Kepulangan sagara

1754 Kata
Ting nong ting nong Omar yang fokus dengan desain nya pun tersentak ketika bel apartemen berbunyi. Ia segera menuju pintu sepertinya itu galen dan iren. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam dan seharian ini alea tidak berhenti menangis membuat alina kewalahan. Cklek "Gal kalian la-ma SAGA?" Pekik omar ketika melihat keberadaan seseorang yang membuat suasana apartemen ini sedikit kacau. Saga mengangkat alisnya bingung, "Lo masih disini?" Tanya saga. "Sialan lo pengen gue tonjok wajah datar lo itu." Kesal omar melihat tampang datar sahabat nya itu. Saga mengernyit bingung ia mendorong omar masuk dan melepaskan sepatunya. "Lo kemana aja lima hari ini ga? Kenapa susah banget di hubungin!" kesal omar. "Ponsel gue hilang." "Yah lo ngga semiskin itukan buat beli ponsel baru." Omar mengeluarkan kekesalan nya, kenapa saga sangat sesantai itu tidak memberikan kabar. "Bawel mar." Dengus saga. Ia butuh istirahat bukan mendengar omelan omar yang ngga ada gunanya ini. Omar memejamkan matanya mencoba bersabar dengan sahabat nya ini. "Lo ngga tau apa yang terjadi lima hari ini ga." Lirih omar membuat saga menatap nya bingung. "Apa maksud lo?" Omar menghela nafas, "Baby demam tiga hari yang lalu karena ia terus menangis. Namun sudah sembuh, tapi rewel nya belum hilang." Jelas omar. "Apa yang alina kerjakan sampai alea menangis?" kesal saga. Omar menahan tangan saga ketika pria melangkah menuju kamar alina. "Jangan nyalahin alina ga. Alea rewel mungkin kangen lo. Kita udah hubungin lo tapi ngga aktif asisten lo juga bilang lo sibuk dan ngga mau di ganggu." Omar mencoba memberi pengertian kepada saga agar tidak gegabah dan berakibat menyakiti alina. "Alina dia berperan penting di sini ga. Jarang tidur makan aja ngga sempat ga, karna memprioritaskan alea. Lo ngga lupa kan alina ngga minta bayaran apapun dia ikhlas mengasuh alea ga. Dan lo mau nyalahin dia?" Saga yang mendengar ucapan omar pun terdiam. Hampir saja ia kelepasan memarahi perempuan itu tadi. "Gue melihat alina hari ini pucat banget tapi dia ngga ngomong apa apa sama gue. Alina juga sering nangis ketika alea tertidur, alea benar benar ngga mau lepas dari alina ga. Gue harap lo paham." Saga mengangguk, "Gue lihat mereka dulu." Pamit saga. Omar mengangguk sepertinya amarah saga sudah menghilang "Kalau gue pamit pulang yah." "Makasih yah mar." Ucap saga dengan tulus. Omar menepuk bahu saga ia paham sahabat nya itu pasti sangat kelelahan, "Santai aja kayak sama siapa aja." Saga tersenyum tipis setelah omar pulang saga melangkah kakinya menuju kamar alina. Kaki saga berdiri kaku di depan kamar alina yang sedikit terbuka. Dari sini ia mendengar suara tangis lirih alina. Saga menyenderkan tubuhnya di tembok kamar alina. Ia menunggu perempuan itu selesai menangis, sepuluh menit saga menunggu akhirnya tidak ada lagi suara tangisan lirih. Baru saja saga mau masuk ternyata alina juga mau keluar kamar. Saga memperhatikan wajah alina, mata sembab bibir pucat. "Kakak udah pulang?" pekik alina tertahan. "Hm." Saga mengangguk. Alina tersenyum lega, "Kakak mau ketemu alea kan? Masuk aja kak, alina mau nemuin kak omar dulu." Saga menahan alina perempuan itu menghindari tatapan nya, "Omar udah pulang." "Oh udah pulang." Lirih alina seraya menunduk. "Alea mana?" Tanya saga. Ia harus berpura pura tidak mendengar perasaan sedih alina. Saga tau alina berusaha baik baik saja di hadapan nya. Entah kenapa itu membuat ia merasa bersalah. "Udah tidur kak. Kalo kakak mau liat alea masuk aja kak? Alina mau ke dapur. Oh iya kakak udah makan?" Tanya alina. Ia berharap saga tidak ia menangis tadi. Saga menggeleng, "lo makan duluan aja gue mau ketemu alea. Tadi omar udah cerita." Alina mengangguk. "Ada stroberi di dalam koper keluarin buat lo." Mata alina berbinar ia mendongak menatap saga dengan senyuman lebar, "Benaran kak?" Saga mengangguk membuat alina berlari menuju koper nya di ruang tamu. Saga menggeleng apakah semudah itu membuat alina bahagia?. Setelah itu saga segera memasuki kamar alina wangi bayi langsung tercium. Saga menatap sendu putrinya yang terlelap. "Merindukan papa hm?" Saga berbisik ia tidak ingin menyentuh alea karna belum bersih bersih. "Happy one month baby girl." "Sorry baby girl. Papa ignore you." Lirih saga. Ia mencium kening putrinya dengan penuh kasih sayang. Tubuh alea benar benar berisi sekarang, alina sangat menjaga pola makan putrinya. Ah harus ia hadiahkan apa bocah itu? Saga tersenyum melihat putrinya memeluk boneka kelinci. Itu boneka yang alina kembaran nya miliki sewaktu kecil. Saga memang menyimpan itu di kamar alina. Setelah menyelimuti putrinya saga segera menyusul alina ke dapur. Ia melihat alina yang sibuk membersihkan stroberi yang ia belikan tadi. Sebenarnya ia membelikan stroberi itu di jakarta, ia tidak sempat membeli oleh oleh buat alina. Hingga ia terpikir membelikan bocah itu buah. "Apakah sebahagia itu mendapatkan stroberi?" Tanya saga. Alina menoleh dan mengangguk dengan semangat, "Aku suka banget sama buah hehehe." "Makan nasi dulu baru makan buahnya al." Peringat saga dengan nada seperti biasa. "Baik bos." Balas alina seraya hormat. "Kakak mau makan apa? Tadi alina ngga sempat masak, ini ada udang saos padang yang masak kak iren. Mau?" "Iya." "Kak iren baik banget tau kak. Dokter kan sibuk, nah kak iren masih nyempatin buat bantu alina. Kak galen juga ih romantis banget mereka, masak berdua hehehe. Kak omar juga kalo alina ngga sempat makan pasti kak omar suapin." Celoteh alina tentang keseharian mereka tanpa saga. Saga yang asik mendengar alina berceloteh pun tersentak omar menyuapi alina? "Omar nyuapin lo?" Tanya saga memastikan. Alina mengangguk, "iya al ngga suruh kok. Al udah cegah tapi kak omar maksa jadi yaudah al terima ada untung nya al bisa makan." "Lo kelelahan?Mau berhenti?" Kegiatan alina menyiapkan makan saga terhenti ia menatap saga yang juga menatap nya serius. Ia paham maksud pertanyaan saga. "Apaan sih kak. Kelelahan mah wajar, kayak kakak kerja pasti punya rasa lelah." ucap alina mengalihkan tatapan nya. "Gue serius!" Alina menghela nafas ia menatap saga dengan serius, "Kakak denger alina nangis tadi yah?" Saga mengangguk jujur. "Al udah bilang punya rasa lelah wajar. Bukan berarti rasa lelah menjadi alasan untuk berhenti. Kakak gitu juga kan? Al paham keadaan kakak. Sayang nya al belum mau berhenti, al sayang alea. Al mau alea tumbuh dengan baik. Ini kak makan." Ia menyodorkan sepiring nasi lengkap dengan lauk pauk nya di hadapan saga. Saga terus menatap alina membuat perempuan itu gugup. "Kak, aku ikhlas ngurusin alea. Aku nangis karna sedih liat keadaan alea dia kangen banget sama kakak. Aku ngga bisa tenang kalo liat dia nangis. Sebenarnya mau kesal ke kakak tapi ngga bisa tanggung jawab kakak lebih besar." Jelas alina mencoba memberi pengertian kepada saga. "Maaf." Ucap saga tulus. Alina mengangguk, "Ngga apa apa ayok makan kakak harus istirahat aku juga ngga bisa ninggalin alea lama lama." Saga mengangguk ia mulai menyendokkan nasi yang sudah alina siapkan. Melihat betapa pengertian dan lembutnya alina berbicara tadi membuat saga mengingat kembaran nya. Salina selalu mengerti dirinya yang nakal dulu. ******** "Beneran ngga apa apa kak ngajak alea keluar?" Tanya alina khawatir. Saga mengangguk menatap alina yang memakai kan alea baju. "Tanya kak iren aja dulu yah kak ini alea baru satu bulan loh." Ingin rasanya saga tertawa, alina benar benar mengkhawatirkan alea. Perempuan itu terus saja berceloteh mengenai ia ingin mengajak mereka keluar. "Iren mengatakan aman." Alina menghela nafas, ia harus tenang. Ia pergi bersama seorang sagara jadi pasti aman. Lagipula sudah lama ia tidak melihat dunia luar. "Jagain alea nya aku mau siap siap dulu kak." Saga mengangguk ia mengambil putrinya yang sedang menatap nya. Sepertinya putri nya itu akan segera bisa melihat. Ah saga tidak sabar menanti itu. "Ayo kak." Saga menoleh menatap penampilan alina yang simple namun mempunyai daya tarik sendiri. Saga mengangguk ia menggendong alea menuju basemant sedangkan alina membawa peralatan bayi tersebut. Saga meletakkan alea di car seat yang sudah ia siapkan. "Kak aku duduk di belakang yah takut alea ngga nyaman." Saga mengangguk saja. Mereka menuju mall yang terdekat. Selama perjalanan alina fokus memberikan alea s**u. Untung saja alea nyaman berada di car seat nya. Hanya butuh 20 menit mereka telah sampai di sebuah mall. Saga segera memakai topi dan masker untuk menutupi identitas nya begitupun dengan alina yang sudah meminjamkan kacamata saga. Saga mengeluarkan stroller yang sudah ia siapkan. Alina yang melihat itu tersenyum ia tidak tau kapan saga membelikan alea stroller. Laki laki itu cukup sigap. Alina yakin stroller tidak lah murah. Saga mengambil alea perlahan ternyata sudah tertidur mungkin akibat kekenyangan. Alina menahan pekikan nya melihat betapa lucunya alea sedang tertidur itu, "lucu banget sih." bisik alina. Saga menutup stroller alea agar tidak ada yang melihat putrinya. Alina tersentak ketika saga mengambil tangan nya untuk di genggam, "Berpura pura lah menjadi orang tua agar tidak ada yang tau." bisik saga. Alina mengangguk jujur saja ia sangat gugup sekarang. Tangan nya begitu kecil di genggaman saga. "Mau kemana dulu kak?" Tanya alina. "Apa yang habis di apartemen?" Tanya saga balik. "Em gimana beli baju alea." semangat alina. "Iya." Alina tersenyum di balik masker nya ia menatap sekitar. Ini pertama kalinya ia ke mall yang berada di jakarta. Sedangkan saga fokus mendorong stroller alea agar tidak menabrak orang di depan nya. Tidak peduli pada sekitar yang terus menatap mereka. "Lihat ke depan alina." Peringat saga ketika perempuan itu tidak memperhatikan jalan nya. Alina menoleh ke arah saga. Saga tau perempuan itu sedang menyengir karena ia bisa melihat mata alina menyipit di balik kacamatanya. "Pilihlah sesuka lo, gue dan alea tunggu disana." Tunjuk saga pada sofa tunggu disana. Alina mengangguk ia semangat berlari ke sana kemari mencarikan baju untuk alea. "Ah semua pakaian bayi di sini sangat lucu rasanya pengen aku beli semua." Ucap alina gemas. Namun alina harus mencari pakaian yang bisa alea gunakan dalam waktu lama. Itu menghemat uang saga juga. Alina mengambil baju alea untuk musim panas dan musim dingin ketika hujan. Beberapa topi untuk alea. Ia juga membeli handuk baru dan selimut untuk alea. Setelah selesai ia menghampiri saga. "Sudah kak." Saga menoleh ia menatap beberapa baju yang alina ambil, "Hanya segitu?" "Ih ini udah banyak. Aku ambil baju yang bisa alea pakai di waktu yang lama." "Uang ku cukup membeli alea baju sampai dia tua." Alina memutar bola matanya, "ini bukan perihal uang saja kak. Nanti baju alea banyak yang di pakai sebentar kan alea terus tumbuh. Ini tu udah banyak, aku aja ngga tau berapa habis nya ini." Ucap alina pelan. Saga mengangguk saja ia memberikan alina kartu milik nya. "Eh pakek yang ini aja yang ini masih banyak banget." Tolak alina seraya menunjukkan kartu yang pernah saga berikan. Setelah mengatakan itu alina segera berlari menuju kasir. "Padahal kartu itu khusus untuk dirinya." Gumam saga. Biarkan saja nanti ia akan mentrasfer uang itu ke rekening alina tanpa sepengetahuan perempuan itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN