Pindah

1009 Kata
"Selamat pagi kak." sapa alina dengan riang ketika melihat keberadaan saga di kamarnya m. Tubuhnya membaik, ia sedang berada di balkon membawa alea untuk berjemur. "Kakak sarapan duluan aja sebentar lagi al sele." "Saya tidak tinggal disini lagi." Saga memotong ucapan alina dengan cepat. Membuat itu perempuan itu mematung. Alina membawa alea untuk masuk. Ia perlu mempertanyakan ucapan saga pada pagi hari ini. "Maksud nya kak?" Tanya alina bingung. "Saya akan pindah." Hanya itu yang saga ucapkan. "Kenapa?" cicit alina. Ia bingung dengan sikap saga yang lebih dingin dari biasanya. Apa ia melakukan kesalahan? apa karena ia demam kemarin? tapi kenapa baru sekarang saga mempermasalahkan nya?. "Tidak baik kalau kita hanya tinggal berdua disini." ucap saga mengalihkan pandangan dari tatapan alina. "Kita tinggal bertiga kak!" Bantah alina. Saga sungguh aneh, kenapa baru sekarang pria itu mempermasalahkan mereka yang seatap. Dulu saga dengan enteng nya mengatakan untuk tinggal serumah. Tapi sekarang? pria itu mempermasalahkan. Kalau itu alasan saga, kenapa tidak dari dulu ia membantah. Ini menyebalkan. "Ada sesuatu yang saya urus al. Saya akan sering kesini." bujuk saga mencoba memberi pengertian kepada alina. "Bagaimana kalau alea menangis karna merindukan kakak?" Tanya alina. "Lo bisa telpon." Alina menghela nafas, entah apa yang terjadi dengan saga. Tapi alina berusaha berpikir positif mungkin memang ada yang saga urus. "Baiklah." final alina. Saga mungkin terlalu lelah jika harus bolak balik ke apartemen dan kantor. "Mau sarapan dulu kak?" Tawar alina. Saga mengangguk membuat alina tersenyum, mereka melangkah menuju dapur. Namun langkah mereka terhenti karena alea menangis. Alina mencoba menenangkan alea dengan mengayunkan tubuh alea perlahan. "Sini lo sarapan duluan." saga mengambil alih alea yang menangis. "Tapi kak." "Alina!" Nada tegas tersebut membuat ia terpaksa menginyakan. Ia harus mengikuti ucapan saga. Kalau berdebat banyak waktu yang terbuang. Mungkin alea ingin bersama saga, karna laki laki itu pergi. Saga membawa alea ke ruang tamu. Ia mencoba menenangkan sang putri dengan sabar. "Its okay baby girl papa akan sering ke sini." ucap saga dengan lembut. Dan ajaib nya tangis alea berhenti. Saga tersenyum pedih, ia tidak ingin membiarkan mereka tinggal tanpa dirinya. "Alea lebih membutuhkan aunty alina yah sayang." bisik saga lirih. Hanya butuh waktu 20 menit alina menyelesaikan sarapan nya. Ia mendekati saga yang masih bermain dengan alea. Ada yang berbeda dari tatapan saga, mata itu sedikit meredup. Apakah benar gara-gara kerjaan? "Alea sepertinya sudah bisa melihat kak." ucap alina menghampiri mereka. "Sini al nya kakak sarapan dulu." alina meletakkan piring yang berisi sarapan saga di atas meja. "Suapin." Pinta saga. "Ha?" Cengo alina. "Suapin aja gue masih mau sama alea." ucap saga. Ia masih ingin bermain dengan sang putri. Alina mengangguk pasti berat bagi saga. Ia mulai menyuapi saga yang langsung di terima dengan baik oleh saga. "Bukan nya rumah yang itu jarak nya lebih jauh yah kak kalo ke kantor." alina membuka percakapan. Ia baru ingat kalau rumah yang pertama kali mereka ketemu itu jarak nya lebih jauh dari kantor saga di bandingkan dengan apartemen. "Ada yang saya urus disana." "Berapa lama kak?" Saga menelan nasi nya terlebih dahulu "Belum di pastikan." Jawab saga seadanya. Alina kembali menyuapi saga, "Apa ngga bisa dari sini aja kak? Alea sudah mulai bisa melihat dengan jelas sekarang. Kakak harus sering menunjukkan wajah di hadapan alea." Ia masih berusaha membujuk saga. Sangat di sayangkan harus berhubungan jarak jauh dengan alea, karena bayi cantik itu sudah bisa melihat sekarang. Walaupun saga sering kesini sih tapi itu masalah waktu. "Minum." Pinta saga. Alina mengangguk ia memberikan saga segelas air putih yang langsung di tandas habis oleh saga. "Gue mau ngomong serius." Saga mulai menatap alina dengan serius. Alina mengangguk ia meletakkan piring yang sudah kosong itu di atas meja. "Lo punya waktu bersama alea dua bulan lagi." Tubuh alina tersentak atas perkataan saga barusan. Apa maksud dari ucapan pria di hadapan nya ini. "Apa maksud nya kak?" "Gunakan waktu dua bulan ini mengurus alea dengan baik. Setelah itu lo bebas bekerja di restoran galen tanpa mengurus alea." "Kenapa kak?" Lirih alina. Apakah secepat itu ia berpisah dengan bayi cantik itu? Kenapa ada perasaan tidak rela. "Gue dan alea tidak akan tinggal disini lagi." Ucap saga pelan. Ia mengalihkan tatapan nya. Ia tidak bisa melihat mata alina yang sudah siap menumpahkan tangis nya. Alina menghapus air matanya. Ia mengangguk walau sesak menyerang, ini sudah konsekuensi nya dalam menjaga alea. Bayi cantik itu adalah hak saga, kapanpun pria itu bisa memisahkan nya. Lagipula siapa dirinya yang bisa mencegah keputusan saga. "Baik kak." Alina mencoba tersenyum. "Oh ya kak saran aku kakak pergi nya sore aja. Habisin waktu sama alea aja dulu, aku ke kamar dulu yah kak." alina bangun dari duduk nya mengambil piring kotor tersebut untuk di cuci. Saga menghela nafas ia menatap alea yang ternyata sedang menatap nya, "Hei ini papa. Papa jahat yah?" bisik saga lirih. Saga berdiri membawa alea ke kamarnya. Ia akan menghabisi waktu dengan putrinya, sebelum pergi. Langkah saga terhenti di perbatasan dapur. Bisa ia lihat punggung alina yang bergetar di depan wastafel. Sepertinya alina sengaja menghidupkan air agar tangis nya tidak terdengar. Saga melanjutkan tujuan nya untuk ke kamar. Ia tidak bisa terlalu lama disana, melihat alina menangis akan membuat ia goyah. Ini keputusan yang sudah ia pikirkan dari malam. Semua resiko yang akan terjadi sudah ia pikirkan. Alina dan alea masih dalam genggaman nya hanya saja ia tidak bisa berada disini. Alina menghapus air matanya menarik nafas dan menghembuskan nya. Ia merasa tidak sanggup berpisah dengan alea, ia sudah terlanjur menyayangi bayi kecil yang sangat cantik itu. Hidupnya yang kesepian ini mulai terisi dengan adanya keberadaan alea di sisi nya. "Ayo sadar alina. Tidak selamanya alea bersama kamu." gumam alina berusaha menguatkan dirinya. "Pasti kak saga mau nikah dua bulan lagi." alina tersenyum miris. Apa yang ia harapkan? Alina kamu terlalu terbawa oleh perasaan mu sendiri. Ini salah, dan pilihan saga untuk pindah adalah hal yang tepat. "Mari kita habiskan waktu bersama alea dalam dua bulan ini. Mari ciptakan kenangan bersama alea, semangat alina." Yah ke depan nya ia akan menjalani kehidupan nya sendiri. Kehidupan yang seharusnya, kehidupan yang ia tujukan sebelum ke jakarta.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN