Atensi semua orang langsung ke arah saga yang sudah siap dengan koper nya.
"Mereka?" Goda iren.
Saga memutar bola matanya ia paham maksud dokter muda itu. Ia tidak menjawab godaan sahabatnya itu. Ia menatap ke arah alina.
"Ingat yang gue bicarakan tadi alina."
Alina tersenyum dan mengangguk, "Hati hati kak."
Saga mengangguk dan langsung keluar apartemen bersama galen yang akan mengantar nya sampai bawah.
"Kamar kamu di mana al?" Iren membuka pembicaraan, ia cukup paham alina sedikit pemalu.
"Eh." Kaget alina, ia lupa bertanya iren akan tidur di kamar mana.
"Apakah tidak apa apa kakak sekamar dengan aku?" Tanya alina hati-hati.
Lagi lagi iren terkekeh, "Kalau ngga sama kamu aku dimana lagi al. Ngga mungkin di kamar saga kan."
"Eh iya kak, mari." Ajak alina menuntun iren menuju kamar nya.
"Lea sangat nyenyak tidurnya." ucap iren seraya menatap bayi yang terlelap itu.
"Iya kak, lea jarang sekali rewel." jawab alina.
Mereka terus berbicara mengenai pribadi masing-masing sebelum iren berangkat ke rumah sakit.
*******
Dua minggu berlalu
"Lea anak cantik anak manis." Alina terus berceloteh di hadapan kalea
Kalea menangis, alina yang melihat itu menjadi panik ia segera menggendong bayi yang sudah berumur satu bulan itu dengan lembut.
"Cup cup kangen papa yah." Alina terus menggoyangkan tubuh nya agar kalea tenang.
"Kenapa al nangis lagi?" Tanya iren ketika mendengar tangis alea.
Alina mengangguk terlihat sekali wajah cemas nya, karena sudah tiga hari alea sangat rewel membuat ia kewalahan bersama iren.
"Bentar yah kakak bukain pintu dulu udah ada galen," Ucap iren. Alina mengangguk dan terus menenangkan alea.
"Masih rewel yah?" Tanya galen.
Tidak hanya galen ternyata juga ada omar. Mereka memang sering ke sini untuk menjaga kalea atas suruhan saga. Namun saka tidak bisa terlalu sering karena ia harus berada di rumah sakit begitupun dengan iren. Jadi, hanya omar lah yang sering di apartemen.
"Kak saga masih ngga bisa di hubungin yah kak?" Lirih alina.
Omar dan galen saling bertatapan, dan mengangguk. Saga memang sulit di hubungi lima hari yang lalu. Ia sudah menghubungi asisten saga namun yang asisten pria itu katakan saga sangat sibuk.
"Alea sepertinya merindukan papanya kak." Rasanta alina ingin menangis saja. Sejak kepergian saga, pria itu sering menelpon untuk berbicara dengan alea walaupun singkat. Namun sudah lima hari saga tidak menelpon membuat alea merindukan sang papa sepertinya.
Alina membawa alea ke kamar ia berharap bayi itu bisa tertidur.
"Ini gimana aku harus ke rumah sakit tapi alea ngga berhenti nangis." Iren juga sama bingung nya seperti alina.
"Pergi aja ren biar gue jaga mereka." sahut omar.
"Ayok gue anter." Ajak galen.
"Gue kasihan sama alina dia sekarang jarang tidur makan pun ngga sempat. Coba telponin saga lagi yah mar." Ucap iren sebelum berlalu.
Omar mengangguk setelah kepergian iren dan galen omar melangkah menuju dapur. Sudah jadi kebiasaan nya sejak alea rewel menyiapkan makan alina.
Setelah semua siap omar menuju kamar alina. Sepertinya alea sudah tidur
"Udah tidur al?" Bisik omar.
Alina mengangguk, ah sepertinya perempuan itu habis menangis. Omar jadi tidak tega, tidak lah mudah berada di posisi alina.
"Sini gue suapin makan pasti lo belum makan kan?"
Alina menatap omar tak enak, sudah dua hari pria itu selalu menyuapinya ketika alea tertidur di gendongan nya. Jika di letakkan alea akan kembali menangis karna itulah alina tidak meletakkan alea lagi ketika bayi itu tidur.
"Ngga apa apa kak nanti alina makan." Tolak alina selembut mungkin. Ia sungguh tidak enak dengan omar.
"Udah sini muka lo pucat banget al. Kalo lo sakit gimana alea." Bujuk omar. Sejauh ini alea bisa tertidur hanya dalam gendongan alina saja.
Alina mengangguk membuat omar tersenyum dan mulai menyuapi perempuan itu.
"Nangis lagi?" Tanya omar.
Sudah tidak heran lagi kalau melihat wajah sembab alina. Perempuan itu akan menangis ketika alea sudah tertidur, melampiaskan rasa kelelahan nya melalui air mata.
"Kasihan alea kak." Lirih alina.
Omar tersenyum ia masih terus menyuapi alina dengan pelan.
"Kalau terus seperti ini alea bakalan kekurangan kasih sayang kak." Alina membayangkan masa depan alea yang akan terus di tinggal seperti saat ini. Alea akan menjadi perempuan yang kesepian jika terus seperti ini.
Omar mengangguk yang di ucapkan alina ada benar nya, saga sangatlah sibuk pekerjaan nya tidak hanya mengurus perusahaan milik nya namun juga milik kembaran nya.
"Menjadi saga tidak lah mudah al. Saga di tuntut keadaan untuk seperti itu, saga sudah tersiksa sejak dulu al. Mungkin sekarang saga punya prioritas nya, namun pekerjaan nya tidak bisa di sepelekan." jelas omar.
"Kehidupan saga itu keras al, ia sudah terbiasa tidak mendapatkan kasih sayang setelah mamanya meninggal membuat ia sulit mengungkapkan perasaan nya. Karna itulah saga butuh lo al buat menjaga alea agar bayi cantik ini ngga kekurangan perhatian."
"Tapi kak ngga selamanya alea bersama alina." Yang di ucapkan alina ada benarnya. Tidak selamanya ia berada di sisi alea.
Omar tersenyum ia meletakkan piring yang sudah kosong itu di atas meja. Dan memberikan minum Kepada alina.
"Kita ngga tau ke depan nya al."
"Kak ngomong apaan sih! Alea ngga boleh terus bergantung pada aku kak. Nanti istri kak saga sulit meraih perhatian alea." Bantah alina tidak suka.
Omar mengangguk.
"Lagi pula perhatian kak saga jauh lebih penting untuk alea." Yah untuk saat ini hubungan darah jauh lebih penting.
Omar tersenyum dan menatap alina dalam. Yang di tatap pun mendengus.
"Kak jangan natap al kayak gitu. Nanti suka."
Omar terkekeh ia meraih piring kosong itu dan berdiri, "Gue di luar kalau ada apa apa panggil aja."
Alina mengangguk, "coba telpon kak saga terus yah kak." Pinta alina.
Omar mengangguk dan segera berlalu dari kamar. Alina menghela nafas, ia menatap sendu ke arah bayi yang sudah mengambil hatinya ini.
Alina menyenderkan tubuhnya perlahan di sofa. Dua minggu ini ia sama sekali tidak keluar apartemen sesuai yang di ucapkan saga. Semua keperluan yang habis galen dan iren lah yang membelinya.
Ia memejamkan matanya tidak untuk tidur tapi mengistirahatkan isi kepalanya. Ia tidak lah punya pengalaman mengurus bayi. Selama ini mudah mengurusi alea karena bayi itu tidak rewel namun sekarang alea sangat sering menangis. Mungkin karena merindukan saga.
"Cepat pulang kak." Alina cuman bisa berharap saga cepat pulang sekarang.