Ketakutan

1103 Kata
"Eughhhh." Lenguhan alina terdengar. Alina meringis ketika kepalanya berdenyut sakit. Apa yang terjadi? batin alina bertanya. Alina menatap sekeliling kamar yang dominan hitam ini, "Kamar kak saga?" Gumam alina. "Sudah bangun?" Alina menoleh ke arah saga yang sedang menggendong alea. Alina berusaha bangun namun kepalanya berdenyut sakit ketika ia bergerak. Alina berusaha menyenderkan tubuhnya. "Apa yang terjadi kak?" Tanya alina. Tatapan dingin saga membuat ia merinding, ia tidak ingat apapun. Bukan nya ia berada di ruangan saga terus memejamkan matanya karna rasa pusing kian menyerang. Setelah itu? Tunggu. Ia pingsan? yang benar saja. Alina menatap saga dengan pandangan bertanya, "Kak aku pingsan?" "Iya al." Bukan saga yang menjawab melainkan iren yang datang dengan makanan di bawa nya. Ia duduk di samping alina. "Makan dulu al lo harus minum obat." Alina menunduk ia merasa bersalah karena tidak becus menjaga alea malah dia yang menyusahkan sekarang. Saga menghela nafas ia mendekati mereka. "Letakkan disana." titah saga. Iren mengangguk ia meletakkan makanan alina di nakas. Ia menerima alea ketika saga menyerahkan bayi cantik itu. Saga mendekati alina, perempuan itu terus menunduk bahkan setelah kepergian iren dan putrinya. "Makan." titah saga dingin. Alina salah mengartikan nada dingin saga, "Maaf kak maaf ngga becus jagain alea tadi hiks." Pecah sudah tangis alina. Ia benar-benar merasa tidak becus menjada alea. Kening saga mengerut, "Makan alina." Alina menggeleng ia mendongak menatap saga yang menatap nya datar. Lagi lagi air mata nya mengalir, "Kak maaf hiks." Ia terus menggumamkan kata maaf kepada saga. Saga mengambil piring yang berisi makan alina ia mendekati perempuan yang sedang terisak itu, mengelus lembut surai alina. "Makan dulu al ngga ada yang salah jadi ngga perlu minta maaf." Ucap saga dengan nada lembut. Alina menghapus air matanya ia bisa merasakan tatapan lembut dari saga. Alina mengangguk ia mengambil makan yang ada di tangan saga. Pria itu menyerahkan piring nya ia bukanlah tipe pria yang langsung menyuapi perempuan di depan nya. Selagi alina masih mampu ia akan membiarkan nya. Saga menunggu alina selesai dengan makanan nya ia menatap alina tanpa berbicara membuat alina gugup. "Udah kak." Alina meletakkan piring tersebut di atas nakas. Saga mengangguk alina hanya makan sekitar 6 sendok, ia tidak memaksa alina untuk menghabisi makanan nya yang penting perut perempuan itu ada isinya. "Minum obat dulu." saga menyodorkan beberapa pil yang iren berikan tadi. Dengan sabar saga menunggu alina meminum obat nya. Alina kembali menunduk ketika saga terus menatapi nya. "Sekarang udah jam berapa kak?" Tanya alina dengan nada yang pelan nyaris berbisik. "Jam delapan malam." Alina mendongak ternyata ia sudah empat jam pingsan, "ini jam alea tidur kak." cicit alina. Tubuh alina menegang ketika tangan besar saga berada di tangan nya, "Masih panas tetap disini." Alina menatap punggung saga yang keluar dari kamar. Ini kamar pria itu, alina harus kembali ke kamar nya. Namun saga menyuruh nya tetap disini. "Mau kemana?" Tanya saga. Alina mengurungkan niatnya untuk turun dari kasur ketika saga sudah datang bersama sang putri. "Alea udah tidur kak?" Tanya alina. Saga menggeleng ia meletakkan alea di samping alina. Alina langsung menatap alea dengan teduh, ia mengelus punggung alea dengan lembut. Biasanya bayi cantik itu akan terlelap kalau punggung nya di elus dengan lembut. "Tidur disini kamar sebelah ada iren." Alina mendongak, "tapi kak." "Gue sama galen di ruang tamu." Alina mengangguk, ia membaringkan tubuhnya di samping alea. Mengelus lembut punggung alea terkadang beralih ke tangan bayi kecil itu. Alea yang mulai terbuai dengan sentuhan alina pun perlahan menutup matanya. Alina yang melihat itu tersenyum, namun ia kembali sadar kalau saga masih di posisi yang sama duduk di samping alea. "Jangan di ulangi." Peringat saga. Alina mengangguk ia paham maksud saga, "Maaf kak." lirih alina. Saga mengangguk, "Capek bilang jangan di tahan." peringat saga. Alina mengangguk ia tidak berani menatap saga. Pria itu sangat menyeramkan ketika sudah bersuara dengan nada tegas. "Tidur." Alina mengangguk ia memejamkan matanya tapi tangan nya tidak berhenti mengelus alea. Demi apapun dia sangat menyayangi alea. "Selamat malam baby girl." gumam alina. Itu sudah menjadi rutinitas nya setiap malam ketika ingin tidur. Saga yang mendengar hal itu tersenyum, tentu saja alina tidak mengetahui nya karna mata perempuan itu sudah tertutup. Saga menaikkan selimut menutupi alina dan alea. Ia mengecupi pipi alea dan mengelus lembut surai alina. "Good night my precious girl." bisik saga. Alina membuka matanya ketika mendengar suara pintu di tutup. Ia memegang dadanya yang berdegup dengan kencang. "Tidak alina itu untuk alea." "Kendalikan diri kamu al." alina terus menggumamkan hal itu menenangkan jantung nya. Alina selalu menekan kan dirinya untuk mengingat batasan nya dengan saga. Ia dan saga itu sangat berbeda jauh. Alina sadar ia dan saga berbeda. Selama ini ia berusaha untuk menghindar dari seluruh perhatian saga yang tidak hanya di tunjukkan untuk alea namun alina juga merasa sikap saga tidak lagi cenderung dingin padanya. "Kalo aku terus di sini aku ngga yakin bisa ngendaliin perasaan aku." lirih alina. ****** "Gue liat lo beberapa minggu ini perhatian banget sama alina." Ucap galen. Saga tidak menoleh ia masih fokus dengan laptop nya, "kesehatan dia bisa berdampak ke alea." "Bullshit." sinis galen. Ia tidak percaya dengan ucapan sahabatnya. Bukan satu dua tahun ia mengenal saga, mereka sudah mengenal sangat lama. Saga menghela nafas, "Apa maksud lo?" Tanya saga. "Jangan kasih harapan sama alina ga. Lo ngga bisa ngewujud kan nya nanti." Saga menyenderkan kepalanya di sofa, "Gue ngga tau." Awalnya ia memperhatikan alina karna ingin melihat bagaimana perempuan itu membesarkan putrinya. Namun semakin lama ia melihat alina mengurus alea. Ia akui ia semakin tertarik, tidak hanya ingin alea selalu bersama nya tapi ia juga ingin alina ada di samping nya. Beralibi kalau alea tidak bisa jauh dengan perempuan itu. "Gue tau lo takut." Galen paham apa yang di rasakan saga. Hal itu tidaklah mudah. Saga menoleh ia menatap galen dengan bingung apa yang sahabat nya itu ketahui. "Lo takut kalau alina ngga nyaman sama lo, lo takut perilaku lo membuat ia risih, dan alasan terbesar lo adalah Lo takut jika membuat alina menjadi milik lo dia dalam bahaya." "Alina punya masa depan panjang, ngga selamanya ia mengurusi alea. Dia juga akan menikah dan memiliki keluarga." Jelas galen. Tangan saga mengepal, "dia belum cukup umur." Bantah saga. Alina masih terlalu kecil untuk menikah. Galen terkekeh oleh bantahan sahabat nya itu, "Kalaupun nikah alina sudah bisa memiliki anak ga. Dia bukan anak kecil lagi." "Gue takut." Lirih saga. Galen mengangguk, "Yah gue paham ketakutan lo." Galen menatap saga serius, "Kalo lo merasa ngga akan bisa memiliki alina lo harus membatasi diri ga. Gue liat omar cukup perhatian dengan alina." Saga memejamkan matanya yang di ucapkan galen memang benar. Ia harus membatasi diri demi perasaan alina dan juga dirinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN