"Kak?"
"Kak saga bangun bentar ih."
Alina terus menggoyangkan tubuh saga yang masih terlelap. Ia terpaksa memasuki kamar saga padahal saga pernah memperingatkan nya. Namun tadi malam ia juga sudah melanggar nya.
"Kakak ih."
Saga membuka matanya menyesuaikan cahaya yang masuk, "Kenapa?"
Tubuh alina merinding suara saga ketika bangun tidur benar benar menguji keimanan nya.
"Jagain alea bentar kak aku mau masak." Pinta alina.
Mata saga telat terbuka sempurna ia menatap ke arah alina yang berada di atas nya.
"Mana?" Tanya saga dengan suara serak.
"Itu." tunjuk alina ke arah samping saga. Ia menahan tawanya ketika melihat betapa kecil nya alea di samping saga.
Saga menoleh ke samping ia tersenyum tipis ke arah sang putri yang sibuk dengan empeng nya. Baru kemarin ia membelikan empeng itu karna kata iren alea sudah boleh menggunakan empeng.
Saga memeluk alea dengan hati hati mencium wangi bayi yang ada di tubuh alea. Sangat menenangkan.
"Jangan tidur yah kak!" peringat alina.
Saga mengangguk seraya memeluk alea terkadang ia mencium wajah berisi putrinya itu dengan gemas. Alina yang melihat alea sudah aman pun berlalu dari kamar saga.
Namun langkah nya terhenti karena ucapan yang baru saja saga lontarkan
"Peraturan gue ngelarang lo masuk kamar gue anggap aja ngga ada." Ucap saga tanpa menoleh ke arah nya.
Alina membalikkan tubuh nya ia salah mengartikan ucapan saga. Alina pikir saga menyindir nya
"Maaf kak yang tadi malam sama urgent banget. Aku udah panggilin kakak dari luar tapi kakak ngga denger." cicit alina.
"Gue bilang udah ngga ada jadi terserah lo." Saga menatap ke arah alina yang menunduk.
Alina memperhatikan saga yang memainkan jari kecil nya alea, "baik kak."
Saga memperhatikan punggung alina yang baru saja keluar dari kamar nya. Mata saga kembali teralihkan kepada alea yang memainkan jari nya. Harus bagaimana ia menunjukkan rasa syukurnya ketika melihat alea tumbuh besar sekarang.
********
"Masih lama?"
Alina menoleh ia menatap saga yang sedang menggendong alea, "Sebentar lagi kak. Alea nangis yah?"
Saga mengangguk beberapa menit di tinggalkan alina putrinya itu langsung menangis. Apakah sebosan itu dengan dirinya.
"Kakak ajak bicara alea nya." titah alina yang masih berkutat dengan peralatan dapur.
"Udah." Ia sedari tadi terus mengoceh, namun alea tetap menangis. Apakah ocehan nya menakutkan? padahal ia hanya bercerita saja.
Alina menghela nafas ia menatap saga dengan datar, "Gendong sampai ia berhenti nangis terus ajak bicara biar dia terbiasa dengan suara kakak. Sana ke depan ngga baik di dapur." Usir alina.
Saga mendengus baru kali ini ada yang berani menyuruhnya. Kalau saja alina tidak berperan penting bagi alea sudah ia buang perempuan itu.
Saga melangkah kakinya menuju ruang tamu bukan nya mengajak alea berbicara ia malah menonton tv. Namun saga terus menimang alea agar tidur. Perlahan mata putrinya ia menutup saga tersenyum tipis. Ia masih tidak menyangka sekarang ia sudah memiliki putri tanpa menghamili perempuan.
Alea begitu berharga baginya. Dengan adanya alea ia merasa salina masih berada di sekitar nya.
Alina menyiapkan menu sarapan mereka di meja makan. Ia menyusul saga di ruang tamu, ia masak dengan cepat karna takut alea tidak betah dengan sifat datar bapak nya itu.
Namun yang ia lihat sekarang membuat hati terenyuh, ia menatap haru saga yang menimang alea dengan pelan. Bayi cantik itu sudah terlelap dengan nyaman di pelukan hangat saga.
Alina tau tidak mudah bagi saga menjadi seorang ayah ketika ia belum siap. Menjadi perisai untuk bayi yang tak bersalah itu. Alina membayangkan kehidupan saga saja membuat ia terlarut dalam perasaan sedih.
Di balik punggung tegap itu ada luka yang menganga namun saga sangat pandai menyembunyikan lukanya. Ia yang hidup sebagai anak tunggal saja merasakan kesepian yang amat menyiksa apalagi berada di posisi seperti saga. Ia sama seperti saga, sama sama di tinggal pergi oleh orang yang kita sayang.
Di tinggal ibu dan kembaran, ayah menikah dengan wanita yang hanya menginginkan hartanya, menjadi orang tua tunggal, dan belum lagi harus terus waspada akan keselamatan putrinya.
Alina tersenyum ia mendekat ke arah saga yang belum menyadari kehadiran nya.
"Tidur kak?" Tanya alina.
Saga menoleh dan mengangguk.
"Sini." Pinta alina seraya merentangkan tangan nya namun saga tak kunjung memberikan alea padanya.
"Nanti bangun." Susah-susah ia menimang sang putri, baru sebentar sudah kebangun bukan kah sia-sia perjuangan nya?.
Alina tersenyum, "Ngga tenang aja. Kakak mandi dulu terus sarapan."
Saga menurut ia memberikan alea pada alina dengan sangat hati hati. Alina yang melihat itupun greget sekali kayak slowmo pikir alina.
Setelah mendapatkan alea yang tidak terusik sama sekali alina menatap ke arah saga yang juga menatap nya, "kenapa kak?" Tanya alina.
"Ngga papa."
Alina mendengus saga itu sangat menyebalkan. Alina baru ingat satu hal ia langsung menatap saga, "Oh ya kak tadi ada paket atas nama kakak."
Alis saga mengernyit, "Dari siapa?" Tanya saga.
Alina mengangkat bahu nya acuh, "Ngga tau ngga ada nama pengirim nya." Setelah menerima paket memang tidak ada nama pengirim nya. Paket itu tergeletak begitu saja di depan apartemen ketika ia ingin membuang sampah ke bawah.
"Udah lo buka?"
Alina menggeleng ia ngga punya hak untuk melakukan hal seperti itu. Saga menghela nafas lega, "Dimana paket nya?" Tanya saga.
"Di sebelah sana." tunjuk alina pada pojok ruangan.
Saga segera berlalu menuju paket yang alina maksud. Saga menatap kotak kecil itu dengan datar. Ia membawa nya menuju kamar, namun sebelum itu langkah nya terhenti di samping alina.
"Lain kali jangan terima paket sembarangan!" Peringat saga.
"Tapi itu untuk kakak." jawab alina.
"Saya tidak pernah memesan barang online alina." setelah mengatakan itu saga meninggalkan alina yang menatap nya bingung.
Saga segera mengunci pintu kamar nya, ia menatap datar kotak paket di hadapan nya. Hal apalagi ini? Batin saga.
Ia meraih gunting di lemari membuka perlahan kotak kecil itu. Tangan saga mengepal.
"Sialan." umpat saga ketika melihat beberapa foto ia bersama alina di mall kemarin. Tidak hanya di mall ada alina menggendong alea dan ia membawa beberapa belanja perempuan itu di basement apartemen. Ternyata wanita iblis itu sudah bergerak. Ia tidak bisa meninggalkan alina dan alea berdua saja di apartemen ini.
Saga menyimpan foto tersebut ia harus cepat cepat mandi agar bisa berbicara dengan alina.
Kamar alina
Alina meletakkan alea dengan hati hati. Ia mengusap Pipi alea dengan sayang. Sungguh ia sangat menyayangi alea, bayi cantik yang sangat menggemaskan itu. Rasanya ia ingin terus berperan dalam pertumbuhan alea. Namun itu semua itu tidak mungkin nanti nya ia akan mempunyai kehidupan sendiri dengan suaminya begitupun dengan saga yang akan mendapatkan ibu untuk alea.
"Jangan cepat besar yah sayang. Supaya aunty punya banyak waktu sama alea."
Alina mengganti panggilan nya. Menurutnya panggilan kakak terlalu muda untuk dirinya yang sudah kepala dua ini.
"Alea harus jadi perempuan yang kuat nanti. Yang bisa merawat papa saga dan mama baru alea nanti."
Mengenai mama baru alina takut saga menikah dengan perempuan yang tidak menerima alea. Apakah saga akan menelantarkan alea? Alina menggeleng itu tidak mungkin.
"Semoga kamu dapat mama baru yang nerima alea yah. Papa kamu ngga akan nelantarkan kamu dan memilih istrinya nanti kan." alina terus berceloteh di samping alea yang terlelap.
"Itu tidak mungkin. Alea jauh lebih berharga di bandingkan nyawa saya sendiri. Jadi jangan berpikir jauh dengan otak kecil lo itu." Celetus saga di ambang pintu kamar alina.
Alina mendengus ia menatap malas saga yang menguping pembicaraan nya, "Masuk kamar itu ketuk dulu."
"Kita perlu bicara alina." saga mengabaikan ucapan alina.
"Yaudah disini aja kak."
"Perut saya lapar alina."
Alina mendengus kesal padahal ia ingin ikut tidur bersama alea. Alina mengangguk ia mengikuti saga menuju meja makan.
"Mau bicara apa kak?" Tanya alina penasaran.
"Sarapan dulu."
"Sambil sarapan aja kak." titah alina.
"Sarapan alina!"
"Aku masih kenyang kak." Tolak alina.
"Yaudah ngga jadi cerita." Balas saga santai.
Alina yang mendengar itu melongo padahal ia sudah sangat penasaran. Alina mengambil nasi dengan raut wajah kesal namun itu terlihat menggemaskan di mata saga.
"Pelan pelan alina." peringat saga.
Alina menatap nya tajam namun saga tidak peduli ia fokus dengan sarapan nya. Rasanya ia selalu ingin seperti ini, ada yang menemani nya sarapan dan memasak untuk dirinya.
"KAK!"
Saga terhenyak ia menatap alina dengan alis terangkat. Kenapa perempuan itu berteriak, bagaimana kalau putrinya bangun nanti.
Alina mendengus, "Aku udah selesai makan ayo mau ngomong apa? Aku masih ada yang di kerjaain masalah restoran."
Saga mengangguk ia meletakkan sendoknya. Tadi ia melamun hingga tidak sadar kalau alina sudah selesai dengan sarapan nya.
"Lo dan alea harus ikut kemana pun gue pergi." Pinta saga dengan tegas.
Alina melotot. Tidak ia tidak terlalu suka berpergian, "Ke kantor juga?" Tanya alina.
Saga mengangguk mantap dan kembali menyuapkan nasi yang sempat tertunda itu kedalam Mulutnya.
"Ngga ah ngapain ikut enak di apartemen." bantah alina.
"Gue ngga nerima penolakan."
"Aku juga ngga nerima perintah."
"Alina!" Tegas saga.
"Kasih tau aku alasan nya kak." Pinta alina. Ia tidak ingin berdebat tapi ia juga butuh alasan.
Saga memejamkan matanya sebentar dan kembali menatap alina dalam, "Gue ngga tenang ninggalin kalian berdua di apartemen."
Alina terkekeh merasa lucu dengan ucapan saga, "Lebay deh kak."
"Lo dan alea di awasi seseorang al."
Deg