Sudah dua minggu semenjak saga mengetahui kalau alina dan putrinya di awasi. Selama itu juga ia tidak kekantor dan mengerjakan semua nya di apartemen kecuali ketika ada meeting ia akan mengajak alina dan alea untuk ikut ke kantor seperti sekarang ini.
Saga melirik alina yang fokus dengan laptop di depan nya. Bagaimana pun perempuan itu juga mempunyai pekerjaan dari galen. Sedangkan putrinya tidur nyenyak di box bayi yang ia sediakan di ruangan nya ini.
Tok tok tok
"Ini saya pak."
"Masuk." Titah saga.
Seorang perempuan dengan pakaian sopan nya masuk ke dalam ruangan saga. Perempuan itu tersenyum sebentar ke arah alina yang langsung di balas alina.
"Meeting sudah siap pak." ucap nya sopan. Ia sekretaris saga.
Saga mengangguk ia bangkit dan melangkah mendekati alina. Perempuan yang sudah satu bulan ini memasuki kehidupan nya bersama alea.
"Saya meeting dulu." Pamit saga.
Deg
Alina menegang ketika saga mengusap lembut surai nya. Asisten saga yang melihat itu tersenyum, ia memang lebih tua dari saga. Melihat boss nya begitu perhatian ke perempuan membuat ia bernafas lega kalau bos nya masih suka perempuan.
Saga dan sekretaris nya keluar dari ruangan meninggalkan alina yang menghembuskan nafas nya lega. Percayalah berada satu ruangan dengan saga terasa dirinya berada dalam kulkas. Alina sadar saga sering memperhatikan nya tadi namun ia memilih menyibukkan diri dengan alea dan pekerjaan nya.
"Akhir akhir ini kak saga aneh." gumam alina mengingat perilaku saga yang cenderung lebih lembut dan pria itu sudah sedikit berekspresi.
Ia tidak mau terlalu percaya diri dengan sikap saga yang dua minggu ini begitu perhatian padanya.
"Ingat al kamu dan dia itu jauh." Kalimat itu yang selalu ia tanamkan dalam pikiran nya. Ia tidak mau melewati batas yang sudah di tetapkan.
Alina selalu menekan itu pada dirinya. Siapa yang tidak tertarik dengan pesona seorang sagara, ia juga perempuan normal kalau disuguhkan dengan hal yang indah tentu saja sulit berpaling. Namun alina sadar dia dan saga itu seperti memiliki dunia yang berbeda. Dan alina tidak bisa memasuki dunia saga.
Ia kembali fokus dengan pekerjaan nya, entah kebaikan seperti apa yang ia lakukan dulu hingga ia di permudahkan dalam mengasuh alea. Bayi cantik itu jarang sekali rewel dan mudah sekali tidur.
Hampir dua jam alina berkutat dengan pekerjaan nya, rasa kantuk tiba tiba menyerang. Namun ia tidak boleh tidur takut nya alea bangun nanti. Alina memejamkan matanya namun tidak tidur, ia memikirkan ibunya. Pasti sulit dulu membesarkan nya apalagi keuangan ibunya tidak seperti saga.
Alina merasakan itu sekarang dimana ia harus siaga setiap saat takut ketika ia tidur terjadi sesuatu pada alea. Mencoba menenangkan alea ketika ia rewel, harus bangun dini hari ketika ia menangis. Bangun pagi hari memasak sebelum alea terbangung. Ah alina benar benar baru merasakan nya dan itu sangat melelahkan.
"Anggap aja simulasi jadi ibu yah al." gumam alina.
Ia terlalu kelelahan sampai tidak sadar kalau sudah masuk ke alam mimpi.
Satu jam kemudian Pintu ruangan terbuka menampilkan saga yang hanya memakai atasan kemeja hitam nya saja karna jas nya sudah di tangan. Ia menatap alina yang tertidur di sofa dengan posisi duduk. Matanya beralih ke arah box bayi ternyata putri nya sudah bangun.
Saga menggendong alea dengan perlahan takut putrinya itu menangis ketika di gendong dan itu menggangu tidur alina.
Setelah posisi alea aman dan nyaman di gendongan nya. Ia menelpon sekretaris nya untuk ke ruangan. Hanya butuh dua menit untuk perempuan itu datang.
"Iya pak?" Tanya nya.
"Tolong gendong putri saya sebentar." saga menyerahkan putrinya kepada tina. Ia tidak perlu khawatir dengan tina karna perempuan itu sudah berpengalaman dalam mengurus anak. Yah tina sudah menikah.
Setelah itu saga beralih ke arah alina, ia menyimpan laptop dan berkas yang ada di pangkuan alina dengan rapi. Setelah itu ia menggendong perempuan itu dengan pelan takut membangunkan.
Tina yang melihat itu melongo bos nya benar benar berbeda. Ah tina tersenyum, "salina, saga sudah mendapatkan yang ia cari selama ini." batin tina.
Yah tina mengenali kembaran saga, bukan hanya mengenali namun ia adalah sahabat dari alina. Karna itulah saga begitu mempercayai tina menjadi sekretarisnya.
"Ikut saya ke parkiran tutupi alea dengan itu." perintah saga.
Tina mengangguk ia mengambil kain penutup untuk alea dengan cepat menutupinya, "kamu akan segera mendapatkan mama cantik." bisik tina.
Mereka melangkah menuju lift. Untung saja saga membuat lift khusus direktur utama jadi para pegawai tidak boleh memakai nya kecuali sekretaris dan asisten saga saja.
"Dia cantik." puji tina.
"Hm?" bingung saga. Jika yang di katakan tina adalah putrinya, tentu saja alea cantik bahkan sangat cantik.
"Dia juga lembut dan penyayang." ucap tina. Tunggu ini bukam tentang alea.
"To the point saja tina." balas saga datar.
Tina terkekeh ia sangat suka kepekaan saga, "Dia cocok menjadi mamanya alea."
Saga menatap alina di gendongan nya, saga memang sudah mengerti dari awal maksud sahabat kembaran nya itu memuji alina. Saga tidak menjawab pintu lift terbuka langsung menghubungkan nya dengan parkiran.
"Alea sangat tenang dan tidak rewel." ucap tina menatap alea di gendongan nya yang hanya diam dengan jari bertautan.
"Gue bersyukur akan hal itu." jawab saga.
"Coba anak gue cowok udah gue jodohkan dengan alea."
"Gue ngga akan biarin itu." Tolak saga dingin.
Tina melotot hei gen nya bagus ia memiliki suami yang tak kalah tampan.
"Buka." titah saga.
Tina mendengus ia menahan alea dengan satu tangan dan membuka kan pintu mobil untuk saga meletakkan alina.
Tina meletakkan alea di car seat dengan perlahan, "Kok kamu anteng banget sih heran tante." tina berbicara dengan alea.
"Ini aman ngga alea di belakang?"
Saga menutup pintu mobil samping kursi alina. Perempuan itu benar benar kelelahan sampai tidak terusik sama sekali.
"Lo paling tau." jawab saga.
Tina mengangguk setelah melihat alea aman ia segera menutup pintu mobil dengan perlahan.
"Terima kasih." ucap saga.
Tina melotot wah saga sih kaku dan dingin itu berterima kasih padanya, "Semenjak ada dia lo lebih berperasaan yah."
Saga mendengus ia segera beralih ke arah kursi kemudi melajukan mobil nya menuju apartemen. Tina melotot melihat dua mobil mengikuti saga. Tidak bukan panik tapi ia kagum ternyata saga memang menjaga alea dengan begitu
*******
Saga memperhatikan alina yang masih terlelap lalu beralih ke arah putrinya yang tertidur. Apakah semudah itu alea tertidur hanya dengan empeng. Saga benar benar bersyukur akan hal itu.
Saga menggoyangkan tubuh alina agar perempuan itu bangun. Mereka sudah sampai di basement, saga bingung bagaimana membawa kedua nya kedalam apartemen. Saga memegang lengan alina bukan nya mendapatkan alina bangun tapi ia malah merasakan lengan alina sangat panas.
saga segera meletakkan tangan nya di kening alina, "Panas." gumam saga.
Tok tok tok
Saga menoleh ia menatap ke arah samping nya ada galen di sebelah nya. Saga membuka pintu mobil nya.
"Kita baru sampai langsung liat mobil lo." ucap galen. Ia datang berkunjung ke apartemen saga bersama iren. Untung saja kekasih nya itu tidak ada jadwal di rumah sakit.
"Ambil alea, alina demam." titah saga pada iren.
Galen dan iren saling tatap namun tak urung iren mengikuti perintah saga. Ia mengambil alea yang terlelap di car seat nya. Sedangkan saga kembali menggendong alina. Saga yakin alina tidak tertidur namun perempuan itu pingsan, mana mungkin waktu dia membawa perempuan itu di kantor alina sama sekali tidak terusik.
Saga mempercepat langkah menuju apartemen. Begitupun dengan galen dan iren. Dimana bodyguard saga? Mereka menjaga saga dari jarak jauh.
"Letakkan alea di box bayi." Titah saga. iren mengangguk ia meletakkan alea di box bayi dengan hati hati. Setelah aman ia menghampiri saga yang sedang melepaskan sepatu alina.
"Alina kenapa ga?" Tanya iren melihat wajah pucat alinaz
"Periksa dia." titah saga dengan raut panik. Iren dan galen bertatapan, seolah berkomunikasi melalui mata.
Iren mengangguk ia mendekati alina namun saga tidak beranjak ia terus memanggil alina namun perempuan itu tak kunjung bangun.
"Alina pingsan ga suhu tubuhnya sangat panas. Gue akan mengambil peralatan di mobil." Ucap iren.
"Oles kan minyak kayu putih di pelipisnya terus dekatkan wangi minyak kayu putih itu ke hidung nya." Pinta iren.
Saga mengangguk ia mengambil minyak kayu putih yang ada di tangan iren. Ada apa dengan alina? Apakah perempuan itu sedari tadi menahan rasa sakit di kepalanya.
Saga mengolehkan minyak kayu putih di pelipis alina dengan lembut. Setelah itu ia mendekatkan jarinya yang di oleskan minyak kayu putih ke hidung alina.
"Al wake up please."