Sudah hampir seminggu alina menghadapi sikap dingin saga. Ia terus mengajak saga berbicara namun laki laki itu selalu menanggapi nya dengan dingin.
"Kak sebentar lagi alea mau dua bulan loh."
"Hm."
Selalu seperti itu, saga hanya menjawab perkataan nya dengan deheman kalau tidak dengan anggukan. Ia merasa seperti berbicara dengan patung saja.
Alina tersenyum setidak nya saga masih mau menanggapinya. Mereka sedang berada di ruang tamu, hari ini hari weekend tapi saga masih saja sibuk.
"Kak ayok ajak alea jalan jalan." Ajak alina.
"Saya sibuk." Tolak saga dengan raut datar seperti biasa.
"Is ini kan hari libur ayo kak." Paksa alina, yang ia ingat hari ini wekeend namun saga masih saja sibuk dengan pekerjaan nya. Kapan lagi pria itu memiliki waktu dengan alea.
Alina menyengol saga dengan lengan nya membuat saga geram, "ALINA!" bentak saga tanpa sadar.
Alea menangis karena terkejut begitupun dengan alina yang tidak menyangka saga membentak nya. Alina bangkit mencoba menenangkan alea di kamar nya.
Saga mengusap wajahnya kasar, sial dia kelepasan. Saga terlalu menekan diri ketika bersama alina membuat emosi nya mudah terpancing.
Saga menyusul alina, tidak ia hanya memastikan putrinya bukan alina. Itu yang saga tekan kan. Saga mengintip melalui pintu yang terbuka itu.
"Ssttt its oke papa tadi ngga sengaja." alina terus menenangkan alea.
Alina juga tidak menyangka saga akan membentak nya. Ini pertama kalinya ia mendapatkan bentakan. Takut? Tentu saja. Tapi lagi lagi alina penasaran apa yang membuat saga bersikap seperti itu akhir akhir ini. Seolah menghindarinya.
Alina menghela nafas lega ketika alea tenang dan terlelap. Ia meletakkan alea dengan hati hati di dalam box bayi. Setelah itu ia keluar ada yang harus ia bicarakan dengan saga.
Alina mendapati saga berdiri di depan kamar nya. Dengan alina menutup pintu kamar karna takut alea terbangun.
"Ada apa dengan kakak sih?" Tanya alina to the point.
"Tidak ada." jawab saga seadanya.
"Kakak ngga suka sama aku?" Kalimat ini akhirnya keluar begitu saja dari mulutnya. Biasanya ia selalu bertanya dalam hati akan sikap saga.
Saga diam membuat alina tersenyum miris. Tebakan nya benar.
"Kalo kakak ngga suka aku bilang. Jangan bentak yang ada alea nya kak." lirih alina.
"Aku ada salah apa kak?" Alina mendongak menatap saga menuntut.
"Ngga ada." jawab saga datar.
Alina mengusap wajah nya frustasi, "Terus apa kak? Kakak seolah menghindari aku. Kalo kakak emang ngga suka bilang!" bentak alina tanpa sadar.
"KAMU TERLALU MENCAMPURI HIDUP SAYA ALINA!"
Alina mundur ketika saga membentak untuk kedua kalinya. Alina terkekeh, siapapun yang mendengar nya pasti tau bahwa ia terluka.
"Terlalu mencampuri ya?" Gumam alina.
Alina menghapus air matanya ia mendongak lalu tersenyum. Senyuman yang membuat saga merasa sesak, terbuat dari apa hati perempuan di hadapan nya ini. Yang masih bisa tersenyum setelah bentakan tadi.
"Maaf yah kak aku ngga akan mencampuri urusan kakak lagi. Kalau gitu aku permisi dulu mau ke dapur ada piring yang kotor." Alibi alina. Ia perlu menenangkan dirinya.
Alina meninggalkan saga yang mematung. Lagi lagi ia kelepasan, tidak ia tidak marah dengan alina. Namun ia marah dengan dirinya sendiri. Kehadiran alina benar benar berdampak baginya.
Saga memasuki kamar yang lama sudah tidak ia tempati. Ia perlu menenangkan diri.
Di lain posisi alina sedang termenung. Ia berbohong pada saga mengenai piring kotor. Alina menangis hebat di dapur.
Ia perlu menangkan diri tapi bukan di sini. Alina mengambil pulpen dan pena menuliskan sesuatu jika saga mencarinya. Setelah selesai alina menempelkan itu di meja dapur.
Alina keluar dari apartemen tujuan nya adalah taman dekat apartemen. Sudah lama ia tidak keluar terakhir ia keluar bersama saga setelah itu ia selalu berada di apartemen.
*******
Taman
Alina hanya termenung menatap kendaraan yang berlalu lalang. Taman ini sepi mungkin ini siang hari, untung saja ia duduk di bawah pohon yang cukup melindunginya dari sinar matahari.
Satu jam ia duduk di bawah pohon tersebut membuat ia merasa sudah tenang. Alina bangun menepuk nepuk debu yang mungkin tersisa di celananya.
Alina tersenyum ia akan mencoba baik baik saja. Anggap saja yang tadi tidaklah terjadi.
"Ayo alina kamu bisa." Gumam alina pada dirinya sendiri.
Alina melangkah kembali ke apartemen. Jarak apartemen dengan taman ini hanya sekisar 5 menit. Langkah alina terhenti ketika merasa ada sesuatu yang tidak beres. Ia merasa seperti di ikuti. Alina menoleh ke belakang ternyata memang ada satu sosok laki laki memakai topi namun laki laki tersebut tidak menghadap nya namum malah menatap jalan.
"Sial." umpat alina ketika melihat jalan sekitar tamam ini begitu sepi.
Alina kembali melangkah namun langkah nya kali ini lebih cepat di banding yang tadi. Bisa alina lihat di jalan orang tersebut mengikutinya terlihat dari bayangan nya.
Alina berlari sungguh sekarang ia benar benar ketakutan. Kenapa jalan sangat sepi padahal hari ini hari libur.
"AAAAAAAA." teriak alina ketika laki laki itu berhasil menggapai nya.
"Diam!"
Tubuh alina mematung ketika pisau sudah berada di lehernya. Ingin rasanya menangis, tubuhnya bergetar hebat. Ia merasa de javu, ini hampir mirip kejadian saat ia di rampok.
"Siapa kalian?" Tanya alina pelan.
"Tidak perlu tau ikut saya." laki laki itu menyeret alina seraya menatap sekitar. Ternyata sudah ada mobil di belakang nya. Ini benar benar di rencanakan pikir alina.
Alina menggigit lengan pria itu membuat ia terlepas. Namun pisau pria itu berhasil melukai lengan nya. Pria itu memekik, alina segera berlari ia tersenyum melihat sepasang kekasih yang tidak jauh darinya.
"TOLONG ADA PENJAHAT."
Laki laki bertopi itu berhenti melangkah dan segera membalikkan tubuhnya ketika pasangan itu langsung langsung menatap ke arah alina.
Mereka berdua mendekati alina yang sedang mengatur nafasnya. Perempuan itu memegang lengan alina yang berdarah, "Alina kenapa?"
Alina mendongak ternyata mereka iren dan galen, "Kak hiks."
"Ada apa alina lengan kamu terluka?" tanya iren khawatir.
Sedangkan galen menatap ke arah mobil yang telah melaju itu. Ia sempat melihat seseorang mengejar alina tadi. Dimana saga? Kenapa laki laki itu membiarkan alina sendiri keluar.
"Yang lebih baik kita masuk aja dulu kasihan alina pasti ketakutan." ajak galen.
Iren merangkul alina membawa perempuan itu menuju apartemen saga. Ada untung nya mereka naik taksi tadi karna ban mobil galen pecah. Dan saga menyuruhnya cepat cepat ke apartemen.
Di dalam rangkulan nya, iren merasakan tubuh alina bergetar hebat. Perempuan yang sudah ia anggap seperti adik sendiri ini pasti sangat shock.
"Udah udah kamu udah aman al." iren mengelus bahu alina.
"Aku takut kak hiks." Tubuhnya bergetar hebat.
Galen menatap iba keadaan alina. Ia masih heran kenapa alina bisa keluar tanpa saga, apa laki laki itu mengetahui nya? Jika saja ia dan iren tidak datang hari ini. Entah apa yang terjadi pada alina, galen tidak bisa membayangkan itu.
Entah apa yang akan saga lakukan kalau hal itu terjadi. Itu cukup mengerikan bagi galen walau hanya memikirkan nya saja.
Mereka menuju apartemen dengan alina yang masih terisak di dekapan iren.