Saga yang berbeda

1152 Kata
Sudah tiga hari alina tinggal hanya berdua dengan alea saja di apartemen ini. Tiga hari yang lalu saga sering datang ke sini ketika laki laki itu memiliki waktu luang dari pekerjaan kantor nya. Sekarang ia sedang merapikan kamar nya, alea sedang terlelap. Semua pekerjaan itu ia lakukan sendiri, kadang ia merasa lelah. Apartemen saga tidaklah kecil. Untuk apartemen ini lengkap dengan alat alat yang canggih. Ting nong ting nong Alina yakin itu saga, karna laki laki sering datang ke sini di jam yang sama. Alina segera bangun ia sedikit berlari untuk membuka kan pintu. Namun sebelum itu ia melihat dulu dari layar dekat pintu apakah benar itu saga. Alina tersenyum ketika melihat itu benar benar saga. Saga selalu memperingatkan dirinya untuk melihat siapa yang datang terlebih dahulu baru membuka kan pintu. "Hai kak." sapa alina riang. Saga hanya menatap alina sekilas, setelah itu ia melepaskan sepatunya dan memakai sendal. Alina menggaruk kepalanya canggung, aura saga benar benar berbeda dari terakhir ia lihat. Saga terlihat jauh lebih dingin. "Kakak udah makan siang?" Tanya alina. "Sudah." jawab saga seadanya. "Mau langsung nemuin alea? Alea nya lagi tidur kak." "Iya." Alina tersenyum canggung, ah iya baru ingat sesuatu. Ia mengikuti saga yang sepertinya ingin menemui alea. "Kak, al mau nanya. Kakak yang transfer uang ke rekening al?" Tanya alina. Langkah saga terhenti ia menatap alina dengan datar, "Iya." Saga mengirimkan uang ke rekening pribadi alina karna saga yakin alina tidak akan menerima uang darinya secara cash. Darimana ia bisa mengetahui nomor rekening alina? Tentu saja dari galen. Pria itu sering transfer gaji alina. Alina menghela nafas, "Kan alina udah bilang alina ikhlas kak ngurusin alea. Dan itu 50 juta? Itu ngga sedikit kak." "Kartu yang kakak berikan aja masih banyak uang nya. Aku jarang pake itu." Alina terus mengikuti saga. "Saya tidak ingin punya hutang budi." ucap saga dingin. Tangan alina mengepa. Ucapan saga melukai nya, demi apapun ia ikhlas mengurusi alea, mengapa saga tidak menerima niatnya. Apalagi laki laki itu sudah memberikan ia kartu atm dengan nominal yang banyak. Alina merasa ini salah. "Kak sungguh aku ikhlas." Ia masih terus berusaha menolak keinginan saga. "Saya capek alina jangan ganggu saya!" Ucapan saga sedikit membuat ia kaget. Nada pria itu sedikit lebih tinggi. Tubuh alina menegang, nada peringatan yang di berikan oleh saga membuat dadanya sakit. Ini pertama kalinya alina mendengar nada ketidak sukaan dari saga semenjak mereka tinggal bersama. Alina menatap saga yang menutup pintu kamarnya. Bahkan pria itu menutup pintu kamar karna tidak ingin di ganggu. Alina melangkah menuju sofa dengan lesu "Apa yang terjadi dengan kak saga?" Gumam alina. "Mungkin kak saga capek jadi ngga mau di ganggu." senyum alina terbit, yah pasti saga lagi capek dan ingin istirahat dengan alea. Alina menghidupkan tv, ia akan menonton untuk menghilangkan kebosanan nya. Galen belum memberikan ia pekerjaan. Selama ini pekerjaan yang galen berikan padanya termasuk pekerjaan yang ringan. Alina bersyukur akan hal itu. ******* Mata alina mengerjap ketika merasakan goyangan di lengan nya, setelah matanya terbuka sepenuhnya. Ia menatap saga yang menggendong alea yang ternyata sudah bangun. "Jam berapa sekarang?" Tanya alina dengan nada khas bangun tidur. "Empat." saga menjawab dengan datar. "Saya harus pulang." Saga menyerahkan alea kepada dirinya. "Ngga malam aja kak? Sekalian makan malam disini aku udah masak tadi." ajak alina. Ia memang menyiapkan makan malam sebelum saga datang. Nanti tinggal di panaskan saja. Selama ke sini saga jarang makan di apartemen. "Ngga." Tolak saga. Alina mengikuti saga yang melangkah menuju pintu. Ia menghadang saga seraya menggendong alea. “Apa salah nya menginap satu malam di sini kak?" Alina berusaha membujuk saga. Bukan kah tidak masalah menginap semalam di apartemen? saga pasti kelelahan. "Kakak kenapa sih?" Tanya alina geram karena pertanyaan nya tidak di jawab. "Minggir alina!" ucap saga tajam. Alina menggeleng, "Kakak beda hari ini. Kakak terlalu dingin hari ini." Alis saga terangkat ia menatap alina dengan sinis membuat perempuan itu tertegun sebentar. "Emang lo siapa yang mengharuskan gue bersikap hangat?" Deg Alina menatap saga dengan tatapan terluka. Tidak ia tidak menyalahkan saga atas rasa sakit ini. Namun ia menyalahkan dirinya, ia sudah melewati batas. "Maaf kak." alina menyingkir dari hadapan saga. Saga melangkah mendekati alina berbisik di telinga nya, "Jaga batasan lo clarabella galina kita ngga sedekat itu." Setelah mengatakan itu saga meninggalkan alina yang menangis. Kenapa ia cengeng sekali padahal yang di ucapkan saga memang benar. Alina menatap alea yang juga menatap nya, "Aunty ngelunjak yah al, seharusnya aunty sadar diri dengan posisi aunty." Tapi ajakan nya tadi masih di batas wajar kok. Apa saga berpikir kalau dirinya yang ingin pria itu menginap? padahal ia cuman berharap waktu saga lebih banyak bersama alea. Nyatanya ucapan alina masih bisa saga dengar dari luar. Ia belum pergi, menyenderkan tubuhnya di tembok. Tangan saga mengepal, "Maaf al." ******* Alina menutup laptonya dengan kesal, ia masih memiliki waktu luang hingga memutuskan untuk menonton drama korea. Namun ia kembali memikirkan sikap saga tadi sore. Apa ia melakukan kesalahan? Hingga pria itu begitu dingin. Alina menelungkupkan wajah nya di atas lipatan tangan nya. Ia menangis, kali ini menyadari kesalahan terbesarnya. Ia mencintai saga. Ia menyukai pria itu. "Hiks aku harus bagaimana? Kenapa harus kak saga?" Lirih alina seraya terisak. "Ini salah, kamu melewati batas yang kamu buat sendiri alina." Oek oek oek Tangis alina semakin keras ketika alea bangun dan menangis. Ia juga manusia punya rasa lelah. Lelah fisik masih bisa ia atasi, namun kenapa ia sekarang merasa batin nya juga lelah. Alina mendekap alea namun ia tidak menghentikan tangisnya membuat alea ikut menangis. "Sst tenang yah aunty di sini." alina berusaha menenangkan alea namun air mata nya terus saja keluar. "Alea masih kangen papa hm?" Alina mengusap pipi bayi itu dengan lembut seraya menimang agar kembali terlelap. "Aunty juga hiks." "Papa hari ini beda, papa lebih dingin ke aunty hiks." "Aunty juga ngga tau kenapa, tapi hati aunty sakit." Alina terus bercoleteh seperti ia mengadu kepada orang tuanya. Apalagi alea sudah meredakan tangisnya. "Aunty udah ngga punya siapa siapa lagi. Aunty cuman punya alea sekarang, aunty sayang lea,aunty ngga mau pisah dengan lea hiks." "Lihat sikap papa lea hari ini buat aunty jadi takut." "Aunty takut perpisahan aunty sama lea di percepat hiks." Mata alea kembali terpejam, namun isak tangis alina belum juga berhenti. "Lea maafin aunty." "Maaf aunty yang lancang suka sama papa lea." alina mendekap alea dengan erat tanpa menyakiti. "Kalau papa lea udah nemu mama untuk lea,aunty jadi takut." "Tapi aunty ngga boleh gitu. Lea dan papa harus bahagia yah." Alina mencium alea dengan penuh kasih sayang . "Sayang banget sama lea." "Dan papa." Alina menumpahkan tangisnya tanpa suara di samping alea. Perasaan itu menyiksa, dan keadaan semakin membuat ia tersiksa. Sekarang alina benar benar kebingungan. Ia sadar ini salah, karna itu ia harus tetap memendam perasaan ini. Jangan sampai orang di sekitar nya tau, terutama saga. Ia masih ingin bersama alea walau waktunya sebentar lagi. Daripada ia harus di pisahkan dengan lea lebih cepat karena perasaan pada saga.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN