"Ngapain ke sini kak?"
"Beli pakaian lo." Saga mengajak alina ke tokoh baju khusus khusus perempuan.
"Eh ngga usah kak ayo pulang." Ajak alina menolak, sungguh ia tidak terlalu membutuhkan pakaian untuk sekarang. Pakaian yang ia bawa lebih dari cukup.
"Beli alina!" Tegas saga.
Alina menggeleng ia meraih tangan saga untuk di tarik, "Lain kali aja ya kak. Takut baby nangis." Ucap alina beralasan.
"Carikan baju yang cocok buat dia sepuluh." Titah saga pada pegawai yanh tak dapat di bantah.
"Baik pak." Jawab pegawai di sana dengan sopan.
"Eh astaga mba saya sendiri aja." alina segera berlalu mengejar pegawai yang akan mencarikan baju untuk nya. Gimana kalo ngga cocok? Terus ngga sepuluh juga kali saga benar benar ngga waras batin alina.
Hampir satu jam saga menunggu alina memilihkan pakaian bahkan sih kecil alea sudah bangun. Untuk saja putrinya itu tidak rewel, saga dengan telaten memegang dot s**u alea membuka sedikit tudung stroller tersebut.
"Udah kak."
Saga mendongak ia menatap alina yang menenteng beberapa paperbag. Saga mengangguk, "Tunggu sebentar alea masih nyusu."
"Mana struk nya?" Tanya saga.
Alina memberikan struk pakaian itu kepada saga dengan gugup ia seperti anak yang boros yang lagi di sidang ayah.
Kening saga mengkerut membuat alina keringat dingin, "Kak itu anu apa aku udah pilihin yang paling mur"
"Hanya segini?" Potong saga cepat ketika melihat struk yang alina berikan padanya.
"Ha?" Cengo alina bingung.
Dengan satu tangan nya saga membuka ponsel, "Udah gue kirimin 15juta di rekening lo."
Mata alina melotot, apa maksud saga sebenarnya. Tadi menyuruh nya belanja dan sekarang mengirimkan ia uang lagi? Bahkan uang di rekening yang saga berikan saja baru keluar 10juta.
"Apa maksud nya kak?"
"s**u alea sudah habis ayo pulang nanti nangis." Ajak saga tanpa menjawab kebingungan perempuan di hadapan nya ini.
"Kak?" tuntut alina.
"Gift from me." Setelah mengatakan itu saga mendorong stroller alea. Ia takut putrinya menangis karena bayi kecil itu sudah bangun dari tidur nya.
Saga sengaja mentransfer ke rekening alina. Karena sedari awal memang dia ingin membelikan alina pakaian tapi bukan memakai kartu perempuan itu.
Mata saga memicing, langkah kakinya terhenti membuat alina mengernyit, "kenapa kak?" Tanya alina.
"Lo yang dorong."
Alina menurut ia mengambil alih stroller namun tubuh nya tersentak tak kalah saga merangkul nya dengan erat.
"Jalan lurus tanpa melihat ke samping." Bisik saga. Ia bahkan bisa merasakan nafas pria itu.
Alina mengangguk tangan nya terasa dingin, ucapan saga seolah sebuah peringatan. Mereka terus melangkah menuju basement.
"Kok?" Alina mengernyit heran melihat keberadaan omar di mobil saga.
"Lama kalian." dengus omar.
"Ngapain kakak disini?" Tanya alina.
"Jemur baju."
Alina mendengus omar memang tipe cowok yang ngga pernah serius.
"Masuk." titah saga dingin.
Alina mengangguk ia menggendong alea dengan hati hati masuk ke dalam mobil. Melihat alina sudah di mobil saga menatap omar. Yang di tatap pun mengangguk mengerti.
"Hati hati ga." Omar menepuk pundak saga lalu masuk ke dalam mobil di kursi pengemudi.
"Loh kok kak saga ngga ikut kak?" Bingung alina.
"Ada urusan." Jawab omar seadanya.
"Urusan apa?"
"Urusan cowok."
Setelah mengatakan itu omar melajukan mobil saga menuju apartemen. Alina menoleh kebelakang menatap saga yang masih menatap ke arah mobil mereka. Perasaan alina menjadi tidak tenang.
Tiba tiba alea menangis membuat alina kelimpungan.
"Kenapa al?" Tanya omar.
Alina menggeleng, "ngga tau kak. Mungkin rewel karna baru bangun."
"Lapar kali al." Celetuk omar seraya fokus dengan jalanan di depan nya.
"Baru aja selesai nyusu kak." Jawab alina seraya menenangkan alea.
"Tenangin dulu yah mungkin ngga nyaman di mobil." Ucap omar.
Namun alina hanya diam seraya menenangkan alea. Perasaan alina menjadi tidak tenang, pikiran nya masih tertuju pada saga. Apakah alea juga merasakan nya.
*******
Alina terbangun dari tidurnya karena merasa haus. Menyibak selimut perlahan takut menggangu si kecil yang terlelap di samping nya.
"Jam 2 pagi." Gumam alina melihat jam di nakas.
Membuka pintu kamar nya melangkah menuju dapur. Mengambil air putih dan langsung menegak nya. Ia memang sering kali merasa haus.
"Kak saga udah pulang belum yah?" Gumam alina menatap sekeliling apartemen.
Alina kembali ke kamar namun langkah nya terhenti di samping kamar saga apakah laki laki itu baik baik saja? Batin alina.
"Ngga apa apa kan ngecek aja?" Tanya alina kepada dirinya sendiri.
Alina melangkah kan kakinya menuju kamar saga, "tumben ngga di tutup."
Alina mendorong pintu kamar yang tidak tertutup itu dengan pelan. Ia menatap kamar saga yang gelap itu
"Ini gimana liat nya orang gelap gini." lirih alina seraya meraba kamar saga.
"AAAAAA." Pekik alina ketika ia tersandung sesuatu membuat ia terjatuh di atas sesuatu yang keras tapi tidak terlalu keras.
Brakk
"Shhhhh."
"Kak saga?" Tangan alina meraba yang ia tindih itu.
"Sshh stop al!" Suara saga yang terdengar serak membuat ia berjengit kaget.
Alina melotot ia segera bangun dari posisi nya ketika ia sadar telah menindih tubuh saga. Dengan cepat ia menghidupkan lampu tidur kamar saka yang di atas nakas dengan insting nya.
"Maaf kak tadi aku cuman mau ngecek kakak udah pulang apa belum." ucap alina dengan cepat ia menatap saga yang masih di posisi nya.
Saga membalikkan tubuhnya membuat alina melotot. Bukan karna saga menatap nya namun sesuatu yang di tubuh pria itu.
"KAKAK LUKA?" Teriak alina.
Alina segera lompat dari kasur dan menghidupkan lampu kamar membuat ia bisa melihat jelas kamar dan penghuninya.
"Astaga kak kok bisa gini sih?" rasanya alina ingin menangis melihat beberapa luka gores di d**a saga.
"Bentar yah kak."
Saga memejamkan matanya pelan. Ia baru saja pulang pukul satu pagi karena sebuah insiden. Tubuhnya sangat nyeri karena ada beberapa lebam dan luka gores menghiasinya.
"Aku bersihin dulu lukanya yah."
Saga membuka matanya ketika alina sudah di samping nya dengan baskom yang ia yakin berisi air.
"Kenapa ngga bangunin aku sih kak buat obatin lukanya." omel alina.
"Udah biasa."
"Jangan gitu luka nya nanti infeksi." alina membersihkan luka di d**a dan lengan saga dengan kain.
"Kakak tau ngga kemunafikan apa yang paling aku benci?"
Saga menatap alina yang sibuk dengan luka di tubuhnya.
"Orang memiliki luka yang sulit ditutupi namun mengatakan kalau dia baik baik saja."
Alina menatap mata saga yang juga sedang menatapinya. Alina tersenyum, "Semua luka punya obat nya kak."
Deg
Saga menegang, ucapan alina terdengar sederhana namun saga tau kalimat itu memiliki arti yang lain.
"Ayo nyender dulu kak." pinta alina
Saga menurut tatapan saga tidak pernah sekalipun beralih dari alina. Perempuan itu sibuk membuka kotak p3k yang ia bawa dari dapur tadi. Mengoleskan obat di beberapa luka di tubuh saga.
"Aku ngga punya hak untuk menanyakan apa yang terjadi hari ini tapi kak jangan biarkan kamu terluka lebih dari ini. Siapa yang jaga alea kalau kakak sering terluka."
"Gue ngga selemah itu."
Alina mendongak lagi lagi ia tersenyum tulus membuat saga benar benar tidak bisa mengalihkan tatapan nya.
"Kita hanya manusia kak." Suara lembut itu. Kenapa ia nyaman mendengarnya.
"Nah udah. Besok ke rumah sakit aja yah kak, banyak yang lebam juga biar kak saka periksa." alina membereskan obat obat tersebut. Ia hanya tau beberapa obat saja.
"Lo punya hak untuk menanyakan yang terjadi."
Langkah alina terhenti ia menatap ke arah laki laki yang memiliki mata tajam itu dengan pandangan bingung. Apa yang di ucapkan saga barusan?
"Lo termasuk orang yang menjaga alea. Sesuatu yang terjadi pada gue boleh lo tanyakan karna mungkin itu bisa jadi ada hubungan nya dengan alea." jelas saga.
Alina tersenyum dan mengangguk ia kembali duduk di sisi saga.
"Apa ada hubungan nya dengan yang di mall tadi?" Tanya alina.
Saga mengangguk. Hari ini ia harus mengatasi hama yang mengawasi nya ketika bersama alina dan alea.
"Apa kakak membunuhnya?"
Alis saga terangkat ia menyeringai mendekat kan wajahnya ke arah alina membuat alina mematung. Pahatan sempurna di hadapan nya sangat di sayangkan bukan.
"Apa gue terlihat sekejam itu?" Bisik saga.
Alina mengangguk, "Terlepas dari latar belakang kakak membuat aku berpikir ke sana. Aku sering baca novel orang orang yang seperti kakak itu suka membunuh musuh."
Ingin rasanya saga tertawa namun ia tahan, ia sama sekali tidak menjauh kan wajahnya dari alina.
"Negara kita punya hukum alina." Bisik saga. Alina merinding kenapa saga tidak menjauhkan wajahnya.
"Kakak percaya dengan hukum yang ada di negara kita?" Tanya alina.
Saga tersenyum tipis ia menepuk kepala alina dengan lembut, "Simple saja alina kalau musuh menggunakan uang, gue menggunakan kekuasaan dan bukti."
"Kakak selalu berusaha untuk berada di atas mereka agar di segani."
"Pintar." Puji saga.
Alina mengerti sekarang. Saga selalu berusaha untuk berada di atas mereka agar tidak mudah di kalahkan dengan uang. Mudah saja bagi saga untuk menggunakan uang nya, namun uang saja tidak cukup membuat ia lebih di segani. Ia butuh kekuasaan untuk membangkitkan keadilan. Ia ingin jadi orang yang di takutkan agar bisa di dengarkan.
"Kembali lah ke kamar. alea sendiri."
Alina tersentak dari lamunan nya. Ia mengangguk dan bangkit kenapa sekarang ia jadi gugup mengingat saga berbicara sangat dekat dengan nya. Kenapa kamu baru sadar sekarang alina Rutuk alina dalam hati.
"Gugup mu telat alina." bisik alina pada diri sendiri.
"Kalau begitu aku ke kamar dulu kak kalau perlu sesuatu bangunin aja."
Saga mengangguk ia menatap punggung alina yang tertelan di balik pintu kamar nya.
Tanpa alina sadari, larangan yang saga katakan untuk tidak menyentuh kamar nya sudah ia langgar
Saga menyeringai, "Clarabella galina."